My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 53. Menyingkap tabir



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Kediaman David


" Kamu kenapa balik lagi Dem. Kamu enggak kerja hari ini?"


Demas melengos dan terlihat kesal, serta tak menjawab pernyataan Jessika. Pria itu moodnya seketika buruk demi mengingatkan perdebatannya dengan Arimbi tadi.


Ia marah kepada sang kakak, yang selalunya lebih dibela oleh sang mama, sekalipun sikapnya menurutnya kurang baik.


" Demas!" Panggil Jessika lagi namun anak bungsunya itu masih saja bergeming.


" Demas, Jaga sikap kamu sama mama!" Hardik David yang tak suka demi melihat sikap anak-nya yang tak seperti biasanya itu.


Membuat Demas menghentikan langkahnya dengan raut mencureng dan hati yang terbakar.


" Kalau mama pikir Arimbi itu senang menikah dengan kak Deo , tolong mama pastikan lagi. Kalau Demas sampai lihat Arimbi masih mengerjakan pekerjaan rumah saat di sakit, Demas gak akan segan-segan buat kak Deo sama dia cerai!"


DEG


Membuat Jessika seketika menelan ludahnya.


Demas yang wajahnya sudah keruh seketika melesat menuju kamarnya. Benar-benar tak bisa menahan diri untuk gak meluapkan kekesalannya.


BRAK


" Demas!"


" Jangan kurang aja kamu, Demas!"


" Mas!" Jessika menarik lengan besar suaminya seraya menggeleng dengan mata yang sudah berkacay. " Biarkan dia dulu!"


" Apa maksudnya, datang-datang marah begitu!" David berkacak pinggang seraya menyuguhkan wajah resah dan balas yang mulai memburu.


Ia tertegun, gencar berpikir. Apakah kisahnya manakala mendapatkan cinta Jessika sewaktu muda dulu, akan diulang oleh dua putranya?


.


.


Roro


" Brengsek! " Ia geram sebab nomer Deo yang ia hubungi sedari tadi sama sekali tak menunjukkan perkembangan. Nomer itu masih saja sulit ia hubungi. Entah kemana Deo.


" Pasti gara- gara wanita sialan itu!" Ia kesal saat berada di restoran siang itu seorang diri. Dadanya meradang sebab lagi-lagi Deo mangkir dari janjinya.


Roro terlihat memijat keningnya yang mendadak pusing. Kalau begini caranya, bisa-bisanya kekasihnya itu akan suka betulan dengan Arimbi.


Namun, saat ia tengah sibuk mengatur napasnya. Wanita itu kaget manakala melihat pelayan yang tiba-tiba mengantarkan sebuah minuman kepadanya.


" Maaf, saya tidak memesan minuman!" Ucap Roro kebingungan.


" Mohon maaf Nyonya, minuman ini dari Tuan yang ada di sebelah sana!" Tunjuk pelayan itu kepada seorang pria gagah yang mengenakan jas, dan terlihat mahal. Melambaikan tangan dengan senyum liar yang paling memabukkan.


Membuat Roro tersenyum penuh arti.


Roro kini terlihat menikmati makanan yang tadi ia pesan, dengan mata yang tak lepas menatap pria menantang di depannya itu. Terlihat bergairah dan juga membara.


Dan beberapa saat kemudian, Roro tiada menyangka jika pria itu kini berjalan santai meninggalkan tempat duduknya, dan rupanya menuju ke meja yang di duduki Roro.


"Ah sial, pria itu menantang sekali!"


" Boleh saya duduk di sini?" Tanya pria yang masih mengenakan kacamata hitamnya itu, seraya menatap Roro dengan tersenyum.


" Sure!" Jawab Roro tersenyum penuh arti.


" Bramasta!" Ucap pria itu mengulurkan tangannya. Menatap lekat-lekat Roro.


" Roro Ayu!" Jawab Roro menjabat tangan pria di depannya itu.


CUP


Roro terperangah kala melihat punggung tangannya di kecup lembut oleh bibir memukau pria bercambang itu.


" Sendirian?"


Roro mengangguk, merasa begitu tersanjung dengan perlakuan Bramasta. Roro benar-benar bagai mendapat durian runtuh. Disaat dirinya tengah kesal kepada kekasihnya, tanpa ia duga datang pria berkelas yang kini membuatnya merasa diatas angin.


" Wanita secantik dirimu kenapa bisa sendiri. Apa kau sudah memiliki kekasih?"


Roro tertegun sejenak, lalu sejurus kemudian menggeleng. Ia memang beberapa waktu terkahir berselingkuh dengan managernya tanpa sepengetahuan Deo, sebab ia sering merasa kesepian manakala Deo lebih memilih pekerjaannya dari pada dirinya.


Ya, Roro telah berdusta.


Namun, ia yang suatu ketika tak sengaja bertemu dengan Tomy, mantan asisten David dulu saat ia jalan bersama selingkuhannya itu, seketika memutuskan hubungan mereka karena takut Deo akan curiga.


" Anda bisa saja. Saya hanya wanita biasa. Ya...mungkin belum beruntung saja!" Ucap Roro manja. Membuat pria itu menatapnya penuh selera.


" Want to go with me?" Tanya Bramasta menatap Roro penuh maksud. Membuat wanita yang gemar berpakaian sexy itu terlihat menggoyang-goyangkan bibirnya, wajah yang tampak menimbang.


" Sure! Let's go with me baby!"


