
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Demas
Rasa sesal di dasar hati kini menjajah sukmanya. Di tatapnya Eva yang kini nampak duduk sembari di ikat dengan wajah layu dan di tunggui oleh Boni.
" Kuharap kau tahu apa yang harus kau lakukan. Aku hanya ingin keadilan disini. Kau tahu, Zakaria bisa berkeliaran bebas, tetapi kakakku..."
Membuat Demas menatap tak percaya. Kakak?
Kini, ia tahu mengapa orang itu berbuat seperti ini. Tapi, bukankah Demas juga tak tahu menahu soal mengapa Zakaria bisa bebas. Jelas permainannya kotor telah andil disini.
Raja nampak mendekat ke arah Demas yang menatapnya datar tanpa rasa takut. Walau kakinya belum sembuh sepenuhnya, tapi sebagi laki-laki, sebagai seorang suami yang kini penuh dengan kobaran penyesalan, ia akan fight sekuatnya, semampunya, dan sebisanya.
" Aku minta sekarang juga lakukan tugasmu!" Hardik Rajandra dengan gigi gemelutuk. Benar-benar tak memiliki banyak waktu sebelum sidang putusan digelar.
Namun,
BUG
" Argghh!"
Rajandra seketika mengerang kesakitan sembari menutup matanya tatkala Demas baru saja menjadukkan kepalanya ke arah wajah laki-laki itu. Membuat Rajandra naik pitam.
" Bos?"
Raja menaikkan tangan sebagai tanda kepada Boni untuk diam. Membuat Eva dilanda kecemasan yang hebat.
Dan sejurus kemudian.
BUG!
BUG!
" Mas!" Teriak Eva yang terkejut saat suaminya di hadiahi bogem mentah oleh Raja dengan cara memukulinya bertubi-tubi.
" Brengsek, apa kau pikir aku main-main hah?" Raja mencengkeram leher Demas dengan napas kemarahan yang begitu kentara.
Demas yang sebenarnya begitu geram dengan cara Raja kini hanya bisa menatapnya sengit sembari menahan bibir yang terasa pedih dan menebal.
" Kau jangan lupa, keluargaku pasti akan menemukanku saat ini!" Ucap Demas santai seraya menarik senyuman licik.
Mencoba mengecoh Rajandra meski ia sendiri tak yakin akan hal itu.
" Banyak bacot!" Sahut Raja penuh emosi.
BUG
BUG
" Raja, kumohon hentikan!" Eva nampak histeris dan menjerit menggelasut ke lantai dan minta suaminya untuk ya lagi di hajar. Membuat Boni turun tangan.
" Jangan sentuh istriku!" Teriak Demas saat melihat Boni menarik Eva dengan kasar.
Demas yang wajahnya kini babak belur hanya mencoba bertahan meski wajahnya terasa begitu kebas.
Raja tak menyadari maksud ucapan Demas yang begitu percaya diri itu. Sejatinya, Demas tahu jika senjata Raja tertinggal di rumahnya.
" Aku pikir aku benar-benar membuang waktu saat ini. Akan aku ledakkan sekarang juga kepalamu!"
" Raja!" Teriak Eva yang takut dengan ancaman Raja terhadap suaminya.
Demas masih bisa tersenyum dengan kondisi yang babak belur. Ia terus melihat Raja yang hendak menarik sesuatu dari tempat senjatanya.
Namun,
DEG
Rajandra mendadak terdiam manakala tangannya tak mendapati pistol di dalam tempatnya. Yes, you lose!
Ia yang tengah sibuk dan juga panik sejak membawa para saderanya itu, tak menyadari bila senjatanya tak ada.
Sial!
" Boni, ikut ak..."
BRAK!
Ia terkejut saat sedang ingin keluar untuk menemui anak buahnya yang lain. Sesosok wanita yang saat ini berdiri di hadapannya dengan derai air mata, mampu membuatnya membeku dan terpaku.
"Claire?"
.
.
Claire
Ia memaksa David untuk diizinkan ikut. Selain mengkhawatirkan Eva juga Demas, ia juga ingin memastikan langsung soal laki-laki yang saat ini membuatnya bimbang.
Sebuah CCTV di tepi jalan menjadi cikal bakal mereka dalam mencari keberadaan Demas. Tak mudah memang mencari jejak. Tapi kekuatan nama Darmawan, benar-benar bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka mau.
