My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 93. Deo, tolong aku!



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Entah mengapa perasaannya mendadak menjadi tidak tenang. Keresahan, kegundahan, mendadak menyerang ruang-ruang dalam hatinya. Menyesakkan dan membuat ia bahkan kehilangan konsentrasi tanpa sebab yang pasti.


Ada apa gerangan?


" Ini peringatan pertama sekaligus yang terakhir Pak. Saya tidak mau nasib kita seperti Andanu. Kita memang bukan maskapai besar. Tapi tentu kami juga tidak mau citra kami buruk gara-gara ulah ground staff!" Tutur KK ( kepala operasional) yang sepenuhnya juga mengalami kekecewaan terkait pelayanan yang anjlok.


" Jika hal ini tidak segera pak Deo cover, maka saya tidak akan segan-segan menggunakan provider lain yang lebih mumpuni!"


Namun, saat ia tengah sibuk menerima cercaan protes dari pihak maskapai terbaik kedua yang ia handle itu, sebuah getaran yang berasal dari ponselnya datang menginterupsi.


" Erik? Ada apa dia menelpon?"


" Maaf Pak, saya permisi angkat telpon dulu!" Pamit Deo dengan wajah tegang sebab ia tak menemukan alasan di balik keresahan yang menyerangnya itu.


Pria yang hobi mengenakan kacamata hitam itu mengangguk manakala Deo menunjukkan ponselnya yang berkedip.


" Halo, ada apa Rik? Apa semua baik-baik saja?" Ucap Deo manakala benda pipih itu telah menempel di daun telinganya.


" Gawat Pak. Pesawat cancel, pax ngamuk, personel kurang, dan Arimbi hilang!"


" Apa?"


Jawaban Deo dengan suara yang tak lagi sungkan itu, membuat pria yang duduk tegang di depan meja kebesaran dari kayu jati asli itu menatap Deo penuh selidik.


Dan parahnya, dari sederet penjelasan informatif penting yang terlontar dari mulut Erik barusan, hanya satu yang berhasil ia tangkap dengan jelas.


Arimbi hilang.


.


.


Anthoni


Usai menerima panggilan dari Bram. Pria itu meminta Ken untuk membelokkan mobilnya menuju filla pribadi milik Bramasta, yang letaknya cukup jauh dari kota. Bertempat di pegunungan, dengan hamparan pohon Pinus yang menyejukkan mata.


Jika di Tarim garik, lokasi Temat itu ada di sebelah timur laut perkebunan cabai milik keluarga Darmawan. Hanya saja, hutan yang ada membuat orang yang ingin berkunjunglah kesana harus melewati jalur lain yang sudah ada.


" Bawa dia!" Titah pria yang nyaris tak pernah membuka mulutnya itu kepada Ken. Pria botak dengan pahatan tato abstrak di lengannya.


Arimbi yang masih berada di bawah pengaruh obat bius, benar-benar tak bisa membuka matanya. Wanita itu masih tak sadarkan diri bahkan hingga dia di letakkan diatas sebuah kasur berukuran besar.


" Panggil rekanmu yang lain. Pastikan daerah ini aman!" Titah Anthoni.


Ken mengangguk lalu pergi.


Pria datar itu sejurus kemudian menatap wajah cantik Arimbi dengan tatapan tak ramah. Pria itu sejurus kemudian menutup semua jendela, serta menutup semua gorden yang semula tersibak.


Membuat suasana kamar itu benar-benar suram.


.


.


Terminal domestik Bandara kota B


***


Deo


Entah seperti apa cara berkendara pria itu tadi. Deo nampak tiba di lokasi keriuhan itu tak lebih dari 40 menit setelah Erik menelpon.


Benar-benar gila.


" Pak, kami...."


" Kenapa ini bisa terjadi? Minta teknisi Nawangsa Pura untuk mengecek semua CCTV! Sekarang juga, cepat!" Sergah Deo dengan kegusaran yang nampak menyelimuti. Membuat mulut Erik tak jadi terbuka.


Jangankan Daniel, Dian saja yang saat itu baru selesai mencatat daftar nama penumpang berikut keputusan yang di ambil oleh penumpang tersebut, nampak tercengang dengan perkataan Deo yang jelas-jelas berbeda dari hari biasanya.


