
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Demas
Kristal bening itu mendadak mengembung, memenuhi, terjejal, serta berlimpah di pelupuk matanya meski tanpa ia undang. Menegaskan bila rasa haru benar-benar kini bersarang di dalam hatinya.
Andai kondisinya tidak seperti itu, sudah pasti ia akan mengangkat Eva demi rasa bahagia yang kini meluap di hatinya.
Secara bergantian pula, ia menandatangani surat pernikahan itu dengan perasaan penuh sukacita. Walau jauh dalam relung hatinya, ia kini merasakan hal dilematis yang kian parah.
Tentang bagaimana ia besok harus menjalani hari-harinya dengan kondisi penuh keterbatasan seperti itu.
Beberapa saat kemudian, ia yang kini berada diatas kursi roda tersenyum kala menerima ucapan selamat, juga beberapa hadiah dari orang-orang yang ia kenal.
" Selamat Dem, kami turut bahagia!"
.
.
Seorang wanita nampak melirik tajam lawan jenisnya, kala ayam yang menjadi incarannya turut menjadi target manusia lain yang berada tepat di depannya.
Membuat laki-laki setengah kaum itu meneguk ludahnya.
TLUK!
Lagi, saat wanita itu hendak mengambil potongan rolade yang begitu menggiurkan di sisi kirinya, tangan laki-laki kurang ajar itu nampak turut mengangkat alat yang sama.
Damned!
Membuat tangan mereka tak sengaja bersentuhan.
" CK, ngajak ribut lu?" Tukas Melody dengan wajah garang.
" Saya mau makan lho mbak, bukan mau ngajak ribut!" Ucap Dian dengan wajah muram kala Melody menatapnya dengan tatapan kesal.
" Maaf masih lama? Kalau masih, boleh saya pinjam capitnya dulu!" Sahut seseorang yang nampak memutar bola matanya malas, demi melihat perdebatan dua manusia yang jiwanya tertukar itu.
.
.
" Masa cuti udah mau habis. Gimana, udah ada hasilnya?"
Deo mendatangi Erik yang beberapa waktu ini nampak galau dan tiada memiliki gairahh untuk sekedar melanjutkan hidup.
Benar-benar definisi dari mahkluk fakir cinta.
Pria yang nampak kaget dengan kehadiran Deo itu, nampak melanjutkan kegiatannya dalam memantik rokok di depan rumah David dengan hati gundah gulana.
Ya, acara itu kini terisikan dengan acara santap menyantap bersama keluarga. Membuat Deo yang masih menderita karena di jauhi Arimbi itu memilih untuk morokok dari pada mengisi perutnya.
" Sulit!"
Ucap Erik sembari menghisap rokoknya dalam-dalam. Menerawang cahaya jingga dengan cakrawala yang redup di arah barat.
Mewakili relung hati yang kosong, sebab cinta benar-benar menyeretnya pada persimpangan ambigu.
" Yang lain masih banyak!" Sahut Deo yang nampak mengepulkan asap putih yang terbumbung ke atas. Mencoba menjadi manusia paling solutif menurut versinya.
" Sialan!" Maki Erik setengah tertawa yang membuat bosnya itu justru terkekeh-kekeh.
Memang benar, ia bisa saja mencari banyak wanita diluaran sana yang lebih sederajat, lebih milenial dan lebih mudah untuk di dekati pastinya.
Tidak perlu lagi bertele-tele untuk sekedar berjuang menanti pengharapan pada janda kembang yang sulit ia taklukkan itu
Namun, jika itu ia lakukan, sama saja ia mengingkari nurani yang selama ini mengusiknya. Menepikan asa murni yang sejak awal timbul lalu menggerogoti jiwa jantannya.
Entah mengapa, wanita itu memiliki daya tarik tersendiri. Wajahnya, sikapnya. Bahkan, ia sendiri tak bisa menjelaskan mengapa wajah pemilik kedai itu terus dan terus saja mengganggunya, membuatnya tak enak makan, tak enak tidur.
" Nanti acara tiga bulanan Arimbi dia pasti datang!" Tutur Deo masih menikmati hisapan sigaret itu.
" Kau juga datanglah!"
Membuat Erik seketika menoleh.
" Kapan?"
Kini, Deo yang menggerus batang rokoknya menatap assistenya itu dengan wajah malas. Tadi aja acuh, sekarang?