"Apa kau yakin Dli jika mereka kemari?" Tanya Erik yang saat ini ada di belakang kemudi. Tengah fokus membelah jalanan bersama Claire dan juga Deo. David dan Tomy ada di belakang bersama Jessika.
Mereka tahu ini berbahaya. Apalagi, dari pengalaman yang sudah-sudah, akan sangat tak mudah bagi mereka untuk memukul mundur lawan.
Mereka semua tak menyadari, bahwa ada hati yang tengah patah saat ini. Ada perasaan yang hancur. Perasan milik Claire.
Sepanjang perjalanan, ia hanya berharap bila orang itu bukanlah Sadawira. Ia hanya lebih banyak diam saat para pria jantan itu tengah sibuk membicarakan mitigasi penyergapan.
Hingga, mereka tiba di sebuah rumah mewah, besar dan sedikit asing untuk mereka.
" Parkiran kendaraan agak jauh!" Titah Deo kepada duo assiten di depannya. Membuat Erik mengangguk menyetujui.
" Papa tolong standby disini saja sama mama. Kami akan menghubungi jika membutuhkan bantuan!"
David menyetujui. Lagipula, ia tak ingin istrinya melihat adegan kekerasan.
" Claire, kau..."
" Izinkan aku ikut!" Pinta Claire dengan tatapan memohon.
Kini, Deo tertegun demi melihat sorot mata penuh kesedihan dari kedua netra adik sepupunya. What's wrong?
Membuat Deo mengangguk bimbang, " Baiklah. Kita masuk baik-baik!"
Seorang informan terpercaya mengatakan bila mobil yang membawa Demas dan keluarganya merupakan mobil dengan pajak mahal. Jelas mengindikasikan jika orang itu bukanlah orang sembarangan.
Sempat menduga-duga dalam benak. Apa ini persaingan bisnis?
Tak apa, toh Deo dan yang lain masih bisa bertamu baik-baik guna memastikan.
Namun, sebuah suara teriakan wanita dari dalam membuat Deo mengurungkan niatnya untuk menekan bel. Mereka langsung bergerak menuju sisi rumah besar itu.
Namun tiba-tiba.
" Siapa kalian?"
BUG
Deo meninju wajah laki-laki dengan pakaian hitam itu dengan sekali tonjokan yang mendadak mengejutkan mereka.
Membuat pria tambun itu pingsan seketika.
Claire yang melihat hal itu menjadi takut dan terkejut. Sebab baru pertama kali melihat kakak sepupunya se badas itu.
" Rik, ambil kuncinya! Aku yakin jika ini pasti rumah Rajandra. Siapa sebenarnya mereka ini. Kenapa Demas yang jadi target!" Ucap Deo demi melihat slogan Rajandra di baju pria tambun itu.
Fadli memindai sekeliling lokasi manakala Erik tengah sibuk mengambil kunci yang ada di bawah ikat pinggang pria gemuk itu.
" Badak ini menyusahkan sekali!" Gerutu Erik yang kesulitan manakala menarik rombongan kunci dalam ikatan itu.
Usai mendapatkan apa yang mereka inginkan, keempat manusia itu bergerak masuk setelah beberapa kali di pusingkan dengan kunci yang tak cocok.
Hingga, saat mereka berhasil membuka pintu utama rumah besar itu, mata Claire terbelalak demi melihat foto Sadawira yang gagah kala mengenakan Jas dengan tulisan di bagian foto besar itu.
...Sadawira Rajandra...
Membuat cairan bening Claire seketika mengembung di pelupuk matanya. Detik itu juga, wanita itu berlari masuk, meninggalkan tiga pria yang saat ini kebingungan dengan sikap Claire.
" Claire!"
Ia masih tak mempedulikan teriakan kakaknya. Ia terus berlari masuk dan lagi-lagi ia mendengar teriakkan. Membuatnya yakin jika Wira pasti mengurung kakaknya di dalam ruangan itu.
BRAK!
Ia seketika menarik handle pintu lalu menjeblaknya dengan begitu keras. Menampilkan wajah- wajah terkejut, utamanya sesosok laki-laki yang telah menarik hatinya.
" Claire?"
Ia bisa mendengar dengan jelas bibir Wira mengucap namanya. Menatapnya dengan wajah terkejut dan rona pias.
PLAK!
