
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Demas
Ia menunda niatnya untuk menemui kakaknya, demi melihat interaksi intim yang membuatnya dirinya tercelik. Nyatanya, Arimbi juga memiliki perasaan yang sama terhadap kakaknya.
Walau ada rasa sedih menelusup, namun jujur ia lega. Setidaknya Arimbi sudah bahagia. Hah, benar juga kata cupatkai. Cinta itu deritanya tiada akhir.
Ia lantas melajukan kendaraannya membelah jalanan kota B di senja yang hangat. Sengaja berputar-putar dahulu demi membunuh kegundahan yang menyerang hatinya.
Namun, saat ia asik mengumandangkan lagu milik Christ Brown yang meraung-raung di dalam mobilnya, sebuah pemandangan mengejutkan tertangkap oleh kedua matanya.
DEG
" Eva?"
Ia kaget demi melihat Eva yang terlibat perkelahian dengan tiga orang wanita, di tepi jalan yang agak jauh. Ia bahkan juga melihat motor yang terguling dan nampak rusak di sana-sini, yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka bergulat.
Tanpa menunggu lagi, ia langsung memarkirkan kendaraannya. Benar-benar tidak bisa dibiarkan.
" Apa-apaan kalian?!" Teriaknya masih berada di dalam mobil. Membuat ketiga wanita itu mendelik dan seketika kabur menuju mobil mereka manakala melihat sosok pria itu.
Demas yang panik seketika berlari menuju ke arah Eva. Tak mempedulikan tiga orang yang kabur itu sebab wanita itu nampak kesakitan.
"Eva, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?
Bukannya menjawab, Eva justru gagal fokus demi menatap seraut panik yang nampak dua kali lipat lebih tampan. Pria itu bahkan kini mengucapkan kata-kata yang agak panjang dari biasanya.
" Apa keluarga deodoran semua ganteng? Astaga dia benar-benar kelihatan keren kalau begini. Haish ngomong apa aku!" Ia bahkan seketika menggelengkan kepalanya demi menggugurkan pikiran tak jelas itu.
Benar-benar sialan!
" Siapa mereka tadi, kenapa ngeroyok kamu begitu?" Demas bahkan menangkup wajah Eva dengan sikap yang benar-benar khawatir. Memindai luka yang bertabur di kening.
" Biasa Pak. Kalau main keroyok saya juga kalah. Kalau wan bae wan ( one by one/ satu persatu), saya pasti menang. Saya kan bukan ket women (cat woman) yang memiliki kesaktian!"
Demi daun yang gugur di sebrang jalan, Demas mendecak sebal manakala Eva justru berkelakar manakala menjawab pertanyaannya.
" Motormu hancur begitu!"
Eva yang baru menyadari motor matic nya yang terkapar itu, kini menatap muram dek motor yang pecah.
" Kamu ini kenapa sih tadi?" Tanya Demas lagi demi ingin mendapatkan jawaban yang jelas.
Eva menghela napasnya, sesaat sebelum ia menjawab. " Dia itu pacarnya Sinyo Pak. Ingat Sinyo nggak? Nggak ingat ya? Itu lo yang kita di Tenggarang. Mantan pacar saya!" Ucap Eva seraya membangunkan diri.
Namun, bukannya ingat akan sosok yang dibicarakan, kilasan ingatannya justru kembali saat dengan impulsifnya Eva mencium bibirnya. Sialan!
" Kamu nyari gara-gara?" Ucapnya seraya melipat kedua tangannya ke dada.
" Walaupun enggak nyari gara-gara, tapi kalau namanya orang udah enggak seneng, bernapas aja kita salah pak dimata dia!" Jawab Eva asal yang membuat Demas kembali mendengus dengan cuping hidung yang kian lebar.
"Gak tau salah saya apa. Saya aja kaget kenapa dia udah balik kesini!" Gerutu Eva dengan raut kesal.
" Lagian kamu ngapain sore-sore keluyuran begini?" Cecar Demas yang entah mengapa begitu ingin tahu.
" Ibuku sakit enggak ada ngomong ke aku waktu telepon. Aku ke apotek buat beli obat. Lah, mana lagi tadi obatnya!" Jawab Eva sembari membalikkan badannya sebab ingin mencari obat yang baru dia ingat.
"Ah ini dia, untung nggak ilang!" Gumamnya demi menemukan benda yang saat ini menjadi benda yang paling berharga.
Demas menatap muram punggung Eva yang sibuk mengambil sekantong kecil bertuliskan nama sebuah apotek, yang di dalamnya berisikan beberapa jenis obat-obatan.
