
...πΏπΏπΏ...
...β’...
...β’...
...β’...
Jessika
Ia tengah berada di dapur bersama sahabatnya Eka, manakala ponselnya yang berada di atas meja makan malam itu berdering. Membuatnya buru-buru mematikan kran air yang baru saja ia nyalakan.
Ia tak menyimpan nomor anak buah kedua putranya, membuatnya mengerutkan kening demi melihat deretan nomor asing pada layar ponselnya.
" Nomor siapa?" Gumamnya dengan alis yang bertaut.
" Angkat aja Jes, kali aja Papanya anak-anak!" Seru Eka dari jarak yang tak terlalu jauh, demi mengidentifikasi raut wajah yang penuh keraguan itu.
Dan ternyata, sugesti dari sahabat bar-barnya itu mampu meruntuhkan keraguannya.
" Halo?" Ucapnya sesaat setelah tombol hijau berhasil ia gulir.
"Ma, ini aku Demas. Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Mama tolong ke rumah sakit Ma. Aku dan Eva terluka!"
DEG
" Apa?" Telinganya bahkan tak bisa dengan jelas menangkap penjelasan anak bungsunya itu. Membuat Eka seketika berlari menuju Jessika berdiri. Namun satu hal penting yang berhasil dia tangkap. Putranya dan Eva terluka.
Tunggu dulu, siapa Eva?
Demas nampak mematikan sambungan teleponnya secara terburu-buru, sesaat setelah ia mengabarkan jika tak memiliki banyak waktu untuk berbicara demi situasi genting yang tejadi. Membuat Jessika langsung terduduk muram.
" Ada apa?" Tanya Eka murung. Menarik kursi lalu turut mendudukkan tubuhnya di samping sahabatnya itu dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Jessika lantas menceritakan apa yang barusan ia dengan dari kalimat bernada informatif melalui putranya itu.
" Kita kesana sekarang, ayo!"
.
.
David
Ia kini bersama Tomy serta Erik berlari mengejar polisi yang memburu Anthoni, sesaat setelah mobil yang dikemudikan Fadli telah melesat membelah jalanan hutan yang temaram. Ia yang paham kawasan itu, menjadi lebih mudah untuk menapaki curamnya tanah yang biasa disebut jurang itu.
Pikirannya terpecah. Anak sulung beserta menantunya nya belum di temukan, sementara anak bungsunya saat ini terluka bersama seorang wanita yang ia duga memiliki tempat spesial di hati Demas itu.
Membuatnya benar-benar dirundung kekhawatiran yang akut.
Namun konyolnya, dalam keadaan segenting itu, pikiran David justru berkelana membayangkan hidupnya yang pasti akan lebih seru dan rempong, makala di kerubungi oleh cucu-cucu yang lucu, hasil produksi dari kedua anaknya. Oh God andaikan!
" Anda baik-baik saja Om?" Tanya Erik demi melihat David yang senyam-senyum manakala berlari.
David seketika tersadar dari kehalusannya demi lontaran pertanyaan dari Erik. " Sialan, semua ini gara-gara anak-anak yang sepertinya sudah menemukan pasangan yang cocok. Astaga!"
" Aku ing..."
DOR
Ucapannya menguap bersama suara letusan yang begitu mengejutkan itu. Membuat mereka bertiga seketika berhenti mendadak, seraya berusaha mencari-cari arah sumber suara.
" Kesana!" Ucap Tomy yang yakin dengan instingnya, dan seketika membuat tiga laki-laki yang badannya kini mengkilap karena keringat itu, berlari menuju turunan yang agak curam.
Yeah i am on fire!
Dan setelah mereka berlari lumayan jauh, tibalah mereka disebuah lokasi datar, dengan ratusan pohon besar menjulang tinggi, yang membuat pencahayaan kian suram.
"Polisi brengsek, mati kau!" Ia bisa melihat dan mendengar pria botak itu memaki ke arah polisi dengan wajah beringasnya, saat ia baru sampai di lokasi.
Tak mengira jika pergerakan mereka bisa secepat itu.
BUG
" Arrggg!" Ringis pria botak yang kini ditendang, dan sejurus kemudian tangannya di pelintir oleh seorang polisi muda yang begitu sigap membaca gerakan pria jahat itu.
Membuat mereka bertiga mengangguk puas.
Namun, dari tempatnya berdiri mengawasi, fokusnya malah teralihkan kepada sebuah pergerakan lain di ujung sana. Pergerakan dari seorang manusia yang membuat jantungnya berdebar penuh rasa syukur.
" Deo!" Panggilnya demi memastikan jika apa yang ia lihat bukanlah sekedar halusinasi. Membuat Tomy dan Erik mengikuti arah pandang David yang nampak berbinar.
" Papa!" Jawab Deo dari kejauhan yang seketika membuat Anthoni yang barusaja mengalahkan seorang polisi menoleh ke arah Deo.
" Apa? Jadi dia bersembunyi disini?" Batin Anthoni demi menyesali gerakannya yang lambat.
BUG
Anthoni yang mendadak memiliki ide itu, kini menendang perut polisi yang nampak kehilangan fokus kala turut menatap Deo.
Membuat antek Bramasta itu seketika berlari menuju ke arah Deo, guna melancarkan serangannya.
SRHRREK!
