My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 79. Crowdit



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Eva


Ia tak mengira jika pria kaku itu akan benar-benar membelikannya obat. Obat yang sepertinya digunakan untuk meredakan asam lambung, serta sebuah sirup yang mengandung Paracetamol juga Ibuprofen nampak ada di sana.


Demas sengaja membelikan obat itu sebab, orang yang demam biasanya akan nyeri- nyeri di persendiannya. Membuat Eva senang akan hal itu.


" Ternyata, dia baik!"


" Gimana perut kamu?" Tanya Demas sesaat sebelum menyantap makanan di depannya itu.


" Masih sedikit sakit!"


" Jangan terlalu banyak, makan dikit aja nanti lagi, minum obatmu itu, hobi banget ngrepotin orang!" Ucap Demas dengan wajah ketus sembari membuka pembungkus sendok.


" Nah, mulutnya mulai lagi. Gak bisa di puji orang ini emang!"


Eva menyebikkan bibirnya, " Alah! Pak Demas tapi suka kan saya repoti?' Ucap Eva bar-bar dengan menatap Demas dari jarak yang begitu dekat. Membuat jakun sebiji kluwak itu nampak naik turun dibuatnya.


Damned!


" Dah lah Pak. Saya mau minum obat dulu. Kasihan yang udah beliin, keringatnya sampai sebesar biji jagung tuh!" Eva terkikik-kikik saat ia kini menuju ke tepi ranjang, dimana di nakas sampingnya itu terdapat segelas air mineral. Membuat laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


Demas menatap soto dalam mangkuk putih itu dengan tatapan penuh minat. Kepulan putih yang masih ada itu, makin membuat Demas berselera. Sebab pria itu lebih menyukai makanan berkuah ketimbang garingan.


Soto Banjar merupakan sajian ikonik kota tersebut. Panganan yang terkenal karena cita rasanya yang gurih dan pekat. Soto berkuah agak keruh ini memakai ayam kampung dan telur bebek sebagai isiannya. Semangkuk soto Banjar sekilas tampak mirip dengan ragam soto lainnya, terutama dari segi isian. Hanya, makanan itu biasanya di pertandingan dengan perkedel kentang.


" Kenapa kamu ngelihatin saya?" Tanya Demas yang merasa jika Eva yang kini kembali berbaring usai meminum obat itu, kini menatapnya tak lekang.


" Pak Demas kok ganteng banget sih? Tapi...."


" Tapi apa?" Demas bahkan memicingkan matanya demi minat Eva yang senyam-senyum sendiri manakala mengomentari dirinya itu. Benar-benar!


" Tapi nggak laku- laku! Bhahahahahaha, aduh aduh..." Ucap Eva meringis nyeri di sela-sela aksi tertawanya.


Membuat Demas mendengus. " Anak ini benar-benar edisi terbatas!"


Seperti biasanya, Demas makan dengan tekun, tak bersuara, elegan dan cepat. Tak sebutir pun nasi yang ia sisakan. Bahkan, isi dalam mangkuk cekung itu pun, kini juga telah licin tandas tak bersisa.


Demas yang baru selesai dengan makanannya kini berjalan menuju ke tempat Eva yang sibuk menonton TV, yang menyangkan drama romansa action yang menegangkan.


DEG


Eva terkejut saat tangan kekar itu, tiba-tiba mendarat di keningnya. Membuat Eva mendongak menatap seraut rupawan yang benar-benar memiliki mimik tak terbaca itu.


" Kau istirahatlah. Kau masih demam!"


Eva membeku, terpaku dan mematung untuk beberapa saat manakala pria itu menatap wajahnya seraya berbicara dengan intonasi normal untuk pertama kalinya.


Pak Demas ganteng.


" Pak Demas!" Seru Eva yang membuat pria itu berhenti lalu membalikkan badannya dengan wajah yang masih datar.


" Terimakasih!" Seru Eva menyunggingkan senyum terbaiknya.


Demas hanya mengangguk, sejurus kemudian ia menutup pintu itu. Membuat Eva belingsatan sendiri manakala mengingat dirinya yang sempat di bopong oleh pria bermartabat itu.


"Ahhh kok jadi gini sih?"


.


.


Demas


Ia nampak membasuh wajahnya usai keluar dari ruangan itu. Mengembuskan napas demi menetralisir rasa yang ia sendiri tak tahu itu apa.


Kasihan?


Empati?


Atau hanya peduli dalam tahap wajar?


Entahlah.


Tapi, sosok yang penuh dinamika macam Eva itu benar-benar unik menurutnya. Ia bahkan mulai merasa terbiasa manakala mereka bertengkar. Tunggu dulu, apa-apaan ini? Apa dia sudah terkontaminasi sebuah syndrom adu mulut?


Tanpa menunggu lagi, ia yang merasa waktunya terpangkas agak lama itu, seketika melesat pergi menuju ke basement. Ia harus merampungkan beberapa pekerjaan sebelum ia bertolak menuju kediamannya.


" Mama?" Gumamnya manakala melihat nama yang tertera di ponselnya.


