
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Hari semakin redup, selaras dengan hatinya yang juga semakin gelap. Bayangan wajah ayu Arimbi yang terakhir kali ia tatapan manakala mereka tidur bersama semakin mengusik batinnya.
Dimana istrinya itu sekarang?
Sedang apa, apakah wanitanya itu selamat?
Deo menundukkan wajahnya keatas setir bundarnya seraya menangis seorang diri manakala membaca sebuah pesan biadab dari seorang yang ia duga merupakan pelaku penculikan.
" Kau hanya seorang pecundang! Ngomong-ngomong, tubuh istrimu menggiurkan juga!"
" Brengsek!!!" Teriak Deo demi membaca pesan bernada kurang ajar itu.
Rasa frustasi itu semakin menyerang manakala nomor yang digunakan untuk mengirim dirinya pesan kurang ajar itu, tak dapat lagi dihubungi.
Damned!
Setelah ia kehilangan Roro, perusahaannya juga kini di serang oleh Bram. Lebih parah lagi, wanita yang mulai merajai hatinya juga disinyalir hendak di celakai oleh pria itu.
Brengsek!
TRING
Sebuah pesan menginterupsi kesenduan yang tengah ia rasakan.
" Orang kita terakhir menemukan jejak pria itu menuju arah Timur Laut!"
" Aku bersama Papa menuju kesana. Kau dimana?"
Deo seketika tertegun demi membaca pesan dari Demas.
" Timur Laut? Tempat itu kan?"
.
.
Arimbi
Perlahan, mata yang semula terpejam itu kini terbuka. Arimbi mencoba memindai sekeliling tempat dimana dia rebah. Tempat yang benar-benar sunyi, dengan bau langu tumbuhan yang menyeruak kedalam rongga hidungnya.
" Aku masih hidup?" Ucapnya dengan suara parau seraya berusaha menegakkan posisi tubuhnya.
Rasa tubuhnya remuk. Perutnya sakit karena lapar. Entah sudah berapa lama dia tak sadarkan diri. Lengannya terasa perih, sepertinya ia tadi tersusuk ranting dedaunan.
" Auwh!" Ia meringis manakala melihat kulit bawah sikunya yang kini koyak.
Hari sudah terasa redup. Ia tak memiliki penerangan apapun. Pakaian basahnya bahkan kering di badan. Bibirnya kering sebab jelas dia dehidrasi.
Untuk pertama kalinya, Arimbi merasa takut.
Ia teringat akan Ibunya, Farel, sahabatnya, teman-temannya, bahkan ia kini tahu arti memerlukan Deo.
" Deo!" Ia menyebut nama itu seraya menitikkan air mata. Ia tahu suaminya itu dalam bahaya. Tapi, bagaimana kini ia harus memberitahu?
Arimbi kini memilih berjalan membelah rerumputan dengan sisa keberanian yang ada. Wanita itu menggunakan instingnya untuk mencari jalan keluar.
Kalau kau tersesat, carilah aliran sungai, itu akan membawamu ke pemukiman!
Namun, kata-kata itu agaknya tidak relevan jika ia terapkan saat ini. Mengingat fajar mulai tenggelam. Ia bahkan tidak tahu dimana ponselnya berada. Celana seragam juga kaos transparan membuatnya merasa kedinginan.
.
.
David
Ia merasa Dejavu kala ia bersama Demas telah berjalan membelah jalanan di hari petang itu. Merasa kembali di masa yang sudah terlewati beberapa tahun silam, manakala ia masih menapaki jalan terjal kisah cintanya.
" Sebaiknya kau hubungi Deo dulu Dem!" Titahnya kepada anaknya yang duduk di jok depan di samping Erik yang fokus mengemudi.
" Sudah Pa. Barusan aku berkirim pesan kepada kak Deo!"
Tomy yang duduk di sebelahnya nampak sibuk menghubungi seseorang. Ke empat laki-laki lintas usia itu nampak kompak juga sigap dalam melakukan tugasnya.
Jessika di temani Eka saat ini, membuat para pria itu lebih tenang kala meninggalkan ibu suri keluarga Darmawan itu.
Namun Tiba-tiba.
CIIT!!!
Demas seketika mendecak kesal manakala Erik menginjak pedal rem secara mendadak.
" Astaga Erik, apa kau sudah gila?" Ucap David yang benar-benar terkejut dengan kejadian itu.
Membuat Tomy menatap resah ke arah depan demi aksi gila anaknya." Kau ini kenapa sebenarnya Rik?" Ucap Tomy kesal kepada anaknya sebab ia benar-benar kaget.
" Maaf Om, tapi sepertinya mereka adalah orang yang tadi membawa Arimbi!" Tutur Erik dengan wajah tak lepas dari objek yang ia tatap dari jarak beberapa meter itu.
