My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 131. Tok Cer



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Seharian menjadi si penatap wajah cantik nan rupawan itu benar-benar sukses membuat dirinya tersiksa. Apalagi, Demas semakin hari semakin yakin jika Eva adalah pemilik hatinya.


Perasaan suka itu kian menjelma menjadi rasa sayang ,yang bermetamorfosa menjadi rasa ingin memiliki.


Ia semakin mencecap bibir Eva dengan penuh kerinduan. Membuat Eva tak bisa tinggal diam. Takut kalau-kalau ada yang melihatnya.


" Awh!" Ia mencicit manakala perutnya di cubit keras oleh Eva saat ia tengah sengaja mengerjai wanita itu.


Ah sakitnya!


" Kok kamu nyubit saya sih?" Timpal Demas dengan wajah tak setuju. Membuat bibir yang saling berbelit itu seketika terbuka.


" Pak Demas ini gimana sih, kalau ada yang lihat gimana?" Sergah Eva dengan tatapan sebal, kesal dan tentu saja tak setuju.


Namun, alih-alih marah, Demas justru menarik seulas senyuman demi melihat Eva yang rupanya masih memiliki nilai kesungkanan juga norma kesusilaan.


" Gampang kalau itu. Kita bisa seperti kak Deo dan Arimbi. Selesai kan?" Jawab Demas enteng dengan gerakan mengusuk perutnya yang ngilu akibat cubitan.


Membuat Eva mendengus.


Sedetik kemudian, Demas terlihat menumpukan tangan kanannya ke dinding, lalu mencondongkan wajahnya ke arah wajah Eva yang nampak ketar-ketir.


Membuat posisi wajah mereka begitu dekat.


" Tidurlah. Terimakasih untuk hari ini. Aku pergi!" Bisik Demas seraya tersenyum licik.


Dan, harum napas Demas yang merasuk kedalam cuping hidungnya, membuat Eva seketika merinding.


Oh God, why is he so handsome?


Sejurus kemudian Demas terlihat mengusap gemas puncak kepala Eva, yang masih nampak melongo. Detik berikutnya, laki-laki itu nampak menarik handle pintu lalu mengeluarkan diri seraya membetulkan jasnya.


Terlihat keren.


Meninggalkan Eva yang masih nampak syok, dengan buncahan rasa yang membuatnya senyam-senyum sendiri.


" Huft!" Demas menghela napas sendiri, sebab nyaris saja ia kehilangan kendali.


.


.


Eva


Ia belingsatan sendiri kamarnya, seraya menatap wajah konyolnya ke cermin dengan gerakan menyapu bibir menggunakan ibu jarinya. Merasa malu namun sebenarnya suka. Oh ya ampun.


Entah mengapa, semakin kesini dia semakin dibuat gila oleh Demas. Akankah?


" Orang itu benar-benar rawan. CK, suka sekali nyosor sih?" Menggerutu tiada henti walau sebenarnya ada ribuan kupu-kupu yang menarik di dalam hatinya.


Terbukti, saat ia melempar tubuhnya keatas kasur putih pegas nan lebar itu, kilasan ingatannya justru kembali kepada Demas yang sering menciumnya secara tiba-tiba.


Yes, Eva suka akan hal itu.


" Sesuai sama badannya. Tegap, kekar, ganteng ummmm! Aku pasti sudah gila karena mikir yang tidak-tidak!" Ucap Eva bermonolog dengan hati meledak-ledak.


.


.


...🌿🌿🌿...


Dua Minggu kemudian


Semburat kuning di ujung cakrawala timur menjadi penanda, jika lembaran hari telah berganti. Anugerah, cinta kasih, serta kesempatan untuk meraih kebahagiaan, senantiasa sama hadir bagi diri tiap-tiap orang yang mau berusaha menggapainya.


Pasca kejadian beberapa waktu lalu, Dian dikabarkan harus menjalani sunat dewasa atau saran dokter demi safety di hari-hari kedepannya.


Sebab dari kecil, laki-laki itu memang belum sunat. Jangan di tanya kenapa, sebab tiap individu punya tradisi serta adat istiadat yang berbeda.


Sepasang pengantin baru tapi lama itu nampak berada di dalam kamar dengan kesibukan yang berbeda.


Deo yang baru menyembulkan kepalanya dari pintu mandi itu, nampak kaget saat melihat sang istri yang masih bergulung selimut di jam tujuh ini .


