
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tiada di percaya. Sekali berbuat kesalahan, selamanya tak akan di percaya lagi.
Ia mendecak dengan hati dongkol, geram dan juga kecewa. Terbakar api kemarahan yang luar biasa.
" Brengsek!!!!" Deo terlihat memukul-mukul setir bundarnya hingga membuat buku-buku tangannya memerah.
Hatinya benar-benar tengah remuk redam saat ini. Wanita yang selama ini merajut Asmaradahana bersama dirinya, telah tega menusuknya dari belakang.
" Kenapa harus dengan Bram brengsek!!!"
" Arrggg!"
Otak Deo mendadak buntu, akalnya juga tiba-tiba gelap. Ia kecewa dengan Roro yang mengkhianati cinta serta kepercayaannya.
Deo sadar, ia selama ini sibuk dengan pekerjaannya dan beberapa anak usahanya yang tengah berkembang.
Dan semua itu, makin di perparah dengan kejadian penggerebekan yang membuat dirinya harus bertanggung jawab demi norma kesusilaan yang berlaku di masyarakatnya kepada Arimbi, wanita yang sebenarnya turut terjebak dalam skandal tak disengaja itu.
Ia pikir wanita cantik yang telah sering bercinta dengannya itu benar-benar wanita berkelas, sebaik kelas tampilannya. Tiada menyangka ika wanita itu, tak lain hanyalah wanita murahan yang mau menggadaikan ketidaksabarannya, pada tubuh laki-laki lain.
Deo melesatkan mobilnya menuju ke sebuah tempat dengan dada bergemuruh. Berniat melupakan semua yang tejadi. Seorang diri di tempat yang mendadak muncul di hati.
Club malam.
.
.
Arimbi
Ia tengah sibuk menyeduh mie instan dalam cup, dengan cita rasa pedas dengan merk dagang Delta food's, manakala ponselnya bergetar.
" Mas Erik?" Ucapnya dengan kening mengerut.
" Ya Mas?" Tuturnya sesaat setelah ia berhasil menggulir tombol hijau pada layar pipihnya.
" Halo Ar, apa Pak Deo sudah kembali?"
Suara yang sarat dengan nada keresahan nampak ia tangkap dengan jelas dari ujung telepon, membuat dirinya makin dirundung kegelisahan.
" Belum mas. Sejak pergi tadi, dia belum kembali. Saya kira pergi sama Mas Erik!" Sahutnya kini konsen dengan obrolan yang menarik atensinya itu.
" Belum pulang ya? Oke sudah, kamu tenang aja. Mungkin Pak Deo ada di rumah Om David! Ya sudah, makasih ya."
Entah mengapa Arimbi mendadak merasa risau. Dari cara pergi Deo yang nampak buru-buru, ia yakin jika Deo tengah mengalami suatu masalah.
Arimbi mencoba menepikan kegundahan hatinya, dengan menyalakan TV dan tekun menikmati satu cup mie bercita rasa pedas, meski entah mengapa kini terasa hambar dimulutnya.
Mie yang ia setel sedikit slow agar perutnya tak menjadi korban keganasan makana lezat sejuta umat itu, mengantarnya hingga ke jam sepuluh malam di malam sunyi itu.
Ia yang tak bisa tidur bahkan usai menyikat giginya itu, memilih menonton drama romansa komedi yang sedikit bisa mengalihkan keresahan hati, yang mendadak menyerangnya.
Namun, ia yang lekas terkantuk-kantuk di depan TV jelang pukul dua belas malam itu, dikejutkan dengan ketukan pintu yang begitu tak sabar.
Membuatnya seketika tergeragap, seraya mendecah agak kesal.
" Ini orang benar-benar gak bisa sabaran ya! Makanya kalau keluyuran itu ingat jam. Udah pergi enggak bawa kunci! Kan aku jadi yang susah!"
Ia menggerutu sepanjang menyeret langkahnya menuju depan, sebab kesal karena berada dalam rumah dengan posisi menunggu kepulangan seseorang itu sangatlah tidak mengenakkan.
CEKLEK!
" Mas Erik?" Arimbi terkejut demi melihat Erik yang memapah bos sekaligus musuhnya itu, dengan keadaan kacau.
Arimbi bahkan bisa mencium bau minuman yang benar-benar menyengat, dan kini sangat menggangu indera penciumannya itu.
" Mas, ini ada apa sebenarnya? Kenapa Pak Deo...." Ucapnya lagi dengan keresahan yang nampak jelas.
" Aku juga enggak tahu. Tadi aku nemuin posisi si bos karena ngelacak ponselnya. Sekarang tolong kamu bukain pintu kamar Pak Deo, cepat!"
Arimbi yang panik kini mengangguk dan langsung berlari menuju kamarnya.
Deo yang terus bergumam seraya nampak meracau di sela-sela sempoyongannya itu, makin membuat Arimbi bertanya- tanya.
" Apa yang telah terjadi?"
" Kenapa sampai mabuk begini?"
" Ar, saya harus segera kembali buat ambil mobil saya. Kunci mobil Pak Deo ada di laci. Kamu kunci pintunya, biarkan saja dia begini dulu. Besok bakal waras sendiri dia. Aku juga enggak tahu pasti kenapa bisa begini, udah lama banget enggak lihat Pak Deo enggak mabuk!"