Kesemua orang itu melirik ke arah stasiun pengisian bahan bakar, dimana seorang pria tengah berdiri sambil mengobrol dengan petugas itu.
" Sepertinya kita memang beruntung. Cepat ikuti dia!" Titah David dengan wajah puas.
.
.
Anthoni
Ia yang sebenarnya kesal dengan sikap Zakaria yang kerap semaunya sendiri itu, sengaja mencari makan dengan mengajak serta rekan-rekannya, sebelum mencari Arimbi kedalam hutan. Ia juga kesal, karena Bram lebih memilih untuk menuruti permintaan pria cabul itu.
Anthoni tidak suka kepada pria itu sebab terlalu sombong. Walau ia hanya sekedar antek, namun entah mengapa ia sebenarnya tak suka dengan cara sronok seperti yang di inginkan Zakaria.
Kebaikan keluarga Bram kepada keluarganya lah yang menjadi cikal bakal, Anthoni mau menjadi abdi setia pria itu.
" Kita cabut setelah ini! Kita harus secepatnya menemukan wanita itu!" Ucap Anthoni serius. Membuat ke empat rekannya mengangguk menyetujui.
Mereka sejurus kemudian melajukan kendaraannya dengan santai, tanpa menyadari jika Erik dan rombongan telah menunggu mereka di depan sana.
Mobil hitam yang ia naiki masih terasa nyaman. Senyaman rasa perut yang telah terisi kenyang. Namun, kenyamanan itu rupanya hanya bersifat fana.
Mereka semua terkejut manakala mobil besar dan gagah itu, mendadak menghadang langkah mereka, di area kebun cengkeh menuju villa.
CIT!
Membuat si botak menginjak pedal rem secara mendadak.
" Ada apa?"
" Thon, kita dalam masalah. Sepertinya mereka..."
BRAK!
Anthoni masih bersikap tenang kala mobil yang ada di depan mereka itu, nampak mengeluarkan empat orang yang sepertinya tak asing. Bahkan, tubuh si botak saat ini mendadak gemetar demi melihat Tomy yang ada diantara mereka.
" Sial, kenapa ada orang itu diantara mereka?" Gumam si botak makin heran kala mantan orang terkenal di ranah mafia pada eranya itu hadir disana.
" Mantan ajudan keluarga Darmawan!" Gumamnya membuat semua rekannya seketika syok.
" Apa? Kau tahu dan kau masih bisa santai?" Ucap pria berkumis yang ada di jok paling belakang.
" Mustahil! Dari mana mereka tahu, kita bahkan tak meninggalkan jejak apapun!" Ucap pria botak yang benar-benar bodoh sebab tak menyadari kecerobohannya.
Mereka sepertinya tidak tahu, dengan siapa kini mereka berurusan.
" Bagiamana ini?" Tanya rekan yang mengenakan topi itu dengan resah.
TOK TOK TOK
" Buka pintunya!" Erik nampak mengetuk kaca mobil itu dengan wajah tak sabar. Membuat Anthoni yang ada di jok depannya membuka kaca mobilnya separuh.
" Apa?" Jawab Anthoni dengan wajah datar. Menatap sengit ke arah Demas juga Erik.
" Keluar kalian!" Ucap Demas dengan rahang yang sudah mengeras.
Anthoni mencoba memetakan keadaan. Ia melihat masih ada sedikit celah yang bisa ia gunakan untuk kabur.
Apalagi, ia tahu siapa Tomy juga rekam jejak yang ada. Sama sekali tiada menduga jika orang itu masih ada di lingkup keluarga David. Jelas ia tak mau ambil resiko.
" Keluar atau kutembak kalian sekarang juga!" David yang terlihat tak sabar seketika menarik sepucuk senjata yang ia simpan di balik punggungnya.
Membuat pria botak itu mendelik dengan tubuh yang bergetar.
" Sstt!" Anthoni memanggil si botak dengan kode.
Anthoni menunjuk ke arah depan, sebagai kode bagi si botak untuk melajukan kendaraannya.
Dan sejurus kemudian.
SRRRIIIIITTTT!
Tubuh Erik nyaris saja terlempar manakala orang itu mendadak menginjak pedal gas lalu berjalan maju dan menyerempet sedikit body mobil milik David.
Membuat keempat manusia itu kini terkejut bukan main.
DOR DOR DOR
David yang berusaha menembaki ban mobil itu harus menelan kekecewaan sebab rupanya di botak sangat lihai kala mengemudi.
Damned!
" Erik, cepat ikuti mobil itu. Jangan sampai kita kehilangan jejak!" Ucap Tomy dengan suara panik sembari berlari kembali menuju mobik mereka yang membujur malang.
Kini, dengan ketegangan yang semakin meningkat, Erik benar-benar mengemban tugas berat, karena ia di tuntut untuk mengemudi dengan cepat.
.
.
.
.
.