
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Eva
Dari tempatnya duduk, ia kini melirik Demas yang nampak tersenyum penuh ketulusan. Oh God! Baru kali ini dia melihat Demas tersenyum dengan keadaan normal seperti itu.
Dan tahukah kalian, Demas makin terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan, manakala pria itu tersenyum. Memperlihatkan barisan giginya yang bersih juga rata. Astaga, sayang sekali pria itu seringnya berwajah datar dari pada senyum begitu. Padahal, lihatlah! Dia begitu manis saat tersenyum.
Namun, Eva tetaplah Eva. Gadis yang keras kepala itu tentu tidak mau dong menunjukkan jika dirinya cemburu. Sebisa mungkin ia bersikap kukuh pada pendiriannya.
" Pelak peluk, emang aku apaan?" Sahut Eva ketus dengan pandangan yang terarah ke pojokan rumahnya.
" Ya udah, tapi kamu jangan marah begitu dong! Kan aku udah bilang dia bukan apa-apa ku!"
"Mau pacar mau enggak aku nggak peduli!" Sahut Eva tak kalah ketus.
" Tapi aku peduli kalau kamu marah!"
DEG
Eva kembali melirik Demas dengan wajah mendengus. " Duh laki banget sih, gini dong kalau ada orang ngambek itu di kejar, jangan malah di diemin. Aku kan jadi..."
" Va?" Tanya Demas yang membuat imajinasi Eva soal kemenangannya itu seketika menguap. Membuat dirinya mengangkat wajah.
" Saya terimakasih banyak sama kamu. Karena...kamu mau terluka demi aku!"
Kini, Eva kembali tertunduk seraya memainkan ujung jari jemarinya dengan perasaan bingung harus apa. Hah Demas, kenapa kalau sikapnya telaten begini makin buat Eva keranjingan sih?
Dan, kebungkaman Eva justru membuat Demas dilanda perasaan kebingungan dan keputusasaan. Benarkah menaklukkan wanita yang biasa cerewet saat tengah marah itu jauh lebih susah?
" Baiklah. Saya hanya ingin mengatakannya itu. Sekali lagi, kami tidak ada apa-apa. Jadi...jangan salah paham." Pungkas Demas yang merasa mungkin Eva betul-betul tak mau dengar penjelasan darinya.
Padahal, sebenarnya Eva masih gengsi saat Demas mengatakan hal itu. Tapi...jujur ia senang akan hal itu. Tunggu dulu, apa yang sebenarnya dia pikirkan? Apakah Eva juga tengah merasakan gejolak yang sama dengan Demas?
Wadiaww!
" Kalau begitu aku pamit!" Putus Demas dengan wajah hopeless seraya bersiap untuk bangkit.
" Aku pulang!" Serunya yang nampak putus asa kala tak satupun balasan keluar dari bibir Eva.
Bahkan, ia masih bersikukuh diam saat Demas mulai berdiri dan nampak meninggalkan dirinya yang masih duduk membeku sebab tengah berperang dengan perasaannya.
Hingga sejurus kemudian.
" Tunggu!"
Langkah Demas yang telah tiba di ambang pintu rumah Eva itu seketika berhenti demi sebuah teriakan. Membuat pria tinggi dengan tubuh yang nampak kuat itu membalik tubuhnya.
BRUK!
Demas terhuyung dan seketika mematung, demi pelukan yang dilakukan oleh Eva. Erat dan begitu mendekap. Membuat hati pria itu seketika merasakan getaran yang sulit ia jelaskan.
Eva memeluk dirinya dengan sungguh-sungguh.
Kini, tangan Demas yang awalnya menganggur itu perlahan terangkat lalu terlihat memeluk tubuh Eva yang hanya sebatas pundaknya. Membuat Ibu Eva yang hendak mengeluarkan minuman untuk tamu itu seketika berhenti lalu menyuguhkan seulas senyum.
Wanita itu nampak memilih membalikkan badannya lalu kembali masuk ke dapur, sebab tak ingin menginterupsinya. Ia pernah muda, dan ia tahu cukup paham akan hal semacam itu.
Entah mengapa, hatinya bersyukur sebab anaknya itu sepertinya tengah mau dekat dengan sosok pria dewasa yang tak hanya baik, namun juga begitu sopan. Membuat hatinya lega, karena sepertinya Eva sudah move on dari Sinyo.
" Saya yang terimakasih karena Pak Demas sempat mencemaskan keadaan saya Pak. Saya..."
CUP
Mulut yang harusnya meneruskan kalimat pengakuan itu, harus rela terjeda sebab bibir Demas telah membungkam bibir cerewet itu.
Tinggi Eva yang hanya sebatas pundak Demas membuat pria itu sedikit menundukkan kepalanya demi mengecup bibir yang terasa manis kala ia kecap itu.
Tangan kanan Demas nampak tekun menarik pinggang ramping Eva, sementara tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menarik tengkuk gadis yang kerap berpenampilan on itu.