Tumben?


"Kamu udah selesai?" Jawab Arimbi seraya memutar tubuhnya dengan suara parau. Benar-benar terlihat lazy.


Deo mengangguk, " Kamu kenapa? Tumben enggak bangun?"


Bukannya menjawab, Arimbi justru semakin membenarkan selimutnya. Membuat Deo kian resah.


"Astaga, badan kamu demam lho!" Jawab Deo panik kala ia menyentuh kening Arimbi yang bersuhu tinggi.


Sepertinya, ini pertama kalinya Arimbi sakit sejak mereka menikah kembali beberapa waktu lalu.


" Aku nggak apa-apa. Kebanyakan makan sambal cumi kayaknya. Lupa minum obat!" Balas Arimbi dengan mata yang masih terpejam.


" Kamu ini makanya deh. Mulut sanggup tapi belum tentu perut sanggup!" Omel Deo demi mengingatkan jika istrinya itu merupakan kawula muda, yang gemar dengan menu makanan yang rasanya mirip racun yang membakar mulut.


" Tapi tunggu dulu, kalau karena makanan, harusnya perut kamu dong yang sakit. Nah, ini... kok kamu demam?" Tanya Deo dengan wajah penuh selidik.


Arimbi hanya mengangkat kedua alisnya dengan gerakan bahu terendik yang tidak kentara.


" Udahlah. Aku enggak apa-apa, mungkin karena capek tiap malam kamu ajak lembur terus!" Tukas Arimbi yang membuat Deo seketika meringis nyengir.


Yeah, that's my job every night!


" Mas, nanti sore jalan-jalan ke tempat mbak Wiwit yuk. Kok aku pingin makan disana tiba-tiba. Es degan jeruk nipisnya seger banget kayaknya!" Ucap Arimbi menatap suaminya lekat-lekat.


Membuat Deo terheran-heran.


Es degan? Sore-sore begitu?


.


.


Di kantor luar bandara


Erik


Semenjak bosnya menikah, ia menjadi orang paling sibuk di jajaran Darmawan Angkasa selain Daniel, sebab Deo sekarang lebih sering memintanya untuk mewakili pertemuan-pertemuan penting dengan stakeholder terkait.


Nasib jomblo yang masih berjuang memang runyam. Apalagi, mengejar cinta janda tak semudah seperti yang selama ini di gembar-gemborkan oleh pujangga kelas teri.


" Kalau menurut pengalaman saya. Semua itu bisa saja merupakan sebuah indikasi, jika zigot dalam rahim Arimbi, sudah menjadi embrio bos!" Ucap anak sulung Tomy itu dengan gaya diplomatis dan bahasa sok biologis.


Membuat Deo mendengus kesal.


" Arimbi, Arimbi! Panggil dia Bu Arimbi! Kamu ini lupa atau gimana kalau dia istri saya!" Seru Deo mendakwa sinis Erik.


Kini, demi suara penuh kesombongan dari yang mulia deodoran itu, Erik terlihat memutar bola matanya malas.


Baiklah kau bos-nya!


Ya, Deo pagi itu menceritakan Arimbi yang belakangan ini malas-malasan dan sering kurang enak badan.


" Tapi, nikah baru beberapa hari masa udah..."


SRING!


Tatapan setajam pedang pendekar itu sukses membuat Erik tak dapat meneruskan ucapannya. Membuat pria yang masih memuja janda yang sulit ditaklukkan itu nyengir seketika.


" Aman bos. Saya tahu, anda pasti udah deposito dulu di era siri kemarin kan? Kalau jadi, itu bagus. Tandanya anda tokcer!"" Ucap Erik meringis dengan tujuan menjilat agar bosnya tidak marah.


Benar-benar licik.


" Tenang bos, saya akan segera menemui Wiwit nanti. Pokoknya, apa yang bos minta, pasti bakal saya lakukan!"


Deo mencibir dengan gerakan menyebikkan bibirnya.


" Bilang aja kamu memang mau kesana karena mau ketemu wanita itu!"


" Gimana? Ada perkembangan? Jangan sampai ada berita, cowok kegantengan seantero bandara ditolak janda untuk kesekian kalinya!"


"Anjlok- anjlok dah pasaranmu Rik!" Jawab Deo seraya tergelak kencang.


Membuat Erik seketika mendengus.


Sialan! 😒


.


.


.