Sebuah tamparan yang begitu keras mengejutkan Demas bersama Eva, juga tiga pria yang kini baru saja berhenti dari kegiatannya berlari mengejar Claire.
" Hey!" Hardik Boni yang tak suka dengan tindakan wanita itu.
Namun, tangan Sadawira terangkat dan seketika membuat langkah Boni terhenti. Meski ia juga melihat, ada guratan penuh kekesalan dari pria yang menjadi abdi Sadawira itu.
Apa yang sebenarnya terjadi?
" Claire, jangan ceroboh. Kau bisa terluka nanti!" Deo yang tak tahu bila keduanya saling mengenal itu, menghardik adiknya dengan penuh kekhawatiran.
" Kenapa kau menipuku?"
DEG
Kini, Deo, Erik, Fadli, Demas bahkan Eva sampai terpaku demi melihat keduanya yang nampak begitu serius. Pun dengan Boni.
" Tunggu dulu, kamu kenapa bisa...."
" Jawab Wira! Apa kau sengaja mendekatiku hanya untuk membalas dendam kepada kakakku?"
DUAR!!!
" Ka- Kakak?" Jawab Wira terkejut hingga bibirnya terbata-bata. Sama sekali tak bisa memetakan keadaan, serta duduk persoalan yang ada.
Di bawah tatapan penuh keterkejutan para manusia disana, Claire menangis menatap Wira penuh kekecewaan.
Hatinya mendadak hampa, jiwanya mendadak kosong demi mengingat semua yang tejalin, dan harus tergantikan dengan kekecewaan yang mendalam.
" Kau manusia jahat yang pernah aku temui Wir!" Ucapnya lesu penuh kesedihan yang begitu mendalam. Menatap kosong Sadawira yang masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi.
" Tunggu dulu Claire, kau mengenal...."
" Aku yang bodoh kak!" Jawab Claire menghela napas demi melonggarkan dadanya yang sesak sembari menghapus air mata.
Bahkan, Sadawira tak lagi mempedulikan Erik dan juga Fadli yang saat ini sibuk membebaskan Eva juga Demas.
" Dia adalah adik Anthoni!" Seru Demas sesaat setelah jeratan tali dalam tangannya terbebas.
" Apa?" Membuat Deo terkejut bukan main.
" Kita selesai!" Ucap Claire lalu pergi dengan penuh kekecewaan.
" Claire tunggu Claire, tunggu!"
" Claire!"
Mereka semua membiarkan Sadawira mengejar Claire. Kini, Boni turut mengejar bos-nya yang nampak tak lagi mempedulikan para tahanannya.
Mereka yang masih ada di sana memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dari obrolan yang di tangkap oleh telinga mereka, sepertinya mereka telah mengenal satu sama lain.
" Maafkan aku mas!" Ucap Eva menangis demi melihat keadaan suaminya yang babak belur. Wanita itu memeluk erat suaminya dengan terus terisak. Tak lagi sungkan walau ada tiga pria lain.
" Sudah, aku tidak apa-apa!" Ucap Demas menahan tangis seraya mengelus punggung istrinya.
Membuat Erik memeluk Fadli yang kini mendengus jijik dengan tingkah rekannya itu.
" Biarkan mereka pergi. Lagipula, ada papa di depan!" Ucap Deo kini menatap adik-adiknya.
" Bik Sulis dan Ibu?" Tanya Eva dengan tatapan penuh tanya. Membuat Fadli dan Erik seketika paham akan tugasnya langsung saling melepaskan pelukan dengan wajah bergidik ngeri.
Kini, dalam balutan luka yang masih terasa, Demas bisa tertawa demi melihat aksi konyol duo assiten itu.
" Aku juga tidak mengira bila dia adalah adik Anthoni. Tapi, kenapa dia tidak mengenal Claire?" Ucap Demas yang kini penasaran ada hubungan apa sebenarnya mereka berdua.
" Dia sengaja mencari informasi tentang keluarga kita. Bahkan, Raja yang telah membuat aku kecelakaan!" Imbuh Demas lagi demi memetakan rentetan kejadian yang kini baru ia pahami.
Membuat Deo seketika geram.
Namun, kegeramannya sedikit mereda demi teringat berita yang termuat dalam surat kabar beberapa waktu yang lalu.
" Oh iya, aku lupa memberitahumu soal ini. Zakaria sepertinya menyuap beberapa orang dalam!"
" Apa kau serius?"
.
.
.