My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 83. Satu cerita dua manusia



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Ia yang belum mandi itu kini hanya menggulung lengan bajunya seraya menyambar dompet yang baru beberapa detik ia geletakkan diatas nakasnya. Sama sekali tak bisa tenang manakala melihat anak buah dari kakaknya yang kelayapan di malam itu seorang diri.


Demas hanya takut kalau-kalau sesuatu tejadi kepada wanita itu. Kakaknya sudah banyak menghadapi persoalan pikirnya, jangan sampai Eva turut menimbulkan masalah baru.


" Ada- ada saja anak itu! Kalau terjadi apa-apa bagiamana?" Gumamnya sembari membuka pintu dengan langkah tergesa.


Entah mengapa juga, ia mendadak cemas dengan Eva yang keluyuran jajan di area depan hotel di jam malam itu. Benar-benar definisi dari sembrono.


Setibanya ia di lantai dasar, Demas lantas terus berjalan menyusuri trotoar usai keluar dari kawasannya hotel yang besar itu. Beberapa kali mengangguk saling tegur sapa, manakala petugas security masih standby itu terlihat akan bertukar sift.


Ia terus dan terus berjalan sembari mendecak heran, atas sikap Eva yang kenapa malah jajan diluar, saat hotel tempat mereka menginap bisa di layanan serupa.


" Pak Demas?" Sapa Eva yang melihat Demas berjalan ke arahnya. Menelan ludah demi seraut tak ramah yang kini membidiknya dengan tatapan tajam.


Demas hanya menatap datar Eva yang terlihat sudah hendak kembali dengan tentengan kantung plastik transparan berisikan dua buah foam makanan putih, yang kini di lirik oleh Demas.


" Saya udah bilang, tunggu saya dibawah, ini udah malam! Kamu ini nggak bisa bikin orang enggak repot ya?" Kesal Demas mengomeli gadis yang sembrono itu.


Eva terbengong-bengong demi menyadari jika dia tengah di marahi oleh Demas. What the hell?


" Kenapa lagi ni orang. Padahal aku cuma nanya dia mau apa enggak loh. Kenapa jadi nyusulin terus marah-marah begini?"


" Yasudah ayo cepat kembali! Udah malam!"


Eva hanya membuntut di belakang Demas yang kini membalikkan badannya dan terlihat agak kesal. Gadis itu nampak memanyunkan bibirnya sembari mulutnya komat-kamit sebab mengumpat dengan suara lirih.


Eva tidak tahu, jika Demas mencemaskan dirinya sebab dia masih sakit. Lagipula, Demas sebenarnya merupakan sosok yang tidak tegaan. Walau pada kenyataannya, laki-laki itu juga gak bisa menjelaskan, kenapa dia saat ini begitu khawatir dengan gadis yang kerap memicu emosinya itu saat ini.


Sesampainya mereka di mulut lift, Eva yang canggung kini angkat bicara demi sejumput niat mengundurkan diri.


" Ini bapak bawa,saya sengaja membelikannya untuk bapak, terimakasih karena..."


TIT TIT


Demas masih membisu dan kini sibuk menekan tombol lift dengan wajah datar, yang membuat Eva membulatkan matanya, demi melihat jari Demas yang menekan angka lain, yang jelas menerangkan jika itu bukan lantai dimana Eva tinggal.


Lah?


" Loh Pak, kita?"


.


.


Deo


Ia yang kaget dengan perlakuan sensasional istrinya itu kini mencoba menguasai diri serta memetakan keadaan yang ada. Pakaian yang ia kenakan kini telah teronggok ke lantai. Menyisakan tubuh tinggi tanpa balutan baju, yang kini tekun Arimbi raba.


Deo sedikit mencondongkan tubuhnya guna melumaat bibir istrinya yang kini sukses membangkitkan geloranya yang semula padam.


" Kenapa tiba-tiba?" Deo yang sengaja menjeda ciumannya itu nampak menatap istrinya penuh selidik.


" Suamiku seharian ini tegang. Jadi..."


Keduanya yang saling menatap penuh arti itu kini kembali meraup bibir mereka satu sama lain. Beringas, menuntut dan kian tak sabar. Mencecap dengan penuh gairah serta gelora yang kian memburu.


Lengan tangan berotot itu nampak mengetat kala dengan sigapnya digunakan mengangkat bobot Arimbi lalu menggendongnya dari posisi depan.


Mereka berciuman sepanjang perjalanan menuju kamar mandi, dengan lidah yang saling berbelit.


Sesampainya mereka di kamar mandi, dengan gerakan cepat dan nampak tak sabar, Deo melucuti pakaian Arimbi dan kini menyisakan sesetel pakaian dalam yang membungkus dua benda berharga milik Arimbi.


Arimbi nampak begitu menggoda.


