
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Walau ia penasaran, soal Demas yang akhirnya mau menerimanya sarannya untuk mencari brand ambassador di launching mall juga produk kecantikan yang ia rintis bersama Mama Jessika itu, namun ia kini lebih memilih untuk menyelesaikan tugasnya dulu.
Ia bisa menginterogasi adiknya nanti.
Deo kini telah berada di kantornya. Kantor yang akan ia huni jika berkunjung ke kota itu. Belum sebesar yang ada di Kota B, namun ini sudah sangat baik. Terlampau baik malah.
Usai menemui beberapa manager operasional, keuangan, juga manager SDM yang akan ia tugaskan nanti, Deo nampak berjalan berkeliling ke bandara, dimana besok mereka akan melakukan pembukaan perdana Andara Air.
Romadona, dialah tangan kanannya yang akan menjadi penyambung lidahnya jika ia tak ada di tempat itu. Pria yang ia rekrut dengan cara tak main-main itu nampak bisa ia andalkan. Memiliki pengalaman kerja yang bisa ia andalkan itu, ia yakini bisa membawa perusahannya maju.
" Sementara ini tinggal SDM cargo saja Pak yang belum memenuhi kriteria! Kalau untuk yang lain, mereka sudah memenuhi kualifikasi!"
Namun, fokus Deo justru tertuju pada Arimbi yang saling bercanda bersama Daniel dan beberapa anak buahnya, dari jarak yang masih bisa ia tangkap melalui indera penglihatannya. Nampak asik dan terlihat tanpa beban kala tertawa.
" Jika berkenan, mungkin Pak Deo bisa mengirimkan satu orang yang berkompeten dari kantor pusat untuk bantu kami di cabang Pak!" Tutur Dona yang masih tekun mengutarakan hal-hal yang mengandung poin krusial itu.
Deo lagi-lagi mengeraskan rahangnya, manakala Daniel terlihat menyibak rambut Arimbi dan terlihat sangat dekat.
" Karena kebanya..."
" Daniel monitor!"
Dona sampai melongo manakala ucapannya menguap, saat Deo malah menyambar HT yang bertengger di saku celananya, dan terlihat memanggil orang lain.
Lah!
" Temui saya di depan. Kamu ngapain disana, ngadep sini kamu!"
Dona menelan ludahnya dengan wajah takut, manakala melihat Deo yang mengeluarkan intonasi suara yang tak bersahabat.
Bukankah mereka sedari tadi mengobrol serius. Lantas, kenapa Deo mendadak memarahi Daniel?
" Pak Deo!" Sapa Daniel mengangguk saat laki-laki itu datang dengan wajah serius.
" Don, kamu tanya sama Daniel apa-apa saja yang kamu butuhkan. Koordinasi sama manager operasional dan manager keuangan. Daniel, saya minta kamu laporkan ke saya nanti!"
Jangankan Daniel. Dona saja bahkan melongo demi melihat Deo yang mendadak berang tanpa sebab.
" Mas Dona bikin kesalahan apa sih?"
.
.
Sementara itu, di suatu tempat yang terlihat mewah namun terasa membosankan, Eva duduk diam saat ia di tinggalkan sendirian oleh Demas, sewaktu pria itu berhasil menggelandang dirinya tanpa perlawanan.
" Emang gak jelas tuh orang. Maksa- maksa buat aku kesini, enggak taunya ninggalin begitu aja!" Ia menggerutu dengan wajah keruh yang tak surut sama sekali.
Eva bahkan sepanjang perjalanan hanya komat-kamit manakala melihat kebiasaan Demas yang bertahan hingga saat yang lama itu. Damned!
CEKLEK
BRUK
Mata Eva membulat menakala Demas menjatuhkan benda berbentuk persegi panjang yang terbungkus kardus itu ke atas pangkuannya.
Benar-benar tidak sopan. Begitu pikir Eva.
" Aku baru beli ponsel dan aku tidak suka warnanya. Dari pada aku buang, lebih baik aku sedekahkan padamu!"
" Hah?" Eva menatap tak percaya ke arah mulut sombong nan angkuh itu.
"Mulutnya astaga!"
