
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Pepatah mengatakan, sepuluh bintang bertabur, bolehkan sama dengan bulan satu?
Artinya, kalau sudah terlanjur jatuh cinta, tak akan bisa mencintai orang lain meski orang itu lebih sempurna dibanding orang yang dicintainya.
Mungkin, seperti itulah gambaran yang dirasakan Deo saat ini secara perlahan.
Arimbi tidak hedon, tidak juga memiliki koneksi sosialitas kelas atas seperti mantan kekasihnya. Wanita itu bahkan cenderung bersahaja. Namun, terlihat lihai dan unggul dalam menyajikan cinta kasih kudus dalam bentuk masakan.
Dan hal yang paling menarik hati Deo ialah, kecanduannya dalam rutinitas adu mulut dan bertengkar bersama istri tersembunyinya itu.
Pria mana yang tak terpesona akan kelezatan rasa yang dapat memanjakan lidah itu. Dan sialnya, Deo yang juga mendapat bonus jika perempuan itu merupakan perawan, sontak mengukuhkan keyakinannya, jika barang segel itu, tak boleh ia biarkan lolos.
Deo tanpa sadar bagai menjilat ludahnya sendiri. Ya, pria itu bagai menelan sumpah serapahnya sendiri.
Membersamai Arimbi selama beberapa pekan, nyatanya mampu membius diri Deo dengan perbedaan yang menjulang antara Roro dan perempuan itu.
Menampar kesadarannya, akan persona wanita yang rupanya memiliki kisah hidup yang tak mudah namun benar-benar gigih dalam menjalaninya.
" Kau mau bawa aku kemana, hey!" Arimbi yang memberontak sama sekali tak bisa mengimbangi tenaga pria yang terus menyeretnya menuju ke sebuah kamar.
NIT
chardlock yang berhasil membuka sebuah pintu itu membuat Arimbi menatap Deo. Apa dia akan dihajar didalam?
" Kenapa? Kau istriku kan, masuk!" Ucap Deo dengan wajah mengerikan. Membuat Arimbi ngeri dibuatnya.
Belum sempat ia menjawab, tubuh Arimbi sudah di bawa paksa masuk oleh Deo ke sebuah kamar yang lebih luas dari kamarnya, dengan peralatan yang lebih canggih dan terlihat sangat bagus.
" Duduk!" Deo mendorong Arimbi hingga membuat wanita itu terduduk diatas ranjang dengan wajah kaget.
" Astaga, mau apa dia ini?"
Deo tersenyum penuh arti manakala menatap Arimbi yang nampak terheran-heran sewaktu memindai ruangan yang luas itu.
" Jadi disini dia tidurnya. Pantas aja aku nggak lihat dari kemarin!" Batin Arimbi yang hatinya kecut sebab percaya dengan pemikirannya sendiri.
" Kalau kau suka, kau boleh tidur malam ini disini!" Ucap Deo seraya membuka kemejanya lalu melemparnya sembarangan. Membuat tubuh menggiurkan itu terbuka jelas.
" Ogah! Dia sendiri yang bilang aku suruh rahasia. Enak aja mau nyuruh- nyuruh orang!"
" CK, apa sebenarnya maumu. Aku capek, biarkan aku kembali ke kamarku!" Arimbi yang sebenarnya masih geram dengan Deo nampak memalingkan wajahnya karena malu sekaligus kesal kala melihat Deo yang bertelanjang dada.
Deo malah semakin mendekatkan dirinya ke arah Arimbi yang duduk di tepian ranjang dengan wajah bersungut-sungut itu. Menatap Arimbi penuh selera dengan isi hati ingin tertawa.
CUP
Arimbi membulatkan matanya kala Deo menciumnya secara tiba-tiba. Bahkan, pria itu sedikit mencecap bibirnya hingga membuat dia bagai tersengat sebuah tegangan.
" Orang ini!"
" Aku ingin bicara serius denganmu, istriku!" Bisik Deo dengan suara lirih seraya tersenyum smirk ke arah Arimbi.
Membuat Arimbi menelan ludahnya manakala syarafnya mulai terganggu, oleh hembusan segar dari mulut Deo yang berada tepat di depan wajahnya.
Oh Shiit!
.
.
Arimbi
Ia tak menyangka jika pria di depannya itu benar-benar mengajaknya ngobrol serius di jam dimana matahari telah condong ke sisi barat, usai berhasil membuatnya spot jantung.
Benar-benar kurang ajar.
