My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 69. Menjadi teman baik



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Eva


Entah terbuat dari apa punggung liat yang terasa keras jika di pukul itu. Tangannya bahkan sakit sendiri manakala ia gencar membombardir pertahanan bagian belakang tubuh Demas.


Ia bahkan tak sempat memperhatikan Arimbi yang melongo menatap dirinya beserta Demas, kala ia tiba di pintu kamarnya.


BRUK!


" Aduh!" Eva mengaduh seketika, sewaktu Demas mendadak membuka simpul tangannya yang bertautan sedari tadi. Membuat wanita itu terjatuh dua kali. Double damned!


"Kau ini manusia atau bukan sih? Mbok kira aku ini gabus apa? Main jatuhin orang seenaknya. Sumpah ya! Hiihh!!! " Eva berengut seraya menggosok bokongnya yang sakit akibat bertabrakan dengan lantai.


Arimbi yang berada tepat di hadapan dua manusia kuyup yang entah dari mana itu, hanya bisa menatap dua orang yang nampak basah kuyup itu dengan tatapan tak mengerti.


Membuat Deo yang berada di dalam seketika terkejut demi mendengar suara gaduh di luar.


Demas nampak langsung pergi usai mengantarkan Eva. Tak mengutarakan apapun bahkan sekedar menatap pun, tidak ia lakukan. Namun, pria itu nampak tersenyum ke arah Arimbi yang masih saja melongo dengan apa yang ia lihat barusan.


" Hiih! Kok ada orang kaku kayak dia sih!" Eva yang kini mulai bangun menatap kesal kearah Demas yang lekas menjauh dari pandangannya.


.


.


Arimbi


"Kok bisa sih Va. Elu itu makanya deh...Tapi, kamu enggak apa-apa kan tapi?" Tanya Arimbi resah yang kini sudah ada di dalam kamar Eva. Sambil menyelam minum air, sambil menolong Eva, sambil bisa menghindari Deo. Ia yakin, laki-laki itu pasti tidak akan berani mengejarnya ke kamar Eva.


Ya, Arimbi kini sudah mengetahui duduk persoalan Eva bersama adik dari suami terselubungnya, usai mendengar pidato penuh luapan emosi, dari rekannya yang gemar bercuit itu.


" Kalau bokongku ini buatan pabrik Cina. Udah ku pastikan dedel- duel ( hancur) dari tadi Ar!" Jawab Eva yang sibuk menggosok rambutnya menggunakan handuk. " Untung buatan Gusti Allah!"


Arimbi menghela napas." Untung juga Pak Demas gak tau kalau kamu ngibulin dia. Bisa berabe urusan!"


" Aku nggak mikirin itu malahan Ar, yang aku pikirkan itu gimana nasib ponselku. Udah jelas klelep dia. Mana belum gajian. Sekarang gimana ceritanya mau nelpon ibuku kalau begini!" Jawab Eva murung. Merasa jika saat ini satu persoalan tengah menderanya.


Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Kompak menyandarkan punggung mereka ke kepala dipan yang tegak kokoh.


" Eva kan paling berduit diantara kita berlima! Kenapa dia bingung?" Arimbi membatin dengan sedikit melirik Eva yang masih saja memanyunkan bibirnya. Ia merasa semakin mengenal Eva, semakin ia dibuat penasaran dengan sikap yang ditunjukkan oleh wanita itu.


" Napa lu diem?" Eva bertanya manakala merasakan suasana yang tiba-tiba sunyi, sepi dan krik- krik - krik.


" Enggak ada, cuma mikir. Aku dulu ngira kamu itu judes loh Va. Soalnya kamu pas awal-awal..." Arimbi sungkan saat hendak mengatakan jika Eva bermulut ketus, dan wajahnya terlihat judes.


" Kamu orang ke seribu dua ratus yang bilang kayak gitu. Wajahku dan emang begini Ar. Mau gimana lagi, udah cetakannya begitu. mulutku juga kadang-kadang kanpasnya aus! Jadi kalau bicara slong begitu aja. Tapi kalau udah deket sama orang yang cocok kayak gini gitu, pertemananku bisa di adu!"


Arimbi mengangguk seraya tersenyum penuh persetujuan. Antara dirinya dan Eva cenderung memiliki kesamaan. Yakni tak pandai menahan diri jika tak menyukai sesuatu.


" Tapi, masa sih kamu..."


" Ye.. dibilangin enggak percaya!" Sergah Eva sembari bersungut-sungut kala menatap Arimbi yang hanya menyebikkan bibirnya.


" Percaya deh percaya. Tapi..maaf ya Va, kayaknya diantara kita berlima elu itu yang kelihatan paling..."


" Kaya?" Sahut Eva melirik malas Arimbi yang nampaknya perlu diberikan siraman rohani olehnya.


