My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 101. Kegundahan rival



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Ia kini berada di balik punggung lebar nan begitu melindungi dengan bau harum itu, dengan perasaan was-was. Suara krosak- krosek itu nampaknya berhasil membuat dua sejoli itu resah dan tak tenang.


Berada di tempat asing dengan keadaan seperti itu jelas membuat mereka harus waspada.


" Mas? Aku takut!" Lirih Arimbi menangkap lengan kekar Deo dengan begitu rapat. Seolah takut bila di tinggal kabur.


" Sstt, jangan bersuara!" Pinta Deo dengan mulut komat-kamit dengan suara yang tak terdengar. Sebisa mungkin meredam suara sebisanya. Membuat Arimbi justru gagal fokus demi terpaan hangat napas Deo.


Ah sial.


Arimbi mengangguk dengan dada berdebar. Sedikit mengutuk dirinya sebab entah mengapa pikirannya justru kini teralihkan demi melihat otot lengan Deo yang membuatnya tergoda untuk merabanya. Oh Gosh!


Deo nampak mematikan cahaya dari ponselnya, lalu perlahan menjengukkan kepalanya ke arah luar melalui celah sempit pintu berukuran dua meter itu. Memindai sekeliling dengan sorot mata tajamnya.


KROSAK!


Lagi, suara mengejutkan itu makin membuat Arimbi mempererat gamitannya.


Deo tak melihat adanya tanda-tanda manusia atau siapapun disana. Namun, sebuah gerakan masiv di semak-semak membuatnya memicingkan matanya dengan penuh kecurigaan.


Ia seketika berinisiatif kembali menyalakan senter pada ponselnya, dan jelaslah objek meresahkan yang berada di depannya saat ini.


KROSAK!


Sebuah binatang berduri dari golongan ordo rodentia ( pengerat) itu, nampak asik mencumbu batang kayu dengan tanpa sungkan.


Membuat Deo seketika menghela napas lega.


" Sepertinya ada makhluk lain yang kelaparan selain kita sayang!" Ucap Deo terkekeh-kekeh menatap landak yang asih memamahbiak.


Membuat Arimbi seketika melonggarkan cengkraman tangannya. Ya, Landak merupakan kelompok hewan terestrial yang aktif pada malam hari. Bukan salah Landak juga kan?


Arimbi seketika bernapas lega. Sungguh, ia ingin sejenak berhenti dari rasa tegang dan menikmati waktu berdua, walau keadaannya benar-benar memprihatinkan.


" Huft, syukurlah. Aku pikir..."


" Dah, ayo kita masuk. Kakiku juga agak pegal!" Ucap Deo mengusap lembut pipi Arimbi.


Kini, keduanya nampak menggelar karung putih kusam bertuliskan merk pupuk bersubsidi sebagai alas.


" Aku capek banget mas!" Ucap Arimbi dengan raut loyo, dan suara lelah. Membuat hati Deo nyeri.


Deo kini duduk menggelosor dengan keadaan hanya mengenakan kaos dalam putih. Menampilkan bentuk tubuh yang liat menggoda.


" Tidurlah disini sebentar. Kita bisa jalan pelan-pelan nanti!" Ucap Deo menepuk pahanya yang telah ia selanjarkan.


Arimbi mengangguk dan seketika merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan paha kokoh Deo. Arimbi benar-benar lelah dan merasa tubuhnya benar-benar nyeri malam itu.


" Tidurlah!"


CUP


Deo mencium kening Arimbi penuh kasih sayang, pria itu sejurus kemudian terlihat menyelimuti tubuh Arimbi menggunakan kemejanya yang telah ia sobek di bagian bawahnya.


Anak sulung Jessika itu nampak menyenderkan punggungnya pada dinding tepas dengan pikiran bercabang. Tentang bagiamana kelangsungan perusahaannya saat ini, serta bagiamana cara ia keluar dari hutan itu.


Mengingat tak mungkin ia melewati sungai untuk sampai ke areal perkebunannya.


" Kuatkan aku Tuhan!"


.


.


Eva


Ia tercenung dengan hati yang panen pertanyaan. Bagiamana bisa sahabatnya itu menjadi istri Deo, dan bagaimana pula ia tak mengetahui semua itu. Benar-benar kampret!


