My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 144. Salah letak



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Melodi


Beberapa saat kemudian, ia terlihat tengah menjalankan tugasnya untuk mewakili kegiatan di Mall milik Demas walau ia sendiri tidak paham betul tupoksinya nanti.


Yang jelas, ia hanya diinformasikan untuk menandatangani nota kesepakatan bersama atau MOU, juga mewakili kehadiran pertemuan dengan relasi terkait untuk update perihal produk baru yang akan mereka jual.


" Di depan nanti ada jalan ke kiri kita belok!" Seru Dian memperingatkannya Melodi yang menjadi juru mudi. Nampak hening sebab keduanya nampak membisu sejak berangkat tadi.


" Lu gak bisa nyetir?" Tanya Melodi tanpa menatap Dian.


" Bisa. Tapi, mau kita kayak pak Demas?"


Maksud hati ingin bercanda, namun yang di dapat justru tatapan tajam. Membuat Dian seketika meringis nyengir. Ampun!


" Loh loh, belok, tuh kan jadi bablas, udah aku ingetin padahal!" Timpal Dian dengan wajah resah, manakala menyadari jika Melodi lupa untuk belok.


" Lu nggak bilang kalau yang ini, ada dua jalan itu!" Sergah Melodi tak mau kalah.


Kini, dua manusia itu benar-benar bertengkar dalam waktu singkat.


" Jangan lewat sini, ini jalan satu arah. Terus aja kedepan baru muter!"


" Kelamaan!" Sergah Melodi yang malah tancap gas sebab tak suka lurus pada aturan.


" Loh, hey!" Seru Dian yang panik sebab Melodi justru melawan arah.


PRIT!!!


Dian seperti spot jantung manakala peluit dari Polantas nampak berdentang. Menandakan jika mereka telah melakukannya pelanggaran.


" Astaga mbak, kita dikejar polisi tuh. Ah elah Gak bisa dikasih tau sih!" Ucap Dian memeluk ranselnya dengan wajah penuh keresahan.


Namun, bukannya menjawab, Melodi nampak memasukkan perseneling, memastikan rear vission mirror di depannya, lalu tancap gas untuk kabur sebab meski ia memiliki SIM, namun ia lupa membawa surat-surat kendaraan yang masih ada di dompet papanya.


Dian yang sebegitu ketakutan itu hanya bisa memejamkan matanya, kala merasakan jika mobil yang kini membelah jalanan ramai itu, melesat dengan begitu kencangnya.


" Ya Allah aku belum mau mati ya Allah, aku masih ingin hidup, aku ingin joni bisa merasakan..."


" Bisa diem nggak sih lu, bantuin cari jalan alternatif kek, jangan berdoa sekarang, Tuhan tidak bersama orang-orang pembangkang!" Ucap Melodi dengan alis berkerut.


Membuat Dian seketika mendengus sebab.


WIUW WIUW WIUW!


Melodi nampak semakin gencar menginjak pedal gas, demi menghindari kejaran polisi yang ia rasa akan membuatnya malas. Lagipula, ia benar-benar tak memiliki waktu untuk meladeni penegak hukum itu.


Melodi terus dan terus melakukan mobilnya dan tak mempedulikan Dian yang kini merasa mual. Wanita di sampingnya itu lebih mirip supir logistik cabe, yang sering ugal-ugalan di jalanan demi memburu waktu.


TIN TIN


Sahutan bunyi klakson bahkan semakin sering terdengar di telinga Dian yang kini nampak rajin berdoa dalam hati.


" Woy! Gila tu orang!" Maki salah seorang pedagang bakso yang nyaris tertabrak saat Melodi melintas dengan kecepatan tinggi.


" Mbak, tolong berhenti aja mbak biar saya yang bicara deh!" Tutur Dian yang benar-benar ketakutan dengan aksi kebut-kebutan yang dilakukan oleh Melodi.


Benar-benar keadaan yang sangat dilematis.


" Berhenti? Udah gila lu?" Tatap Melodi tajam dengan wajah yang teramat tegang. Membuat Dian semakin ciut nyali.


TIN TIN


BROK!


" Anjing nih orang! Woy! Brengsek lu ya!"


Lagi, maki kang sampah yang tengah mengambil sampah di tepi jalan yang tiba-tiba gerobaknya terserempet oleh Melodi. Membuat Melodi meringis penuh rasa tak enak hati.


