My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 54. Kita selesai!



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Erik


Ia baru saja selesai mengobrol dengan pihak Airlines baru, yang akan menggunakan jasa Ground Handling mereka saat melihat Roro yang melenggang genit dengan tangan bergelayut manja pada lengan kokoh seorang pria.


" Apa-apaan ini?"


Ya, tamu yang harusnya di temui oleh Deo itu akhirnya bertemu dengan dirinya sebagai wakil dari perusahaan bonafit itu.


Sebuah kemajuan yang cukup pesat, karena ada banyak Airlines baru yang hendak membuka rute penerbangan lain dari kota itu.


Tak di duga, sebuah hal mengejutkan membuatnya mematung dalam waktu sepersekian detik.


" Pak Erik, anda baik-baik saja?" Ucap calon customer barunya yang nampak mengerutkan dua alis hitamnya manakala menatap wajah Erik yang serius.


" Ah, saya baru ingat kalau ada keluarga saya yang berangkat sore ini. Kita ketemu lagi besok di bandara ya Pak!"


Erik tetap sopan dalam memungkasi pertemuannya, sekalipun ia kini tengah terburu-buru manakala mengejar targetnya.


Singkat kata, Erik berbohong.


Tanpa menunggu, Erik terlihat men-dial nomor Deo kala ia berniat mengikuti mobil dua manusia kurang ajar itu.


TUT... TUT... TUT


" Halo, opo Rik?"


" Halo, bos, maaf mengganggu. Saya melihat Roro tengah bersama seorang pria dan saya saat ini tengah mengejarnya. Sepertinya mereka akan pergi ke suatu tempat. Orang itu seperti familiar, tapi saya belum bisa memastikan!"


TUT


" Halo..halo..."


" CK, kebiasaan. Matiin telpon enggak bilang-bilang. Huh!"


Erik mengerutkan keningnya sambil menginjak pedal gasnya dengan kecepatan maksimal. Menggerutu sebab bosnya itu benar-benar tak memiliki etika manakala memungkasi panggilan sebuah sambungan telepon.


Damned!


Erik mendadak membulatkan matanya demi mengingat jika dia telah melahap habis nasi ikan bakar lezat , dari wanita yang cukup mengusik pikirannya itu. Ya, Erik telah melahap habis box berisikan nasi enak tadi, tanpa izin kepada sang empunya.


" CK, sebaiknya aku telepon si Arimbi saja. Bisa gawat kalau wanita itu tahu aku tidak memberikan makanan ini pada adiknya. Duh sory Ar, abisnya enggak tahan!" Ia bermonolog demi meresapi keresahan yang ia ciptakan sendiri.


Ia terus bergumam manakala konsentrasinya terpecah saat ia mencari nomer Arimbi dalam posisi mengemudi.


Hingga akhirnya.


" Ya mas?"


Sahutan dari seberang membuat ia terkesiap.


" Aduh Ar, sory. Tadi mbakmu yang jualan ikan bakar itu sebenarnya kasih titipan nasi ikan bakar ke kamu. Tapi.."


" Tapi kenapa Mas?"


" Tapi aku enggak tahan ngelihatnya. Terus aku makan deh. Duh, kamu jangan marah ya. Nanti aku ganti makanan main deh setelah urusanku beres. Kamu mau apa?"


" Enggak usah Mas. Lagipula saya belum boleh makan makanan pedas. Mas, tadi pak Deo..."


" Ya sudah kalau gitu. Makasih ya Ar. Saya cuman mau ngabarin itu. Maaf saya buru-buru!"


TUT


Ia tak mendengar kalimat akhir Arimbi dan segera memutuskan sambungan itu begitu ia mendengar kata ' tidak apa-apa ' , sebuah kata pamungkas yang sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bebas dari rasa bersalah.


.


.


Deo


Jika Erik salah duga, ia akan memenggal kepala anak buahnya itu karena sudah sering mencurigai Roro yang tidak-tidak. Begitu pikir Deo.


Deo mencintai Roro. Dan akan sangat tidak bagus jika ada yang mendiskreditkan kekasihnya itu tanpa bukti. Namun , ucapan Erik yang benar-benar panik itu, sontak membuat Deo ambil bahagian disana.


Ia datang beberapa saat setelah Erik juga memarkirkan mobilnya pada hotel elite dengan tulisan Elita Paradise itu.


" Bos saya...."


" Kalau kau sampai bohong. Aku tidak segan-segan memecatmu Rik!" Ancam Deo menatap sinis Erik.


Membuat Erik memutar bola matanya malas. "Dari dulu ancamannya begitu-begitu terus!"


" Tapi kalau saya benar. Anda harus bersikap lebih baik kepada Arimbi!"


Deo menatap tajam Erik dengan alis berkerut. Namun, pria itu bukannya menjawab namun justru masuk menuju lobby.


" Apa Filimon ada?" Ucapnya datar kepada resepsionis yang bertugas di hotel itu.


" Ada pak. Maaf anda sia .."


Deo dengan wajah datar terlihat mengeluarkan kartu nama yang membuat wanita itu menelan ludah, dan tak meneruskan ucapannya yang terjeda.


" Telpon saja bosmu. Bilang Deo ada di bawah!" Sahut Deo datar.


Resepsionis itu mengangguk lalu melakukan apa yang di ucapkan oleh Deo. Membuat Erik mengerutkan keningnya.


" Anda kenal dengan pemilik hotel ini bos?"


" Bukan kenal lagi!"


Erik mencibir.


Sombong amat!


.


.


