My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 123. Bungkus!



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Erik


Sedari semalam, ia berada di kawasan bandara sebab Daniel hari itu off duty. Ya, disaat Daniel tidak masuk, tugas Erik sedikit berat sebab Hizkia sedang melakukan reccurent lisensi FOO ( Flight Operation Officer)


Membersamai para aviation security Airlines di naungan GH, sebab bertugas menjaga pesawat yang tengah RON.


Mau bagiamana lagi, ia masih belum bisa melepas beberapa karyawan baru.


Tak di sangka, disaat ia baru menggantung safety vest yang semula ia kenakan tadi, Deo justru berkirim pesan lengkap dengan foto yang menunjukkan Wiwit yang sibuk mengobrol dengan Arimbi, di kedai yang begitu ia pahami.


Sialan!


" Cocok banget. Nasi anget, bening kelor sama jagung, pelas tuna, kerupuk udang, behhh. Ngiler nggak tuh!"


Begitulah caption yang Deo sematkan, di bawah foto makanan lezat, yang sengaja Deo pamerkan. Benar-benar kurang ajar.


" CK, sialan si bos! Enggak bilang-bilang lagi kalau mau kesana!" Erik menggerutu dengan hati iri.


Membuatnya buru-buru menyambar kunci mobil lalu berjalan keluar guna menyusul bos laknat itu.


" Aku mau sarapan dulu, titip Operation ya? Aman, sebentar doang!"


Ia menelpon Nevan yang nampak sibuk menyiapkan weather untuk Flight selanjutnya.


Pria itu nampak menyugar rambutnya di depan kaca mobil saat masih berada di parkiran, demi memastikan penampilannya.


Ini benar-benar gila.


Pria itu terlihat berkendara dengan hati yang meledak-ledak. Setelah selalu pusing dengan alasan apa yang harus ia gunakan untuk menemui janda itu, Erik kini bagai ketiban durian runtuh.


" Hah, aku pasti sudah gila. Bagaimana bisa aku jadi seperti ini!" Gumamnya dengan hati belingsatan.


Saat ia memasuki kawasan pantai Kurawa, ia terkejut demi melihat mobil Deo yang baru keluar.


" Lah, itu bukannya...."


TIN


Erik menginjak pedal rem, saat mobil Deo juga berhenti di bahu jalan yang berada di sisi barat.


" Lho Rik, mau kemana kamu?" Tanya Deo dari dalam mobil dengan kaca yang sengaja dibuka.


" Nyusul Pak Deo lah, mau kemana lagi. Tega bener enggak kabar-kabar kalau mau makan enak!"


"Jahat banget nih dua sejoli. Makan enak enggak ingat kawan, saya juga mau kali sarapan sama kelor!" Dengus Erik dengan wajah protes.


" Yakin mau sama kelornya, bukan sama yang masak?" Ucap Arimbi seraya memajukan posisi duduknya di depan Deo. Menggodai Erik yang nampak salah tingkah.


Membuat Erik meringis.


" Dua - duanya sih!" Sahutnya lalu tergelak.


Arimbi seketika menyebikkan bibirnya. " Dasar!"


" Ya... namanya juga usaha!" Elak Erik demi membela kemaslahatan dirinya.


" Coba aja kalau bisa. Good luck Pak Erik!"


" Byeee!" Ucap Arimbi melambaikan tangannya, sembari mencibir jenaka ke arah Erik.


" Awas susukmu nanti copot dibuat makan kelor!" Sindir Deo penuh kemenangan.


" Enak aja. Emang jaman sekarang masih ada kang susuk?"


" Dasar direktur bucin gila!"


.


.


Wiwit


Ia menyajikan semangkuk besar sayur tinggi manfaat itu bersama sepiring nasi hangat, tiga bungkus pelas tuna, sambal tomat, juga setoples kerupuk udang.


Benar-benar menggugah selera.


Emmmm lezat!


" Kalian bertiga jahara ( jahat) banget sih enggak ngundang aku!" Ucap Erik berengut. Protes sebab mengapa Wiwit tak mengabarinya padahal mereka sudah bertukar nomor.


Ya, Erik sengaja meminta nomor Wiwit dengan dalih jika ada tamu dari otoritas pusat, ia bisa dengan mudah memboking tempat Wiwit.


" Ngapain diundang, kalau mau aku tinggal beli kesini!" Ucap Wiwit sembari menyajikan segelas jus apel kehadapan Erik. Membuat laki-laki itu mendengus.


" Ya beda lah. Ini kan masakan spesial!" Timpalnya tak mau kalah.


