My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 137. Ujian hidup



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Sembari menatap istrinya dengan wajah tak kalah bingung, ia nampak berjalan dengan keresahan yang kian mengusik. Ada apa? Kenapa nuansa yang tersaji benar-benar tidak sesuai ekspektasinya?


Isak tangis yang kian meresahkan itu membuat Deo tiada bisa lagi untuk berdiam diri.


" Ada apa ini?" Tanya Deo dengan wajah tegang. Membuat Jessika seketika mendongak lalu berdiri.


" Deo!" Mama menarik dirinya kedalam pelukan. Membuat jalaran rasa haru kian menjajah hati Deo.


Ada apa sebenarnya?


" Adik kamu De, adik kamu kecelakaan sama Eva De. Mama barusan dapat telpon dari kepolisian!" Ucap Mama dengan suara bergetar dan nyaris tidak jelas.


DEG!


.


.


...Flashback...


Demas


Tangan dengan cat kuku nude itu tiada henti ia genggam. Menebarkan sejuta rasa yang membuncah serta meluap dalam hatinya.


Demas bahagia sekali malam itu.


Bisa dikatakan, jika ini merupakan kali pertamanya bagi mereka kencan secara resmi, dan dalam keadaan diri yang sudah tidak jaim lagi.


Dalam temaram cahaya pendar, dua insan itu saling menatap diantara gelas berisikan red wine yang memukau, diatas meja dinner yang begitu romantis.


" Chers!" Demas mengangkat gelas. Pun dengan Eva. Membuat dua gelas yang beradu tersebut, kini berdenting.


Keduanya tersenyum penuh cinta. Jelas membuat iri pasang mata bila ada yang melihatnya.


" Kita kesana yuk!" Ajak Demas ke tepian danau yang tiada beriak. Lampu-lampu Tumbler berwarna kuning membuat suasana menjadi kian hangat. Menambah keromantisan juga keintiman.


Demas turut tersenyum demi melihat Eva yang takjub akan suguhan yang telah Demas persiapkan untuk Eva secara ekslusif itu.


Nuansa malam yang sarat akan detail romantis, benar-benar membuat Eva bahagia.


" Terimakasih Pak, ini indah sekali!" Ucap Eva sembari sekilas menoleh kearah Demas, untuk sejurus kemudian kembali menikmati keindahan air danau yang disulap menjadi begitu cantik.


" I have something for you!" Seru Demas seraya meraih sesuatu dari dalam sakunya. Membuat Eva seketika berbalik.


Apa?


" Eva, aku tidak pandai berkata-kata seperti Erik. Atau, bersikap hangat seperti kak Deo. Tapi....,"


Membuat Eva seketika mengerutkan keningnya.


" Maukah kamu menikah denganku?" Ucap Demas menatap lekat dua mata jernih Eva dari jarak yang begitu dekat.


Saliva licin di tenggorokan Eva meluncur begitu saja demi menghela rasa terkejut. Sama sekali tiada menyangka jika malam ini Demas melamarnya.


" Aku akan percepat urusanku nanti biar kita bisa lamaran secara resmi!" Bisik Demas lagi seolah ingin memupus keraguan yang tersirat dimata Eva.


Namun, bukannya menjawab, Kristal cair nan bening itu nampak tertumpuk di pelupuk mata Eva, demi mendengar kalimat mendayu yang begitu syahdu itu.


Hatinya kini bahkan diliputi oleh keharuan, kebahagiaan, juga rasa syukur. Benar-benar perpaduan rasa gembira yang tiada tara.


" Ya pak, saya mau!" Jawab Eva dengan suara lirih yang bergetar dan air mata yang meluncur tanpa seizinnya.


Membuat Demas seketika tersenyum penuh kelegaan, seraya meraih tangan kiri Eva lalu menyematkan sebentuk cincin dengan berlian putih yang begitu cantik.


" Aku mencintaimu Eva!"


" Sangat mencintaimu!" Bisik Demas sesaat sebelum laki-laki itu menarik pinggang Eva lalu mengecup bibirnya dengan mesra.


Ya, dibawah cahaya lampu yang berpijar pendar, dua anak manusia nampak saling bertukar saliva, seraya mencecap bibir yang sama-sama mengandung kadar kerinduan akan cinta tulus itu.


Tangan Eva nampak menyusuri dada Demas seraya meladeni suguhan ciuman yang begitu hangat dan terasa penuh kasih sayang.


Membuat keduanya bagai melayang.


Kini, keduanya nampak tersenyum dengan wajah tersipu demi keadaan yang mereka ciptakan sendiri.


Usai makan malam terpungkasi dengan wajar, Demas berniat membelikan sesuatu untuk Eva dan ibunya sebelum mereka pulang.


Namun, di kilometer tiga puluh usai melewati jembatan lebar, sebuah mobil tanpa plat nomor melaju kencang dari arah depan, dan berniat menyalip sebuah truk yang berada di depannya.


Membuat Demas yang berada di posisi serba salah itu tak bisa berbuat banyak, di bawah limitnya waktu yang ada.


" Pak, awas!" Teriak Eva yang benar-benar terkejut demi melihat silauan lampu di sertai bunyi klason yang cukup memekakkan telinga.


Dan sejurus kemudian.


BRUAK!


Samar-samar, Demas yang mencoba menguasai diri serta keadaan yang ada, nampak melihat ke arah Eva yang juga mulai kehilangan kesadarannya.


