My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 170. Pak Deo, finally i get it!



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Rumah sakit bersalin


Jalaran rasa aneh yang di picu oleh sentuhan janda kembang itu benar-benar membuatnya melupakan omelan Mama Eka dalam sekejap.


Amazing!


Membuatnya fokus kepada wanita yang bahkan semakin hari semakin cantik saja itu.


Para orang lain yang melihat hal itu seketika saling melirik. " Putramu sepertinya terkena sengatan aura janda kembang!" Mama Jessika menyenggol lengan Mama Eka yang nampak speechless dengan suara lirih.


" Be- belum, belum lahir. Kita semua masih menunggu. Pak Deo juga baru saja masuk!"


Wiwit mengangguk seraya tersenyum kala Erik menjawabnya meski dengan gelagapan karena terhipnotis wajah ayu Wiwit. Entah kenapa pria itu, aneh sekali pikirnya.


" Kurasa kita harus ada diluar sampai bayinya lahir. Dan, oh ya sayang bisakah kau temani aku ke kantin dulu? Mungkin semangkuk soto hangat bisa membuat kita tidak tegang!"


Papa David hanya bisa melongo saat Papa Tomy tumben berbicara sepanjang itu setelah sekian lama. Membuat Mama Eka menganggap dengan wajah bingung.


Apa suaminya sedang menyusun rencana?


" Baiklah itu ide yang bagus. Telat makan tidak baik untuk orang tua yang memiliki maag, sayang sebaiknya kita mengecek keperluan cucu kita diruang sebelah. Melihat dari bukaannya, Arimbi sepertinya harus menunggu beberapa jam lagi!" Timpal Mama Jessika yang sepertinya paham dengan kedipan maut Papa Tomy.


" Ah benar- benar, kami pergi dulu sebentar ya? Kalian tunggu disini sebentar!" Seru Mama Eka dengan senyum terbaiknya yang malah terlihat lucu.


" Wah, mereka peka sekali dalam kondisi ini? Astaga!" Erik cekikikan dalam hatinya demi merasai bila para orang tua itu pasti sengaja meninggalkan dirinya pasti karena agar ia bisa berduaan dengan Wiwit.


Cihaaa!


" Apa mereka menghindariku?" Tanya Wiwit yang merasa insecure.


" Tentu saja tidak. Papaku memang tidak tahan lapar karena dewasa ini memiliki keluhan sakit Maag. Kemudian, Om David pasti sedang semangat karena cucu mereka akan lahir. Apa ..kau juga lapar?" Ucap Erik berusaha mencari alasan yang masuk akal.


Wiwit tersenyum menggeleng, " Lama tidak bertemu...kamu kelihatan tampan!"


" Apa? Oh astaga, semoga tidak ada bencana alam setelah ini. Aku bahkan ingin melompat saat dia memujiku!" Batin Erik dengan hati yang bersorak-sorai.


.


.


Di dalam ruangan


" Sakit banget Mas!"


Deo yang berada di dekat Bu Ning hanya bisa menatap istrinya muram dengan tangan yang tiada berhenti mengelus karena bingung.


Jika ia bisa menggantikan, ingin rasanya dia saja yang menerima sakit itu.


" Sabar Ar, mungkin jalan lahirnya bertambah makanya sakitnya juga semakin bertambah!" Tutur Bu Ning lembut mengusap kening anaknya. Mencoba memberikan ketenangan melalui pengalaman.


" Bertambah? Bertambah ap...?"


" Selamat siang!"


Ucapan Deo menguap saat dokter wanita itu tampak datang seraya menyapa ramah. Membuat Deo sedikit menepikan tubuhnya.


" Ah anda suaminya? Bagus anda sudah datang. Gimana Bu, apa semakin sakit ?" Dokter itu tersenyum ramah kepada Arimbi yang berbaring miring.


Arimbi mengangguk dengan wajah yang begitu menahan sakit.


" Apa tidak ada jalan untuk mempercepat. Atau sebaiknya di operasi sa..."


