My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 98. Save Arimbi part 3



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Roro


Ia tak menyangka jika pria yang awalnya bersikap baik kepadanya itu kini memperlakukan dirinya bak binatang.


Menyesal? Sudah barang tentu.


Roro yang baru siuman sebab baru saja di bius oleh anak buah Bram itu, menggedor-gedor pintu seperti biasanya kala kesadarannya telah kembali. Meski tak jarang, para penjaga atau bahkan Bram sendiri menyiksanya sejurus kemudian.


Ya, Bram mengurung Roro sebab ia juga takut bila wanita itu akan melaporkan dirinya ke pihak berwajib. Bagiamanapun juga, Roro merupakan orang yang tahu rahasia busuknya terhadap Darmawan Angkasa.


" Deo!" Roro seketika memeluk Deo seraya menangis ketakutan, manakala pintu itu terjeblak.


" Kau, kenapa kau...?" Deo melepaskan pelukannya secara paksa dan kini menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan penuh keterkejutan.


" Pria itu benar-benar jahat Deo. Arimbi...." Ucap Roro dengan linangan air mata yang tak bisa lagi di tahan.


Membuat tubuh Deo seketika tegang. Ada apa?


Bersamaan dengan ia yang penasaran akan ucapan Roro, sayup-sayup dari arah luar terdengar suara derap langkah yang kian mendekat. Shiit!


" Ada apa dengan Arimbi? Dimana dia? Apa dia juga di sekap disini? Katakan!" Tebak Deo panik saat menyadari jika Bram sepertinya telah kembali.


Roro menggeleng dengan wajah ketakutan dan air mata yang kian mengucur deras.


" Aku tadi dengar percakapan mereka diluar, mereka semua mengejar Arimbi masuk ke hutan, dan aku juga dengar Bram memarahi anak buahnya karena Arimbi masuk ke jurang!" Ucap Roro dengan suara bergetar sebab tangis yang bercampur rasa takut itu kian menjadi.


DUAR!


Petir bagai menyambar diri Deo detik itu juga, kala Roro mengatakan jika Arimbi masuk kedalam jurang. Pria itu seketika melepaskan tangan yang semula memegangi kedua lengan Roro dengan diri yang benar-benar lemas.


TAP TAP TAP


Roro semakin menangis, membuat Deo benar-benar dirundung kebingungan detik itu juga. Apalagi, ia kini benar-benar mengkhawatirkan Arimbi.


" Aku akan menolongmu, terimakasih sudah memberitahuku! Aku minta diamlah dulu, kau akan aman!" Ucap Deo dengan wajah resah, yang tak dapat lagi ia sembunyikan.


" Deo!" Roro menatap muram ke arah mantan kekasihnya itu. Membuat pria itu menoleh ke arah mantan kekasihnya yang kini benar-benar menyedihkan itu.


TAP TAP TAP


Mereka berbicara di bawah gempuran ketegangan, sebab langkah kaki itu kian mendekat.


" Maafkan aku!" Sorot mata Roro benar-benar tak bisa membohongi, jika dia benar-benar jujur merasa bersalah saat ini.


Deo hanya mengangguk canggung. Nyatanya, semarah apapun pria itu, Deo nampak kasihan melihat Roro. Namun, tujuan Deo saat ini tetaplah Arimbi. Pria itu membalikkan badannya sesaat setelah mengangguk kepada Roro.


" Tunggu!"


Membuat Deo kembali berbalik.


" Mereka ada banyak, perusahaanmu juga sengaja mereka masuki perlahan, ada pengkhianat dalam tubuh perusahaanmu!"


Membuat Deo kembali tercenung.


" Deo!" Ucap Roro lagi kali ini dengan wajah yang benar-benar muram.


Lagi, Deo menatap wajah Roro yang penuh dengan luka itu dengan rasa iba yang kentara.


" Selamatkan Arimbi!"


.


.


Arimbi


Ia mengucap syukur sebab malam itu fase bulan tengah purnama, membuat gelita di hutan itu tersuluh cahaya dari satelit terbesar bumi itu.


Setelah menyeret kakinya beberapa puluh meter, ia kini menemukan sebuah gubuk usang yang entah milik siapa. Arimbi menduga, gubuk itu mungkin milik salah seorang pemilik lahan singkong di hutan itu.


Lukanya semakin terasa nyeri saja. Kaki telanjangnya sepertinya juga tertusuk sesuatu kala ia berlari tadi. Dalam temaram cahaya bulan, ia yang benar-benar ketakutan kini menitikkan air matanya dengan rasa perih yang teramat menyiksa perutnya.


" Deo!" Lirihnya dalam hati, yang kini benar-benar tersiksa kerinduan.


.


.


DOR


DOR


CIT!


Mobil dengan body bercat silver metalic itu nampak mencetak stempel bekas ban diatas aspal, manakala Tomy dan David berhasil meledakkan kedua ban mobil yang di kendarai oleh si botak itu, dengan peluru mereka.


" Brengsek!" Maki Anthoni yang kini terpaksa mengambil senjata yang ia bawa dari balik punggungnya, mengokangnya lalu turun dengan segera bersama keempat rekannya yang lain.


Benar-benar tak memiliki pilihan selain menghadapi para pria di belakang mereka itu.


"Anjing!" Maki Anthony yang naik darah.


BUG


Demas yang sebenarnya masih resah sebab masih belum bisa menemukan dimana Deo, nampak langsung menyerang Anthoni tanpa ampun.


Membuat anak buah Bram itu kini tahu seberapa kekuatan seorang Demas.


Erik yang sudah geram sekaligus gemas, nampak melayangkan tendangan ke arah pria botak, dan membuat hidung pria itu seketika mengeluarkan darah.