Deo menyalakan kran air yang kini mengguyur tubuh keduanya secara perlahan. Sorot mata yang sendu itu bisa Arimbi tangkap penuh keyakinan. Arimbi yakin jika Deo memang telah berubah untuknya.


Pria yang menjadi musuhnya itu kini benar-benar menjelma menjadi suami yang penuh kasih sayang.


Deo yang jelas telah masuk kedalam jeratan istrinya itu, nampak kembali meraup bibir yang semaki hari semakin terasa lezat saja.


Arimbi dengan gerakan tekun, kini melucuti kancing celana Deo, lalu melepaskan pakaian itu dengan mudahnya. Membuat wanita itu kini bisa merasakan benda mengerikan yang telah berubah ukuran.


Deo meraba, menggerayangi, serta meremas bagian favoritnya dengan penuh gairah. Hingga beberapa saat kemudian, Deo yang berada di ambang asmaradahana, terlihat memposisikan benda pentingnya dan berniat memasuki istrinya.


" Ah!"


Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi, antara dua manusia yang telah tergulung ombak gairah paling melenakan yang pernah ada itu.


.


.


Eva


" Pak ini kan?" Tanya Eva dengan wajah penuh ketidakmengertian.


" Katanya kau mau ngasih saya kwetiau, ya udah bawakan!" Jawab Demas santai sembari memasukkan dua tangannya ke dalam saku celananya.


Terlihat menyebalkan.


Eva menelan ludahnya. Ya, tapi enggak sampai masuk ke kamar juga kali!


Eva mematung kala pintu lift itu terbuka. Ia yang biasanya sangat berani mendadak takut dengan kuduk yang mulai merinding demi melihat kebisuan Demas.


" Kenapa, kok kamu jadi pucet begitu. Ini hotel, enggak akan ada penggrebekan!" Lirik Demas yang sebenarnya ingin tertawa demi melihat Eva yang kini berwajah pias.


Eva mendengus demi mendengar hal yang menjurus ke hal cabul itu. Sama sekali tak suka jika ia diragukan.


" CK, ayo katanya kamu beliin saya. Nantang - nantang tapi setelah sampai sini malah takut. Dasar jago kandang!"


" Apa? Enak aja bilang saya jago kandang!"


Mau tidak mau Eva akhirnya mengikuti langkah Demas. Ia sebenarnya tulus membelikan makanan itu sebab sedikit banyak ia tahu jika Demas turut terkena getahnya, soal urusan Deo. Tapi...


" Masuk! Saya mau mandi dulu. Bisa kamu bikinkan saya kopi lagi, itu kopi saya sudah dingin gara-gara kamu!" Ucap Demas yang kini sibuk menyambar handuk putih di gantungan khususnya.


Eva mengangguk dengan wajah insecure demi melihat kamar Demas yang rapih, dan nampak begitu berkelas. Dari tampilan yang ia pindai, ia bisa melihat jika Demas merupakan orang yang agak higienis.


Sepeninggal Demas, Eva nampak meletakkan makanan yang masih panas itu ke meja yang ada di depan sofa green light itu, lalu nampak memeriksa suhu kopi di depan.


" CK, kopi masih hangat begini suruh buatin lagi. Dasar!" Cibirnya demi menyadari jika Demas telah ngaco.


Eva nampak melakukan perintah Demas walau sebenarnya ia kesal. Wanita itu mengaduk secangkir kopi hitam dan kini menutupinya kopi itu dengan penutup gelas.


Suara gemericik di kamar mandi membuat Eva bergidik. Ada sosok telanjang di ruangan itu dan konyolnya ia ada bersamanya.


Oh astaga.


Eva yang selalunya mengantuk usai makan itu, kini tergiur untuk membaringkan dirinya ke sofa.


" Nunggu dulu lah, ngantuk banget. Pak Demas kalau mandi kalah-kalah perempuan!" Ucapnya seraya membaringkan tubuhnya ke sofa, dan menggunakan lengannya untuk dijadikan bantal.


Ah terasa nyaman.


Dan, entah dalam menit ke berapa, Eva telah terbuai kenyamanan sofa itu kini terlihat hanyut dalam lelap. Gadis itu benar-benar payah. Tiap kenyang selalu saja ingin tidur.


Membuat sesosok yang beberapa menit kemudian menyembulkan kepalanya dari kamar mandi itu, kini tertegun demi melihat Eva yang telah tidur dengan wajah teduhnya.


" Bener-bener gentong ni anak. Tiap makan kenyang, molor terus kerjaannya!" Demas berkacak pinggang seraya menggelengkan kepalanya demi merasai tingkah bar-bar Eva.


Dan entah mengapa, hal itu sukses membuat Demas sedikit melupakan problema yang ada.


Gadis pecicilan!


.


.


.


.