My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 156. Situasi crowdit



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Hari ini ia libur jadwal terapi untuk pertama kalinya, lantaran dokter yang menanganinya tengah memiliki jadwal operasi.


Meski begitu, Eva tetap telaten membantu Demas untuk latihan perlahan di dalam kamarnya. Ya, mereka kini menempati kamar di lantai dasar guna memudahkan mobilitas Demas.


Raja yang hari ini tak mengantarkan majikannya, memilih beralasan pergi untuk urusan yang Eva dan Demas tak mau ikut campur.


Bagi Demas, memudahkan urusan orang lain pasti akan membawa dampak untuk urusan mereka juga. Sebab, mereka percaya akan hukum tabur tuai.


" Halooooo!!!" Teriak Claire yang hari itu datang bersama Melody ke kediaman kakak iparnya. Sengaja datang lagi sebab ingin berlama-lama disana.


" Ya ampun, kalian ini...kapan datang? " Ucap Demas yang terkejut dengan teriakan adik sepupunya yang usianya lebih tua darinya itu.


Membuat Eva tersenyum senang.


" Kakak ipar apa kabar? Ya ampun maaf baru bisa ketemu ya?" Ucap Claire seraya memeluk lalu medium pipi Eva. Nampak begitu, karib, dekat juga akrab.


" Kami baik. Mas Demas juga sudah sedikit ada kemajuan!" Balas Eva mengusap punggung Claire.


" Aku turut bahagia atas pernikahan kalian!" Timpal Claire menepuk pundak Eva dengan wajah penuh kesungguhan.


" Eva, sarapannya sud....."


" Loh, ini bukannya?" Ibu Eva terkejut dengan wajah senang manakala melihat Melody dan Claire yang hari itu berkunjung kerumah Demas.


Membuat ucapannya menguap ke udara.


" Halo Tante, apa kabar? Saya Claire!" Ucap anak sulung Leo sembari meraih tangan ibu Eva lalu menciumnya takzim.


" Astaga, saya ingat tapi lupa namanya. Maklum, orang tua! Tante sehat, nak Claire sehat kan?"


" Badan dia sih sehat-sehat aja Tante. Yang gak sehat sih otaknya kadang-kadang!" Sergah Melodi tanpa tedeng aling-aling.


Membuat semua terkekeh demi mendengar Melodi yang ceplas-ceplos.


" Kebetulan, Ibuk sama Buk Sulis sudah masak , ayo kita sarapan bersama, nanti kita ngobrol lagi!"


" Wah masak apa Tante?" Sahut Melody yang langsung menyambar kala mendengar kata makanan.


Dasar!


" Masa banyak, macem-macem, ayo-ayo kita makan dulu. Va, ayo Demas biar makan dulu!" Ucap Ibu menggiring para manusia itu laksana bocah.


.


.


Deo


Ia tengah menekuni beberapa laporan yang di berikan oleh Erik. Tentang laju inflasi beberapa barang penunjang operasional di sektor Aviasi yang cukup menarik atensinya.


" Kenapa bisa begini Rik?" Tanya Deo demi mengkonfirmasi apa yang ia lihat itu.


" Perang di negara itu infonya Pak! Biasa, distribusi kurang lancar!" Jawab Erik yang sepertinya sudah paham jika Deo akan mempertanyakan hal tersebut.


" Ya sudahlah!" Balas Deo menutup lembaran lalu menandatangi berkas itu.


" Aman lah Pak, biar harga-harga naik, yang penting cost kita ke Airlines juga naik Pak!" Ucap Erik menaikturunkan kedua alisnya. Menegaskan kepada Deo untuk tak perlu khawatir soal pemasukan.


" Soal Zakaria?" Tanya Deo sembari menutup file yang tuntas ia bubuhi tanda tangan.


" Nah, itu yang mau saya bahas Pak!"


" Jadi, dia sekarang sudah bebas dan enggak tau kemana rimbanya!" Timpal Erik dengan wajah serius.


" Apa? Kok bisa?"


" Sempat ada kabar hoax, yang menduga jika kita mencabut laporan karena sesama rekan kerja di Airlines! Tapi, ya gitu lah. Wartawan di jaman sekarang itu suka cari untung sendiri. Ya...walau enggak semua sih!"


Membuat Deo tertegun. Padahal, Zakaria merupakan orang yang harusnya mendapatkan hukuman berat itu. Kalau begini ceritanya, keluarganya yang bakal kena sasaran.


" Kamu udah baca tadi pagi?" Tanya Deo kembali dengan wajah serius.


" Udah pak!" Sahut Erik santai.


" Gimana menurut kamu?"


" Ya kalau aku sih setuju. Secara, model begitu memang harus ganti! Biar lebih bervariasi gerakannya!"


Membuat Deo mengerutkan keningnya. Gerakan apa?


" Memangnya apaan yang kamu baca?"


" Majalah playboy edisi terbaru kan Pak?" Jawab Erik dengan wajah menegaskan.


