My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 97. Save Arimbi part 2



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Deo


Ia tahu siapa Bramasta. Orang yang dulu juga hampir merusak kebun cabai milik keluarganya beberapa tahun silam itu, nampaknya belum kapok juga.


Usai menerima info soal lokasi Timur Laut, pikiran Deo langsung tertuju ke arah villa keluarga Bramasta yang besar itu. Dimana lagi, mustahil pria itu akan membawa Arimbi ke tempat lain. Mengingat Bram tak memiliki inventaris tempat selain disana.


Ia yakin, Bram pasti menyekap istrinya ke di tempat itu. Ia yang gusar bahkan mengabaikan peringatan keras dari Demas untuk menunggunya. Deo telah terbakar api kemarahan manakala membaca pesan kurang ajar dari orang sing itu.


SRIIIIT!!


BRUAK


Ia bahkan menabrak pagar yang dijaga oleh dua orang berseragam safari. Pria itu turun dengan kobaran kemarahan yang kian membara..Langsung menuju ke arah pria yang nampak menghadangnya.


BUG


Satu pukulan yang dilayangkan oleh Deo membuat pria yang hendak mengacungkan senjata itu arahnya seketika tumbang.


" Kurang ajar!" Maki salah satu itu.


BUG


Rahang Deo terasa kebas manakala tangan yang terkepal itu berhasil mendarat di pipinya. Membuat laju darah itu kian mendidih demi merasakan amarah yang membuncah.


SRUAK!


BUG!!


" Argghhhh!" Pria yang menempeleng suami Arimbi itu, kini merasakan sakit akibat tangannya di pelintir ke belakang okeh Deo.


BUG


GROBYAK!


Satu orang penjaga pintu masuk itu berhasil Deo lumpuhkan walau buku-buku tangannya kini kebas.


Deo memindai tempat itu degan napas kembang kempis yang masih kentara. Sejurus kemudian ia kini memilih jalan kaki dengan jalan mengendap-endap. Berusaha masuk meski hari sudah gelap.


.


.


Eva


" Anjing ni anak, elu kalau rewel mending gak usah ikut sialan!" Eva mendengus di sela fokusnya mengemudi demi melihat Dian yang rewel.


Ya, mereka berdua nekat mengikuti Erik sebab Eva tak bisa tinggal diam begitu saja. Terpaksa sedikit menjauh agar tidak ketahuan.


" Aduh Va, aku beneran takut. Kita ini orang awam, kenapa malah ikut aksi kayak gini. Duh, mana wajah habis maskeran Spirulina!"


Eva menggeleng tak percaya. Bagiamana bisa pria setengah jadi di sampingnya itu malah bertingkah konyol seperti saat ini.


" CK, rewel banget ni mahluk. Udahlah, kalau belum waktunya mati kita enggak akan mati. Aku beneran khawatir sama Arimbi. Kalau elu enggak mau ikut, aku turunin disini biar di makan sama Wewe!"


" Tega banget sih lu!" Jawab Dian berengut.


Eva dan Dian bahkan mengikut Erik saat pria itu pulang kerumahnya. Datang ke rumah David, hingga membuntutinya mereka semua yang mulai berarak ke Timur.


" Diem makanya. Eh yan, tadi mobilnya Pak Erik lurus apa belok sih?"


" Hah, elu gimana sih, kan elu yang nyetir dodol. Awas aja kalau kita sampai nyasar!"


.


.


Erik


Ia tak menyadari jika duo heboh itu membuntutinya. Terlalu fokus terhadap titah para tetua itu malah membuat urat syarafnya tegang.


Namun, ia juga tak menyangka jika anak buah Bram yang sudah ada di depan mata itu, nekat menerobos barikade yang telah dibuat oleh Erik berserta pria badas itu secara ugal-ugalan.


Niat hati ingin menangkap, tidak tahunya targetnya justru lebih licin dari seekor belut.


" Tepikan ke sisi kiri Rik, biar aku tembak mereka!" Titah Tomy, yang bagai Dejavu dan kembali ke masa mudanya dulu.


SRIT


Kecepatan yang benar-benar tinggi itu membuat Erik sulit untuk menyamakan posisi. Bahkan, Demas yang sibuk menghubungi kakaknya itu sampai terlempar ke sisi jendela. Sialan!


DOR


Tomy membidik mobil yang di tunggangi oleh Anthoni namun gagal. Sebab, pria botak itu nampaknya sangat kawakan dalam urusan berkendara.


DOR


PRYANG!!


Jalanan yang sudah memasuki tenggelamnya cakrawala itu, makin membuat mereka kesulitan sebab minimnya penerangan.


" Jangan sampai kita kehilangan jejak mereka!" Tutur David dengan posisi yang masih berada di bibir kaca mobil yang terbuka.


