My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 15. Oh sial!



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


" CK, sopan sekali dia!" Ia endecak kesal sebab asistennya itu mematikan sambungan teleponnya saat ia belum selesai berbicara.


Dari gelombang suara yang ia tangkap melalui indera pendengarannya, suara disana terdengar riuh disertai gelak tawa. " Senang sekali mereka kedengarannya!" Cibir Deo yang sebenarnya iri. Namun bagaimana lagi, kepalanya benar-benar terasa berat siang itu. Ia pria realistis yang ogah mengorbankan apapun demi kesehatannya.


Tidak mau pusing, Deo lebih memilih untuk memejamkan matanya saja. Ia benar-benar pusing sebab kurang tidur. Jika ia mengecek tekanan darahnya, sudah pasti tensinya akan tinggi.


Dan gedoran di pintu kamarnya yang tiada henti itu membust Deo bangun di jam empat lebih sepuluh. Hah, untung ia sudah tidur lumayan lama.


Rupanya mamanya datang bersama adik lelakinya, Demas. Sesuai dugaannya, sebab yang memiliki kunci serep rumah baru Deo hanyalah ibu negara.


" Astaga Deo! Udah mau surup ( petang) masih aja tidur kamu, pantesan mama gedor-gedor dari depan enggak ada kamu dengar! Untung mama ada kunci second, kamu ini jangan suka tidur jelang surup yo, sakit semua badan kamu nanti!"


Mama Jessika mengomel seraya geleng-geleng kepala. Wanita itu tak habis pikir dengan anaknya.


Dan yang dikatakan oleh Mama itu, rupanya benar adanya. Sekujur tubuhnya memang terasa sakit semua. Meriang dan mirip orang sakit. Haish, sepertinya ia butuh spa khusus pria agar dia rileks.


Menghindari cercaan serta omelan Mama yang akan semakin menjadi, Deo memutuskan untuk merendam tubuhnya dengan air hangat di bak besar dari porselen yang ada di kamar mandinya. Rasanya lumayan, rileks dan membuat syaratnya yang tegang mengendur.


Saat Deo sudah tampil fresh dengan pakaian rumahannya, ia melihat Mama sedang memanaskan masakan di dapur besar rumahnya itu. Rupanya mama mengirimi dirinya beberapa masakan.


Dari tempatnya berdiri, ia melihat Demas yang sibuk dengan laptopnya. Adiknya itu selalu saja gila pekerjaan. Bukan gila sih sebenarnya, lebih tepatnya Demas memiliki sikap yang lebih konsisten ketimbang Deo.


" Kerjaan aman?" Tanya Deo yang kini melempar tubuhnya pada sofa yang juga sama di duduki oleh Deo.


" Hmmm!" Ucap Demas tak lekang menatap layar kotak dengan cahaya yang menyuluh wajahnya yang lebih mirip mama Jessika.


Dua bersaudara itu jarang sekali berkomunikasi, berbeda dengan Leo dan David saat muda dulu yang intens dalam berhubungan.


" Deo, Demas!" Pekik Mama dari arah dapur. " Udah siap nih, udah cepat makan gih. Adikmu dari siang belum makan juga katanya, astaga anak-anak ini gimana mau beres kerjaan kalau makan aja enggak teratur, ayo ayo!"


Mama Jessika sebenarnya mau ketempat Deo dan meminta supirnya untuk mengantar, sebab Papa David tengah menemui tamu yang menuju ke areal cabe yang kini sudah merambah ke komoditas ekspor lain.


Ya, Pak Edy di usianya yang sudah senja kini tinggal bersama Leo dan Bella bersama dua sepupu perempuannya.


Leo memiliki dua anak perempuan, sedangkan David memiliki dua anak laki-laki.


Demas yang sore itu baru pulang, akhirnya memutuskan untuk mengantar Mama, Demas sangat sayang dengan wanita yang menjadi tapak surganya itu. Meski tak banyak omong, namun Demas selalu menunjukkannya lewat perbuatan.


Bagaimanapun juga, tidak semua orang itu vokal kan? Ada beberapa juga yang konsonan seperti Demas.