Wiwit hanya tersenyum demi melihat Erik yang kini mulai menuangkan kuah sayur keatas nasi hangat, membuka daun pisang yang membungkus ketat beberapa ikan tuna segar, yang telah di bakar bersama bumbu rahasia yang legit dan bercitarasa otentik.


ah!


" Seger banget Wit. Mamaku udah lama enggak masak beginian. Kalau aku pulang kerumah nenekku, aku biasa di masakin begini!"


" Jadi kangen nenekku!" Seru Erik dengan wajah berbinar. Benar-benar menegaskan bila lidah Erik sudah cocok dengan masakan wanita yang memiliki sikap lemah lembut itu.


Entah mengapa, tingkah Erik benar-benar mengingatkan dia dengan seseorang yang nyaris setiap hari ia rindukan.


Sikap yang ceria, ucapkan yang cablak dan apa adanya, serta sangat menyukai makanan bersahaja seperti itu, membuat Wiwit merasa dikunjungi oleh suaminya.


" Kalau begitu, habisin. Kalau kurang, masih ada di panci!" Jelas Wiwit yang nampak memangku nampan dari jarak yang agak jauh.


Terlihat terhipnotis dengan sikap Erik, yang serasa membuat kerinduannya pada sosok yang telah tiada itu menjadi terobati.


" Mbak!"


" Mbak!"


" Permisi!"


Ia dan Erik kompak menoleh kala pasangan wisatawan yang datang itu, memanggil memanggi pemilik kedai yang tak lain adalah Wiwit.


" Ad yang beli, mas lanjut makan dulu!" Ucapnya pamit kepada pria yang tengah memamahbiak itu.


Erik mengangguk tanda menyetujui, lalu kembali menyibukkan diri melahap makanan yang membuatnya lupa segalanya itu.


Benar-benar paket komplit. Cantik, baik, serta pandai memuaskan lidah dan perut. Yang belum cuma satu, belum bisa memuaskan si Joni.


What?


Joni?


Anak siapa Joni?


KROAK!


KRAOS!


KRAOS!


KRAOS!


Ia mengunyah kerupuk udang gurih itu sembari manggut-manggut kala menikmati. Benar-benar begitu lezat.


Sejurus kemudian ia meraih jus apel yang baru saja dihidangkan oleh sepupu dari Arimbi itu, sembari menatap ke arah Wiwit yang nampak tersenyum dengan wajah yang begitu menggetarkan hatinya.


" Cantik walau sederhana!"


" Sederhana tapi cantik!" Gumam Erik memuji Wiwit, yang selalu tersenyum penuh ketulusan terhadap siapa saja.


Entah mengapa, Erik mendadak tak ingin waktu itu cepat berlalu. Tapi, apakah ia harus mengatakan sekarang? Astaga, kenapa ia mendadak insecure?


Membuatnya memberanikan diri untuk memfoto Wiwit, lalu mengirimkannya kepada sang Mama.


Ya, setidaknya ia harus memulai dari internya dulu bukan?


" Lagi makan di kedai calon mantu Mama. Masakannya juara!"


" Orangnya apalagi. Jangan rewel ya Ma. Ini mantu idaman para orangtua pokoknya. Balas kalau :Yes:, dan abaikan jika 'No!'"


Ia terkikik-kikik sendiri demi membaca ulang caption yang ia tulis kepada sang Mama. Membuat Wiwit yang baru kembali dari depan mengerutkan keningnya.


" Kenapa ketawa sendiri?" Ucapnya seraya mengerutkan keningnya.


Membuat Erik tersentak.


" Eng- Enggak ada!" Sahut Erik tersenyum lebar.


TRING!


Sebuah pesan membuatnya cepat-cepat ingin membuka.


" Bungkus, bawa besok kerumah. Atau, Mama sama Papa yang kesitu? Ngomong-ngomong, ajak Dian ya?"


" Mas?" Tanya Wiwit lagi demi melihat Erik yang terlihat senyam-senyum sendiri pada layar ponselnya.


" Ah, enggak. Aku...aku...aku lagi seneng aja!" Ucapnya demi euforia dalam hati, sebab Mamanya benar-benar selalu menjadi bestie terbaiknya.


Wiwit nampak menajamkan penglihatannya, demi menatap Erik.


" Ada apa menatapku, aku ganteng ya?" Ucap Erik jumawa demi melihat Wiwit yang nampak menatapnya lekat.


Membuat Wiwit menggelengkan kepalanya.


" Kelor ijo nya nyelip di gigi mas Erik tuh, nih tusuk giginya! Jangan sampai kebawa ke bandara nanti!"


Membuat Erik seketika menghentikan senyumannya.


Tidaaaakk!!!


.


.