My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 87. Kemarahan Deo



...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


...โ€ข...


...โ€ข...


...โ€ข...


Deo


Ada sedikit perubahan skenario dalam rencananya kali ini. Pria itu sepertinya menyetujui permintaan Dona agar meninggalkan satu personel operation yang memiliki license FOO / Flight Operation Officer, Andre.


Selain itu, anak sulung dari pasangan David dan Jessika itu juga mereservasikan dirinya berserta sang adik untuk duduk di seat economy class. Membuat para anak buahnya sedikit heran, pun dengan Arimbi.


Padahal, seat bisnis masih ada yang kosong.


" Lah Pak, Pak Deo enggak salah seat?" Tanya Eva yang keceplosan sebab apa yang timbul dalam otaknya justru ia utarakan dengan selownya.


Membuat Deo menyipitkan matanya demi menatap Eva yang kini nampak meringis keranjingan.


" Salah seat gak masalah. Yang jadi masalah itu kalau kita salah kamar. Iya nggak Dem?" Ucap Deo dengan wajah datar seraya menepuk pundak adiknya yang kini nampak santai. Damned!


" Sialan Pak Deo. Nyindir aku dia keknya!"


Eva dibuat mendengus demi mendengar jawaban yang membuatnya teringat akan kejadian tadi pagi, dimana pria yang kini memiliki kumis tipis itu memergoki dirinya keluar dari kamar Demas. Oh ya ampun!


Demas nampak diam tak terlihat tak terganggu oleh selorohan kakaknya. Pria itu kini sibuk memasang sabuk pengaman, dan duduk tepat di depan Daniel yang duduk bersebelahan dengan Novi.


" Ar, nanti begitu landing kita langsung ke jobdesc masing-masing ya. Pax gak terlalu penuh tapi mereka masih banyak yang gak masuk. Hizkia baru aja nginfo aku!"


Arimbi yang berada di lajur kiri kini mengangguk seraya tersenyum ke arah Daniel, " Siap kak!"


Deo yang menyadari Arimbi kini menoleh ke sisi kanan, nampak menyempatkan mengedipkan matanya kepada Arimbi saat semua orang sibuk memasang seabelt.


Membuat Arimbi terkejut.


" Bisa-bisanya dia begitu. Dasar!"


Dari gelagat yang di tunjukkan, Deo ingin Arimbi tahu jika ia sebenarnya ingin membersamai istrinya dalam suasana apapun. Walau asas gerilya masing mereka terpaksa.


" Mulutnya si Deodoran emang kadang-kadang ya...Ih kurang ajar banget!" Bisik Eva tepat di telinga Arimbi, karena masih merasa kesal.


Arimbi yang mendengar Eva menggerutu soal Deo hanya cekikikan. Suaminya tengah di gunjing, namun ia malah merasa ingin tergelak.


Pasalnya, Eva kini telah tertular dirinya, yakni memanggil Deo dengan sebutan seperti itu. Benar-benar menggelitik.


" Emangnya kamu salah kamar beneran? Sampai segitunya. Tidak ada orang itu tersindir kecuali dia benar melakukannya!" Ucap Arimbi sambil membetulkan seabelt yang ia kenakan.


Membuat Eva mendelik demi tertampar ucapan sahabatnya.


Brengsek juga si Arimbi!


...----------------...


Kenanga


" Apa? Kenapa bisa banyak begini. Aku padahal cuma ngajak beberapa orang loh!"


Ia menatap resah video saat Hera kalang kabut manakala mengkoordinir situasi yang benar-benar crowdit waktu itu. Benar-benar tak paham dengan situasi yang terjadi.


Tadinya, ia pikir dengan mengajak 20 orang bolos kerja sudah bisa membuat operasional hancur. Tak di sangka, ada gelombang yang lebih besar yang menghancurkan tatanan pelayan kemarin pagi.


Wanita itu kini tertunduk, membeku sembari gencar berpikir, siapa orang yang dapat menggerakkan karyawan sebegitu banyaknya untuk mangkir dari kerja sebanyak itu.


" Jadi elu gak ngajak mereka semua?" Tanya Luki resah.


" Ya nggak lah gila aja. Lagian, aku gak kenal sama porter di belakang!" Sahutnya dengan wajah keruh.


Bianca dan Casandra yang duduk tak jauh dari mereka turut berpikir. Jelas ada orang lain yang lebih memiliki pengaruh selain mereka. Tapi siapa?