Arimbi mengangguk. " Terus Mas Erik baliknya pakai apa?"
Arimbi dengan segera mengikuti langkah Erik menuju pintu keluar. Usai mengunci pintu rumah itu, ia yang bingung kini menuju ke dapur, dan berniat mengambil air di dalam wadah, untuk ia gunakan menyeka tubuh Deo.
Entah mengapa, wanita itu mendadak tergugah dan merasa kasihan, demi melihat Deo yang bergumam tak jelas.
Ia meletakkan mangkuk besar berisikan air dan lap itu, keatas nakas dekat ranjang Deo. Berniat melucuti beberapa barang yang masih dikenakan oleh laki-laki itu.
" Astaga, orang ini berat sekali!" Gumamnya manakala kesulitan saat mengangkat kaki, lalu membuka sepatu berjalinan tali yang sangat rumit, dan terlihat mahal itu.
Dengan susah payah, ia tekun berusaha melepas dua buah sepatu yang tadi membungkus kaki Deo.
" Hah, orang ini! Sebenarnya kau ini minum berapa banyak sih?" Dengusnya demi menyadari jika mengurus orang mabuk itu tidaklah mudah.
Kini, Arimbi terlihat membantu membenarkan letak kepala Deo, dengan memberikannya sebuah bantal. Terhanyut sejenak dalam pesona wajah rupawan yang kini memejamkan matanya seraya terus bergumam.
" Wanita brengsek! Aku menyesal telah memacarimu selama ini sialan!"
DEG
Arimbi tertegun demi melihat Deo yang meracau dengan berteriak, memaki nama yang ia ketahui sebagai kekasih dari suaminya itu.
Kini, ia tahu jika sebab musabab Deo mabuk adalah tak lain karena urusan dengan wanita bersusu jumbo itu.
" Mulutmu ini benar-benar jahat, tapi kenapa aku jadi tidak tega kalau ngelihat kamu begini!" Ia bergumam dalam hati seraya mulai mencelupkan kain kedalam air itu.
Merasa jika Deo sedang tidak baik-baik saja. Hah, ia bahkan mendecah tak percaya, mengapa ia bisa sepeduli ini.
" Kau ini benar-benar! Bagiamana bisa bos sepertimu malah mabuk dan menjadi seperti orang gila macam ini?" Ia terus bergumam saat mulai menggosok lengan kekar Deo. Menelan ludahnya berkali-kali demi menyentuh tubuh Deo yang liat dan padat.
" Astaga, tanganmu saja berat begini!" Arimbi terus menggerutu demi merasai jika tubuh Deo benar-benar berpostur unggul.
Arimbi sejenak terdiam dengan hati yang seolah-olah hendak meledak, demi melihat Deo yang tiba-tiba menarik tangannya.
Membuat wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat.
" Aku benar-benar membencimu. Roro!"
Arimbi masih terdiam terpaku. Laki-laki tampan di depannya itu nampaknya tengah berhalusinasi. Dan sialnya, kenapa jantung bodoh Arimbi justru tremor?
Oh Gosh!
Andai Arimbi tahu, jika beberapa waktu yang lalu ia juga berhalusinasi dan minta di dekap oleh Deo. Ia pasti akan sangat malu sekali.
Arimbi secara perlahan menarik tangannya kembali dari cekalan Deo yang berhalusinasi, lalu meneruskan kegiatannya dalam menyeka tubuh Deo.
DEG
Jantungnya mendadak berdegup kencang lagi, manakala ia yang membuka kancing baju Deo, yang memperlihatkan dada bidang yang membuatnya mendadak meremang.
" Buset, ini beneran!"
Dengan bodohnya gadis itu justru menekan-nekan dada liat milik Deo yang putih bersih. Membuat sisi kelelakian pria itu seketika tergugah.
DEG!
Mata Arimbi mendadak mendelik demi rasa terkejutnya, akibat ulah Deo yang tiba-tiba membalikkan tubuhnya lalu kini mengungkungnya secara sepihak.
Membuat Arimbi sangat ketakutan.
" Apa kau pikir Bramasta lebih baik dariku hah? Kau salah besar!"
" Bramasta? Siapa Bramasta?"
Arimbi yang tidak tahu menahu soal perkara yang dibicarakan Deo itu, hanya bisa terbengong-bengong manakala Deo makin mengunci pergerakannya.
" Kau pikir kau bisa menyakitiku, hm?" Ucap Deo dengan suara parau, wajah yang benar-benar kacau, dan tubuh yang bersuhu panas.
CUP
Arimbi seketika membulatkan matanya kala bibir dengan aroma alkohol yang pekat itu, kini melumaat seluruh bagian bibir tipisnya dengan kasar dan liar.
Arimbi lupa mengantisipasi, jika peminum yang tengah mabuk berat seperti Deo, bisa saja melakukan hal-hal diluar kendali mereka seperti saat ini.
Oh tidak!
.
.
.
.
.
.
Hayo hayo, apa yang akan terjadi ðŸ¤ðŸ¤£ðŸ¤£