
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Ia kini berada di baris kedua dalam sebuah ruangan bercat putih bersih, di depan sebuah dinding lebar itu bertuliskan Nawangsa Pura Airport. Tulisan dari partisi besar itu terlihat mewah dan megah. Membuatnya berdecak kagum akan integritas perusahaan itu.
Di ujung meja mengkilap itu , ada satu orang pria yang mengenakan seragam khas aviation security dengan nama dada Rendy T. Pria yang menjadi pembicara dalam sesi briefing singkat pagi ini.
Pria itu cukup lugas dalam menerangkan. Selain ganteng, pria itu terlihat professional. Jelas mengindikasikan jika semua orang yang ada di lini depan keamanan penerbangan itu musti cerdas dan berkarakter. Membuat Arimbi merasa bangga, karena bisa berada di jajaran orang-orang hebat disana.
Lagipula, tak sembarang orang bisa menjadi seorang aviation security. Ada kriteria dan klarifikasi khusus.
" Hari ini kalian semua akan mengenakan pas temporary dulu, sembari menunggu pas bulanan kalian selesai di cetak!" Seru Rendy menerangkan.
Ya, semua orang yang masuk ke area vital bandara wajib memiliki identitas. Tak terkecuali.
" Saya akan menjabarkan kode area keamanan terbatas untuk kalian ya. Jadi kode A itu untuk Apron / parkiran pesawat. Kemudian B itu merupakan ruang keberangkatan atau ruang boarding, C untuk area check in counter dan area terdekatnya kemudian D untuk area arrival atau kedatangan dan selanjutnya nanti kalian bisa baca pada keterangan di Pas kalian masing-masing!"
" Nanti kode kalian akan di sesuaikan sesuai dengan tupoksi ( tugas pokok dan fungsi) kalian masing-masing!"
"Karena di front line dan back line, itu beda!" Terang Rendy kembali.
Arimbi dan yang lainnya tekun menyimak. Ini sangat baru untuknya yang tidak mengerti dunia Aviasi dan segala tethek-bengeknya.
" Saya tekankan disini agar jangan sampai pas kalian tertinggal sewaktu bekerja, dan jangan memasuki area terbatas yang di larang!"
Usai dari ruangan dengan wangi bunga Lily itu, ia kini berkumpul dan mengekor di belakang Daniel untuk menuju ke terminal domestik.
" Hey, kita belum kenalan loh. kenalin Aku Dian!" Ucap pria yang berbibir mengkilap dan jika dilihat dari gayanya, pria itu memang berjenis tulang lunak.
Ya, kelima passasi baru itu mengisi waktu mereka seraya mengobrol. Sementara empat pria lain yang akan berbeda divisi itu, terlihat berbincang bersama Daniel dengan raut serius.
Arimbi yang berjalan bersejajar bersama Resita kini tersenyum kaku. " Aku Arimbi!"
Lagipula, laki-laki dengan wajah putih karena sapuan bedak itu kan sudah mengetahui namanya beberapa waktu lalu kan?
Dian tersenyum. " Kita sama di pasasi kan?"
"Ya iya lah, kita berlima yang di pasasi! Gitu aja masih nanya" Sahut Eva, gadis yang terlihat berpenampilan paling menor diantara Resita dan Arimbi. Gadis itu juga terlihat sombong.
Membuat Dian melengos sebab ilfeel. " Enggak tanya elu kali!"
" Kanalkan saya Yohanes!" Ucap pria yang gemar berdoa di setiap tempat itu. Pria berkulit gelap itu sepertinya merupakan orang keturunan Indonesia timur.
" Kamu asli sini?" Tanya Dian sejurus kemudian. Membuat Resita dan Arimbi turut menoleh.
Sangat aneh, sudah bertemu tiga kali namun baru kali ini berkenalan secara resmi.
Yohan mengangguk. " Mama asli orang sini Papa asli bumi cendrawasih."
Arimbi dan Resita mengangguk kompak Sementara Dian manggut-manggut, dan Eva masih diam seraya menggulir ponselnya. Wanita itu bahkan tidak memperkenalkan dirinya.
Pantas Yohan di terima, meski berkulit gelap, tapi pria itu manis dan rapih. Lagipula, sepertinya Yohan sudah jadi penduduk sini.
" Kamu udah lama disini?" Tanya Resita menatap Yohan.