" Aku dapat pesan dari Pak Erik. Katanya kita yang hari ini enggak masuk bakal di pecat" Ujar Luki yang nampak bimbang. Sebab beberapa rekannya yang lain nampak goyah dan masuk. Walau resikonya pasti akan di makan habis oleh Erik dan Deo.


" Elu takut?" Tanya Bianca dengan wajah kesal.


" Gak tau juga sih. Masalahnya, GH nya Pak Bram kan belum punya alat-alat sendiri!" Jawab Luki yang baru mengetahui fakta, saat ia sudah terlanjur main serong.


" Lah, yang di dekat break down itu punya siapa?" Tanya Kenanga resah.


Kini, Luki dan Kenanga mendadak di serang rasa ambigu setelah beberapa hari merasa yakin atas keputusan mereka bergabung di GH milik Bramasta.


.


.


Daniel


Jelang siang hari, rombonganya telah tiba di Bandara kota B dengan selamat. Arimbi dan Eva yang langsung melesat masuk menemui rekan-rekannya sesuai rencana yang mereka bahas tadi, Demas dan Deo juga terlihat langsung pergi menuju ke suatu tempat, sementara dia dan Novi langsung masuk ke ruang operation guna membantu rekan-rekan yang bergelut dengan kerumitannya.


" Gimana hari ini?" Tanyanya kepada Hizkia yang nampak sibuk mengatur loading posisi. Nampak wajah-wajah tegang sebab ketika pesawat landing, mereka sudah pasti berjibaku dengan groundtime.


" Mereka tidak masuk lagi. Aku gak tau Dan, denger- denger Pak zakaria mau ngelempar ini semua ke Sky support!" Ucap Hizkia menyuguhi wajah muram, resah, da kehilangan harap.


" Apa? Yang bener lu?"


" Nggak ada harapan. Kita sekarang aja udah pasti delay lagi Dan. Aku kasihan sama Pak Deo!"


Membuat kesemua orang yang di operation kini tertegun.


.


.


Erik


Ia yang di bantu Bu Fransiska tengah menyusun nama-nama karyawan yang telah mangkir dari pekerjaannya dan menjadi sumber malapetaka di tubuh DA, saat Deo berserta Demas masuk ke ruangan dengan suhu AC yang begitu dingin itu.


" Pak!" Erik yang nampak sibuk itu langsung berdiri menyambut kedatangan dua orang penting itu. Pun dengan wanita paruh baya yang berada di sana.


" Sudah Pak, sebagian orang yang saya ancam ada yang masuk. Praktis, kini masih ada 67 anak yang belum masuk!"


"Yang paling banyak adalah dari bagian porter, dan juga cargo Pak. Pasasi ada sekitar 20 anak, sisanya Avsec juga operation!" Terang Fransisca membaca data yang baru ia himpun.


Otot rahang Deo bergerak manakala ia menatap selembar tulisan itu dengan tatapan geram. Benar-benar sudah masuk kedalam sebuah kejahatan yang terorganisir.


" Setelah saya interogasi, mereka mangkir ternyata karena ada yang sakit. Tapi, ada juga yang ikut-ikutan salah satu profokator Pak!" Terbang Erik dengan wajah penuh keresahan.


" Panggil mereka yang kemarin tidak masuk karena mangkir, dan minta mereka menghadap ke saya!"


" Sekarang!"


.


.


Deo


Penerbangan hari itu masih saja mengalami keterlambatan walau tidak separah di hari pertama. Beberapa karyawan yang takut di ancam oleh Erik, serta kembalinya Daniel berserta kawan-kawan nampaknya menjadi sumber pertolongan yang lumayan.


Mengetahui jika lima anak yang tidak masih kemarin dikarenakan sakit, Deo langsung mengabulkan permohonan maaf sebab bukti dan fakta jelas menunjukkan jika yang bersangkutan memang sakit. Bahkan, mereka nampak syok manakala mengetahui ada kejadian besar, di dalam perusahaan mereka.


Walau, jumlah porter yang saat ini masuk terbilang sangat kurang. Membuat operasional utamanya di lini backside amburadul, namun setidaknya mereka sudah berusaha dengan maksimal. Karena bekerja di bandara tidak semudah seperti di tempat lain yang bisa keluar masuk dengan mudah.