" Aku minta kau dandan sebagus yang mau bisa, itu alat-alat juga seragamnya, karena sore nanti aku kekurangan model. Kau bisa anggap itu juga sebagai bayaran mu!"
" Dan ingat, aku tidak mengulang segala jenis ucapan, atau pengumuman!"
" Oh ya satu lagi, aku sudah izin kak Deo. Kita akn selesai nanti malam. Soal tugasmu di innagural besok, kau atur sendiri bagiamana baiknya!"
" Apa? Gila aja, kalah- kalah ikut kompeni!"
Demas mendelik manakala melihat Eva yang kembali berani menyergahnya. Benar-benar tak ia sangka.
" Kalau kau tidak mau, aku am..."
" Eee Ee, main ambil aja. Saya kan enggak bilang ga mau Pak!" Jawab Eva berengut seraya menyambar kotak berharga itu. Terlihat tak rela jika ponsel keluaran terbaru yang belum bisa ia jangkau itu di ambil kembali oleh Demas.
Membuat Demas menyunggingkan senyum yang tak di ketahui oleh Eva, demi melihat Eva yang kembali komat-kamit karena mendengus kesal.
...----------------...
Arimbi
Ia tersenyum-senyum sendiri manakala membaca pesan dari Eva. Tadinya ia kaget dengan sebuah pesan yang masuk, berikut nomer asing yang menyertainya.
..." Jadi buruh make up dapat ganti hape kelas gaes. Sebenarnya dia itu ngerasa bersalah karena udah ngerusak hapeku. Tapi biar lah. Kalau begini, aku mau dong di rusak yang lainnya, biar dapat yang lebih epik"...
Begitu isi pesan Eva yang membuatnya terkikik-kikik.
Konyol, itulah satu kata yang kini mewakili kejadian rekannya itu. Tapi, mungkin benar juga apa yang di katakan Eva. Bisa jadi, semua hal nyeleneh itu merupakan bentuk pertanggungjawaban Demas, namun dengan versinya yang memang kaku.
TRING
Lift terbuka. Ia bersama ketiga rekan lainnya berpisah- pisah demi porsi pekerjaan yang memang berbeda. Ia yang akan banyak bekerja sewaktu on duty besok itu, di perkenankan untuk pulang ke hotel dulu siang jelang sore itu.
Sementara Daniel, Novi dan Andre, ketiga orang itu nampak masih menyelesaikan beberapa tugas yang musti rampung hari itu juga.
Dan saat pintu lift itu terbuka, Arimbi membulatkan matanya saat melihat Deo yang berdiri tepat di depannya. Membuatnya buru-buru lari namun berhasil di hadang tubuh besar itu.
BRUK
Arimbi bahkan kalah langkah dan tenaga, dan terpaksa kembali masuk dengan tubuh mentok ke dinding lift. Membuat wanita itu membulatkan matanya sambil memperhatikan Deo yang kini menekan angka lain, yang membawa mereka menuju lantai 39.
" Hey, kenapa kau..."
" Diam!" Sergah Deo menghardik Arimbi.
Arimbi tidak tahu, bila Deo telah mengetahui jika Arimbi telah kembali. Jangan ditanya bagiamana bisa, apapun bisa Deo lakukan selama hayat masih dikandung badan.
" Keluarkan aku!"
Deo diam dan malah menatap Arimbi penuh arti.
" Apa yang kau lakukan?" Arimbi kini berjalan menyisih manakala Deo semakin mendekat ke arahnya. Semakin takut dan kehilangan nyali.
Membuat wanita itu kini meneguk ludahnya, sembari merasa degub jantungnya kian tak beres, kala aroma yang Deo mulai menyerang pusat syarafnya.
" Aku mau..." Deo mendekatkan wajahnya lalu terlihat mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Arimbi. Membuat wanita itu memejamkan matanya sebab ia yakin tak akan bisa lari.
Dan sejurus kemudian.
PLETAK
" Aduh!"
Arimbi yang mengira jika dirinya akan dicium paksa oleh Deo, kini mengaduh sakit kala sentilan yang justru ia dapat.
" Kau sengaja membuatku cemburu, hm? Sini kau!"
.
.
.
.
.
Kira-kira apa yang akan terjadi setelah ini?
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤£ðŸ¤£