Kini, perlahan namun pasti pandangan keduanya menjadi gelap.


...Flashback end...


.


.


Ia bahkan melupakan kondisi dirinya yang tengah berbadan dua saat mendampingi Mama Jessika berjalan dengan langkah lemah di koridor rumah sakit.


Deo nampak menemui kepala kepolisian yang mengurus laka yang melibatkan adik dan karyawannya itu.


Naas, kecelakaan itu diketahui merupakan aksi tabrak lari.


David nampak terus berusaha menguatkan istrinya yang jiwanya nampak terguncang. Mencoba menjadi penguat sekalipun ia sendiri sebenarnya syok akan apa yang terjadi.


" Pa, kita kemana dulu ini? Apa ibunya Eva juga sudah di info?" Tanya Arimbi resah. Benar-benar tiada menyangka jika hari yang begitu berarti untuk dirinya tadi, kini berubah menjadi mala petaka.


" Sebentar, Papa juga bingung Ar. Tapi, sebaiknya kita ke sebelah sana dulu!" Ucap David menunjuk ke sebuah ruangan dimana kelas VIP yang sudah pasti tengah menampung Demas nampak tertutup.


" Mama duduk dulu ya, kita percaya saja kalau Demas sama Eva pasti baik-baik saja!" Tutur Arimbi demi melihat Mama Jessika yang mulai menunjukkan tatapan kosong.


" Kita tunggu dulu, tolong kamu jaga Mama Ar, Papa akan menemui tim dokter dulu!"


" Demas, kenapa bisa seperti ini?" Gumam Mama Jessika dengan tatapan kosong. Membuat hati Arimbi semakin dirundung rasa bersalah.


.


.


Eva


Ia lekas mengerjap meski tubuhnya terasa sakit. Terkejut demi mendapati Ibunya yang sudah ada di ruangan bercat hijau itu dengan wajah menangis.


DEG


" Ibuk?" Ucap Eva dengan suara parau yang mirip dengan orang yang baru bangun tidur.


" Akhirnya kamu sadar nak!" Ucap ibu seraya memeluknya lalu menangis. Dari sorot matanya, ibu Eva nampaknya sudah lama menangis.


" Buk, dimana Pak Demas? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Eva yang teringat saat-saat terakhir sebelum mereka tak sadarkan diri di dalam mobil.


Namun, kegelisahannya kian mencuat demi melihat Ibu yang semakin larut dalam tangisnya.


Kenapa? Kenapa Ibu terus menangis?


" Nak Demas...."


.


.


Ruangan dengan cat warna hijau mint itu nampak luas, bersih dan nyaman. Namun, kenyamanan yang ada sangat bertolak belakang dengan isi hati para penghuninya.


Sebab, di dalam kenyamanan tersebut, rupanya menunjukkan seorang Demas yang terbaring dengan selang infus, lalu sederet peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.


CEKLEK


Bunyi daun pintu yang mulai terayun itu sukses mengalihkan atensi para penghuninya.


Eva terkejut demi melihat orang-orang ia kenal, tengah mengerubungi Demas yang nampak terbaring lemah.


" Eva?" Sapa Arimbi yang terkejut, lalu memeluk sahabatnya yang nampak pucat dengan kening terluka akibat benturan.


Membuat Eva seketika menitikkan air matanya kembali, kala Arimbi mengusap punggungnya dengan lembut.


" Eva!" Ucap Mama Jessika seraya turut melingkupi mereka dengan sebuah pelukan.


" Maafkan Eva Tante. Semua ini gara-gara Eva. Kalau aja Pak Demas enggak pergi sama Ev..


" Ssttt, jangan salahkan diri kamu. Semua sudah terjadi!" Ucap Mama Jessika seraya menitikkan air mata. Benar-benar berseru sebab bagaimanapun juga, Eva turut menjadi korban meski tak separah Demas.


" Dem, kau sudah sadar?" Tutur Deo dengan intonasi penuh antusias dan membuat kesemuanya seketika menoleh ke arah ranjang.


" Panggil dokter Mas, Demas sudah sadar!" Pinta Jessika kepada suaminya yang nampak mendekat ke ranjang putranya. Membuat anak sulung Edy Darmawan itu seketika menekan tombol khusus di depannya.


" Dem, akhirnya kamu sadar nak!" Seru David usai menekan tombol merah itu.


" Pa, ini kenapa Pa?" Ucap Demas dengan wajah tegang demi merasakan kaki yang tidak seperti biasanya.


DEG


Membuat kesemuanya menengang demi mendengar penuturan Demas yang begitu mengejutkan itu.


" kenapa kaki Demas enggak bisa di gerakan Pa? " Ucap Demas dengan nada yang semakin panik.


Namun, belum juga mereka menjawab pertanyaan mencengangkan itu, kedatangan dokter yang menangani Demas seketika membuat kesemua mengalihkan fokus.


" Sus, coba cek dulu!" Titah dokter kepada suster yang datang bersamanya. Seolah mengerti akan kebingungan seorang Demas.


" Maaf, apa terasa sakit Pak?" Ucap suster seraya mencubit kaki Demas dengan keras. Mencoba berdiplomasi dengan pasien demi mengetahui efek yang tejadi pasca kecelakaan.


Demas menggeleng dengan wajah panik, demi merasakan kaki yang tiada sakit walau di cubit.


Dokter dan suster itu saling menatap. Sepertinya, Demas mengalami masalah yang berimplikasi pada kelumpuhan.


.


.


.