My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 125. Menuju hari bahagia part 2



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


...Datanglah bila engkau menangis...


...Ceritakan semua yang engkau mau...


...Percaya padaku aku lelakimu...


...Mungkin pelukku tak sehangat senja...


...Ucapku tak menghapus air mata...


...Tapi ku di sini sebagai lelakimu...


...Aku lah yang tetap...


...Memelukmu erat...


...Saat kau berpikir...


...Mungkinkah berpaling...


...Aku lah yang nanti...


...Menenangkan badai...


...Agar tetap tegar...


...Kau berjalan nanti...


...Sudah benarkah yang engkau putuskan...


...Garis hidup sudah engkau tentukan...


...Engkau memilih aku sebagai lelakimu...


...( Virza ~ aku lelakimu)...


.


.


Dian and the geng


TOK TOK TOK


Ia bergegas menjadi pemrakarsa, demi rasa tanggungjawabnya menjadi Bridesmaids pria, yang akan berjajar dengan Daniel, Erik, juga Demas.


Namun, bukan Dian namanya jika tidak datang bersama rombongan peri Tumbelina versi negeri Konoha itu.


Sedikit merajuk sebab sebenarnya ia ingin bergabung bersama para ladies, not with the men. Hah, nasib buruh!.


TOK TOK TOK


" Pssst!!! Jangan kencang-kencang napa Yan. Elu pikir ini gudang apa?" Sergah Eva yang mulai kesal kepada Dian yang menggedor-gedor pintu itu dengan keras


" Biarin aja, biarin mereka kaget kalau kita lagi nyerbu kerajaan mereka!" Jawab Dian terkikik-kikik.


Membuat Resita dan Eva mendengus kesal.


Ya, Dian, Eva dan juga Resita sengaja datang bersama-sama menuju rumah Arimbi, dengan maksud mengambil baju seragam mereka.


CEKLEK


" Kejutan!" Teriakan trio rempong itu sukses membuat Arimbi yang nampak membuka pintu itu, terkejut senang.


" Ya ampun, kok enggak bilang kalau mau kesini?" Sapa Arimbi yang menyesalkan kenapa tak satupun dari sahabatnya itu, yang memberitahukan info terkait kedatangan mereka.


" Enggak supres ( surprise / kejutan) dong kalau ngasih tau!" Ucap Eva saling menyebikkan bibir bersama Resita.


" Aaa kangen tau Mak!" Resita yang merindukan Arimbi seketika turut memeluk sahabatnya itu dengan perasaan gembira.


" Kangen juga Ar. Udah jadi Bu Bos, susah banget di temui dia!" Imbuh Dian yang turut memeluk sahabatnya itu.


Membuat Deo yang nampak baru muncul itu, seketika ambil sikap.


PLETAK!


" Aduh!"


Dian mengaduh demi merasakan sakit akibat jidatnya di sentil oleh Deo. Sialan!


"Brengsek betul Pak Deo! Dia pikir enggak sakit apa?" Batin Dian kesal.


" Kok di jitak sih Pak?" Tanya Dian muram menatap Deo.


" Bukan muhrim!" Tukas Deo dengan wajah datarnya.


Namun, alih-alih membuat Dian takut, pria itu justru kesal kala mendapat tatapan aneh dari pria limited edition itu.


" Ada apa?" Tanya Deo demi melihat Dian yang menutup mulutnya demi menahan tawa. Membuat Kesemuanya seketika menoleh ke arah Deo.


Hah?


" Tahu sih kalau udah sah dan udah jadi muhrim walaupun mau menikah lagi. Tapi..


jangan gitu juga kali Pak!"


"Lipstik istrinya kok bisa sama dengan warna bibir Pak Deo!"


"Bhahahahahaha"


Membuat Arimbi juga Deo seketika mendelik demi mengetahui maksud Dian.


" Astaga, kenapa mas Deo enggak nyadar kalau bibirnya kena lipstikku sih? Kan malu kalau udah begini!"


Double damned!


.


.


Dimeja makan


Deo yang malu seketika melesat kedalam kamarnya, untuk mandi sekalian. Benar-benar malu sebab mereka semua sudah pasti berpikiran yang tidak-tidak.


Akhirnya, Arimbi menambahkan menu makanan mereka dengan menggoreng ayam yang telah ia bumbui dengan bumbu rempah lezat itu.


Biar sudah. Kesederhanaan itu, biasanya lebih menyenangkan.


Kedatangan para sahabatnya sukses membuat Arimbi kalang kabut guna menyiapkan makanan.


Namun semua itu tidak jadi masalah. Mereka semua nampak gak sungkan membantu. Bahkan, Dian mengulek sambal diatas ceprek batu itu sambil bergoyang asoy, dan membuat ketiga wanita itu terpingkal-pingkal.


Deo yang baru turun dari kamarnya itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya, demi melihat aksi Dian.


Oh astaga! Kenapa juga ada mahluk spesies unik seperti itu dimuka bumi ini? Begitu pikir Deo.


