My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 57. What' wrong?



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Sorot mentari yang teramat menyilaukan itu, berhasil membuat sepasang netra sembab wanita itu terbuka. Arimbi merasa sekujur tubuhnya remuk bagai tak bertulang.


" Astaga, kepalaku sakit banget!" Ucapnya mencoba membangunkan diri sembari memegangi kepalanya.


" Hah?" Ia yang baru menyadari pergulatan panasnya bersama Deo semalam kini mendadak membatu.


" Aku kan semalam?" Ia mendecak tak percaya demi mengingat jika dirinya dan laki-laki itu telah bercumbu.


Arimbi tertunduk layu demi merasai jika kesuciannya telah sirna. Hilang sudah mahkotanya yang paling berharga. Ia tahu, walau Deo dengan dirinya sah-sah saja dalam melakukan persenggamaan itu, namun ia merasa sedih manakala menyadari jika Deo melakukan itu bukan karena cinta, tapi karena ketidakwarasan.


Dilihatnya kamar bercat monokrom itu telah bersih. Bekas air yang ia gunakan untuk menyeka Deo semalam pun, juga telah tidak ada. Bahkan, ruangan itu kini pekat dengan aroma parfum Deo yang masih berevapurasi disana.


" Kemana orang itu?" Gumamnya agak takut seraya mencoba bangkit walau pangkal pahanya rupanya terasa nyeri dan ngilu. Bagai di robek, kewanitaannya kini terasa sangat sakit dan perih.


" Duh, begini banget rasanya. CK!" Ia meringis manakala mulai berjalan ekah- ekeh menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Berharap pria itu tidak muncul dulu, sebelum ia beres dalam mengenakan pakaian.


.


.


Deo


Erik bolak-balik melirik mimik wajah Deo yang tak bisa di tebak pagi itu, manakala dirinya menenggelamkan diri pada lamunan soal darah yang membercak diatas seprei putih kasurnya.


"Hah, sial. Kenapa aku terus memikirkan hal itu!"


Ya, Deo yang pagi itu sengaja pergi lebih dulu sebab tak sanggup menghadapi Arimbi, terlihat termenung diatas singgasananya.


" Jangan bilang dia stres gara-gara sundel itu!" Batin Erik di sela-sela kegiatan mengetiknya. Sok udzon demi menarik benang merah, yang mungkin saja terjadi akibat persoalan kemarin.


" Rik, ubah reservasi ke namaku. Aku yang akan berangkat ke Tenggarang. Oh iya, masukkan Arimbi, Daniel dan juga anak baru satu lagi siapapun terserah, untuk ikut kesana!"


" What?"


Deo mendengus demi mendengar mulut Erik yang mengatakan kata 'what' dengan keras dan lebay.


" Biasa aja mulutmu!"


" Minta Arimbi besok masuk Rik. Anak itu juga. Ingat, kamu atur gimana caranya Arimbi bisa dekat kamarnya sama saya. Ingat itu!"


Erik melongo saat Deo selesai mengucapkan kata-kata mengejutkan itu. Apa kepala bosnya itu baru terbentur sesuatu?


" Baik Pak!"


Deo kini terlihat pergi dengan wajah datar. Entah akan menuju kemana pria itu. Erik tidak tahu pasti.


Dan entah mengapa, mengetahui jika dirinya merupakan orang pertama yang memasuki wanita itu, membuat bayangan wanita itu susah hilang dari ingatannya.


" Sedang apa dia ya?"


.


.


Meja check in Terminal Domestik


" Elu yakin?" Eva yang baru saja menyelesaikan tugasnya pagi itu, kini bergunjing bersama best friend partner ever nya Dian.


" Yakinlah. Biji mataku ini masih waras kali sun. Arimbi itu enggak ada dirumah. Kemarin nih ya, aku sama saudaraku juga datang ke pantai Kurawa, lha... aku malah di panggil sama salah satu yang punya lapak disana, katanya kakak sepupunya gitu, dia Lo malah nanyain Arimbi ke aku, kan aneh!" Ucap Dian seraya mengipasi wajannya dengan kipas mini bergambar karakter kucing dari negeri sakura.


Eva tertegun demi mendengar penuturan sahabat cucoknya itu. Merasa curiga, demi keanehan yang mendadak tercipta.


