My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 145. Pilihan hidup



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Disebuah kamar


" Ah! Ah!"


" Lebih cepat!"


" Ssttt!!"


Desahaan wanita yang tengah di booking untuk meladeni naf su seorang pria nampak terdengar menggema di sebuah kamar hotel berbintang.


Pria dengan tato di punggung itu nampak memejamkan matanya kala wanita binal bertubuh sexy itu, terus menggenjot bagian pentingnya hingga ia terseret pada puncak keindahan tertinggi dalam sebuah permainan.


Ah!


Membuat tubuh keduanya menegang dengan lutut yang bergetar di waktu bersamaan.


" Enough!" Ucap seorang pria sesaat setelah menggapai kenikmatan itu. Menginstruksikan kepada wanita itu untuk segera enyah dari kamarnya.


Memangnya apalagi, slogannya masih sama; Setialah dengan uangku, tidak ada hati disini!


" Ambil ini dan pergilah!" Ucap pria itu kepada wanita yang nampak tersenyum dengan keadaan loncos. Matanya bahkan berbinar, demi melihat isi amplop coklat yang begitu tebal.


" Tengkyuu honey!"


CUP!


Sepeninggal wanita tadi, laki-laki yang baru dikecup bibirnya itu nampak menuju ke kamar mandi lalu menyalakan shower, yang kini nampak mengguyur tubuhnya yang berotot dan nampak menggoda.


Memejamkan matanya barang sejenak sembari menikmati sensasi air hangat yang begitu terasa nyaman, seraya membayangkan wajah seseorang yang membuat rahangnya mengeras.


" Ini belum seberapa, kalian harus membayar semua ini!"


.


.


Demas


Ia tengah duduk sebab baru di gantikan baju oleh Mama Jessika, manakala Eva masuk dengan membawa buah-buahan.


Ya, Demas barusaja dimandikan oleh Jessika yang di bantu oleh David.


" Pak Demas sudah mandi?" Tanya Eva sembari menutup kembali pintu ruangan itu.


Demas yang terkejut akan penampilan Eva yang memotong rambutnya itu hanya bisa mengangguk.


Ia terpana.


" Kenapa di potong?" Tanya Demas dengan suara lirih.


" Buang sial!" Sahut Eva cepat. Sibuk meletakkan beberapa bawaan yang dibawakan oleh Ibunya.


Demas hanya tertegun sambil mengalihkan pandangannya kepada ponselnya untuk memantau Dian juga Melody. Sama sekali tak berniat untuk mengajukan banding sebab sebenarnya, Eva kelihatan lebih cantik dengan model rambut blow seperti itu.


Leher jenjang dan bersih milik wanita itu terus terang membuatnya menjadi gelisah. Apalagi, pakaian yang begitu sederhana juga make up yang selalu on itu semakin membuat Demas resah.


Ia sedikit melirik dan pura-pura sibuk manakala Eva berjalan mendekat ke arahnya. Apalagi, bau parfum Eva yang berjenis vanilla itu sungguh membuatnya tak tenang.


" Pak!"


Hangat napas harum Eva yang menerpa wajahnya membuat desiran aneh itu timbul tanpa ia undang.


Oh sial!


" Pak Demas harus optimis untuk sembuh. Bukan untuk saya, tapi untuk pak Demas sendiri!"


Hening.


Keduanya nampak saling menatap, seraya menikmati raut wajah rupawan mahakarya sang pencipta itu dengan sorot mata sendu.


Eva menatap lekat wajah Demas dengan tatapan penuh cinta. Wanita itu benar-benar telah jatuh cinta akan sikap Demas yang mampu melindunginya.


Sebab selama ini, sudah dua kali ia dikecewakan laki-laki yang teramat berarti dalam hidupnya. Bapaknya, juga mantan kekasihnya dulu.


Ucapan Demas menguap percuma ke udara, manakala bibir lembur Eva kini tertempel pada bibir pria itu.


Oh man, she's kissing me right now!


Demas yang tiba-tiba mendapat serangan seperti itu, nampak terkejut meski kini perlahan-lahan ia mulai mengimbangi permainan Eva yang selalunya nakal.


Tangan Eva meraba dada pria yang kini duduk berselanjar diatas ranjang itu, terus menekan lalu makin membelitkan lidahnya satu sama lain.