" Aku seneng deh gaes kalian akhirnya pada laku!" Seru Dian sambil mencomot ayam bacem yang legit, saat mereka semua telah berkumpul di depan meja makan rumah Deo.


Ya, Arimbi kini mengajak serta beberapa rekannya itu untuk makan malam bersama.


" Jangan ikut seneng doang, elu juga harus laku Yan!" Sahut Resita menanggapi.


" Gimana mau laku, semua pria tampan udah kalian comot!" Balas Dian melirik tajam ketiga sahabatnya.


Membuat Kesemuanya tersentak. Wong gemblung!


" Memangnya siapa yang diambil?" Tanya Deo sengaja ingin memancing.


" Resita lagi sama kak Daniel!"


" Terus Eva, dia sama Pak Demas!"


" Arimbi, udah sama Pak Deo!"


" Aku?" Tunjuk Dian terhadap dirinya sendiri.


Membuat Deo yang sedari tadi tekun mendengarkan obrolan renyah itu, seketika menatap kearah Dian yang nampak berbicara serius.


"Daniel? Sama Resita?" Ucap Deo mengerutkan kening.


Resita yang di sebut oleh bosnya itu, seketika tertunduk. Oh Gosh!


Arimbi tersenyum simpul. Sepertinya, ia telah berhasil membuat Daniel mengerti, jika sahabatnya itu benar-benar tulus menyukai Daniel.


" Selamat Res, aku turut bahagia mendengarnya!" Batin Arimbi yang nampak puas dengan apa yang telah ia lakukan.


" Saya..."


" Lah, udah pada disini rupanya. Pantas di telepon enggak ada yang jawab!"


Erik yang mendadak datang bersama Daniel itu, nampak salah fokus demi melihat meja makan yang terisi penuh dengan aneka hidangan lezat.


Emm so yummy!


Dan, kedatangan mereka sukses membuat satu wanita berpakaian casual itu menatap Daniel penuh kerinduan.


Resita dan Daniel yang nampak saling menatap itu, terlihat di perhatikan okeh Arimbi juga Deo.


Saat Erik hendak menarik kursi, deru mobil Demas juga nampak terdengar. Membuat Eva seketika menatap Arimbi.


" Aku enggak tahu, mas Deo mungkin yang ngasih tahu!" Jawab Arimbi meringis seolah tahu apa yang tengah di pikirkan oleh Eva.


" Wah, bisa kebetulan begini ya. Yan, kayaknya malam ini, elu temenin si Erik deh. Si Demas udah datang tuh!" Ucap Deo menatap Dian.


Membuat semuanya tertawa kecuali Erik.


" Nasib jadi ajudan!"


.


.


Kesemua orang disana sibuk dengan tempat mereka masing-masing. Usai makan malam bersama, Resita memilih mencoba baju dikamar tamu bersama dengan Dian, Daniel, juga Erik.


Sementara itu, Eva dan Demas nampak berada di luar rumah. Entah apa yang mereka obrolkan. Yang jelas, usai membaca sebuah pesan, Eva nampak murung.


Sebenarnya telah berhari-hari ini moodnya kurang baik. Semua itu berasal dari problematika keluarga yang cukup rumit. Status dirinya sebagai anak pria yang memiliki istri lain, jelas tidaklah mudah.


" Apa semua sepatu itu sudah datang?" Tanya Demas memulai pembicaraan. Membuat Eva terkejut.


" Kau ini berlebihan sekali! Sekarang untuk apa sepatu-sepatu itu kau belikan? Benar-benar boros!" Gerutu Eva nampak marah, dengan kenyataan yang masih tidak terima atas sikap Demas yang berlebihan.


" Kalau tidak suka buang saja!" Jawab Demas enteng dengan wajah datar.


Membuat Eva benar-benar kesal.


" Kau ini!"


Demas melirik Eva yang nampak berwajah keruh. Entah apa yang tejadi. Tidak biasanya wanita itu bermuram durja seperti itu.


Dan saat Demas masih sibuk menatap wajah Eva, perempuan itu mendadak bangkit lalu berjalan cepat meninggal Demas.


"Hey, kau mau kemana?" Tanya Demas nampak kaget.


" Pulang!" Sahutnya asal dengan langkah yang semakin menjauh.


" Hey tunggu, kau marah?" Sergahnya lagi demi merasai sikap Eva yang semakin aneh.


Eva tetap berjalan menuju ke samping rumah bos-nya itu, dimana disana terdapat satu buah bangku kayu, yang berada di bawah pohon mangga manalagi.


Membuat Demas terus mengejar Arimbi yang nampak ingin berpindah tempat.


Eva nampak duduk disana, tercenung menatap langit gelap yang bertabur bintang . Angin sepoi-sepoi yang genit menusuk kulitnya, seolah-olah mewakili perasaannya yang mendadak dingin.


" Kau ini kenapa sebenarnya sih? Gara-gara sepatu tadi kamu mar..." Tanya Demas demi melihat sikap Eva yang mendadak aneh.


DEG


Demas seketika membeku bersamaan dengan ucapan yang mendadak menguap, demi melihat wajah Eva yang basah akibat menitikan air matanya.


