
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Ia terkejut demi melihat Farel yang sudah mengenakan jaket, manakala ia berhasil menarik handle flight rumahnya malam itu.
" Farel, mau keman kamu malam-malam gini?" Tanya Arimbi yang kaget.
Farel mendengus, " Mbak Arimbi dari mana aja sih, di telpon enggak bisa. Ibu khawatir tau. Masa malam-malam sampai larut begini!" Gerutu Farel yang merasa kesal. Membuat Arimbi speechless. Ini memang sudah larut malam.
" Oh, itu...maaf, tadi ada ngobrol-ngobrol dikit sama orang Airlines. Maklum lah, orang ngrobrol pasti basa nasinya banyak!" Jawabnya sambil ngeloyor sebab takut adiknya curiga jika matanya bengkak karena menangis.
Farel tanpa curiga langsung menutup pintu. Ia tak lagi mau mengajukan pertanyaan sebab jam sudah sangat malam.
" Udah malam cepat tidur. Yang penting mbakmu udah pulang, besok lagi ngobrolnya. Ayo...ayo! Ibuk wes ngantuk banget iki!" Timpal Bu Ning sambil menguap dengan suara parau, sebab baru saja ketiduran di kursi.
Membuat Arimbi makin dirundung rasa bersalah.
" Maafin Arimbi buk! Maaf!" Lirihnya dengan batin menjerit.
Setibanya ia dikamar, Arimbi langsung menangis sejadi-jadinya tapa suara. Ia resah, tak tenang, kecewa, sakit hati. Perlakuan Deo begitu dingin kepadanya, bahkan setelah pria itu mengucapkan kalimat sakral itu.
Bagaimana harinya besok, masih banyak cita-cita yang ia wujudkan dan ingin ia renda. Ia berharap, keluarga Deo mau mencari solusi terbaik setelah ini.
Arimbi benar-benar dirundung keresahan. Ia bahkan tak bisa tidur hingga lewat tengah malam. Memikirkan apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini.
" Tuhan, kenapa hidupku tiada habisnya Engkau uji?"
...----------------...
Deo
" Pastikan kabar ini jangan sampai ada yang tau Rik!" Ia duduk menatap Erik yang sedari tadi tak hentinya mengerutkan kedua alisnya manakala Deo mengajaknya berbicara panjang lebar.
Definisi dari menyimak dengan serius.
Mana mungkin skandal ngawur itu dibiarkan merebak begitu saja. Deo bukan orang sembarangan, dan yang lebih penting dari itu, ada Roro yang ia pikirkan.
" Masalah itu bisa saya atur Pak. Tadi saya juga sudah berbicara sama profokator tadi, amanlah!"
Deo tidak tahu apa yang dibicarakan eh Erik, agar orang-orang itu mau bungkam. Yang jelas, Erik pastikan orang-orang tadi tidak akan berani membuka mulutnya.
" Untung bukan sama Roro kepergoknya bos-bos. Kalau enggak, waduh...bisa gawat!" Batin Erik yang sebenarnya tak suka kepada Roro.
Malam hari ia tak bisa tidur demi teringat jika mamanya marah besar kepadanya. Ya, Deo benar-benar resah akan hal itu. Gundah gulana.
" Lakukan apa yang kamu mau! Lakukan!" Teriak Jessika yang marah besar
"Tapi jangan pernah temui mama lagi!"
Perkataan mama Jessika terus dan terus mengganggu pikirannya. Mengusik, meresahkan, membuatnya tak jenak. Mensugesti Deo melesatkan mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya pagi buta itu.
" Tumb...."
" Mama mana?" Tanya Deo membuat ucapan adiknya terjeda.
" Ada apa Deo?" Jessika muncul dengan wajah datar yang masih menunjukan kemarahan. Membuat Deo murung.
" Ma, tolong jangan marah ke Deo. Deo enggak cinta sama Arimbi ma! Deo mau cerai sama Arimbi!" Ucap Deo yang kini berjalan menuju ke arah mamanya.