" Tiga bulanan ya pas usia anakku tiga bulan dalam kandungan lah. Kau ini bagaimana. Cinta memang kadang bikin orang bego' ya!" Tukas Deo memutar bola matanya malas.
Membuat Erik seketika mendengus.
" Iya paham, anaknya si bos memang masih sebesar biji toge di dalam sono, tapi kira-kira waktunya kapan bos, ane kan bukan bapaknye!" Sahut Erik kesal. Benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran pria bertubuh kekar itu.
Mentang-mentang benihnya tumbuh!
" Toge Toge, anak bos tuh, sembarangan aja!"
.
.
Malam yang membawa rasa lelah, membuat semua penghuni rumah besar keluarga David masuk ke kamar lebih cepat dari waktu biasanya.
Walau acara itu terbilang sederhana, namun rasa lelahnya rupanya masih sama saja. Terbukti, di jam sembilan lebih itu kesemuanya sudah tidak berkeliaran lagi di luar.
Demas yang duduk sembari berkutat dengan laptopnya mendadak termenung. Bagiamana ini, ia bahkan kesulitan untuk sekedar menggeser tubuhnya. Lantas, bagiamana ia memenuhi kewajiban pertamanya sebagai seorang suami terhadap istrinya?
CEKLEK
Ia turut menoleh kala Eva kini muncul dari balik kamar mandi. Membuat lamunannya akan hal penting itu seketika memudar.
Demas meneguk ludahnya manakala manik matanya menangkap sesosok dengan pakaian minim, juga rambut yang basah.
Terlihat menggoda.
Namun, mimik muka yang tersaji justru membuat Demas salah fokus.
" Ada apa?" Tanya Demas resah demi melihat wajah Eva yang murung, cenderung bingung.
" Ada motor gak Pak? Saya bocor nih, Pak Demas pasti enggak punya pembalut kan?"
What?
Ada sedikit rasa lega dalam hati Demas. Ia yang semula benar-benar minder dan pusing soal dirinya, kini seolah tertolong oleh palang merah yang tengah menyerang istrinya itu.
" Sebentar!" Ucap Demas seraya mengulurkan tangannya guna meraih ponsel warna silvernya, dan sejurus kemudian nampak menekankan nomor ponsel pembantunya.
" Hallo selamat malam. Ya Tuan?"
" Bik tolong ke atas ya, ke kamar saya."
" Iya- iya, oke... makasih!"
Eva nampak berdiam diri manakala menyimak Demas yang sepertinya menghubungi assisten rumah tangganya dengan wajah datar.
"Tunggu dulu aja, bibi biar naik, kamu jangan pergi!"
Eva mengangguk sembari tersenyum demi melihat suaminya yang selalu solutif.
" Maacih Pak!"
Demas tersenyum demi melihat sikap Eva yang kembali seperti sediakala. Riang dan nampak ceplas-ceplos.
Tapi tunggu dulu, tadi Eva menyebut dia dengan sebutan apa? Pak?
" Kita ini sudah menikah, tapi kamu manggil ak..."
" Apa sih?"
" Mau di panggil apa sih emangnya? Hubby, honey, darla, atau apa?" Tanya Eva mendekati wajah Demas dengan senyuman yang begitu merekah.
Membuat Demas terkekeh.
" Ya masa masih manggil Pak aja!" Balas Demas nampak tersenyum.
" Aku panggil sayang aja lah. Biar semua orang tau kalau aku tuh sayang sama Pak Demas!"
CUP!
Oh God.
Double happy, itulah yang dirasakan oleh Demas saat ini. Membuatnya berjanji dalam hati, untuk segera berupaya sembuh meski ia tahu semua ini tidak akan instan.
" Maaf ya sayang di hari pertama aku malah..."
Demas mencium punggung tangan Eva lalu menatapnya lekat-lekat.
" Harusnya aku yang minta maaf sayang, sebab..."
" Ssstt, jangan bicara apapun. Aku enggak mau kita sedih-sedih lagi, hm?"
Eva lagi-lagi mendekatkan wajahnya ke arah Demas lalu dengan sekali sapuan nampak melumaat bibir segar suaminya. Terasa bahagia sekali.
Namun sejurus kemudian.
TOK TOK TOK!
Membuat keduanya sepakat menyudahi ciuman panas itu, dengan kondisi yang mendadak terkekeh manakala menyadari bila yang datang itu pasti bibi pembantu.
.
.
.
.