"Eva are you OK?" Tanya Demas resah penuh kekhawatiran kala melihat Eva yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Aku ingin pulang. Bisa kau antar aku?"


What?


" Va, mama sepertinya sudah memutuskan untuk berpisah dengan papa kamu. Kalau sudah selesai sebaiknya kamu pulang, mama ingin bicara sama kamu!"


Begitulah pesan yang dikirim oleh Mama Eva, dan sukses membuat Eva kehilangan konsentrasinya.


Menjadi titik balik kebencian yang benar-benar memuncak terhadap sang papa.


" Aku lelah. Tolong antar aku pulang!" Ucapnya dengan lelehan air mata yang mendadak mengucur.


Walau belum tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun Demas seketika memeluk tubuh Eva yang nampak bergetar.


Sungguh, Demas benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


"Kenapa orang itu bisa tega sama Ibuk, sama aku...!" Teriaknya semakin pilu. Membuat Demas seketika mengerutkan keningnya.


Jelas Eva saat ini tengah mengalami permasalahan serius.


Sama sekali tak mengira jika bom yang dibawa kemana-mana oleh keluarga Eva itu, akhirnya meledak juga.


Ia tahu, Eva pasti tengah menghadapi permasalahan keluarga.


" Boleh aku minta tolong?" Ucap Eva menatap Demas dengan penuh kesungguhan.


" Katakan!"


" Tolong antarkan aku pulang!!"


.


.


Eva


Ia meminta diantar pulang oleh Demas detik itu juga, demi segumpal perasaan tidak tenang.


Berhasil berdalih jika ibunya mendadak sakit, agar Arimbi mengijinkan dia pulang. Padahal, ia hanya tak ingin masalah yang tengah menderanya saat ini, diketahui oleh orang lain.


Namun, diluar dugaan Demas, wanita itu terlihat menaiki taksi dan berniat pergi ke suatu tempat, sesaat setelah Eva masuk.


Membuat Demas seketika mengikuti kemana Eva pergi.


" Astaga, gadis itu benar-benar nekat. Mau kemana dia?" Gumam Demas seraya tekun menginjak pedal gas mobilnya.


Eva yang geram berniat mendatangi keluarga papanya. Sama sekali tak bisa menahan luapan emosi yang membuncah.


Hingga akhirnya.


BRAK! BRAK! BRAK!


" Keluar kamu!"


BRAK! BRAK! BRAK!


Eva yang emosi nampak menggebrak pintu rumah keluarga Papaya.


CEKLEK!


" Eva?"


BRUK!


" Tanda tangani surat itu dan jangan pernah kalian ganggu hidup kami lagi. Seumur hidupku, aku tidak akan pernah menganggap kalian ada!"


DEG


Demas yang bersembunyi di balik pagar itu nampak syok dengan apa yang terjadi. Tiada mengira jika Eva datang meluapkan kemarahan.


" Eva, ada apa ini?" Ucap Papa Eva yang nampak bingung.


Eva tersenyum kecut, " Aku benci kalian semua!" Eva benar-benar muak. Ia selama ini sudah cukup mengalah.


" Anak tidak tahu diri!" Seru ibu tiri Eva.


Membuat wanita itu seketika memutar tubuhnya lalu menatap wajah wanita itu lekat-lekat.


" Oh ya, bukankah anda yang tidak tahu diri. Wanita sundal!"


PLAK!


" Eva! Jaga bicara kamu!" Ucap ibu tiri Arimbi seraya melayangkan tamparan keras. Membuat Demas seketika naik pitam.


Rasa pipi yang begitu panas itu tak sebanding dengan panas yang membakar seluruh harga dirinya saat ini. Eva benar-benar tengah merasa di titik nadirnya.


" Mulai sekarang, jangan pernah anggap aku ini anakmu. Jangan pernah!" Ia berteriak hingga tenggorokannya serak. Menatap wajah papanya dengan tatapan penuh kebencian.


" Anak kurang aj..."


" Berhenti!"


DEG


Suara Demas yang berat itu, seketika membuat keluarga papa Eva mendelik. Pun dengan Eva. Pak Demas?


Eva nampak terkejut kala ia melihat pria datar, yang kini nampak begitu menakutkan.


" Sayang, apa kau terluka?" Ucap Demas mengusap pipi Eva dengan wajah cemas. Menepikan tatapan penuh keterkejutannya dari wajah papa Eva dan juga istrinya.


" Pah, dia kan anak dari keluarga Darmawan?" Bisik ibu tiri Eva.


" Pak Dem..."


Demas mengangkat tangannya seolah menegaskan jika tak sudi di dekati oleh kedua manusia itu. Membuat papa Eva meneguk ludahnya dengan sangat sulit.


" Siapa yang telah berani menampar wajah calon istriku barusan?"


"Siapa?"


Kini, dua manusia yang telah berusia tak lagi muda itu seketika terkejut, demi mendengar ucapan Demas yang nampak serius.


" Apa , calon istri?"


.


.


.