" Letakkan senjata kalian atau aku bunuh dia sekarang!" Ancam Anthoni yang kini mengalungi leher Deo dengan lengannya yang kekar, dalam gerakan yang cepat dan tak terbaca.
Membuat Deo seketika menegang dengan isi hati yang mengumpat. Brengsek!
David, Tomy dan Erik yang semula tersenyum manakala menemukan Deo, kini kembali memasang wajah tegang demi melihat perubahan cepat yang dibuat oleh pria datar itu.
" Lepaskan dia!" Ucap David demi melihat anaknya yang terancam.
BUG
BUG
" Aargghhh!" Anthoni yang masih hendak meladeni ucapan David itu, tiba-tiba memekik kesakitan demi merasakan rasa yang luar biasa kala kepalanya mendadak terhantam sebuah batu besar.
Deo seketika terkejut demi melihat Arimbi yang memukulkan sebuah batu besar, keatas kenapa Anthoni dengan impulsifnya.
Anthoni yang kini merasa kepalanya yang berdarah menatap Arimbi yang mundur dengan wajah pias ketakutan.
" Perempuan sundaal!" Maki Anthoni dengan emosi yang tiada tertahan lagi.
PLAK!
PLAK!
Anthoni seketika menampar wajah Arimbi dengan begitu keras, demi rasa sakit yang benar-benar membuat kepalanya bagai di hinggapi ratusan kunang-kunang.
" Ahhhwh!" Ringis Arimbi kala ia terlempar ke dinding gubuk, sesaat setelah tangan besar nan kekar itu menempeleng wajahnya.
" Kurang ajar!" Maki Deo dengan suara geram yang tentu saja tidak terima manakala Arimbi diperlakukan kasar oleh pria bajingan itu.
BUG
BUG
KRUAK
Deo seketika membabi-buta dengan menendang serta membanting tubuh Anthoni keatas tumpukan kayu di sisi gubuk usang itu , dengan kobaran api kemarahan yang menyala di kornea matanya.
Buku-buku tangannya nampak genit meninju rahang Anthoni dengan tiada ampun. Kasar dan begitu penuh tenaga.
" Deo, tahan!" David bahkan merasakan Dejavu demi teringat jika dia telah melerai kedua anaknya, pada posisi yang nyaris sama dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
BUG!
" Deo, jangan kotori tanganmu dengan membunuh bajingan itu!" Ucap David keras seraya menahan anaknya yang sulit dikendalikan.
" Anjiiing!" Teriak Deo demi meluapkan emosi yang membuncah.
Anthoni yang wajahnya babak belur hanya bisa mengatur napasnya yang kembang kempis, demi merasakan wajahnya yang kebas dan terasa pedih dalam waktu bersamaan.
" Arimbi, kau tidak apa-apa?" Erik lebih memilih menolong Arimbi yang tersungkur sebab tertampar oleh Anthoni. Membiarkan para polisi melakukan tugasnya.
Arimbi mengangguk dengan napas tersengal-sengal. Sungguh, ia benar-benar lega kala bisa menyelamatkan suaminya dari tangan jahat pria itu.
Deo seketika menggemaskan tangan papanya yang berusaha mencekalnya. Pria itu lebih memilih menemui istrinya sekarang.
" Sayang, kau tidak apa-apa?" Deo seketika berlari menuju ke arah istrinya yang duduk di tanah. Memeluknya erat seolah takut kehilangan.
Membuat David menitikkan air matanya.
Istrinya benar, Arimbi ternyata mampu membawa Deo ke arah yang lebih baik.
" Izin lapor Pak, semua sudah tertangkap. Kita akan bawa mereka semua ke kantor!" Ucap komandan polisi kepada David.
" Terimakasih banyak bantuannya Pak!"
Deo nampak tak mempedulikan obrolan papanya bersama komandan polisi itu. Ia juga terlihat tak lagi sungkan kala ia menciumi puncak kepala istrinya yang bergetar karena tangis.
"Sudah sayang. Semuanya sudah selesai. Kau aman sekarang!" Ucap Deo memeluk erat Arimbi yang merasa lega.
.
.
Sementara itu di lokasi yang tak jauh dari mereka berada. Sebuah mobil yang mengangkut pria bernama Bramasta mendadak mogok di tepi jalan.
" Ada apa?" Tanya Bram dengan wajah kesal.
" Tidak tahu bos, mobilnya mogok!" Sahut orang yang ada di balik kemudi. Membuat pria itu mengumpat dengan hati dongkol.
Akan sangat bahaya jika ia terlambat menemukan Arimbi.
Namun, diluar dugaannya, hal mengejutkan mendadak tejadi.
KLAK KLEK
Sebuah senjata kini teratung ke arahnya, bersama seraut wajah yang menyunggingkan kelicikan.
" Hey, apa kau sudah gila? Turunkan senjatamu!" Ucap Bram dengan penuh kegugupan kala supir yang ia ketahui sebagai anak buahnya telah berani mengokang senjata terhadapnya.
" Serahkan dirimu dan semua akan baik-baik saja, atau kau akan merasakan timah panas ini bersarang di perutmu!"
Bram seketika membulatkan matanya demi apa yang mendadak terjadi. Apa selama ini dia memperkerjakan pengkhianatan?
.
.
.
.
.
Halo halo, pie kabare? Boleh kasih penilaian karya mommy dengan beri bintang di depan. Matur nuwun π€π