
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Rajandra
Dua hari ini ia sibuk mengamati pergerakan Demas juga Eva. Nampak bermanuver untuk segera mencari celah guna melancarkan serangan.
Seperti beberapa kali, ia sengaja membuat Demas cemburu, juga membuat Eva nampak speechless kala ia dekati. Perlahan namun pasti, ia ingin merusak hal yang bahkan baru saja mereka bangun.
Raja sama sekali tak memiliki perasaan terhadap Eva. Menurutnya, wanita itu bukan kriterianya. Sebab, semua orang memiliki nilai plus di mata orang yang tepat. Dan menurut Raja, sekalipun Eva cantik dengan tubuh yang menggiurkan, namun ia tidak merasa tertarik.
Definisi nyata bila dendam merupakan racun yang mungkin saja tak memiliki penawar.
Malam ini, ia yang telah menyelesaikan semua pekerjaannya nampak pergi usai mengantongi izin dari Eva.
Ia memberhentikan mobilnya di tepi danau buatan di dekat ruang terbuka hijau yang lokasinya agak sepi. Sengaja ingin menenangkan pikiran sebab tantangan untuk menyakiti orang lain rupanya tak semudah bayangannya.
Ada beberapa hal yang mengusik, menganggu, serta menyeretnya kedalam kebimbangan.
PLUNG!
Suara air yang kemasukan benda keras itu, membuatnya menoleh.
PLUNG!
" Wanita itu kan?"
Gumamnya seraya menyipitkan mata demi melihat wajah wanita yang pernah mendampratnya sewaktu bertabrakan di depan pintu masuk club' malam.
Membuatnya sedikit tersenyum demi menatap seraut cantik yang rambutnya diikat dengan model ikal di ujung itu.
Namun, lamunannya seketika tersentak demi teringat akan benda milik wanita itu yang kini ada bersamanya.
Membuat Raja kini memberanikan diri untuk berjalan kearah wanita itu, sebab takut jika tak memiliki kesempatan untuk bertemu.
" Hay!" Ucap Raja dari arah belakang dan sukses membuat Claire terkejut.
" Kamu? Mau ngapain?" Ketus Claire demi teringat akan sosok menyebalkan yang pernah menabraknya.
"Apa ini punyamu?" Ucap Raja menunjukkan sebuah susunan gelang dengan batu giok bulat berwarna hijau. Membuat Claire terperangah akan apa yang tersaji di hadapannya.
" Ini kan gelangku! Kau mencuri?" Tuduh Claire dengan wajah bersungut-sungut.
Membuat Raja memutar bola matanya malas. CK, yang benar saja!
" Aku menemukan ini di depan pintu club. Kalau ini benar punyamu ambillah. Uang ku banyak, untuk apa aku mencuri!" Jawab Raja tak kalah dengan wajah mendengus.
Wanita ini benar-benar.
"Tunggu!"
Ucap Claire menahan langkah Raja dengan nada suara yang lebih ia rendahkan. Membuat Raja mengerutkan keningnya sesaat setelah menatap Claire yang kini nampak menurunkan tensi bicaranya.
" Maaf, dan... Terimakasih!" Ucap Claire menatap seraut tampan di hadapannya. Sedikit merasa bersalah sebab telah menuduh.
" MMM!"
Raja mengangguk dengan posisi tangan yang ia kantongi. Sejurus kemudian, pria itu nampak membalikkan badannya lalu pergi sebab merasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi.
" Tunggu!" Pekik Claire kembali dan sukses membuat langkah Raja kembali terhenti.
" Ada apa?" Ucap Raja dengan wajah datar.
" Mau aku traktir? Sebagai ucapan terimakasih karena kau sudah mau menyimpan gelangku ini!"
Raja nampak berpikir dan menimbang-nimbang. Ia melirik jam dan merasa jiwa waktu yang ada masih aman.
" Oke!"
.
.
Disebuah cafe berdesain industrial minimalis, dua manusia yang bahkan belum mengetahui namanya satu sama lain itu, nampak duduk berhadapan bak pasangan kekasih, yang membuat iri pasang mata uang melihat.
" Oh ya, kita belum kenalan. Aku Claire!" Tutur kakak Melody itu dengan wajah tersenyum.
Raja menatap tangan bersih dengan cat kuku nude itu dengan wajah datar. Dan sejurus kemudian,
" Sadawira!" Jawab Raja menjabat tangan lembut Claire.