Pria itu menunjukkan keresahan, kepanikan, kekhawatiran, dan kegelisahan yang begitu kentara


Bahkan, Eva dan Novi serta beberapa karyawati yang ada, seketika saling menatap demi melihat Deo yang benar-benar nampak marah.


" Pak Deo tahu darimana kalau Arimbi hilang Va?" Bisik Novi kepada Eva.


Eva menggeleng muram. Ia sendiri juga bingung. Padahal, sedari kemarin, Deo tak menampakkan batang hidungnya ke bandara.


" Bukannya mereka selama ini seperti musuh?" Timpal Hera tak kalah penasarannya.


" Ehh, ngomongin apa sih kalian? Pak Deo itu kan bos kita, wajar to kalau panik. Panik sebab tahu karyawannya sedang dalam masalah!" Ucap Yohan mencoba realistis.


Namun, bukannya setuju, beberapa wanita itu justru menatap Yohan dengan tatapan tak setuju.


" Hah, dasar perempuan!" Sahut Yohan menggeleng pasrah.


Kasak kusuk yang mulai mengandung kecurigaan itu, kian gencar terdengar dari mulut para wanita cantik itu.


Bagaimana tidak. Reaksi ini benar-benar mengundang tanda tanya yang haus akan sebuah penjelasan.


" Pak Erik. Pak!"


Kesemua orang yang tengah dirundung ketegangan itu, seketika menoleh saat manakala melihat Resita yang terengah-engah menuju ke meja check in.


" Pak Erik!"


Erik yang hendak melangkahkan kakinya, bahkan seketika berhenti mendadak demi suara yang menyebut namanya dengan deru napas tak normal.


" Ada apa Res? Kenapa mukamu kayak cimol belum di goreng begitu?" Tanya Dian dengan wajah aneh. Menatap Resita yang nampak pucat.


PLAK!


" Aduh! Sakit tahu Va!" Ucap Dian berengut demi rasa panas di lengannya.


" Mulut Lu, orang lagi serius juga! Ngada- ngada aja lu!" Sergah Eva yang kini menyenggol Dian hingga membuat pria berbadan proporsional itu terhuyung. Sialan!


" Ada apa?" Tanya Deo tak sabar. Membuat wanita yang menyukai Daniel itu seketika gelagapan.


" Itu Pak, si Heni! Si Heni ngeliat Arimbi dibawa pergi sama orang pakai mobil!"


" Apa?" Koor semua orang yang jelas sama terkejutnya satu dengan yang lain.


.


.


Arimbi


Menyiksa dan membuat rasa tak nyaman menyerang.


Ia seketika membelalakkan matanya manakala menyadari jika ia kini berada di sebuah tempat yang benar-benar asing.


" Dimana aku? Auwh kepalaku sakit banget!" Gumamnya sembari meringis, yang kini mengedarkan pandangannya dengan tatapan bingung.


" Kau yakin jika dia masih tertidur?"


Sayup-sayup suara pria yang jelas-jelas menuju ke ruangan dimana dirinya berada itu, membuat Arimbi seketika membaringkan tubuhnya kembali dan berpura-pura tidur.


Jelas ia ingin tahu siapakah orang yang telah membawanya kesana.


Ia belum tahu pasti dimana dia kini berada. Dan lagi ia juga tidak tahu siapa pemilik suara yang hendak menuju kearahnya itu.


CEKLEK


Dari posisinya yang sebenarnya menipu itu, Arimbi merasa jantungnya seakan-akan meledak, demi mencium aroma yang agaknya cukup familiar.


Bau yang kerap ia jumpai manakala ia bekerja.


" Bagiamana Pak? Lihatlah! Permintaan anda bahkan sudah bisa saya penuhi dalam waktu sekejap. Dan sebagai imbalannya, saya ingin saat ini juga, anda menandatangani perjanjian kerja bersama sky support!"


DEG


" Sky support?"


" Perjanjian? Perjanjian apa?"


" Dengan senang hati Pak Bram. Lagipula, perusahaan Deo benar-benar tidak profesional. Selain itu, apa yang saya inginkan sudah ada di depan mata!" Ucap Zakaria menatap ke arah Arimbi dengan penuh selera.


DEG


Ia kembali dibuat terkejut demi mendengar obrolan laknat itu.