DEG
" Bawa Arimbi kerumah kamu! Mama sudah putuskan akan menemui orang tua Arimbi nanti! Jalani rumah tangga seperti orang lain. Kalau kamu masih nganggap mama orang tua kamu, lakukan apa yang mama minta, tapi kalau kamu menolak, mama terima. Tapi jangan lagi kamu temui mama!"
" Ma! Jangan begini dong, dia itu perempuan kurang ajar ma, mama belum tau aja!" Protes Deo muram sambil mengejar Jessika yang berjalan masuk.
Ia berhenti saat David mendadak muncul dengan wajah penuh kekecewaan. Membuat Deo menelan ludahnya.
" Papa rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti ucapan seseorang De. Tidaklah orang tua itu berani memutuskan sesuatu, kecuali untuk kebaikan anaknya!"
.
.
Ia tak sempat berbicara kepada Deo, karena kakaknya itu nampak kesal dan pergi dengan raut yang tak bisa ditebak. Demas yang memang memiliki sifat yang lebih irit bicara itu, lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar mamanya dan mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ya, Demas dirundung rasa penasaran yang membuncah. Apalagi menyangkut soal Arimbi.
" Ma!" Panggil Demas saat membuka pintu kamar mamanya. Memberanikan diri untuk bertanya.
"Masuk Dem!" Jawab Jessika yang kini menotolkan tissue ke area matanya yang terus berair. David sedang diluar karena menelpon seseorang.
" Ada apa sebenarnya, kenapa kak Deo...."
Jessika menghela nafasnya. Ia memang belum menceritakan apapun soal kejadian yang dialami anak sulungnya semalam, keadaan Demas.
" Mama baik-baik aja kan?" Deo meraih tangan Jessika dengan raut penuh kekhawatiran, kala ia melihat Jessika yang mendadak menangis.
Jessika mengangguk seraya mengulum bibirnya, menahan air mata yang nyatanya semakin deras itu.
" Kakakmu selama ini sering ngajak Roro nginap disana"
" Sudah kuduga!"
Jessika kembali menyusut air matanya yang telah meluncur tanpa seizinnya itu, " Semalam kakakmu kena grebek karena warga yang geram, tapi sialnya..."
Jessika akhirnya menceritakan semua yang terjadi semalam. Tentang kronologi yang membuat Arimbi berada di sana, juga mengapa Deo membawa Arimbi ke rumahnya.
Membuat Demas tercenung, demi merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan yang kini menghujam relung hatinya.
Sebuah Ketidakterimaan.
" Lalu, bagaimana dengan Arimbi?"
" Mama mau temui keluarganya dulu. Mama mau bicara baik-baik!"
"Dem, bisa kamu bantu mama?
.
.
Arimbi
Pagi itu tidak ada jadwal penerbangan inter. Penerbangan inter hanya ada tiga kali seminggu. Membuatnya lebih rilex karena bisa bertemu dengan rekan-rekannya.
Usai cecklog di gedung DA, Arimbi yang pagi itu merasa kepalanya berat karena kurang tidur, melakukan motornya menuju bandara dengan suasana hati yang mendung.
Entah mengapa, Arimbi menjadi insecure dan kehilangan rasa percaya diri usai kejadian semalam. Badannya juga masih terasa sakit, akibat di pukuli orang asing semalam.
" Kusut banget, pulang jam berapa semalam?"
" Makan apa aja? "
"Banyak yang datang?"
" Ada fotonya enggak?"
Eva yang sudah tiba dan tengah touch up di dalam toilet bersama Arimbi itu , meluapkan rasa keponya tanpa tanggung-tanggung.
" Agak malem. Ngantuk banget makanya aku sekarang!"
Arimbi nampak menunduk dan tak menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Eva. Sebenarnya ia ingin cerita kalau dirinya di keroyok oleh orang semalam. Namun, jika ia bercerita, ia takut akan menimbulkan pertanyaan lain, yang pasti makin membuatnya makin runyam. Arimbi memilih menyimpan hal itu seorang diri.
TRING
Suara pesan dari ponsel Arimbi membuat kegiatannya menyisir rambut teralihkan. Tangannya terulur meraih benda pipih dalam tas ranselnya.
" Ke ruanganku sekarang, pak Deo mau berbicara. Ingat, jangan sampai ada yang tahu!"
DEG
.
.
.
.
.