" Halo Ma?"


" Dem, apa semua baik-baik saja? Deo dimana? Arimbi Mamah telpon juga enggak di angkat. Apa mereka..."


" Kak Deo pasti sedang ikut seremonial Ma, kalau Arimbi, dia pasti lagi on duty. Ada apa Ma?"


" Kamu belum dapat kabar juga?"


" Kabar apa ma?"


" Aduh Dem, gawat Dem!!! Karyawan disana banyak yang enggak masuk, pesawatnya sampai delay. Papamu lagi bantu Erik ke Bandara itu. Erik sampai bantu jadi Ramp disana Dem!"


" Apa?"


...----------------...


Kota B


***


Dian


" Mohon maaf Pak bagasi lebih tujuh kilo!" Seru Dian yang nampak ragu-ragu sebab ia baru saja kena damprat penumpang, yang mengeluhkan lamanya waktu antri.


" Duh mas saya kurangin aja deh. Udah antri lama banget, gak profesional banget kerjanya! Gak biasanya loh kayak gini. Gimana ini Andanu Air ini!" Dian meneguk ludahnya karena mendapat penumpang yang cukup rewel.


Ia bersama team bahkan merasa terintimidasi oleh tatapan pihak Andanu Air yang sedari tadi memantau pergerakan mereka. Disaat biasanya mereka sudah boarding, kini mereka masih melakukan proses Check in sebab terkendala kekurangan personel.


Harusnya, ke tujuh meja check in itu terisi semua. Artinya, mustinya ada 14 orang yang duduk disana. Namun, pagi ini hanya ada tiga staff saja yang masuk. Membuat operasional pagi itu kocar-kacir.


Kuat dugaan, banyak anak yang protes sebab mengapa anak baru seperti Eva dan Arimbi, yang justru terpilih untuk menangani innagural Flight. Bahkan, Resita yang harusnya on duty di boarding gate, kini turut berjibaku dengan tiket dan bagasi.


Yohan yang harusnya off duty, sampai diminta masuk oleh Hera.


Hizkia yang seharusnya di temani oleh puluhan porter juga beberapa Ramp lain, kini nampak kesulitan sebab pagi itu ada tiga pesawat yang musti terbang dengan selisih waktu yang terbilang tak jauh.


Erik yang notabene seorang yang jarang terjun ke lapangan, kini nampak wira-wiri ke apron untuk menjadi Ramp koordinator dadakan.


Membuatnya mau tidak mau menghubungi David selaku wakil penanggung jawab, sebab mereka pasti akan membayar pinalti keterlambatan yang jelas akan di bebankan kepada pihak ground Handling.


Jelas, sebab reason yang membuat pesawat pagi itu terlambat berangkat adalah, Ground Handling error.


" Hizkia monitor!" Seru Erik dari dalam HT yang bisa di dengar oleh semua lini termasuk Dian.


" Gohet Pak!" Jawab Hizkia, salah satu load control yang masuk pagi itu.


" Ayo tangki Pertamina itu kamu infokan suruh merapat, wheater jangan lupa Hiz, check in tolong di percepat ya. Loading control tolong jangan lupa di check jangan sampai ada bagasi tertinggal!"


Dian yang mendengar keributan di HT itu sampai tidak memperhatikan rekan lain di sampingnya yang juga sibuk melayani antrian yang mengular hingga ke pintu X-ray.


Membuat lobi check ini itu benar-benar padat merayap dengan antrian calon penumpang.


" Menit tiga puluh kita closed gaes. Kalau ada penumpang datang cut udah!" Seru Hera sebagai senior yang menjadi koordinator check in counter pagi itu. Terlihat pias sebab keadaan benar-benar kacau balau.


"Yohan, monitor!" Ucap Hera di sela-sela kegiatannya dalam mencetak boarding pass milik penumpang.


" Gohet mbak!" Jawab Yohan agak terlambat manakala menyahut. Mengindikasikan jika anak itu juga sama crowdit nya saat bekerja di ruang tunggu.


" Kamu sweeping bagasi yang agak gede-gede itu pakai label merah jambu. Tadi banyak bagasi yang lolos dari sini!" Ucap Hera dengan cepat dan konsentrasi yang terbagi.


" Oke mbak siap!"


Suasana pagi itu benar-benar crowdit parah. Entah siapa yang menginisiasi acara mogok kerja massal pagi itu. Yang jelas, tak kurang dari seratus orang yang saat ini tidak masuk tanpa alasan. Membuat operasional porak poranda.


Membuat para petinggi senior turut serta campur tangan. Bahkan, manager operasional cargo terlihat menjadi porter di lapangan, dan membantu karyawan yang lain dalam menaikkan bagasi ke dalam kompartemen pesawat.


Benar-benar situasi yang cukup miris.


Tanpa mereka ketahui, seseorang menyinggung senyum licik seraya berjalan menggeret koper menuju ruang tunggu.


" Kita lihat saja siapa yang menang, tuan Deo Alfa!" Ucap orang misterius itu dengan senyum penuh kelicikan.


.


.


.


.