" Dem, panggil Mama tuh, taruh itu dulu!" Pinta Deo kepada adiknya, mereka sangat menghormati Mama. Jangan sampai membuat Mama mengulang ucapannya.


Masih benar, bahwa masakan merupakan bentuk kasih kudus. Yes!


" Udah kalian maka dulu, Mama mau beresin kamar kamu dulu De. Kamu sih mama mau kasih orang yang bisa bantu kamu disini enggak mau. Mama tuh kepikiran sebenarnya sama kamu!" Ucap Mama sambil berlalu.


Deo memang menolak permintaan Mama itu, akan sangat tidak baik jika ada orang lain dirumahnya.


" Nanti Deo panggil jasa service cleaner sendiri mah, Deo kalau cuci piring juga bisa sendiri kok!" Tolaknya beberapa waktu lalu saat mereka berkumpul untuk membahas mekanisme perpindahan Deo.


Ya, tak peduli seberapa besar dan seberapa matang usia anak. Seorang Ibu pasti masih memikirkan soal anaknya. Tidak ada kata ' Jika pria sudah menikah, maka tuntas sudah tugas ibunya'. Untuk tidak benar adanya, sebab jika anak sudah memiliki keturunan, tak jarang bahu seorang Ibu masih akan terus mendukung dan menjadi backing untuk anak- cucunya.


Definisi dari kasih Ibu sepanjang masa, dan kasih anak sepanjang galah.


" Kamu baru pulang?" Tanya Deo saat ia mulai mengambil nasi, potongan ayam bumbu rujak serta cah kangkung udang yang di masak Mama Jessika. Terlihat menggiurkan sebab cita rasa yang tiada pernah berubah dari masa ke masa.


" Hmmm, papa katanya ada tamu, aku enggak bisa biarin Mama sendiri!" Sahut Demas yang masih tekun makan. Adik yang hanya terpaut usia kurang dari dua tahun itu, memiliki garis wajah tegas seperti dirinya.


Demas merupakan orang yang jika tidak penting-penting amat, tidak akan membuka mulutnya. Entahlah, sudah karakter mungkin. Sifat yang malah condong lebih mirip dengan David waktu muda.


Bahkan, Demas juga sangat tertutup untuk urusan asmara. Pria yang tidak suka tebar pesona itu agaknya sulit di dekati oleh wanita manapun. Termasuk anak relasi papa yang sabayanya.


Demas tak seperti Deo yang doyan kempret. Ya, walau tak bisa di pungkiri lagi, jika pria dewasa dan hal begituan sepertinya sudah bukan hal tabu lagi di era sekarang.


" Gimana GH?" Akhirnya Demas mau ganti mengeluarkan feedback-nya. Membuat Deo senang.


" Aman, Minggu depan anak-anak baru udah masuk!"


Demas mengangguk. " Jadi buka cabang GH di Kintabaru?" Tanya Demas kembali. Sedikit banyak Demas tahu pekerjaan kakaknya dan segalanya tethek-bengeknya.


" Nunggu yang disini selesai dulu, Airline yang disana masih ngelihat profil perusahaan kita, lagipula pesawat yang bisa masuk disana hanya jenis propeler ( baling-baling)!"


" Jenis Boeing sama CRJ belum bisa masuk, landasan pacunya masih kurang. Maklum bandara perintis!"


" Tapi bagus dong kalau dari nol bisa membersamai mereka, setidaknya kita bisa ajukan kenaikan harga secara gampang nanti!"


Deo mengangguk, adiknya itu memang lebih cermat dalam penyusunan proyek - proyek besar.


Mereka akhirnya menyelesaikan makannya dalam diam. Hingga saat mama Jessika kembali ke meja makan dan membuat mereka kedua tersentak.


" ****** ***** siapa ini De?" Tanya Mama dengan wajah memerah, seraya mengangkat benda tak lazim itu.


Deo mendelik manakala Mama Jessika menunjukkan G - String warna merah cabe, yang membuat Deo seketika tersedak air yang baru saja ia minum.


Oh sial!


.


.


.