Akhirnya, mereka berdua pergi bersama. Entah akan dibawa kemana Roro oleh pria itu. Yang jelas, Roro kini telah terhipnotis oleh mobil yang dibawa oleh pria itu. Mobil mewah yang benar-benar membutuhkannya terpukau.


" Seperti pria ini lebih kaya dari Deo!" Batin Roro tersenyum licik.


.


.


Deo


Ponsel yang sengaja ia matikan sejak terakhir menghubungi Ezra tadi, kini terlihat di aktifkan kembali olehnya.


Deo mendecak manakala melihat nama yang langsung muncul, saat layarnya baru saja kembali ke mode On.


Erik memanggil...📞


" Halo, opo Rik?" Kesalnya dengan wajah malas sebab ia sebenarnya ingin sekali beristirahatlah.


Sialan!


" Bos, maaf mengganggu. Saya...."


Mata Deo seketika membulat demi mendengar informasi mengejutkan dari mulut Erik. Dengan segera, dan dengan terburu-buru ia kini menuju ke kamarnya, dan terlihat membuka lemari dengan kasar, untuk mengambil pakaian ganti.


Membuat Arimbi yang sore itu baru saja membersihkan dirinya dengan mandi air hangat seketika terkejut.


" Pak, anda mau kema..."


BRAK!


Ia bahkan tergeragap saat pintu itu di tutup Deo dengan kasar. Benar-benar terlihat mengerikan.


" Kenapa dia terlihat buru-buru sekali?" Gumam Arimbi yang mendadak resah.


Dan sejurus kemudian, ponsel edisi lama milik Arimbi terlihat bergetar. Membuatnya seketika berjalan maju guna mengambil benda miliknya itu.


" Mas Erik ?" Gumamnya tak percaya.


" Ya mas?"


" Aduh Ar, sory. Tadi mbakmu sebenarnya kasih titipan nasi ikan bakar ke kamu. Tapi.."


" Tapi kenapa Mas?" Tanyanya semakin tak sabar.


" Tapi aku enggak tahan ngelihatnya. Terus aku makan Ae. Duh, kamu jangan marah ya. Nanti aku ganti makanan main deh setelah urusanku beres. Kamu mau apa?"


" Enggak usah Pak. Lagipula saya belum boleh makan makanan pedas. Pak, tadi pak Deo..."


" Ya sudah kalau gitu. Makasih ya Ar. Saya cuman mau ngabarin itu. Maaf saya buru-buru!"


TUT


Ia menatap ponselnya dengan wajah manyun. Kenapa dua pria itu setel sekali pikirnya


" Ada masalah apa ya?" Arimbi mendadak merasa cemas dan khawatir, demi melihat guratan keresahan di wajah Deo.


.


.


Hotel Elita Paradise


Dua anak manusia yang baru saja bertemu itu, terlihat saling memproduksi peluh bersama, dalam aktivitas penyatuan panas sore itu.


Ya, Roro yang tak mengira jika Bramasta akan mengajaknya ke hotel berbintang miliknya. Merasa terkesan dan takjub akan apa yang di miliki pria gagah itu, Roro seketika merasa senang.


Tak di nyana, Bramasta yang terlihat begitu memuja Roro, dengan mudahnya mengajak wanita itu untuk bercinta. Menyelami lautan kenikmatan yang luar biasa.


" Ah!"


Roro yang kini tubuhnya berguncang akibat hujaman pria itu terlihat menyorotkan mata sayu dengan mulut yang sedikit terbuka. Terlihat menikmati genjotan bertempo cepat yang di lakukan oleh Bramasta.


Sudah sangat lama sejak mereka berdua bergonta-ganti gaya dalam bercinta itu, ia yang memang beberapa waktu ini jarang menghabiskan waktunya bersama Deo, seketika menepis bayangan wajah kekasihnya itu, sebab merasa telah mendapatkan pria yang lebih baik.


Meski ia tidak tahu, apa yang akan ada di belakangnya nanti.


" Ahhh!"


" Ahhh!"


Roro memekik seraya mencengkeram erat punggung liat nan lebar itu, saat Bramasta meledakkan cairan kental kedalam liangnya.


Mencapai puncak dari pada kenikmatan duniawi, yang mereka rengkuh bersama-sama.


" Aku mandi dulu ya!" Pamit Roro sesaat setelah mereka sama-sama terpuaskan. Bramasta mengangguk. Pria itu terlihat menelpon seseorang saat Roro telah masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Roro yang telah duduk santai setelah selesai membersihkan dirinya dan kini hanya mengenakan bathrobe putih itu, kaget manakala mendengar pintu yang diketuk saat Bramasta masih berada di dalam kamar mandi.


Siapa pikirnya.


TOK TOK TOK


" Iya sebentar!" Sahutnya dari dalam. Mungkin petugas hotel yanh di hubungi oleh Bram tadi sudah datang. Begitu pikir Roro.


CEKLEK


Namun dugaannya salah.


DEG


Mata Roro membulat seketika, demi melihat Deo yang rahangnya telah mengeras, dan kini menatap Roro penuh kemarahan.


" Siapa sayang? Apa makanan kita sudah datang?"


Roro semakin pucat manakala mendengar suara Bram yang turut menyusulnya keluar. Membuat seluruh tubuhnya terasa bergetar.


Deo seketika menggertakan giginya, demi menatap pria bertelanjang dada berambut basah, yang kini berada di belakang kekasihnya yang nampak pias itu.


.


.


.


.