My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 29. Menikah?



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Ia sengaja naik taksi saat berangkat ke acara itu, sebab selain malam hari ia takut untuk pulang sendiri ke rumahnya yang sudah di pastikan akan sepi, ia juga sedikit gengsi.


Berada di antara orang-orang kaum hedonisme abal- abal seperti Kenanga, membuat Arimbi cari aman saja.


Bukan tidak berani melawan, hanya saja orang elegan tidak akan bolak-balik geger kan?


Ia sebenarnya hanya berdalih jika ada acara, saat berpamitan kepada Deo tadi. Sengaja ngacir dulu, sebab tak nyaman dengan tatapan Deo. Lagipula, sekumpulan orang yang di sana menurutnya tidak ada yang asik.


Orang yang ia kenali pun, juga sibuk. Seperti Daniel dan juga Joy.


Arimbi menaiki taksi konvensional yang terlihat melintas. Tanpa curiga, ia naik dan bermain ponsel. Berniat meminta Farel untuk menjemputnya di persimpangan nanti.


Namun, perempuan itu terkejut sewaktu mobil itu berhenti mendadak, " Loh kok turun Pak?"


" Maaf mbak, saya ada perlu. Mohon maaf sekali lagi, istri saya nelpon kalau anak saya mendadak sakit. Mbak sekali ya mbak !" Jawab supir itu muram.


Mendengar alasan bapak itu soal anak, Arimbi mau tak mau pasrah. Ia akhirnya turun dengan hati dongkol.


Tak berselang lama setelah taksi itu melesat pergi, ia di kejutkan dengan segerombolan geng perempuan yang turun dari dalam mobil, yang di parkiran agak jauh.


Arimbi tidak menyadari, jika gerombolan orang itu telah mengintainya sejak keluar dari Tropis tadi.


" Siapa kalian?" Tanya Arimbi yang terus mundur sebab mulai dilanda kepanikan.


" Kenapa? Takut loh? "


" Masuk !" Ucap seorang wanita yang memakai masker hitam itu. Menghardik dengan suara keras seraya menarik paksa lengan Arimbi.


Arimbi merasa semua ini nampak sudah terorganisir. Terlihat dari cara main mereka.


" Lepas, jangan pegang-pegang!" Tolak Arimbi dengan segala pertahanannya.


" Sialan!"


BUG!


Arimbi mengerang kesakitan kala punggungnya di serang. Sejurus kemudian, gadis itu berbalik dan menendang wajah wanita itu dengan impulsif.


DUG!


" Siapa kalian?" Arimbi memasang kuda-kuda dan terlihat membaca gerakan para rivalnya itu.


Arimbi sempat panik sebab jumlah mereka ada lima orang, dan kesemuanya perempuan. Empat orang menyerangnya, dan satu orang terlihat standby di depan kemudi.


BUG!


Arimbi lagi-lagi mendapat serangan di bagian perutnya, saat seorang lain meninju serta melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah punggung, serta kepalanya. Membuat kepala wanita itu seketika merasa pusing dan berat.


SREAK!


Arimbi menendang tulang kering perempuan di depannya itu secara ngawur, sebab pandangannya mulai mengabur.


" Anjing!" Wanita yang di tendang oleh Arimbi itu, kini berniat hendak menyerang kakak dari Farel itu, saat Arimbi kini di cekal oleh tiga orang rekannya.


" Tolong!" Arimbi berteriak saat ia merasa dirinya tengah dalam bahaya. Namun, situasi yang sepi jelas membuat keberuntungan tak berpihak kepada Arimbi detik itu.


Sekuat tenaga Arimbi melawan, memberontak, serta menendang sebisanya. Namun, empat banding satu jelas bukanlah perkara yang mudah. Arimbi jelas kalah telak.


" Cepat, bawa dia masuk!" Ucap perempuan yang berada di depan kemudi saat merasa targetnya sudah bisa dilumpuhkan.


Dan saat Arimbi yang sudah lemas akibat di pukul perutnya berulang kali oleh salah seorang dari mereka itu, sebuah teriakan mengejutkan empat geng wanita itu.


" Hey, sedang apa kalian?" Teriak seseorang yang baru saja memarkirkan mobilnya. Menatap tajam ke arah mereka yang berniat menggotong Arimbi.


" Pak Deo!" Bisik seseorang disana dengan raut panik di balik maskernya.


" Cabut! Ayo cabut!' Ucap seseorang dengan ketakutan dan buru-buru meninggalkan Arimbi begitu saja.


" Woy, jangan lari kalian! Berhenti!" Deo berteriak saat ke empat wanita itu kocar-kacir karena ketakutan. Mereka semua lari dan langsung masuk ke mobil yang mesinnya sudah menyala itu.


Deo yang menatap Arimbi resah benar-benar bingung. Ia tak sempat memotret plat nomor mobil yang sudah kabur itu.


" Arggghh!!!" Arimbi mengerang kesakitan saat memegangi perutnya. Membuat Deo panik bukan kepalang.


" Ar, kamu enggak apa-apa? Kenapa bisa begini?" Deo bahkan tidak menyadari, jika raut wajah kali ini benar-benar panik. Selain otaknya mendadak buntu karena kejadian mendebarkan itu, Deo nampak tak fokus kala melihat isi dada Arimbi, yang tak sengaja terekspose akibat kancing baju yang terlepas, saat berkelahi tadi.


" To..long sa..." Belum sempat Arimbi meneruskan ucapannya, gadis itu kini tak sadarkan diri.


Membuat Deo panik sepanik- paniknya.