Membuat Demas yang mendengar perkataan Eva, kembali teringat akan sepotong cerita yang tak sengaja ia dengar saat Eva dan Arimbi saling bercerita. Eva adalah anak dari pria yang juga memiliki istri dan anak lain.
Membuat hati Demas terasa nyeri.
" Astaga, kuncinya enggak ada, gimana aku pulangnya?"
Demas tersentak demi mendengar suara penuh keresahan yang di lontarkan oleh Eva.
" Ada apa?"
" Emang anjing mereka itu. Kunciku di buang dan gak tau kemana. Mana gak ada serepnya lagi!" Jawab Eva resah. Sibuk memindai tanah dengan gerakan mencari. Mengabaikan Demas yang justru menatapnya makin mengiba.
" Aku antar!"
" Hah?" Sahutnya spontan menoleh dengan wajah tak percaya
" Mau apa tidak, kalau tidak mau ya sudah!" Ucap Demas seraya langsung membalikkan badannya.
" Tapi, motor saya gimana Pak?"
Demas menghela napasnya. Apa anak itu tidak pernah merasakan sakit? Padahal wajahnya jelas-jelas lebam, namun wanita itu justru mencemaskan motornya.
Membuat Demas berhenti lalu membalikkan badannya menatap Eva. Pria itu sedetik kemudian nampak mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
" Dli, tolong kamu suruh orang bengkel buat ambil motor sama servis sekalian. Gampang besok-besok ngambilnya. Di jalan dekat bendungan besar, yok!" Ucapnya kepada Fadli orang kepercayaannya melalui sambungan telepon.
Eva terdiam manakala melihat Demas yang nampak menelpon seseorang. Entah siapa itu.
" Beres kan?" Tatap Demas ke arah Eva yang mematung.
" See, dia selalu sombong!"
.
.
Eva
Usai pulang kerja ia yang sudah rindu kepada mamanya, harus rela menunda kebersamaan lantaran melihat mamanya yang tertidur dengan lemah diatas kasur dengan suhu yang mulai demam.
Wanita paruh baya itu menolak dibawa ke dokter. Membuat Eva akhirnya memutuskan untuk membelikan obat. Hati anak mana yang tak resah dan iba kala orangtuanya sedang dirundung kemalangan.
Naas, saat ia melintasi jalanan yang sepi, sebuah mobil yang sebenarnya telah mengikuti dirinya sejak keluar rumah tadi, menyerempet Eva hingga membuat wanita itu jatuh.
Rupanya, salah satu dari tiga wanita itu merupakan kekasih mantannya yang entah apa alasannya tiba-tiba menyerang Eva.
Andai Demas tidak datang sore itu, entah apa yang akan terjadi. Mengingat sorot fajar kian berlari bersama waktu jelang petang itu.
" Apa perlu aku lapor polisi?" Tawar Demas yang sibuk dengan kemudinya.
" Ngapain tidak usah lah!" Jawab Eva menoleh ke arah Deo. Pria yang kemejanya kini digulung sebatas siku itu benar-benar terlihat kerena.
Demas ganteng.
" Tapi kau dalam bahaya!"
" Sedari dulu hidupku sudah dekat dengan bahaya!"
" Tapi ini kejahatan!"
" Aku tidak peduli Pak. Yang aku pikirkan sekarang adalah ibuku, juga persoalan Pak Deo. Melaporkan mereka justru akan menyita waktuku percuma. Aku tidak tahu salahku apa. Bahkan Sinyo juga sudah dia rebut!" Balas Eva seraya tersenyum kecut.
Membuat Demas tertegun. Wanita itu sebenarnya memiliki sisi baiknya ternyata. Selain itu, Eva memiliki sifat berani dan juga logis.
Tak berselang lama, mereka telah sampai di kawasan perumahan sedang.
" Yang paling ujung, rumah cat kuning itu!"
Demas mengikuti arahan Eva hingga berhentilah ia di depan sebuah rumah dengan tipe yang lumayan bagus.
" Aku!"
" Saya!"
DEG
Kedua manusia itu saling menoleh lalu menatap satu sama lain, demi mendengar kata yang sama-sama mereka ucapkan.
" Kamu dulu!"
" Pak Demas dulu!"
Lagi, keduanya meneguk ludah bersama-sama. Membuat Demas yang kini menatap Eva lekat, menjadi terbuai dengan wajah tanpa make up tebal, yang rupanya lebih manis walau di sudut bibir wanita itu agak lebam.
" Sialan, kenapa jantungku malah begini!!" Maki Demas dalam hati demi merasakan irama jantung yang tidak seperti biasanya, saat mereka saling menatap selama beberapa detik.
Ihiiiir!
.
.
.
.
.
.