" Tidak mau!" Potong Arimbi cepat sembari memukul lengan berotot suaminya sebagai bentuk penolakan keras.


" Sudah kau katakan aku mau lahiran normal!"


Dokter wanita itu hanya terkekeh melihat Arimbi yang memarahi Deo. Pria perkasa dengan segala elektabilitas, kini nampak bodoh di depan istrinya yang hendak melahirkan. Ah astaga, andai dunia tahu itu.


" Saya periksa dulu ya!" Tutur dokter itu lemah lembut, seraya bersiap mengenakan sarung tangan khusus.


Deo mendelik saat dokter itu meminta Arimbi untuk terlentang. Lebih terkejut lagi, Deo mendelik saat dokter itu merogoh bahkan inti yang sering Deo kunjungi itu.


" Tunggu- tunggu, apa itu tidak akan menyakiti istriku?"


Bu Ning menahan tawa saat melihat Deo yang nampak cemas dengan keringat sebiji kacang polong yang bertengger di depan dahinya.


Membuat Arimbi benar-benar ingin mencekik suaminya yang benar-benar menjadi bodoh saat situasi darurat seperti saat ini.


" Ini merupakan prosedur yang barus kamu lakukan untuk mengecek penambahan pembukaan jalan lahir Pak, jangan khawatir!" Jawab dokter itu lembut.


" Ah baiklah, tapi ah..."


Deo turut meringis nyeri saat Arimbi menyuguhkan raut wajah menahan manakala dokter itu tengah menjalankan tugasnya.


" Sudah buka 7. Kita tunggu beberapa saat lagi Ya Bu. Permisi!"


" Hey, kenapa kalian meninggalkan istriku!, hey!"


" Astaga, berhenti bersikap bodoh menantuku!"


.


.


Di luar ruangan


" Apa kabar?"


" Apa kabar?"


Oh Gosh!


Wiwit tersenyum sementara Erik nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal karena kikuk.


" Aku senang kita bertemu lagi!"


" Aku senang ketemu kamu Wit!"


Lagi, kalimat senada itu terlontar di waktu yang sama. Oh jelas suatu kebetulan yang menggelitik bukan?


Oh man! Kebetulan macam apa ini?"


Erik seketika makin kikuk dibuatnya. Hah, astaga, kenapa bahagia sekali sih rasanya melihat janda ini?


" Aku senang kau tidak menghindariku lagi!"


Erik yang duduk bersebelahan dengan Wiwit nampak tersenyum seraya melempar pandangan jauh.


" Sepertinya, sekarang aku tidak memiliki alasan lagi untuk menghindar!"


Kini, keduanya nampak bersitatap selama beberapa detik. Erik yang sudah begitu lama mengagumi wanita di depannya itu, tentu merasa dirinya mendapatkan cahaya terang atas kehampaannya selama ini.


" Maafkan aku Mas. Maaf atas sikapku selama ini!"


Erik menatap dalam mata Wiwit yang mendadak berkaca-kaca


" Ada apa ini?" Ucapnya terlihat serius namun bingung.


" Maaf membuatmu selalu menunggu selama ini!" Lirih Wiwit dengan suara bergetar.


Wanita itu mendadak menitikkan air mata sebab begitu merasa bersalah terhadap Erik.


Ya, Wiwit nampak hanyut dalam pembicaraan serius sembari menatap Erik dengan isi kepala yang mengingat kembali kegigihan pria itu.


Pria yang tanpa lelah terus datang walau ia kerap meminta orangtuanya untuk berbohong tentang keberadaannya di kedai miliki.


Ia bahkan sering melihat Erik selama enam bulan ini duduk termenung di tepian pantai tiap sore selepas flight. Selama itu pula, batin Wiwit serasa di uji.


Apakah cinta fatamorgananya selama ini membuahkan hasil? Mau sampai kapan dia hidup dalam bayang-bayang mendiang suaminya dan menipu diri sendiri?


Hingga, orangtuanya yang diam-diam mengetahui hal itu, telah berhasil menyadarkan nuraninya yang bimbang.