" Namamu bagus sekali. Klasik!" Ucap Claire tersenyum dan membuat Raja agak heran. Kenapa bisa berbeda sekali jika begini.
" Namamu juga keren!"
" Apalah arti sebuah nama!" Sahut Raja yang mendadak melow sebab mendengar kata orang tua dari bibir wanita itu. Membuat kilasan ingatannya kembali kepada keadaannya yang bagai sebatang kara.
Raja sengaja tak menggunakan nama Rajandra, sebab ia memang tak ingin nama yang khusus ia gunakan sebagai alat itu diketahui oleh orang lain.
" Mau pesan apa?" Tanya Claire mencoba mengubah topik pembicaraan.
" Terserah kau saja!" Sahutnya datar.
Membuat Claire mengangguk menyetujui.
" Mbak!" Panggil Claire terhadap pelayan itu. Raja nampak menatap wajah cantik Claire yang nampak berdandan sederhana, namun nampak elegan.
" Sepertinya dia wanita mandiri!" Batin Raja yang membidik wanita yang tengah sibuk dengan pelayanan berseragam putih itu.
" Kamu...tinggal di daerah sini?"
" Iya!" Jawab Raja sekilas.
Claire hanya mengangguk. Ia juga canggung sebab sepertinya, kawan bicaranya itu bukan orang yang komunikatif.
" Kamu?"
Claire mendongak, sebab tak menduga jika Raja bakal ganti mengajukan pertanyaan untuk dirinya.
" Aku sementara disini. Tapi, mungkin agak lama. Orangtuaku di kota S!"
Dan dari pertemuan itu, sedikit banyak membuat keduanya saling tertarik untuk mengenal lebih jauh.
Tentang Raja yang nampak berkompeten kala membahas bisnis, juga Claire yang menarik perhatian Raja lantaran wanita sangat ekspresif.
" Terimakasih banyak Wira, aku pulang dulu ya. Sekali lagi maafkan aku karena sudah ketus di awal - awal kita ketemu!"
Raja mengangguk. Sebenarnya ia bingung harus berkata bagaimana. Selama ini, ia hanya menggunakan wanita sebagai pemuas naf*sunya saja.
Dan, manakala ia berada di persimpangan, Raja nampak ragu untuk menahan langkah wanita cantik itu. Padahal, sebuah keinginan hendak ia utarakan.
Dan sejurus kemudian.
" Emm Claire!" Teriaknya memberanikan diri.
" Ya?"
" Bisa aku minta nomer ponselmu?"
.
.
Claire
Ia tak menyangka bila laki-laki yang pernah ia damprat tempo hari itu merupakan orang yang telah berbaik hati menemukan, menyimpan, lalu mengembalikan gelang itu kepadanya.
Sedikit menyesal sebab nyatanya suudzon itu selalu saja membuatnya rugi.
Tak menyangka juga, jika pria yang mengakui bernama Sadawira dan bertindak sebagai CEO perusahaan Multinasional.
Ya, perusahaan multinasional merupakan perusahaan besar yang umumnya berada di berbagai negara industri dan memiliki kantor di berbagai negara lainnya. Umumnya, ekspansinya ada di berbagai negara berkembang.
Jadi, beberapa merk laptop juga ponsel merupakan miliknya. Keren!
Membuat Claire tertarik untuk menyelami ilmu, yang nampaknya bisa ia dapat dari pria berwajah rupawan itu.
...Next time kita bisa jalan lagi?...
Hatinya bahkan merasakan kegembiraan, kala berbalas pesan dengan pria yang rupanya begitu smart itu.
" Ngapain sih lu? Senyam-senyum kek orang gila!" Cibir Melodi yang nampak asik membaca komik kala netranya tak sengaja menatap gelagat aneh dari kakaknya.
" Mau tau aja apa mau tau banget?" Tanya Claire dengan wajah menggoda.
" Gak jelas!" Balas Melody mendengus kesal. Membuat Claire seketika tergelak.
" Belum ketempatnya kak Demas?" Tanya Melo lagi seraya membuka lembaran komik selanjutnya.
" Belum, kemarin mau kesana dia jadwal terapi lanjut check up, jadi seharian aku ketempatnya Arimbi. Dia hamil tau, aku kok jadi pingin ya Mel!"
Membuat Melody menatap aneh kakaknya.
" Hamil sih boleh aja, tapi udah ada calon yang bakal menghamili elu belum?"
.
.
.
.