" Sory Pak! Urgent nih!" Gumamnya dengan wajah tersenyum sebab begitu menikmati asli kebut-kebutannya.


" Mbak, kita bisa masuk penjara kalau sampai nabrak orang mbak. Mbak, mending kita turun deh!"


" Enak aja lu, ogah!"


Dan, tepat saat ia tiba di jalan tembusan, saat Melodi merasa jika ia dan Dian sudah bebas, tidak menyangka jika sebuah mobil polisi lain datang menghadang.


Membuat Melodi seketika mendelik.


" Brengsek!"


.


.


Tangan yang bersedekap dengan posisi berdiri jauh itu, membuat seorang petugas yang kini mati-matian di rayu oleh Dian nampak memandang sinis.


Wanita kurang ajar dan sombong.


" Tolong deh Mas, pacar saya memang sedang marah tadi. Kali ini tolong deh! Gak usah di proses!" Rengek Dian terhadap pria manis yang rambutnya rapih itu.


Melodi langsung mendelik demi mendengar Dian yang membual soal hubungan mereka kepada polisi yang rupanya merupakan saudaranya Dian itu.


What the hell?


Adik dari Claire itu semakin mendecak kesal demi melihat Dian yang nampak mengedipkan matanya sebagai tanda dirinya untuk bekerjasama.


Yeah!


" Suruh dia minta maaf kalau begitu!"


" Tapi, tunggu dulu...yakin itu cewek kamu Yan?" Tanya polisi yang nampak sebal dengan sikap sombong Melodi. Menatap Dian yang kini nampak syok.


" I-iya mas. Sebentar ya mas, saya gak bilang ke dia dulu!"


" Mbak, tolong sampean minta maaf sama Pak polisi itu biar kita bisa cepat pergi, nanti keburu mulai acaranya!" Bisik Dian kepada Melodi agar polisi itu tak mengetahuinya jika ia merupakan penipu kelas kakap.


" Ya tapi nggak pakai cara bawa-bawa aku jadi pacarmu juga kali!" Ucap Melodi sebal demi mengingat pengakuan penuh kepalsuan itu.


" Aduh maaf deh soal itu, saya nggak ada cara lain, kalau nggak bilang gitu, dengan cara apa saya membela sampean. Saya minta maaf deh kali ini, tapi kit...."


" Masih lama nggak Yan, kalau lama mending kita proses di kantor aja!" Ucap saudara sepupu Dian seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Ya walau sebenarnya ini tidak di benarkan dan terkesan tidak profesional, namun polisi itu memiliki kebijakan lain terhadap Dian.


" I- iya iya mas, ini udah. CK, buruan!" Ucap Dian resah sembari menarik lengan Melodi dan sukses membuat wanita itu tercenung demi merasakan sentuhan Dian yang membuatnya merasakan getaran aneh.


" Pssst, minta maaf buruan!" Bisik Dian ke telinga Melodi dan membuat gadis tomboy itu seketika merinding.


" Apaan sih!" Sergah Melodi demi rasa aneh yang tiba-tiba menderanya.


" Buruan minya maaf!" Ucap Dian dengan gerakan mulut komat-kamit.


" CK!" Membuat Melodi mendecak sebal.


Dan sejurus kemudian.


" Maaf!" Ucap Melodi enggan menatap polisi muda itu.


" CK, yang benar!" Jawil Dian kepada lengan Melodi dan membuat gadis itu semakin sebal.


" Saya minta maaf Pak karena melawan arus. Saya bukan orang sini jadi belum hafal jalan, kedepannya saya akan lebih waspada lagi!" Ucap Melodi penuh kepalsuan.


Membuat polisi itu tersenyum penuh arti.


Kini, polisi itu dan Dian nampak saling melempar senyum manakala menatap Melodi yang langsung membuang muka dengan wajah tak ikhlas.


Akhirnya bersuara juga.


" Kalian berdua cocok kok. Satu galak, satu lembut. Tapi..."


" Tapi apa mas?"


" Tapi sepertinya, kalian ini salah letak!" Jawab polisi itu seraya terkekeh-kekeh.


Membuat Melodi seketika geram manakala melihat polisi muda itu kini terkikik geli.


Damned!


.


.


.