
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Eva
Sejak ia tiba petang kemarin, ia mendadak merasa suhu badannya meningkatkan dan merasa tubuhnya tak seperti biasanya. Ditambah, perut bagian atasnya terasa sangat sakit dan nyeri.
Bahkan, udara AC yang biasanya tak hentinya ia butuhkan, semalam ia matikan demi rasa gigil yang kian mendera.
Lebih parah lagi, semalam ia bahkan lupa mensetting alarm. Membuat Eva pagi ini tak bangun, bahkan masih memejamkan matanya saat gedoran membabi-buta itu kini nampak mengusiknya.
TOK TOK TOK
Sayup-sayup suara ribut itu berhasil membuatnya membuka mata, walau dengan rasa tenggorokan yang kering dan perutnya yang sakit.
TOK TOK TOK
" Duh ya ampun!" Saat bergumam dengan suara serak, Eva menyempatkan diri untuk menggulir ponselnya yang ia charge di samping ranjang tidurnya, guna melihat jam.
" Hah?" Dengan meringis menahan nyeri, ia mendelik manakala melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih itu.
" CK, astaga!" Jawabnya sedikit terburu walau dengan rasa badan yang begitu meriang.
TOK TOK TOK
Gedoran yang entah sudah keberapa kali itu membuat Eva menyeret langkahnya dengan memegangi perut yang benar-benar sakit, dan kini terasa mual.
CEKLEK
" Kau ini kurang aj.."
Suara seorang pria yang nampak berang itu terdengar mengecil manakala Eva telah membuka seluruh bagian pintunya.
Menampilkan seraut wajah yang terkejut, demi melihat dirinya yang meringis sembari memegangi perut dengan bibir yang pucat.
.
.
Demas
Usai mendapat telepon dari Deo dan dimintai tolong soal salah satu anak buahnya yang terlambat, pria itu benar-benar merasa kesal.
Bagiamana tidak, ia yang harusnya pagi ini berniat menemui Arimbi guna memastikan apa kakaknya itu masih bersikap baik atau tidak, mau tidak mau harus mencari wanita ruwet itu.
Sialan!
" Sejak pagi belum ada yang keluar Pak. Mungkin masih ada di kamarnya!"
Begitu terang seorang security yang bertugas di bawah. Membuat Demas segera menyeret langkahnya menuju kamar Eva, guna memastikan informasi yang ia dapatkan.
TOK TOK TOK
Ia dengan wajah datarnya sengaja mengetuk pintu yang memang terkunci itu dengan agak keras. Hatinya kesal karena menurutnya, gadis itu lebih sering merepotkan dari pada menguntungkan.
TOK TOK TOK
Demas mulai kehilangan kesabarannya. Ia menggedor pintu itu lebih keras lagi dengan alis yang tak hentinya berkerut. Menegaskan jika laki-laki itu tengah gusar.
" Baiklah, jika satu kali lagi pintu ini tidak terbuka. Aku akan pergi. Memangnya siapa kamu!" Ia bermonolog resah guna mengeluarkan hati yang dongkol pagi itu.
TOK TOK TOK
Demas menggertakan giginya seraya berkacak pinggang, sembari menghela napas demi memproduksi kesabaran.
CEKLEK
Dan saat pintu itu lekas terayun, ia yang sudah geram itu tak sabar ingin segera mendamprat biang masalah itu.
" Kau ini kurang aj.."
Namun, ucapannya mendadak menguap manakala ia melihat Eva yang membungkukkan badannya, seraya meringis dan nampak menahan sakit.
" Huek!"
"Huek!"
Meninggalkan Demas yang mematung dengan segala keterkejutannya.
Pria itu tanpa menunggu lagi segera melesat mengikuti kemana arah Eva pergi. Dari tempatnya berjalan, ia samar-samar mendengar suara Eva yang mual-mual yang berkolaborasi dengan suara kran WC yang menyala.
" Astaga, kenapa ini? Apa kau sakit?" Wajahnya bahkan seketika berubah menjadi lebih panik. Menatap muram Eva yang nampak menjengukkan kepalanya condong ke dalam closed.