" Harusnya kalau dia di skors, dia dirumah kan. Dia juga kalau diajak ketemu susah deh!" Imbuh Dian yang makin membuat keduanya muram.


" Atau jangan-jangan!"


" Ngomongi apa kalian? Kerja! Disini bukan tempat gosip!"


" Oh sial, kenapa Pak Deo tiba-tiba ada disini!" Batin Eva menelan ludahnya.


" I-iya Pak!" Jawab Dian terbata-bata.


" Saya enggak mau lagi lihat kalian pada asik nggosip di meja check in, saat yang lain sibuk Ngerti?"


" Mengerti Pak!"


.


.


Daniel


" Papa Kilo - Alpha Golf Nancy, Capitano Bambang Arunika Yudhistira, cargo compartemen depan, refuel di...."


Suara Handy Talky yang menyuarakan gelombang suara dari Ramp yang berada di apron itu, bahkan tak bisa menyadarkan Daniel dari lamunannya.


" Di copy Oscar?"


" Oscar monitor!"


" Gohet Gohet!" Daniel yang terkesiap seketika menggelengkan kepalanya, demi terkejut dengan panggilan dari HT yang keras itu.


Membuat Hizkia yang notabene merupakan rekan sesama operation senior disana itu, meninggalkan kesibukannya yang tengah memantau weather di BMKG.


" Yok ulang ulang gimana?" Ucap Hizkia menekan tombol pada HT, demi menyadari jika Daniel tengah tak fokus.


Ramp yang bertugas bahan terdengar mendengus demi pesan yang belum tercopi oleh petugas di operation itu.


" Yaelah bang. Udah panjang lebar jugak!"


" Sory, tadi HT-nya nyendat- nyendat! Yok ulang, refueling avtur berapa?" Ucap Hizkia berbohong demi melihat Daniel yang nampak memijat keningnya.


Daniel berpindah posisi dan terlihat membuka lemari untuk mengambil air mineral, dan membiarkan Hizkia meneruskan pekerjaannya.


Sejenak merasa dirinya benar-benar lelah demi memikirkan seseorang. Oh my God!


" Pak ada tambahan cargo 150 kilo, gimana?" Ucap salah satu petugas loading check list, yang menjengukkan kepalanya di pintu flop itu.


" Ini udah close kenapa di terima!" Daniel yang biasanya sabar itu, kini terlihat marah dan gusar. Membuat rekan-rekannya yang bertugas di backside itu saling menatap heran.


" Naikin ke next flight aja, infokan ke yang nerima tadi, biar mereka nginfo ke shipppernya. Hiz, kalau udah beres cetak loadsheet. Begini aja musti tanya-tanya terus!" Tukas Daniel dengan wajah bersungut-sungut. Terlihat gusar.


Hizkia yang paham jika rekannya itu sepertinya tertimpa persoalan, kini hanya diam. Ia yakin, Daniel pasti tengah memikirkan sesuatu.


" Udah, naikin ke flight selanjutnya aja. Bilang anak-anak cargo yang baru kalau kita close cargo dua jam before schedule!" Ucap Hizkia lembut. Membuat anak yang baru saja kena damprat Daniel itu seketika mengangguk lalu pergi.


" Oscar monitor!"


Kini, biak Daniel maupun Hizkia saling melempar tatapan, demi mendengar suara orang nomer satu di tubuh Ground Handling itu, yang memanggil mereka dari dalam HT.


" Gohet Pak!" Jawab Hizkia cepat.


" Kalau ada Daniel, minta dia menemui saya di lounge yang di lantai dua! Segera ya!"


Hizkia menatap Daniel yah nampak terkejut. Kan ada telpon. Kenapa musti lewat HT?


Ada apa sebenarnya?


" Siap Pak, di copy!" Jawab Hizkia penuh nada kesopanan.


" Pak Deo minta elu ke atas tuh. Ada apa sih?" Tanya Hizkia dengan alis bertaut, menatap Daniel yang juga terkejut.


Daniel hanya diam sembari gencar berpikir. " Kalau elu tanya ke gua, nah gua tanya siapa?"


.


.


Keterangan


Apron : Parkiran pesawat


Loadsheet : Dokumen yang wajib ada saat pesawat hendak terbang, yang menerangkan semua hal yang di muat dalam kompartemen pesawat, baik penumpang, bagasi, cargo, banyaknya avtur hingga konfigurasi pilot dan crew.