Ada beberapa tahapan juga prosedur yang musti di lalui para calon karyawan, mengingatkan bandara merupakan area vital yang keamanan serta keselamatannya menjadi tolok ukur keamanan suatu wilayah.


" Siapa yang menawari kalian?" Tanya Deo kepada lima belas anak yang kini sudah masuk lebih dulu ke ruangannya.


Membidik wajah-wajah yang tertunduk layu bertaburan penyesalan itu dengan rahang mengeras.


Kelima belas anak itu hanya membisu dengan wajah ketakutan. Demas dan juga Erik yang ada disana hanya bisa diam. Benar-benar suasana yang tegang dan mencekam.


BRAK!!!


" Jawab!"


Kesemua yang ada di sana tersentak manakala Deo menggebrak meja dengan begitu kerasnya. Suara pria itu bahkan sudah tidak seramah seperti biasanya.


Kini, para anak anak muda itu mengetahui sejauh apa kemarahan seorang Deo Darmawan.


" Kamu, jawab sekarang. Kamu profokatornya kan?" Cecar Deo kepada Malik yang menjadi tersangka tindak provokasi.


" Sa- saya tergiur tawaran Sky support pak! Ampun Pak Deo! Saya menyesal, tolong ampuni kami! Kami masih ingin berjalan bersama Pak Deo!" Jawab Malik dengan suara bergetar dan raut tulus yang penuh sesal.


Membuat ke empat belas anak yang lain kesulitan manakala meneguk ludah mereka.


Deo seketika memejamkan matanya demi mendengar nama perusahaan yang menjadi kompetitornya selama ini. Sama sekali tak menyangka jika Bram lagi-lagi bermain kotor setelah pria itu mengambil Roro.


" Kalian sudah baca surat kontrak yang kalian tanda tangani dulu?" Tanya Deo dengan suara keras yang makin membuat anak buahnya ciut nyali.


"Kalian di wajibkan membayar pinalti jika kalian keluar sebelum masa kerja kalian sebagai pegawai tetap berkahir! Ngerti kalian? Saya tidak menyangka jika kalian ini benar-benar labil!"


Kelima belas anak itu hanya bisa menelan ludah, sembari mengutuk diri. Menyesali perbuatannya sebab kedua orang tua mereka tahu siapa keluarga Deo yang terkenal dermawan sejak dulu.


" Kalau kalian berpikir gaji yang diberikan oleh GH kurang, kalian bisa bandingkan. Kalian tergiur dengan iming-iming dari Sky?"


Suasana masih hening. Tak satupun manusia yang berani angkat kepala terlebih angkat suara.


"Apa yang mereka tawarkan, gaji besar?"


Aura kemarahan masih terpancar dari wajah Deo yang benar-benar tak bisa menahan kekecewaannya.


" Asal kalian tahu, mereka saja surat izin perusahaan belum ada, semua alat-alat yang mereka pakai itu hasil sewa, saya ada bukti, saya kalau bicara selalu base on data!"


Deo tampak begitu marah manakala mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya. Membuat para anak buahnya itu ketakutan.


" Erik!" Panggil Deo dengan tatapan tak lepas ke arah lima belas anak yang kini menyesal itu.


" Ya Pak?" Jawab Erik turut tegang.


" Buatkan mereka surat pernyataannya untuk tidak mengulangi perbuatannya, pakai materai! Biar ada memuat hukum!"


Erik mengangguk mengerti.


" Kalian yang masuk saya maafkan!" Ucap Deo dengan tensi suara yang sedikit turun.


"Tapi jika kalian berani mengkhianati saya lagi, saya pastikan kalian tidak akan hidup tenang!"


TOK TOK TOK


Suara ketukan nampak menginterupsi. Membuat seluruh manusia dari golongan kaum Adam itu menoleh.


" Masuk!" Sahut Deo.


" Selamat siang Pak Deo!"


DEG


Deo seketika terkejut demi melihat Yovan yang notabene merupakan assiten General Manager Andanu Air.


" Pak Zakaria meminta anda ke kantor sekarang juga!"


.


.


.


.


Reader, mommy minta maaf karena beberapa hari ini slow banget up-nya. Mommy dibuat geleng-geleng dan ngelus dada berkali-kali sama aplikasi tersayang kita ini. Udah review lama, ee udah nulis panjang draftnya hilang.


Upgrade versi baru malah jadi runyam.


Sepurane Yo gaes๐Ÿ™๐Ÿ™