My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 153. Tak semudah rencana



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Eva


Ia selalu meyakini bila segala sesuatu yang dilakukan dengan upaya penuh kesungguhan, pasti akan membawa hasil yang menggembirakan sekalipun waktunya itu belum tahu kapan.


Seperti halnya saat ini, ia melihat suaminya di terapi dan perlahan diberikan stimulasi oleh dokter guna merangsang syaraf yang nampaknya bermasalah itu, selalu berdoa agar segala sesuatunya berjalan lancar.


Walau ia menyadari betul bila suaminya kerap minder dan justru berdampak kepada keharmonisan hubungan mereka. Namun, ia percaya bila suatu saat nanti ia juga akan mendapatkan kebahagiaan yang bisa Arimbi rasakan saat ini.


Ia memilih keluar sebab ada panggilan yang masuk kedalam ponselnya. Tak mau membuat kegaduhan dalam ruangan yang bersih itu.


" Ya?" Jawabnya keluar sembari mengangkat ponsel itu dengan wajah serius.


Membuat Demas turut melirik.


.


.


" Biar saya bawakan nyonya!" Ucap Raja manakala melihat Eva yang nampak kerepotan dengan beberapa belanjaan untuk bik Sulis dirumahnya.


Ya, rupanya orang yang menelpon Eva tadi tak lain dan tak bukan adalah Bik Sulis. Wanita paruh baya itu menginformasikan jika beberapa kebutuhan dirumah sudah habis.


Membuat Eva memerintahkan Raja untuk menepikan mobilnya ke supermarket yang berada di jalan searah.


Demas yang melihat hal itu dari dalam mobilnya seketika membuang pandangannya, sembari mensugesti diri agar tidak terpancing dengan apa yang terlihat. Ia tahu, Raja hanya menunaikan tugasnya dan tidak selayaknya ia baper.


" Kita jemput Ibu sekalian?" Tanya Demas yang ingat bila mertuanya sudah mau untuk pindah.


" Jangan, biar di jemput Raja saja nanti, mas harus segera istirahat gak boleh capek!"


Demas mengangguk. Raja yang berasa di depan itu hanya terdiam. Entah apa yang ada dalam pikiran orang itu.


Setibanya mereka dirumah, Eva yang bersama bik Sulis nampak sibuk menata belanjaan di dapur, mendadak terkejut sebab Raja tiba-tiba muncul dari arah belakang.


" Nyonya!"


DEG!


" Astaga Raja! Kamu ini ngagetin aja deh!" Ucap Eva dengan hati terkejut kepada Raja yang malah tersenyum manis.


" Maaf Nyonya! Saya cuma mau tanya Nyonya, apa setalah saya selesai menjemput Ibu nanti, saya boleh izin sebentar, saya ada acara bersama teman-teman saya!" Ucap Raja mengangguk penuh kesopanan.


" Oh, itu. Boleh kok tapi jangan malam-malam pulangnya ya... Saya gak mau kamu kesiangan bangun soalnya Tuan setiap hari harus terapi!" Timpal Eva dengan wajah ramah.


Raja mengangguk menyetujui lalu sejurus kemudian pergi meninggalkan dua wanita yang sibuk dengan kulkas isi itu.


.


.


Sadawira Rajandra


Selepas menunaikan tugasnya dalam menjemput lalu mengantarkan ibu dari majikannya, ia kini melesatkan mobil milik Demas menuju ke sebuah tempat manakala izin telah ia kantongi.


Hanya dalih, pria itu rupanya tak benar-benar menemui teman-temannya. Lagipula, selama ini ia memang tak punya teman.


Pria itu nampak memasuki sebuah rumah besar nan mewah di kawasan yang agak jauh. Di depan rumah itu rupanya sudah ada Boni yang nampak standby, manakala Cctv memperlihatkan sebuah mobil yang masuk ke kawasan rumah besar itu.


" Saya kira anda tidak..."


" Aku enggak ada waktu banyak Bon, bagiamana urusan kak Anthoni?" Tanya laki-laki itu dengan langkah cepat menuju ke sebuah ruangan dalam rumahnya, yang diikuti oleh orang kepercayaannya itu.


" Sidang ditunda dua Minggu kedepan bos. Zakaria tidak mau mengakui jika dia merupakan otak dari semua ini!"


" Membuat pria itu seketika menghentikan langkahnya!"


" Mohon maaf bos. Tapi...apa yang sebenarnya anda lakukan beberapa waktu ini? Saya...."