Aksi kejar-kejaran itu terus terjadi, membelah jalanan lengang hutan karet yang menuju perkebunan cengkeh.


" CK, dimana sebenarnya kak Deo. Sudah kubilang untuk menunggu kita di jalanan sini. Dia bahkan tidak menjawab teleponku!" Gumam Demas resah. Membuat Kesemuanya turut menjadi cemas.


.


.


" Aku harus kembali sekarang. Kalau kau berhasil menemukan wanita itu, maka besok GH mu akan resmi aku pakai. Tapi ingat, jangan sampai orang pusat mengetahui semua ini!" Ucap Zakaria kepada Bram di sebuah ruangan.


Pria itu takut akan masa depan karirnya yang bakal terancam jika dia terlibat kasus pidana. Definisi dari berani karena benar dan takut karena salah.


"Beres. Malam ini pasti Anthoni bisa menemukan wanita itu. Aku juga berharap wanita itu mati saja! Kita harus aman bukan?" Ucap Bram penuh kelicikan sembari teringat dengan Deo yang pasti akan menderita jika mengetahui hal itu.


Kedua orang itu sejurus kemudian tergelak bersama, merayakan kesombongan yang kini membuat mereka senang.


Sementara itu di luar ruangan, Deo yang mampu melumpuhkan beberapa keroco Bramasta yang terbilang banyak itu, nampak memasuki satu bangunan sebelum masuk ke villa utama dengan sudut bibir yang berdarah, dan wajah lebam akibat terlibat perkelahian.


Deo melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sedikit merasa kaget sebab faktanya kini sudah menunjukkan waktu malam.


Membuat Deo semakin resah. Pria itu sungguh berharap istrinya ada disana.


Dengan mengendap-endap, dan dengan napas yang masih tersengal, ia kini nampak terkejut kala mendengar sayup-sayup suara orang yang saling berbicara.


Membuat Deo seketika berhenti lalu berdiri di belakang tembok, saat derap langkah seseorang yang semakin dekat dengannya, terdengar berjalan menuju kearah luar.


" Jangan lupa, malam ini kau harus memberikan aku kabar!"


DEG


Mata Deo membulat demi mendengar suara seseorang yang begitu familiar. Deo seketika menjengukkan kepalanya demi membunuh rasa penasaran yang kini menyerangnya.


Dan, betapa terkejutnya dia manakala melihat Zakaria yang berjabat tangan dengan Bramasta. Sungguh, hal ini benar-benar membuatnya merasa di permainkan.


" Kurang ajar mereka. Jadi selama ini...!" Batin Deo geram demi menatap dua pria yang sama sekali tak ia duga menjalin kerjasama dibelakangnya.


" Tenang saja. Wanita itu pasti tidak akan selamat! Hahahaha!"


DEG


" Siapa yang mereka maksud? Wanita? Siapa wanita yang mereka bicarakan?"


Deo yang mendadak di serang kecemasan serat kekhawatiran itu, nampak mengeraskan rahang dengan dada bergemuruh. Sebisa mungkin menahan diri agar dia tidak tersulut emosi yang bakal membuatnya rugi.


Tidak, dia tidak boleh ketahuan. Dia sudah sejauh ini.


" Ingat, kabari aku secepatnya!"


.


Sayup-sayup suara itu masih terdengar dan makin membuat Deo serasa ingin menghajar dua pria itu . Namun, logikanya nampaknya masih bisa ia kendalinya. Lagipula, mereka berdua belum melihat jika para anak buahnya telah ia pukuli hingga pingsan.


Mengetahui Bram yang nampak sibuk dengan Zakaria, Deo yang melihat ada kesempatan untuk berjalan masuk kini menepikan buncahan emosi yang kian menggelayut itu.


Pria itu nampak terburu-buru kala masuk demi berusaha mencari Arimbi. Ia benar-benar takut jika Arimbi dalam bahaya.


"Tolong!"


" Tolong!"


Teriak seorang wanita kala ia melintas tepat di depan pintu kamar bercat putih itu.


DEG


Membaut Deo seketika membayangkan yang tidak-tidak.


Dengan isi kepala yang benar-benar keruh, Deo yang dirinya dikuasai oleh amarah seketika menendang pintu yang bisu itu hingga ambrol.


BRAK!!


Deo membulatkan matanya demi melihat seorang perempuan yang ia kenali, yang kini berpakaian acak-acakan dengan keadaan yang memprihatinkan.


DEG


.


.


.


.


Hayo siapakah yang di sekap oleh Bram?😁😁


Mommy kok lama upnya.


Mommy Jan sibuk di dunia nyata ges. Tenang, mommy tetap prioritaskan kisah Arimbi kok😘😘😘