" Apa? Jadi mereka menculik ku. Deo, tolong aku!" Jerit Arimbi menangis dalam hati. Ia benar-benar sangat takut saat ini.


" Silahkan Pak. Saya tunggu malam nanti!"


Keringat dingin mulai tumbuh diatas keningnya tatkala pintu itu terdengar hendak ditutup.


" Ton, pastikan tempat ini aman dan jangan sampai wanita itu kabur!" Ucap Bram yang kian terdengar lirih.


CEKLEK


Pintu yang kembali tertutup itu, menjadi penegas jika kedua pria bajingan itu telah meninggalkan dirinya berdua dengan Zakaria.


Zakaria nampak mengunci pintu itu lalu dengan gerakan cepat merayap diatas kasur mendekati Arimbi yang memejamkan masih pura-pura matanya.


Menatap Arimbi penuh minat dan selera.


" Berapa Deo menggajimu, hm?" Aku bahkan bisa membuatmu kaya jika kau mau memuaskan diriku sayang. Ha-ha-ha!" Ucap Zakaria menyusuri wajah Arimbi dengan ketidaksabaran.


Arimbi yang benar-benar ketakutan kini merasa tidak tahan untuk berdiam lagi. Ia bahkan merasa jijik kala tangan kurang ajar pria itu, menyentuh pipinya.


" Aku sudah sangat lama menginginkanmu! Mari kita...!"


BUG


" Aargghhh!!!"


Zakaria mengerang kesakitan manakala benda krusial miliknya di tendang oleh Arimbi menggunakan dengkulnya. Arimbi yang tahu jika pria itu hendak mencium bibirnya, seketika reflek menendang barang keramat milik pria paruh baya itu.


" Sialan kau!" Maki Arimbi yang geram seraya menatap benci pria yang selama ini ia hormati manakala berada di bandara.


" Pria brengsek!"


PRYANG!!!


Arimbi yang menyambar lampu hias di nakas,. seketika mengeprukkan benda keras itu keatas kepala Zakaria.


Membuat kepala pria itu bagai di hinggapi puluhan kunang-kunang jalaang yang genit menyapa.


Sejurus kemudian, dengan gerakan cepat dan tergesa, Arimbi terlihat membuka jendela dan betapa terkejutnya ia manakala melihat kolam renang.


Oh sial!


Arimbi tentu saja ragu. Jarak kolam itu nampak begitu tinggi.


" Sini kau wanita sialan!" Ucap Zakaria yang lekas bangkit, dan hendak menuju ke arah Arimbi yang kini berada di bibir jendela.


" Tidak, lebih baik aku mati daripada bersama pria itu!"


Arimbi yang masih kesulitan menelan ludahnya karena ragu saat hendak terjun itu, kini memejamkan matanya manakala ia harus melompat dari lantai dua villa itu, saat Zakaria semakin mendekat ke arahnya.


BYUR!!!


Ia merasa kepalanya bagai terpisah dan tercerai berai manakala tubuhnya menghantam air yang bervolume besar itu. Membuat riak air itu mengundang perhatian beberapa anak buah Bram yang ada di dalam villa.


Pusing dan hendak mual dalam waktu bersamaan.


" Brengsek kau wanita sialan!"


Ia tak menggubris makian Zakaria yang menunjuknya dengan tatapan penuh kemarahan dari lantai dua itu, dan memilih untuk berenang ke tepian semampu dan sebisanya.


" Wanita itu kabur, kejar dia!"


Arimbi yang panik kini melepas seragam yang benar-benar sangat memberatkan dan cukup mengganggunya. Membuat wanita itu hanya mengenakan kaos dalam tipis yang kini nyaris transparan.


Melihat pintu belakang yang terjeblak, Arimbi tersenyum. Tuhan masih bersama orang-orang yang teranyar. Ia berjalan dengan tubuh kuyup, langkah tersuruk-suruk dan kepala yang teras berat.


Ia terus berlari untuk berupaya kabur. Walau ia tahu, para pria bertubuh kekar itu kini nampak berbondong-bondong mengajarnya.


" Deo, tolong aku!"


.


.


.


.


.


Mommy up jam 7 malam


Gak tau lolos review jam berapa.


Mari kita buktikan sama-sama.