" Mukamu itu Rik! Koran berita soal kasus Anthoni, malah majalah playboy! Elu tu ya teori kawin mulu, praktek langka!" Seru Deo dengan wajah mendengus kesal demi otak cabul Erik.


" Iya iya yang biji toge sama kecambahnya udah tumbuh. Sombong amat!"


Detik itu juga, Deo menjambak bibir Erik.


Rasain lu!


.


.


" Kata dokter mas Demas harus rutin konsumsi obat sama latihan gerak pelan-pelan. Kalau sudah siap, nanti bisa operasi katanya. Tapi mas Demas ngelarang aku cerita ini ke Mama Jessika Claire!"


Ya, dua wanita itu nampak berbicara di sofa, dengan posisi menatap Melody yang membantu Demas untuk latihan perlahan.


Terasa begitu nyaman sebab Eva memang butuh tempat untuk bercerita.


" Aku bangga sama kamu Va. Mau terima keadaan kakaku meski begitu!"


Membuat Eva tercenung. Ia yang harusnya bersyukur. Sebab pria itu mau menerimanya menjadi seorang istri walau Demas tahu ia hanyalah anak dari istri simpanan.


" Buat aku, dicintai itu bisa jadi sumber kekuatan buat menjalani hidup Claire. Karena, selama ini dua laki-laki dalam hidupku pernah menyakiti aku!"


Claire nampak menatap lurus wajah lelah Eva yang mungkin saja terjadi lantaran sibuk mengurus Demas.


Ya begitulah hidup. Semakin kita bersabar, maka ujian yang datang akan semakin bervariasi.


" Oh ya, kamu setiap hari bawa mobil sendiri buat antar kak Demas?" Tanya Claire dengan wajah antusias. Nampak membaur dengan begitu cepat.


" Aku ada supir. Tapi lagi pergi! Mas Demas suka cemburu sama dia!"


" Cemburu? Emang kenapa?" Alis itu nampak berkerut demi rasa penasaran.


" Ya kayak tiap aku di bantuin supirku, tiba-tiba mas Demas gak suka, terus pernah kemarin dia bantu aku ngambil sesuatu di atas, mas Demas juga langsung diemin aku!"


" Dia muda?" Tebak Claire mencoba menarik benang merah.


" Lebih tua dia beberapa tahun dari aku sama mas Demas sih!"


" Kenapa gak cari yang lain?"


" Mas Demas gak enak sama Fadli. Itu rekom dari saudaranya Fadli!"


Claire mengangguk paham. Mungkin Demas saja yang terlalu insecure. Ia juga memaklumi, jika kakak iparnya itu merupakan orang yang mudah down.


Di tatapnya kakak iparnya yang kini nampak tertatih-tatih manakala berjalan. Mendadak merasa terenyuh, demi sebuah kondisi yang benar-benar membuatnya sedih.


" Sembuhkan dia Tuhan!"


.


.


Claire


Ia nampak senyam-senyum menakala berbalas pesan dengan Sadawira. Pria itu memperlihatkan sebuah makanan kepada dirinya sore itu melalui kiriman gambar sebuah pesan singkat.


... Dimana itu? Mau dong?...


Balasnya dengan wajah senang. Menekuni ponsel, yang sukses membuat Jessika dan David saling menatap.


" Claire udah punya pacar kayaknya Pakde. Dari kemaren, udah kayak orang gila dia. Cengengas- cengenges!" Cibir Melody yang datang dengan sebuah snack bermicin melimpah.


" Benar itu Claire?" Ucap Jessika memastikan.


" Apaaan sih? Mel, suka sembarangan deh ah. Temen bude. Lagian, orang tajir mana mungkin mau sama Claire!" Elak Claire yang wajahnya mendadak merah.


Membuat Melodi tersenyum licik lalu seketika menyambar ponsel kakaknya.


SET!


" Mel!" Pekik Claire kala ponselnya telah berhasil berpindah ke tangan adiknya dengan begitu cepat.


" Oke, nanti malam kita makan ini, kalau kamu mau kita bisa ketemu di jalan xxx!"


Ucap Melody membaca pesan dan langsung memproklamirkan pesan itu kepada David juga Jessika. Membuat Opa Edy yang baru datang itu seketika menggelengkan kepalanya.


" Ih Mel siniin, awas kamu ya!" Seru Claire yang kesulitan merebut ponselnya seban Melody lebih tinggi darinya.


" Pakde, bilang sama Papa sama Mama, mereka udah mau punya mantu! Suruh siap-siap. Kemarin, Claire juga bilang kalau iri sama Arimbi yang lagi hamil!" Ucap Melody berteriak keras sembari terus menaikkan ponsel Claire yang nampak di rebut oleh pemiliknya itu, dengan wajah penuh kemenangan.


Membuat Claire seketika mendelik, lalu David dan Jessika tergelak bersama.


Melodi!!!!!!


.


.


.


.