Tubuh yang seolah merayunya dan meminta di sentuh olehnya itu, makin membuat hidup Arimbi tidak tenang.
Damned!
"Mau makan dulu, atau..."
Ia tersentak dari lamunannya kala pria itu mendudukkan diri tepat di sampingnya. Membuat irama jantung Arimbi mendadak tremor.
" Hubungan kita!"
Sahutan Deo berhasil membuat suasana mendadak sunyi, sepi dan kian menggerogoti keberanian yang Arimbi coba di tunjukkan secara paksa itu.
Keduanya kini larut dalam keseriusan yang begitu hening. Menyadarkan diri mereka bila sejatinya, mereka adalah pasangan suami-istri.
Oh ya ampun. Bisakah kenyataan yang ada mengikis sikap egois keduanya? Kapan kalian akan mencelikkan mata, bila sejatinya Dewi Amor telah singgah pada jiwa kalian?
" Bagiamana perasaanmu selama ini kepadaku?"
DEG
Pertanyaan yang sudah pasti akan membuat Arimbi kesulitan untuk menjawab. Dan terbukti, lidah yang mendadak kelu itu menjadikan suasana kian hening. Hanyut dalam suasana mendebarkan, yang penuh dengan keresahan.
" Kau tidak mau menjawab?" Tanya Deo yang tersenyum diatas angin. Gemas dengan Arimbi yang nampak terkejut.
" Kalau begitu biar aku yang berbicara dulu!"
Arimbi justru gagal fokus ke arah lengan bermasa otot besar itu. Pria yang pernah menindihnya itu, benar-benar memiliki aroma tubuh yang bahkan membuatnya tidak berkonsentrasi. Ah, sialan!
" Aku ingin kau tahu satu hal. Tentang seberapa beresikonya orang-orang yang ada di lingkup kehidupan pribadiku!" Ucap Deo kini menatap lurus Arimbi dengan tatapan normal.
Arimbi makin mengerutkan keningnya sebab belum paham arah pembicaraan kelas berat, yang mulai ia endus.
" Ar!"
Arimbi mendadak tegang manakala Deo memegangi tangannya. Sejenak mengalihkan pemikiran seronok yang mendadak melintas di otaknya.
" Pertama aku ingin minta maaf!"
Keduanya menatap. Hanyut dalam suasana serius yang mengandung kadar keterusterangan itu. Hening dan membuat Arimbi kian tegang akan perlakuan jantan pria itu.
" Aku..." Jakun Deo naik turun kala ia bermanuver demi melontarkan kata yang nampak seret di lehernya.
" Aku rasa aku menyukaimu!"
DEG
Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori Arimbi demi mendengar ucapan yang berhasil membuat rasa wajahnya panas, dan merubah rona di wajahnya menjadi merah.
Arimbi benar-benar tegang dibuatnya.
Namun, di balik kecanggungan yang tercipta, terselip sebuah kelegaan yang timbul dari dasar diri Deo. Tentang ia yang plong, usai mengutarakan hal yang beberapa waktu ini berperang dengan rasa gengsi dan egonya.
" Aku tidak tahu. Tapi..."
" Aku merasa ingin mematahkan tangan Daniel saat dia menyentuh ini!" Tunjuk Deo ke arah pipi Arimbi.
" Ini!"
" Dan juga ini!" Deo menyentuh semua bagian tubuh Arimbi yang pernah di sentuh oleh anak buahnya itu, dengan kecemburuan yang kentara.
Membuat wanita itu speechless dan tak tahu harus menjawab apa. Deo benar-benar menunjukkan sisi lain untuk pertama kalinya sore ini.
"Aku benar-benar tertarik padamu Ar!"
Deo seketika menarik tengkuk Arimbi lalu menyambar bibir itu dengan lembut, usai mengatakan kalimat sarat kejujuran itu.
Pria yang bertelanjang dada itu kini mencecap bibir Arimbi penuh selera. Membuat Arimbi terbuai, hanyut dan larut dalam tawaran cinta kasih melenakan itu.
" Bolehkah aku..."
Arimbi menatap muram mata sendu Deo yang terlihat menuntut, sesaat setelah kecupan itu terlepas dengan lembut. Sebuah isyarat pasti yang ditunjukkan Deo kepada wanitanya, akan gejolak yang membuncah dalam diri manusia dewasa.
Asmaradahana memuja Kamarasa.
.
.
.
Keterangan :
Asmaradahana : Api asmara
Kamarasa : Kenikmatan Cinta
@Sansekerta