Ia terlihat langsung menyusul Eva yang nampak jongkok di depan closed, terlihat sibuk mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Membuat pria itu reflek memijat tengkuk Eva yang kini terasa sangat dingin dan berkeringat.
" Huek-huek!"
" Astaga, dia benar-benar sakit." Batinnya yang kini resah, demi melihat Eva yang terus muntah-muntah dan nampak tiada berdaya.
" Jangan ikuti saya Pak. Ini menjijikkan, bapak pergi dulu, saya akan cepat-cepat setelah ini, saya sudah terlamb..."
" Huek!"
Demas mendecah tak percaya. Wanita itu bahkan masih sempat menghalaunya demi rasa malu, di saat dia tengah tak berdaya.
" Pikirkan diri kamu, tidak usah memikirkan kerjaan!" Jawab Demas dengan suara yang agak kesal sebab Eva masih saja memikirkan innagural Flight itu.
" Huek-huek!"
Wanita itu terus dan terus memuntahkan seluruh isi perutnya, hingga mengeluarkan cairan kuning pekat yang terasa sangat pahit di tenggorokan dan mulutnya. Menandakan jika perutnya telah benar-benar kosong.
Suara air yang Demas tekan untuk melarutkan isi perut itu nampak terdengar keras. Eva lemas dan tak lagi bisa menahan Demas.
" Apa kau masih merasa ingin muntah?"
Eva tak menjawab. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya sebab merasa sangat lemas. Keringat sebesar biji kacang hijau nampak timbul memenuhi dahinya. Membuat Demas menatap iba.
Dan diluar dugaan Eva, pria itu kini tiba-tiba mengangkat tubuhnya dengan cekatan tanpa rasa jijik. Membuat Eva di sela-sela rasa lemasnya, menatap Demas dari bawah.
DEG
Eva yang selama ini belum pernah mendapatkan perhatian seperti itu, sontak menekuni wajah yang memiliki rahang kokoh dengan alis tebal itu.
" Kenapa dia mau menolongku?" Batinnya yang sedikit tersenyum walau Demas tak menyadari hal itu.
Demas yang masih berwajah serius itu nampak hati-hati kala meletakkan tubuh Eva ke ranjang. Pria itu bahkan membetulkan beberapa bantal, agar Eva bisa berbaring lebih nyaman.
" Kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit. Apa kau pikir dengan sok kuat bisa membuatmu sembuh hah?"
Eva seketika berengut manakala mendengar Demas yang justru mencecarnya dengan omelan. Baru saja ia menurunkan tensi penilaiannya, ee sekarang balik lagi ke mode mengesalkan. Dasar!
Eva hanya diam saat melihat Demas sibuk menggulir ponselnya dengan raut tegang, usai mengomelinya. Laki-laki itu terlihat serius dan nampak terburu-buru kala mengutak-atik benda pipih mahalnya.
" Halo, dia sakit. Muntah- muntah terus dari tadi. Bilang ke rekannya untuk mem-backup dulu. Akan aku urus dia setelah ini."
Kini, Eva yang memejamkan matanya sambil mendengar pembicaraan Demas melalui ponsel itu, memilih berdiam diri demi merasakan perutnya yang kembali bergejolak.
Demas yang baru menutup sambungan teleponnya itu, kini menatap Eva lesu.
" Apa karena aku jeburkan ke kolam kemarin?" Batin Demas seraya menatap seraut pucat itu lekat-lekat. Merasa bersalah demi mengingat perbuatannya kemarin.
TRING
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Demas, manakala laki-laki itu masih larut dalam lamunannya.
" Tanyakan apa dia telat makan? Arimbi bilang, Eva punya riwayat maag. Anak itu enggak bisa telat makan. Karena punya riwayat sakit lambung juga!"
What?
Mata Demas melebar sempurna bagai bulan purnama detik itu juga, demi membaca isi pesan yang dikirimkan oleh kakaknya itu.
" Astaga, jadi semua ini gara-gara aku?"
Demas menatap muram Eva yang kini nampak meringis kesakitan dengan posisi yang masih memejamkan mata. Membuat hati anak bungsu David itu dirundung rasa bersalah yang teramat dalam.
.
.
.
.