" Sudah sejak lulus SMA saya pindah kemari, lalu ikut diklat penerbangan enam bulan!"
" Bisa Jawa dong? Tapi lihat logat kamu masih sedikit...!"
" Please deh jangan rasis!" Ucap Eva mendengus. Membuat Dian lagi-lagi mencibir.
Mereka semua kini mengangguk-angguk. Sepertinya mereka akan jadi tim yang menyenangkan. Kecuali Eva.
.
.
Ia masih tak mau menanyai Arimbi soal kejadian tadi. Ia yang memang gemar bersikap profesional kala bekerja itu, kini lebih memilih untuk menjadi navigator yang baik bagi para juniornya.
" Rafi, Bagas!" Kalian setelah ini langsung sama Bang Rio ke terminal cargo ya. Terus Lana sama Zulkifli habis ini langsung sama Bang Beni ke belakang izin dulu sama petugas Avsec yang on duty nanti ya!"
Ke empat pria manis itu mengangguk dengan penuh semangat.
" Nah tuh dia bang Beni sama bang Rio!" Daniel mempercepat langkahnya, dan menyongsong dua rekannya yang sudah ada di depan pintu masuk itu.
Praktis, kini tersisa tiga wanita cantik, satu pria tulen dan satu pria jadi-jadian yang masih bersama Daniel.
Usai menyerahkan empat laki-laki itu kepada penanggungjawab masing-masing, Daniel kini terlihat berbicara kepada seorang Avsec yang berjaga di pintu masuk itu. Entah apa yang di bicarakan laki-laki itu. Rautnya terlihat serius.
" Pssstt!" Dian memanggil Resita demi menunjukkan seorang penumpang bule yang baru saja lewat.
" Psttt! Res, Ar!"
" Apaan?" Tanya Resita dengan alis bertaut, sementara Arimbi hanya menoleh.
" Tuh lihat, punya dia pasti gede itu. Matahari gue kalau di sodook pakai itu, pasti jadi kayak cetakan cipiran tahi gue jadinya!" Dian terkikik-kikik demi melihat bule ganteng yang membawa surfing.
Arimbi mendelik demi mendengar celotehan Dian yang terbilang ekstrim. Sementara Yohan yang tiba-tiba merinding kembali berdoa. " Ya Tuhan, ampuni anakmu!"
" Mulut lo Yan!" Sergah Resita yang kesal dengan lambe sialan milik Dian. Bisa-bisanya berkelakar di situasi serius seperti saat ini.
Untung Eva tak mendengar, dan lebih memilih untuk menambal lipstick nya sebelum ia mulai memasuki counter check in.
Dian hanya terkikik-kikik. " Canda keles!"
Arimbi menggelengkan kepalanya, sepertinya ia akan menyukai pekerjaannya itu.
" Udah yuk!" Ajak Daniel kepada lima anak itu usai memungkasi pembicaraan yang sepertinya sangat serius.
Resita tak hentinya menatap Daniel yang terlihat keren itu. Sepanjang perjalanan, gadis itu bahkan membuka cuping hidungnya lebar-lebar, agar bisa menghirup wangi maskulin Daniel yang memabukkan.
Udara AC menyambut kedatangan mereka , saat langkah kaki kelima anak itu kini memasuki sebuah ruangan lebar dengan lantai marmer yang mengkilat bersih, di depan sana berderet meja-meja check in counter yang benar-benar elegan.
Arimbi yang baru pertama kali melihat itu bahkan sampai ternganga. Tempat ini benar-benar terlihat mewah.
" Nanti kita briefing setelah pesawat take off ya. Biar bisa kenal satu sama lain sama senior. Sekarang kalian lihat-lihat saja dulu gimana cara kerja kakak senior kalian. Dan oh ya, Arimbi!"
Arimbi menoleh saat namanya di panggil.
" Ya Pak?"
" Kamu ikut saya sebentar!"
" Baik Pak!" Jawab Arimbi biasa saja. Eva, Dian dan Yohan juga nampak tak menghiraukan, ketiga orang itu sibuk memindai isi dalam bandara yang membuat mereka begitu terpukau dan berdecak kagum.
Namun tidak dengan Resita, gadis itu terlihat resah saat matanya mengikuti dua manusia yang kini berjalan semakin menjauh darinya itu.
" Apa yang mereka bicarakan?"
.
.
.
.