My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 46. Menebar benih simpati segulut demi segulut



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Pagar makan tanaman.


Peribahasa ini memiliki arti 'seseorang telah merusak sesuatu, yang justru harusnya ia jaga'.


Ungkapan yang agaknya relevan, dengan apa yang di lakukan Deo saat ini. Laki-laki yang harusnya bisa menjaga perasaan Arimbi sepedih apapun keadaan mereka, kini justru membuat segala sesuatunya menjadi lebih runyam.


Dengan wajah lesu, ia menyeret langkahnya menuju kamar sebelahnya. Definisi dari terkena undang-undang kemarahan istri.


" Berani sekali dia mengkudeta kamarku, CK!" Ucapnya yang kini memeluk guling sembari menatap nyalang dinding bersih di kamar itu.


Entah mengapa, perasaan aneh kini menjalar ke tiap sudut-sudut di relung hati terdalamnya. Tentang mengapa ia yang mendadak peduli dengan Arimbi.


" Apa gadis itu marah?"


" CK, sialan!" Ia mengusap wajahnya kasar demi mengingat seraut wajah yang kerap memancing kemarahannya sejak hari pertama perjumpaan itu. Dan sajaknya, Deo takut jika Arimbi melaporkan hal ini kepada Jessika.


" Kenapa Mama keukuh ngebiairin kesalahpahaman ini berlanjut sih? Padahal kita baru kenal sama keluarga gadis galak itu!" Gumamnya yang makin hari makin tak habis pikir, kenapa Jessika malah memintanya untuk melanjutkan pernikahan yang sama sekali tidak ia kehendaki ini.


Sebuah getaran dari ponsel membuyarkan lamunannya malam itu. Siapa lagi kalau buka Erik di raja informasi.


" Ya Rik?"


" Pak, Pak Zakaria keukuh minta Arimbi buat masuk Pak. Mereka butuh ambasador buat persiapan penerbangan besok!"


" Tolak, cari alasan lain. Masih banyak karyawan lain. Mereka masih belum boleh kerja. Lagian wajah bonyok begitu gimana bisa handle! Zakaria nih lama-lama modus doang!"


Deo memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Benar-benar kesal dengan permintaan customernya itu.


Beberapa menit kemudian, Deo terlihat memejamkan matanya sebab kantuk mulai menyerangnya. Pria itu lelap dengan keadaan memeluk guling. Ah entahlah, kenapa hidupnya makin hari makin runyam.


.


.


Arimbi


Ia mengunci pintu kamar Deo lalu menyumpal telinganya menggunakan hand's free , sembari mendengarkan lagu-lagu milik maroon 5 yang menjadi play list favoritnya selama ini.


Bukan tanpa alasan ia mengunci pintu kamar Deo. Sejak ia di usir tadi, ia yakin jika Deo pasti setelah ini akan pergi kelayapan dengan wanita yang susunya kerap di umbar itu. Membuatnya takut berada di rumah sendiri, dan berinisiatif untuk mengunci


Tapi anehnya, jika biasanya ia tak merasai apapun dan cenderung emang gue pikirin kepada Deo, entah mengapa malam ini ia merasa kesal dengan sikap Deo.


" Hah, sebenarnya aku ini sedang ngejalani hidup macam apa sih? Bu Jessika, boleh enggak sih kalau aku bayar hutang aja sambil nyicil? Aku kok rasanya enggak mood banget bikin si Deodoran itu pisah ama kecublang satu itu!"


Ia membatin seraya menatap nyalang langit-langit kamar luas itu, manakala lirik lagu Animal yang berasal dari suara Adam Levine itu tengah memekakkan telinganya.


Rumah Deo di lengkapi dengan perangkat WiFi. Membuat koneksi internet perempuan itu lancar dan bebas hambatan.


Alunan lagu yang menjadi kesukaannya itu, tanpa terasa menjadi pengantar tidurnya yang nyaman. Sungguh, kehidupan dua manusia yang aneh itu benar-benar membuat orang mengetahuinya, pasti akan gelang-gelang kepala.


.


.


Deo yang pagi itu telah bersiap dan terlihat wangi kaget dengan aneka masakan yang sudah cemepak ( terhidang) di meja makan rumahnya itu.


Membuatnya menelan ludah sebab selama ini ia seringkali makan di luar, dan jarang menghadapi masakan rumahan yang terlihat lezat itu.