" Ar! Arimbi! Bangun Ar!" Deo menepuk-nepuk pipi gadis yang selama ini menjadi musuhnya itu dengan wajah tegang. Benar-benar risau.


" Sial, kemana harus kubawa dia?"


.


.


Deo


Selain dia yang tak mengetahui kediaman Arimbi, ia juga tak mau semua orang salah paham jika menghubungi salah satu dari anak buahnya, soal kejadian ini. Apalagi Erik, tidak itu tidak boleh.


Dan dari kesemua hal itu membuat Deo memutuskan untuk membawa Arimbi kerumahnya saja. Paling tidak, jika perempuan itu nanti sadar, ia bisa mengantarkannya nanti.


Lagipula dirumahnya hanya ada dia seroang. Ia tak mau sampai ada gosip yang tidak-tidak.


Ia kini menatap lekat Arimbi yang baru saja ia baringkan diatas ranjangnya, yang biasa aja gunakan untuk menggempur tubuh Roro.


" Siapa yang menyerangmu tadi? Apa karena mulutmu yang lemes itu sehingga kau diburu orang?"


Deo kasihan dan kesal dalam waktu bersamaan, demi mengingat apa yang terjadi antara ia dan Arimbi selama ini.


Arimbi cantik, manis dan bibirnya pink alami.


Deo dibuat kebingungan saat melihat kancing baju yang meresahkan itu. Arimbi memiliki dada yang lumayan pikirnya.


Merasa gerah, Deo melepas pakaiannya dan berniat untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Namun, belum sempat ia menunaikan niatnya, sebuah ketukan membabi-buta menginterupsi langkahnya.


TOK TOK TOK!


Membuat Deo terkejut. Siapa yang datang malam-malam begini? Rumah itu hanya Jessika yang bisa masuk tanpa menunggunya. Astaga, kalau itu benar, bisa runyam urusannya.


Deo kini kebingungan. Arimbi masih tertidur, dan bagaimana jika mamanya salah paham?


" Deo! Buka pintunya!"


Merasa mamanya bersuara dengan nada tak biasa, pria itu akhirnya membuka pintu dengan tak membuka seluruh bagiannya.


" Nah, tuh kan benar! Sudah saya duga!"


" Pokoknya kita tidak mau tahu, nikahkan pasangan mesum ini sekarang juga Bu!"


DEG!


" Pasangan mesum?"


Deo lebih kaget karena ia melihat mama Jessika dan Papa David berada diantara kerumunan masa yang menyerang rumahnya, tanpa ia ketahui itu.


" Apa-apaan ini?"


" Buk, kami sudah berulang kali memergoki anak anda keluar masuk bersama perempuan yang bukan muhrimnya, dan malam ini kami sengaja menelpon ibuk untuk menyaksikan sendiri jika kami tidak memfitnah. Ini enggak bisa dibiarin buk. Nikahkan mereka sekarang juga, atau kami akan publikasikan hal ini!"


" Apa?" Teriak Deo terkejut.


" Buka!" Ucap Jessika mendorong David dan membuat pintu itu terjeblak. Membuat Kesemuanya mendelik saat melihat seorang wanita yang tidur diatas kasur dengan kancing yang terbuka. Semua itu juga di perparah, saat Deo juga bertelanjang dada.


Oh sial!


Jessika menatap kecewa ke arah Deo. Benar-benar kecewa!"


" Tunggu dulu, ada apa ini? Mah, Ini bukan yang seperti kalian kira! Terang Deo panik menatap muram wajah Jesika.


" Maaf mas, tapi kami sudah sering memergoki anda selama ini, meski kamu tidak melihat jelas wajah wanita itu. Ini wilayah norma kesusilaan tinggi loh mas, jangan mentang-mentang anda orang kaya bisa seenaknya mencemarkan lingkungan sini mas!"


" Pokoknya Bu, kami mereka harus dinikahkan. Saya yakin pacar anda juga bersedia kok. Ini sudah kelewatan buk. Mohon maaf, biar kami orang enggak punya, tapi jangan sampai hal seperti itu malah mengundang balak untuk lingkungan kita nanti!" Seru seorang pria kurus yang sejak awal curiga dengan Deo, yang bolak-balik mengajak Roro menginap.


Deo menjambak rambutnya frustasi. Bagiamana dia menjelaskan agar orang-orang itu mengerti.


" Pak, ini enggak seperti yang kalian kira loh!" Protes Deo yang benar-benar kehilangan wibawanya jika dihadapan Jessika. Pria itu berubah seperti bocah yang meminta perlindungan induknya.


" Mah!" Deo menatap muram Jessika dan melayangkan protes.


David memijat keningnya yang terasa pusing demi melihat kelakuan anaknya. Tak mengira jika Deo memiliki tabiat yang buruk seperti ini.


" Nikahi dia, mama enggak mau apa yang dibangun dengan susah payah oleh Opa mu , rusak begitu saja karena kelakuanmu! Sudah mama bilang berulang kali, jaga nama baik Opa Edy!"


Jessika geram. Ia yang tahu bagiamana susahnya David bersama Tomy kala merintis usaha itu, seketika merasa jengkel dan kecewa kepada anaknya itu.


" Siapkan semuanya pak. Anak saya akan menikahi wanita itu. Dan saya mohon, setelah ini jangan ada yang publish dulu ke publik. Saya mohon dengan sangat!" Ucap David dengan segala kebijaksanaannya.


Membuat kesepuluh orang yang menggerebek rumah Deo itu mengangguk setuju.


Deo membulatkan matanya. Apakah dunianya sedang kiamat?


.


.


.


.


.


.


.