" Mau sampai kapan kamu akan menunggu kemustahilan akan kembali? Sedangkan di tempat itu, setiap harinya ada pemuda tulus yang selalu menunggumu untuk membuka hati."


Perang batin yang menyerang Wiwit seolah di pupus tuntas oleh ucapan orangtuanya yang sepertinya telah mengenal Erik.


Pergulatan panjang ini, membuatnya semakin resah tiap malamnya. Menantang batinnya yang kerap bimbang, untuk menemui keadaan wajar.


" Saya bukan orang kaya Pak Bu, tapi dengan apa yang saya lakukan saat ini, saya pastikan saya bisa membahagiakan anak anda. Saya akan terus menunggu, sampai Wiwit mau membuka hati!"


Ia bahkan melihat kobaran api cinta yang begitu semangat di kedua netra Erik, saat beberapa bulan lalu ia menguping pembicaraan serius dari pejantan yang tak mau menyerah itu.


Hubungan ini mungkin akan sulit diterima beberapa orang. Apalagi perbedaan kelas sosial yang begitu mencolok.


Namun, sebuah keyakinan lain nampak di tunjukkan oleh keluarga Erik yang akhirnya benar-benar membuat matanya tercelik.


Ya, diam-diam Papa Tomy dan Mama Eka sebenernya telah menemui Wiwit , saat Erik sibuk wara-wiri mengurusi pelebaran Ground Handling Deo selama dua bulan terakhir.


Bukti nyata jika kedua orang tua Erik, menyetujui hubungan mereka. Tak ada lagi yang perlu di takutkan, selain perasaan bimbang dari diri Wiwit itu sendiri.


" Kamu sangat cantik dan memiliki prinsip hidup yang baik. Pantas saja kamu menolak anak saya yang sering ceroboh!"


Wiwit bahkan sungkan saat Mama Eka bertutur kata sangat lembut saat menemuinya.


" Tapi, kamu harus tahu, bahwa anak saya tidak pernah seserius ini sebelumnya. Dan jika materi membuatmu takut, kau bisa melihat ini!"


Mama Eka menunjukkan beberapa foto dirinya sewaktu muda, saat ia masih aktif bekerja di kebun cabai milik Edy Darmawan dulu.


" Kau lihat pria kaku di sampingku ini?"


Wiwit sampai meneguk ludah saat menatap wajah datar Tomy yang tak terganggu kala Mama Eka mengucapkan hal itu.


" Dia dulu memiliki posisi yang sama dengan Erik saat ini. Menjadi tangan kanan. Sementara kamu, kamu dan aku berasal dari lapisan masyarakat yang sama."


Membuat Wiwit terkejut akan sebuah cerita itu.


" Jadi, bisakah kau pertimbangkan kesungguhan anakku yang tampan itu?"


Ingatan itu membuat Wiwit tak lagi bisa membendung air mata yang seakan-akan sengaja di undang oleh situasi sendu kali ini.


" Apa kau menerimaku?" Tanya Erik dengan anda yang paling serius seraya menatap dalam mata basah Wiwit.


Wiwit mengangguk dengan hati yang begitu lega. Mungkin ini memang saatnya bagi dia untuk melangkah. Menepikan keraguan yang berasal dari fatamorgana masa lalu yang selama ini membelenggu.


Erik yang turut merasakan haru dalam hatinya, nampak menarik dagu wanita itu perlahan lalu sejurus kemudian melumaat bibir Wiwit dengan penuh rasa rindu yang membuncah.


Semakin lama semakin ia menekan tengkuk leher wanita yang baru saja mengungkapkan persetujuan itu. Menikmati ciuman yang bahkan hanya bisa ia bayangkan selama ini.


Melepaskan kerinduan yang selama ini bersarang serta menyesakkan dadanya.


" Bersiaplah, aku akan menikahimu setelah ini, hm!"


Bisik Erik seraya mengusap bibir Wiwit yang nampak tersipu malu.


Pak Deo, finally i get it!


.


.