Bahkan Roro saja tidak bisa menyajikan hidangan seperti itu saat ia meminta. Deo celingak-celinguk mencari keberadaan sosok wanita yang semalam menguncinya itu.


" Ar!" Panggilnya namun tak ada jawaban.


" Arimbi?" Ia kesal sebab wanita yang di panggilnya itu sama sekali tak menyahut.


Takut kalau-kalau terjadi seseorang yang tidak diinginkan, Deo akhirnya berkeliling rumah dan berniat mencari Arimbi.


Seluruh pintu ruangan ia jeblak dengan ketergesaan namun ia tak menemukan Arimbi. Ia beralih menuju ke kawasan belakang rumahnya juga tidak menemukan wanita itu. Sial!


Hingga akhirnya.


" Wah, terimakasih banyak loh mbak. Kami di bayarin begini. Jadi enggak enak!"


Mata Deo membulat manakala ia melihat Arimbi yang kini mengobrol asik dengan laskar ibu-ibu berdaster yang menjadi penghuni tetangga komplek rumahnya.


" Jangan sungkan Bu! Anggap saja ini sebagai perkenalan sebagai orang baru di komplek sini!"


Deo menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. Bagaimana bisa, istri-istri orang yang tempo hari menggrebek mereka, kini sudah terlihat akrab dengan Arimbi.


Deo tidak tahu, jika mengakrabi para tetangga, menjadi satu strategi yang sengaja Arimbi buat agar ruang gerak Deo makin sempit kala menemui wanita itu. Bagaimanapun juga, perjanjian Arimbi dan Jessika harus tertunaikan.


" Dari mana saja kamu?" Tanya Deo mengagetkan Arimbi yang baru saja menutup pintu rumahnya.


" Nih!" Arimbi menunjukkan beberapa sayuran yang dia beli, " Dari pada beli di tempat jauh mending aku beli disini. Mumpung dengar!" Sahut Arimbi berjalan ngeloyor menuju dapur.


" Oh ya, maaf tadi aku ngambil uang di lacimu. Aku tidak punya uang, jadi aku pinjam ini dulu. Besok kalau gajian aku ganti!"


Deo tertegun. Ucapan Arimbi benar-benar membuat hatinya tersentil.


" Kenapa harus pinjam. Uang itu mama yang sengaja naruh disana!" Bohong Deo agar Arimbi tak curiga. Ia sebenarnya sejak kemarin meninggalkan uang, dia sengaja ingin mengetes Arimbi. Apakah wanita itu wanita jujur atau tidak.


Terbukti, diluar dugaannya. Arimbi menggunakan hal itu untuk operasional urusan perdapuran. Membuat Deo sedikit kagum


" Kenapa kau mengunciku semalam?" Tanya Deo yang sukses membuat Arimbi yang baru saja hendak melangkahkan kakinya kembali itu, kembali menoleh.


Arimbi berbalik dengan wajah masih datar.


" Kau pergi dengan wanita itu. Aku takut dirumah sendiri. Jadi aku kunci. Kenapa?"


Deo mendecak kesal, Arimbi salah paham rupanya.


" Aku kan sudah bilang, aku hanya seben..."


" Makanlah. Keburu dingin. Kalau tidak mau, biar aku bungkus buat teman-temanku nanti. Aku malas berdebat. Dan oh ya, hari ini aku mau keluar!


Membuat Deo terbengong-bengong demi mendengar keberanian yang di tunjukkan oleh wanita itu.


"Tidak boleh!" Sahutnya tegas.


Arimbi menyipitkan matanya. " Tidak boleh bagiamana? Kau mau aku bawa mereka semua kesini biar semua tahu kalau aku ini sebenarnya adalah istri Pak Deo yang jahat itu?"


Deo mendengus dengan wajah tak percaya. Mulut wanita itu benar-benar tak memiliki filter apalagi empati. Deo merutuk kesal.


Dan saat saat mereka saling melempar tatapan sengit. Deru mobil terlihat memasuki kawasan rumahnya. Membuat Deo tertarik untuk membalikkan badannya lalu melihat dua sosok yang kini turun dari dalam mobil itu.


" Demas, Mama?"


.


.


.


.


.


.


.


Novel ini Mommy usahakan up dua bab dan kalau bisa lebih dalam sehari. Namun, mommy mohon permakluman juga sebab konsen juga terfokus pada penyelesaian kisah Raka dan Jodhi.


Mengapa harus ada dua novel on going. Sebab author nameless seperti mommy musti berjuang keras agar bisa di akui.


See you later 😘