Diruangan Filimon


"Kau yakin?" Tanya pria berambut jabrik dengan gaya wet look, yang sedikit kaget manakala Deo menceritakan niat dan tujuannya ke sana.


" Tanya dia. Dia yang yakin!" Tunjuk Deo kepada Erik yang kini mendengus.


Selalu saja!


" Begini saja bro, jika boleh, kami ingin mengetahui dimana kamar tamu terkahir yang datang ke hotelmu ini"


" Aku janji tidak akan membuat keributan. Sebab tujuanku hanya ingin memastikan!" Ucap Erik melirik Deo.


Filimon terlihat menimbang-nimbang. Namun, ia juga kasihan kepada temannya itu.


" Baiklah, tapi tolong jangan buat keributan!"


.


.


Kamar 365


Merupakan kamar yang berada di lantai 27. Kamar yang kini menjadi tujuan Deo, untuk membuktikan apakah ucapan Erik itu merupakan fakta, atau sekedar isapan jempol belaka.


Ia meminta Erik untuk menunggu di bawah sebab ia hanya ingin memastikan dan tak berniat membuat keributan.


TOK TOK TOK


Ia menghela nafasnya dalam-dalam manakala dirinya merasa gugup dan makin tak sabar.


TOK TOK TOK


Merasa tak mendapatkan respon, ia mengulangi ketukannya dengan hati berdebar. Berharap yang keluar merupakan orang lain, sebab Filimon tak mau memberitahukan siapa nama penghuni kamar itu, ada dasar profesionalisme pekerjaannya.


CEKLEK


Tubuh Deo mendadak menegang manakala melihat sesosok yang ia kenali, tengah mengenakan sebuah bathrobe dan terlihat baru saja mandi, tengah berdiri menatapnya dengan wajah terkejut.


Ia mendadak merasa sebuah palu gada besar tengah menghantam dirinya secara bertubi-tubi. Terus dan tak mengenal kasihan. Meluluhlantakkan setiap bagian hatinya yang mendadak menjadi porak-poranda.


" Siapa sayang? Apa makanan kita sudah datang?"


Belum usai ia menelaah keterkejutan yang membuatnya tak habis pikir itu. Sebuah suara yang muncul bersama sesosok pria yang dia kenal itu, makin membuat darah Deo serasa mendidih.


Deo seketika menggertakan giginya, demi menatap pria bertelanjang dada berambut basah, yang kini berada di belakang kekasihnya yang nampak pias itu.


" Oh. Maaf, aku telah salah kamar. Maaf mengganggu kegiatan anda, tuan Bramasta!" Ucap Deo menatap Bram dengan wajah tak bersahabat.


Roro mendelik demi melihat Deo yang mengenali pria yang baru saja menggulung hasrat bersama dengan dirinya itu.


" Tidak masalah tuan Deo. Kesalahan dalam hidup itu merupakan suatu kewajaran bukan?"


Dua pria itu saling melempar tatapan bengis yang menyiratkan suatu persaingan. Membuat Roro benar-benar mati kutu dibuatnya.


" Kita selesai!" Ucap Deo geram menatap Roro yang benar-benar ketakutan.


" Deo ak..."


" Kau murahan!!" Ucap Deo dengan rahang yang mengeras dan biji mata yang telah memerah. Melirik Bramasta yang menatapnya penuh kemenangan.


Dengan dada bergemuruh, dan dengan isi otak yang mendadak keruh, pria itu melesat pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.


Sudah cukup. Semua ini lebih dari sekedar bukti.


" Deo!" Panggil Roro resah.


" Deo!" Wanita itu bahkan keluar kamarnya demi meneriaki kekasihnya yang mengangkat tangannya sebagai penanda jika ia telah muak.


" Baiklah, pergi saja. Lagipula, aku sudah bersama orang yang lebih darimu!"


Deo tak menggubris teriakan Roro yang penuh emosi itu, dan memilih berjalan dengan kobaran api kemarahan, yang menyelimuti dirinya.


Roro menangis dalam kelesuannya, sementara Bramasta tersenyum penuh arti.


" Perlahan tapi pasti Tuan Deo. Bersiaplah kau untuk kehilangan yang lainnya!" Batin pria itu tersenyum licik.


.


.


" Bagaimana bos, apa...."


Erik tak melanjutkan ucapannya manakala Deo menatapnya tajam dengan guratan merah di biji mata Deo yang begitu kentara. Ia menatap Filimon yang juga nampak bingung dengan seraut kusut yang kini berjalan pergi tanpa pamit itu.


" Oh Shiit! Apa aku bilang!"


" Ah bro, terimakasih banyak atas bantuan. Tapi...kau tahu sendiri jika bosku..."


" Aman! Aku paham Deo. Dia sepertinya menepati janjinya untuk tidak membuat kerusuhan disini. Tapi... sepertinya dia kelihatan sangat marah!" Jawab Filimon yang tak mempermasalahkan sikap Deo yang main ngeloyor pergi, tanpa berpamitan.


Erik mengangguk, " Biar aku urus. Sebab, untuk inilah aku dibayar!" Jawab Erik nyengir.


Assisten Deo itu diam dan terlihat berjalan menuju mobilnya. Tanpa di duga, ia terkejut manakala melihat Deo yang kini telah melesat dengan kecepatan tinggi, dan meninggalkan Erik seorang diri disana.


" Astaga, kemana dia? Lihatlah, benar kata papa. Pria itu kalau marah mirip om David!" Gumam Erik demi melihat mobil yang melesat pergi entah kemana itu.


.


.


.


.


.