Arimbi mengangguk. Secara, beberapa waktu lalu wanita itu sempat membawa mobil sewaktu on duty.


" Gini nih reportnya berurusan ama netizen amatir. Kalian nilai aku kayak gitu karena lihat penampilanku sekilas kan?"


Arimbi kembali mengangguk. Secara tampilan, Eva memang selalu menonjol. Beda dengan Arimbi yang lebih casual, atau Resita yang elegan dengan pakaian yang kerap polos.


" Gimana ya ngejelasinnya. Hidupku itu biasa aja sebenernya Ar. Bahkan cenderung mengenaskan!" Seulas senyum kecut kembali menghiasi bibir seksinya.


"Mobil yang aku bawa kapan hari itu, mobil...."


Arimbi seketika mengerutkan kening demi melihat wajah Eva yang seketika mendung, murung dan terlihat menahan ludahnya. Jelas menyiratkan bila wanita itu menyimpan satu hal


" Kenapa Va? Kamu... baik-baik aja kan?" Seru Arimbi yang mengetahui perubahan di wajah rekannya itu.


" Mobil itu mobil Bapakku Ar. Ibuku itu istri kedua!"


DEG


Arimbi tertegun menatap Eva yang matanya mulai berkaca-kaca. Terkaget-kaget demi mengetahui hal mengejutkan itu.


" Istri kedua?"


Kini, Arimbi benar-benar dibuat tak berdaya akan fakta baru yang ia ketahui melalui rekannya itu. Bagiamana bisa?


" Terserah setelah ini elu nilai aku kayak apa. Tapi yang jelas, aku butuh teman bicara Ar. Dulu, ibuku itu orang bodoh. Aku juga enggak tahu cerita pastinya, soalnya mungkin aku masih jadi toge waktu itu!"


Arimbi mendadak mendengus demi mendengar ucapan konyol di sela-sela keseriusan yang tengah ia simak.


Kampret!


" Entah kenapa juga Ibuku kok mau aja di suruh nikah sama orang yang udah beristri. Tapi, makin kesini bapak kandungku makin kurang ajar Ar. Dia nikah lagi dan punya istri ketiga, baru aja ngelahirin anak. Jadi, saudara se-bapakku itu banyak sebenarnya!"


Arimbi makin dibuat prihatin dengan kenyataan hidup gadis yang nampak kuat itu.


"Mungkin dulu ibuku enggak ada pilihan Ar. Terus, mobil yang kemarin di kirim ke rumah tak suruh balikin, aku masih bisa kok bantu ibu nyari uang buat biaya hidup. Hidup dalam cap buruk itu gak enak Ar. Aku bisa hidup dalam segala kekurangan, tapi aku enggak bisa hidup dalam rasa malu!"


Arimbi turut menitikan air matanya manakala Eva meluapkan segala emosi yang membuncah dan kini meledak dari dalam relung hatinya.


Emosi yang makin hari makin menumpuk itu, mengakar serta mendarah daging menjadi sebuah kebencian yang benar-benar akut.


" Makanya waktu aku di tugaskan kesini, aku sempat bingung pas mau ninggalin Ibuku. Soalnya kami baru pindah ke kontrakan baru. Aku benci sama bapakku Ar! Benci banget!"


Eva terus menyusut matanya berusaha tegar saat bibirnya terus mengutarakan hal yang membuat hatinya sesak itu. Membuat Arimbi takut akan posisi yang ia jalani saat ini. Pernikahannya yang tak memiliki kekuatan hukum itu, sangat rawan di salahgunakan.


" Tolong jangan cerita ke siapapun ya Ar. Aku malu!" Ucap Eva dengan suara bergetar manakala Arimbi makin merengkuhnya dalam pelukan.


" Sabar Va. Semua orang itu memiliki ujiannya sendiri-sendiri. Enggak kamu, enggak aku, bahkan orang yang terlihat bahagia pun, sebenarnya mereka memiliki beban. Aku terharu karena kamu mau nganggep aku jadi sahabat kamu, mau bagi cerita kamu ke aku!"


Arimbi yang bahkan larut dalam suasana haru itu, tak bisa lagi menahan jejalan air mata yang sudah memenuhi bingkai matanya.


Tanpa kedua wanita itu sadari, seorang laki-laki yang sedari tadi berdiam diri di balik pintu yang rupanya tak tertutup rapat itu, mendengar seluruh pembicaraan berbau kesedihan itu.


Mencabik, serta mengoyak relung hatinya, sebagai manusia normal yang memiliki rasa iba.


Membuat pria datar yang hendak menyerahkan ponsel retak dan telah kuyup itu, seketika enyah dari sana dan terlihat menelpon seseorang.


" Bawakan aku ponsel yang aku minta tadi, sekarang!"


.


.


.


.