Gadis ceplas-ceplos itu masih duduk dengan rasa tegugu demi sebuah kenyataan mengejutkan yang membuatnya berastaga seratus kali.


" Arimbi istrinya Pak Deo? Bagaimana bisa?"


Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus dan terus saja berkeliling didalam relung hati serta pikirannya.


" Simpan pertanyaan kalian nanti. Sebab aku yakin, satu pertanyaan terjawab, pasti akan ada pertanyaan susulan!" Tukas Erik demi memecah keheningan yang kian menyeruak.


" Udah kayak gempa aja pak ada susulannya!" Sahut Dian dari jok paling belakang.


Eva yang terus membisu sedari tempat bertemunya dia dengan rombongan Erik tadi, masih tak percaya dengan hal itu. Gadis itu malah melakukan gerakan mengelus lengan Demas yang terluka dengan tatap kosong.


Membuat Demas melirik Eva dengan wajah datar.


Ya, Erik kini duduk bersebelahan dengan Papanya, Tomy. Sementara David, Demas dan Eva duduk dalam satu baris sebab Eva tadi sempat marah-marah kala Dian terus mengeluarkan gas beracun tanpa henti.


" Aku masuk angin. Kalau gak dikeluarin bisa mati!" Begitu ucap Dian kala mobil yang dikemudikan oleh Erik itu baru saja berjalan.


" Kalau elu keluarin terus, aku yang jadi mati, kampret!" Balas Eva mendengus kesal.


Membuat mereka semua sepakat untuk menempatkan Dian di jok paling belakang, demi menjaga stabilitas keamanan satu betina itu.


Dasar bokong biadab! Begitu maki Eva tiada henti.


.


.


Bramasta


" Brengsek!"


" Cari dan bunuh orang itu cepat!" Teriak Bram kepada anak buahnya yang datang melaporkan penyerangan yang di lakukan oleh Deo.


Bram benar-benar naik pitam demi melihat kondisi anak buahnya yang datang dengan wajah babak belur.


Membuat Roro yang duduk di atas lantai dengan tangan diikat itu, tersenyum penuh kemenangan.


" Bersiaplah untuk membusuk di penjara pria sialan!" Maki Roro dari bawah, membuat Bram seketika mengalihkan pandangannya lali mendatangi wanita itu.


PLAK!


" Argghh!"


Bram yang benar-benar geram itu nampak tak segan menampar Roro, sebab ucapan wanita itu makin membuatnya stres dan frustasi. Damen!


" Aku yakin Deo pasti sudah menemukan Arimbi, dan aku berharap mereka bisa segera keluar dan melaporkan kalian ke polisi!" Ucap Roro lagi menatap penuh kebencian ke arah pria yang pernah tidur dengannya itu.


" Kurang ajar!"


PLAK!


Wajah Roro kini terlempar ke arah kiri manakala tangan besar itu, kembali menghadiahi Roro dengan tamparan yang begitu keras.


Bram nampak dikuasai oleh kemarahan itu, seketika menjambak rambut Roro hingga membuat kepala wanita itu mendongak.


Roro yang kesakitan masih bisa menyuguhkan senyum sumbang. Sungguh, ia sangat senang demi melihat Bram yang kini kebakaran jenggot.


" Bosan hidup kau rupanya, hah?" Teriak Bram dengan suara menggema dengan posisi masih menarik rambut Roro dengan kuatnya.


Membuat Roro tersenyum penuh ironi.


" Apa, kau membunuhku?" Jawab Roro dengan senyuman miring.


"Bunuh aku! Ayo bunuh aku!" Teriak Roro menantang Bram.


" Lagipula, Deo sudah melihat jika kau bekerjasama dengan Zakaria brengsek itu. Sekalipun aku mati, aku sudah bisa berlega hati sebab setidaknya aku sudah memihak kebenaran sebelum ajalku tiba!"


DEG


Membuat Bram seketika menggertakan giginya kala melihat Roro yang tertawa mengejeknya.


" Ayo bunuh aku! Lagipula, jika polisi menemukan mayatku setelah ini, hukumanmu juga pasti akan bertambah bukan? Jahahaha!"


Bram yang melihat Roro tertawa dengan begitu mengerikan seketika tak berkutik, dan mendadak kepalanya serasa mau pecah.


.


.


.


.


.


.