Sungguh peristiwa yang benar-benar membuat keduanya menepikan ego yang ada. Nyatanya, dua sikap serta sifat yang saling bertolak belakang itu, menjadi sebaik-baiknya perpaduan yang pas.
Bahwa jangan menunggu diri kita sempurna untuk mencari cinta, tapi gunakan kekurangan satu sama lain untuk membuat kesempurnaan bersama.
Eva yang larut dalam buaian keindahan cinta yang di tawarkan oleh Demas, turut meraba dada bidang pria yang selalu wangi itu. Membuat anak bungsu David dan Jessika itu merasakan ledakan kebahagiaan yang tiada terkira.
Kini, keduanya nampak tersengal-sengal dengan wajah yang sama-sama malu sesaat setelah ciuman mereka terlepas. Demas nampak mengusap lembut bibir Eva yang kini kepala terdongak keatas.
" Cepat sehat, aku ingin mengajakmu makan malam!"
.
.
...🌿🌿🌿...
Dua Minggu sudah hari berlalu, pasca kejadian mengerikan yang akhirnya membuat tabir rahasia Deo dan Arimbi tersibak itu rupanya, banyak hal tak terduga yang juga datang silih berganti.
Dalam kurun waktu itu pula, banyak hal yang berjalan tidak sesuai ekspektasi.
Mulai dari Eva yang belum bisa masuk kerja karena lukanya yang tiba-tiba mengalami masalah, hingga membuat rencana makan malam terpending hingga hari ini.
Batalnya kedatangan pak Edy sebab beliau sempat sakit dan menjalani perawatan di kota S.
Hingga Arimbi yang dilarang masuk bekerja oleh Deo semenjak orang-orang tahu jika dia merupakan istri siri Deo.
Erik yang disibukkan dengan urusan pembenahan struktur kerja Darmawan Angkasa, menggandeng Daniel untuk menggantikan posisi ibu Fransiska. Membuat pria itu kembali dirundung kegundahan kala tak memiliki waktu banyak untuk menggombali Wiwit.
Resita yang memiliki kontribusi besar dalam meminjamkan mobil itu, mendapat reward kenaikan jabatan yang bersanding dengan Novi dan Hera. Hal itu pantas ia dapatkan sebab Resita memang memiliki intelektual yang tinggi.
Eva semakin dekat dengan Demas. Walau, hingga detik ini Keduanya belum berani menunjukkan hal itu kepada rekan, sahabat, juga keluarganya. Alasannya ialah, mereka mau fokus ke acara Deo yang akan melangsungkan pernikahan keabsahan negara dengan Arimbi.
Tentu saja hal itu terjadi. Dian yang notabene tak memiliki background macho, kini harus membiasakan diri berjibaku di bawah gempuran limitnya time frame bersama pilot.
Bahkan, golongan hompimpa itu kerap mengeluh kala ia harus berlarian ke apron, demi membantu kelancaran operasional backside.
Yohan nampak kelihatan keren sebab dalam waktu yang tidak lama, keterpaksaan minimnya pegawai beberapa waktu lalu membuat dia terbiasa bekerja mobile.
Alhasil, pria yang kini wajahnya terlihat lebih bersih karena di berikan skincare atas rekomendasi Dian itu, makin lihai dalam penguasa sistem sisi manapun.
Sementara itu, Bram benar-benar dijatuhi pasal berlapis. Persidangan kesekian kalinya masih akan digelar Minggu depan dengan agenda putusan pengadilan.
Nasib buruk nampaknya menerpa Zakaria. Pria yang terkenal perfeksionis itu, resmi di pecat dari direski Andanu Air, dan digantikan oleh KK wanita muda yang energik. Membuat beberapa manager kerap dibuat pusing sebab wanita itu lebih rewel dari dugaannya.
Perlahan namun pasti, Deo nampaknya memperbaiki pasal terkait kerjasama, agar hal serupa tidak terjadi dikemudian hari.
Perekrutan Sumber Daya Manusia baru pun, mereka lebih perketat lagi dengan mengandalkan asal usul yang jelas. Tak mau kecolongan, Erik bahkan merekrut satu orang yang ia posisikan di bidang quality control SDM mereka.
Sementara itu, Arimbi yang masih dalam mode marah sebab dilarang bekerja oleh suaminya itu, seketika terkejut kala sepasang tangan kekar melingkari perutnya, manakala ia berdiri menatap cakrawala di senja yang merona itu.
" Istriku masih marah rupanya!" Bisik Deo memeluk tubuh istrinya dari atas balkon kamarnya.
Membuat Arimbi sedikit menggeliat demi mencoba melepaskan diri, sebab ia masih kesal atas putusan semaunya sendiri yang di lakukan oleh Deo.
Padahal, Arimbi sangat mencintai pekerjaannya itu.
" Lepas, gerah tau!" Elakknya mencoba melepaskan diri dari jeratan suaminya. Membuat Deo tersenyum penuh arti.