BUG


Dua pria yang menjadi orang tua anak muda di depannya itu, juga nampak melayani serangan dari dua rekan Anthoni.


DUG


SREK


" Argghh!"


Tomy yang sedari dulu memiliki mimik wajah datar nampak mengcengkeram leher pria itu dan langsung membanting tubuh pria berkumis.


BRUOK


David yang nampak tenang menendang perut pria berkumis dan membuat orang itu terlempar sejauh beberapa meter, hingga menabrak mobil yang kini teronggok itu.


DUG


BUG


" Argh!" Ringis Demas yang sepertinya terkena tendangan dari Anthony. Sialan!


BUG


Balas Demas menendang perut pria berwajah datar itu dengan kemarahan yang melanda. Benar-benar saling beradu kekuatan, dibawah gempuran sorotan cahaya rembulan.


Anthony yang benar-benar geram, terlihat memetakan keadaan dengan melihat tangan kosong Demas yang tanpa persenjataan.


DOR


Anthoni sengaja melukai tangan kanan Demas, sebab pria itu benar-benar terasa sakit kala menuju wajahnya. Damned!


" Demas!!" Teriak David demi melihat anak keduanya kini tertembak di bagian lengan atasnya. Membuat Erik, juga Tomy kini kehilangan konsentrasi.


BUG


Kedua anak buah Bram nampak menendang tangan Erik dan Tomy secara bersamaan, membuat senjata mereka terpelanting ke atas tanah saat merasa kedua pria itu kehilangan konsentrasinya.


DUG


" Argghh!"


Ketiga pria yang konsentrasinya terganggu sebab Demas terkena tembakan, kini tersungkur sebab para pria licik itu nampak menggunakan kesempatan itu untuk kabur.


Diluar dugaannya, Anthoni yang melihat pintu mobil Erik terbuka, dengan gerakan cepat dan tak terbaca, terlihat memasuki mobil itu lalu di susul oleh para temannya.


" Cepat kita cabut!" Ucap Anthoni dengan penuh kegusaran kepada pria botak dan dua rekan lainnya.


Membuat Erik seketika membelalakkan matanya.


" Woy, apa-apaan kalian!" Teriak Erik demi melihat mobilnya kini di kudeta oleh Anthony untuk kabur.


SRIT


WHUS


Tomy yang melihat hal itu kini nampak merangkak lalu melesatkan tembakan ke arah mobil itu, namun gagal.


DOR


DOR


lagi, Erik pun melakukan hal yang sama namun sepertinya Anthony benar-benar lihai dalam mengemudi membuat segala usaha mereka menjadi sia-sia.


Damned!


" CK, brengsek!" Maki Erik kesal sebab kini kendaraan mereka telah di kudeta oleh Anthony.


" Mereka benar-benar licik!" Ucap Demas dengan kemarahan yang tak bisa ia sembunyikan.


David nampak mengabaikan hal itu dan kini lebih mencemaskan keadaan putranya. Pria beralis tebal itu nampak merobek pakaiannya, lalu membebatkan kain itu ke luka anaknya.


Membuat Erik merasa terenyuh.


Bersamaan dengan itu, Tomy yang juga nampak membantu mantan bos-nya itu, mengalihkan pandangannya kala ponsel Demas bergetar.


" Kak Deo!" Ucap Demas memberitahu semua rekannya.


" Angkat cepat!" Titah David.


Membuat semua orang kini menatapnya lekat-lekat.


" Aku ada di Villa di sebelah waduk buatan. Arimbi tidak ada di sini, dia hilang di hutan. Aku yakin Arimbi pasti masih hidup. Aku juga menemukan Roro di dalam. Bram dan Zakaria telah bekerjasama. Panggil anak buahmu Dem, aku sedang bersembunyi dari kejaran Bram!"


TUT


Demas tertegun dengan wajah yang mendadak pias, demi mendengar suara terburu-buru kakaknya, dengan segumpal informasi yang membuat tubuhnya bagai mati saat itu juga.


" Bagiamana?" Tanya David dengan wajah penuh keresahan demi melihat raut wajah Demas yang terlihat mendung.


" Kak Deo saat ini ada di Villa La Forest!" Ucap Demas lesu.


" Apa?"


" Arimbi tidak ada di sana, dia hilang di hutan. Roro yang memberitahu kak Deo!"


DEG


Membuat ketiga pria itu seketika tertunduk lesu.


" Roro juga di sekap disana? Bukannya wanita itu..?" Ucap Erik tak meneruskan ucapannya dengan wajah tak mengerti.


" Sepertinya pria itu memang sakit. Aku benar-benar bingung dengan semua ini!" Imbuh Erik demi merasai sikap Bram yang diluar nalar.


" Sebaiknya jangan bahas itu dulu. Tuan, luka Demas tidak bisa kita biarkan! Sebaiknya kita..."


" Tidak Om, aku bisa bertahan!" Sergah Demas seraya meringis. Tahu jika Tomy benar-benar mencemaskan dirinya.


" Tapi persoalannya, bagiamana kita sekarang? Kendaraan kita..."


" Aku akan menghubungi Fadli!" Sahut Demas nampak mengabaikan luka di lengannya.


TIN TIN


Ke empat pria lintas usia yang nampak masih larut dalam ketegangan itu, nampak menoleh ke sisi barat manakala sebuah mobil golongan bagus itu menyorot mereka dengan lampu LED yang menyilaukan mata.


" Pak!"


Demas seketika mendelik demi melihat wanita muda yang berada di balik kemudi itu.


" Eva?!"


.


.


.


.