Membuat Demas merasa takut sebab sesuatu dibawah sana jelas akan bangkit. Oh Shiit!


CEKLEK!


Dua manusia yang lagi asoy geboy itu seketika melepaskan ciumannya dengan keadaan yang sama-sama kaget bukan main.


Sialan!


" Emmmm, cuma mau bilang, besok kalian sudah boleh pulang!" Ucap Deo yang turut canggung sebab menerka jika sesuatu yang menyenangkan baru saja teriterupsi olehnya.


" Sialan ni anak, masih sempat-sempatnya begitu!" Batin Deo yang tahu jika Demas pasti barusaja berciuman dengan Eva, sebab pada bibir adiknya itu, telah tertinggal bercak lipstik.


Damned!


.


.


...🌿🌿🌿...


Jika Deo mendengus sebab Arimbi sedari datang tadi malah justru senang dekat di samping Erik juga Mamanya, Dian justru adu adrenalin saat ia duduk di samping Melody yang nampak selalu kaku.


Ya, mereka semua kini nampak berkumpul di rumah David guna melangsungkan pernikahan Demas dan Eva secara sederhana.


Eva yang telah pasrah wali kepada rekomendasi petugas catatan itu, kini nampak duduk dengan mengenakan pakaian sopan berwarna putih, yang selaras dengan pakaian yang dikenakan oleh Demas.


Tak ada jilatan kamera atau sound dari event organizer dalam gelaran acara tersebut. Semua terkesan sederhana namun begitu khidmat.


Eva berpikir, seharusnya ada bapaknya yang saat ini ada di sana, tapi terlepas dari semua itu, ia begitu menyadari bila keadaan selalu punya kenyataan.


Di sore yang bersahaja itu, semua keluarga David berkumpul. Menjadi penyaksi momen yang begitu sakral, dan tiada pernah mereka lupakan seumur hidup mereka.


Tak ada sanak saudara Eva yang hadir sebab kondisi mereka selama ini memang dijauhi. Hanya ada beberapa rekan kantor yang dekat, dan pastinya Ibu yang selalu mendampingi.


" Bagiamana siap?" Tanya pria dengan name tag Prabu itu.


Demas mengangguk mantap. Ia berharap, walau semua yang terjadi tidak seperti bayangannya, namun sebisa mungkin ia harus menguasai diri untuk mengumpulkan keyakinan, bahwa Eva merupakan orang yang baik.


Ya, kehidupan baru akan ia jalani setelah ini. Meski ia memang mencintai Eva, namun keadaan yang ada sedikit membawa rasa minder pada Demas.


Di tatapannya wajah Papa David, Om Leo, Kak Deo, juga Opa secara bergiliran. Para pria hebat itu nampak tersenyum dengan membawa segala isyarat bagi Demas untuk yakin.


" Saudara Demas...."


Isi dada milik semua orang yang berkumpul di jam sore itu, sudah pasti berteman dengan ketegangan saat ini. Menyimak serta memperhatikan lekat-lekat manakala petugas berpeci itu nampak mengucapkan kalimat indah nan sakral, dengan penuh kewibawaan.


Hingga beberapa saat kemudian, tangan yang terhentak itu menjadi penegas seorang Demas untuk berucap.


" Saya terima nikah dan kawinnya Maheva Tribuana Mandala binti Erlang Pamungkas, dengan maskawin yang tersebut di bayar tunai!"


Beberapa detik yang begitu terasa mengikat napas itu, tunai sudah terlontarkan dengan lancar.


Adalah Eva, wanita itu nampak menangis sebab akhirnya ia menjadi seorang istri dari pria baik di sampingnya itu.


" Bimbing aku untuk menunaikan bhaktiku kepadanya ya Tuhan!" Lirih Eva dalam hati, manakala untaian doa tengah di ucapkan oleh pria berpeci itu dengan khusyu'.


Semoga!


.


.


.


.


***Reader, bab 144 mencelat di atas, coba cari.


Judulnya ' Salah Letak'


Mommy juga heran kenapa bisa acakadul begitu. Udah complain ke admin tapi hingga kini belum juga di ganti. Hah, lagi-lagi selalu saja berteman dengan permakluman 😁😁😁***