Namun, saat Arimbi masih merajuk seraya menatap kesal ke arah lurus, sebuah ledakan mengejutkan dirinya.
DAR!!
" Selamat sore Bu Bos!" Koor semua orang yang mendadak muncul dengan keadaan berjubel, tanpa Arimbi sadari waktu kedatangannya. Membuat Deo tersenyum penuh arti sebab rencananya telah berhasil.
Mata Arimbi mendadak membulat dengan hati terkejut, demi melihat Dian, Eva, Resita, Yohan, Demas, Daniel, Hizkia, Erik, mbak Wiwit, Farel, bahkan para tetua dari keluarga Darmawan itu, nampak meledakkan balon yang membuat suasana meriah.
Arimbi yang nampak senang karena belum pernah mendapatkan perayaan seperti itu, seketika menitikan air matanya.
" Kamu masih saja marah. Jadi...aku terpaksa mengundang pasukan agar bisa meluluhkan hati permaisuri yang merajuk!" Ucap Deo menoleh pipi istrinya dengan gemas.
" Duhhh, pak bos co cuuiut banget sih. Aku kan jadi mau...aw!" Dian seketika menjadi belingsatan dan kemayu, manakala ia melihat Deo yang nampak tak sungkan menunjukkan kemesraannya di hadapan karyawan, yang saat ini menjelma menjadi temannya itu.
Membuat Hizkia yang dipeluk mesra oleh Dian seketika bergidik ngeri sembari bersikeras melepaskan jeratan tangan Dian, yang menempel bagai cop gurita. Hi!
Dan, belum juga selesai keterkejutan Arimbi akan kejutan itu, pria bertubuh tinggi tegap itu nampak menundukkan tubuhnya, seraya meriath sebuah kotak beludru berwarna navy, yang berisikan cincin berlian indah lalu menyuguhkannya kepada Arimbi.
Emm so sweet 😍
Cincin yang telah ia pesan dari Dananjaya'S Jewelry itu, membuatnya semakin percaya diri kala mengungkap hal yang sempat tertunda. Hal yang diawal-awal pernikahan bahkan tak pernah terjadi.
" Mari kita menikah sekali lagi agar dunia tahu jika kau benar-benar milikku!" Ucap Deo dengan mata berkaca-kaca. Penuh kesungguhan, penuh cinta kasih.
Arimbi yang tahu maksud dari Deo itu seketika memangis haru. Melupakan kekesalan, kemarahan, dan juga kesebalan beberapa hari ini menderanya.
Membuat hati para orang tua yang menyaksikan itu seketika menjadi bahagia.
Ya, Deo akan segera menggelar pernikahan sesungguhnya dalam waktu beberapa hari lagi.
Thanks God, for everything that you gave.
KLOTEK
Resita yang ponselnya terjatuh sebab terlalu fokus terhadap dua sejoli di depan sana itu, sampai terkejut dengan hal itu.
Dan saat ia hendak meraih ponsel yang telah tergelatak dilantai mengkilat itu, sebuah tangan besar mendadak bersentuhan dengannya, kala sebuah niat yang sama terjadi bersamaan.
DEG
" Sepertinya ponselmu akan jauh lebih aman jika kau masukkan kedalam tas!"
Resita mendadak membeku kala Daniel berbicara tepat di depannya, dengan posisi tangan mereka yang masih menempel satu sama lain. Hembusan napas Daniel yang beraroma mint itu, makin membuat Resita gugup.
Dalam waktu yang benar-benar tidak pas itu. Resita menelan ludahnya demi rasa gugup yang tak bisa ia sembunyikan.
" Oh ya, terimakasih banyak sudah kasih kue. Enak banget. Mamaku suka!"
Resita seketika tersipu malu. Setelah sekian lama tak memiliki nyali untuk memberikan sesuatu kepada pria yang telah ia sukai selama ini itu, akhirnya Resita mendapatkan sebuah sinyal yang menggembirakan.
Ya, melalui Dian, Resita memberanikan diri menitipkan kue untuk Daniel. Entah mengapa, semenjak ia mengetahui jika Arimbi sebenarnya telah menikah dengan Deo, dirinya menjadi berlega hati.
Walau ia tahu, ada gurat kekecewaan yang nampak di wajah Daniel beberapa hari yang lalu, kala berita itu masih hangat diperbincangkan.
Dalam riuh rendah suara celotehan karib manusia yang bertepuk tangan kala Arimbi memeluk Deo. Resita dan Daniel nampak saling berbalas senyum dengan keadaan yang sama-sama berjongkok.
" Oh ya, kamu punya waktu longgar nggak? Mama bilang, ingin meminta kamu bantu buat kue untuk arisan Kamis depan!"
Membuat Resita seketika terkaget demi pertanyaan yang nampak biasa diucapkan oleh Daniel, namun sangat tidak biasa untuk dirinya yang mendengarkan.
Apa? Bantu buat kue?
Oh no!
.
.
.
.
.
.
.