" Kau tidak perlu tahu. Lakukan saja tugasmu Bon. Aku ada hal yang sangat penting. Hal yang seharusnya sudah aku lakukan dari dulu!"


Ucap Sadawira seraya berlalu dan membuat Boni termenung. Sebenarnya, Boni sangat menghawatirkan dewa penolongnya itu.


.


.


Di sebuah Club malam di kota B


" Single bos?"


" Hemmm!"


Dentuman musik yang membuat jantung seakan meledak itu bahkan sama sekali tak mengganggu. Pria tampan yang selama ini mengikat pinggangnya demi menggapai hidup yang lebih baik itu, sengaja datang ke club' malam itu guna menghilangkan emosi yang tertahan tiap berada di dekat Demas.


Menjalankan rencana rupanya tidak semudah saat menyusunnya. Bagaimanapun juga, manusia selalu memiliki dua sisi yang saling bertolak menuju. Sisi iblis dan sisi malaikat yang selalunya sama-sama membiak bisikan dalam hati.


Puas dengan minuman, ia yang tak ingin membuat Eva curiga seketika mengganti pakaiannya sebelum bertolak menuju kediaman Demas dengan cara memakai baju sembari berjalan.


Ya, jangan sampai bau alkohol itu terendus oleh Eva juga Demas.


BRUK!


" Aduh!"


Pekik seorang wanita yang wajahnya sepertinya menabrak dada Sadawira.


" Bisa jalan yang bener nggak sih?"


Seorang wanita bermata coklat nampak menatap kesal kearah Sadawira manakala pria itu menabraknya sesaat setelah ia keluar dari pintu.


Padahal, wanita itu juga salah sebab terlalu sibuk menekuni ponselnya, hingga tak mengetahui bila ada pria yang berjalan menuju luar dengan maya tertutup kaos.


" Minggir!" Ucap wanita itu kesal dan sengaja menyenggol tubuh Sadawira dengan keras.


" Wanita aneh!" Gumamnya demi melihat wanita cantik yang nampak terburu-buru masuk.


" Apa ini?" Diambilnya sebuah gelang cantik dari batu giok berwarna hijau, yang terjatuh tepat di depannya.


Nyonya Eva calling....πŸ“ž


" CK!"


Sadawira yang berniat masuk guna mencari wanita tadi untuk mengembalikan benda itu, seketika mendecak demi melihat interupsi yang terjadi.


Nyonya Eva calling....πŸ“ž


Membuatnya buru-buru mengantongi benda cantik itu lalu melesat pergi sebelum tingkahnya mengundang rasa curiga Eva.


.


Claire


Ia memajukan jadwal kedatangan ke kota B sebab rupanya tugasnya telah rampung lebih cepat. Selain itu, ia yang memiliki rencana menemui teman semasa kecilnya di kota itu memilih untuk mendatangi club' malam, dimana temannya mengajaknya bertemu disana.


Naas, ia yang masih sibuk berbalas pesan dengan teman masa kecilnya itu, nampak tak memperhatikan jalan di depannya, dan terlihat buru-buru masuk.


BRUK!


Membuatnya seketika mendongak demi melihat pria yang mungkin saja mabuk karena memakai bajunya sambil berjalan.


" Bisa jalan bener nggak sih?" Maki Claire demi rasa kesal atas sikap tak jelas laki-laki itu


Claire yang tak mau ribut langsung masuk kedalam usai mengomeli pria dengan tinggi yang jauh diatasnya itu.


" Minggir!" Ketusnya demi meluapkan kekesalan.


Dan beberapa detik kemudian.


" Hay!" Ia melambaikan tangannya kepada sahabat kecilnya yang sudah menunggu bersama kekasihnya yang seorang pria berwarga negara asing.


" Claire, i Miss you!"


" Ya ampun apa kabar?" Ucap Meta kepada Claire seraya memeluk teman masa kecilnya yang sudah sangat lama tidak ia jumpai.


" Aku baik. Ya ampun akhirnya kita bisa ketemu!"


Mereka sering berhubungan lewat jejaring sosial sebenarnya. Namun, baru kali ini mereka bertemu .


Sedikit merubah jadwal lebih maju sebab esok hari, Meta harus bertolak ke negara kekasihnya itu.


" Astaga!" Ucap Claire manakala ia menyadari jika ada sesuatu dari miliknya yang hilang.


" What is it Claire?"


" Gelang aku, gelang aku kok nggak ada?"


.


.