My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 24. Arti sebuah pertemanan



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Arimbi


Hari yang terus berjalan cukup bisa di katakan aman dan terkendali. Ia juga sering membagi keseruannya dalam menjalani masa training kepada adiknya. Bahkan, Arimbi juga membagi keseruan para teman-temannya, kepada Ibu.


Membuat keluarganya makin bersyukur. Arimbi tak mu membagikan hal-hal meresahkan saat ia berseteru dengan Deo. Ia hanya tak mau ibunya cemas dan banyak pikiran.


Soal Resita yang baik sedari awal pertemuan, Dian yang ngondek tapi cakap dalam berkomunikasi saat bekerja, Yohan yang pandai melayani, serta Eva yang berani dan selalu adu mulut bersama Dian, semua itu bablas ia bagikan.


Semua terasa berjalan lancar. Bahkan, ia juga sudah agak jarang bertemu dengan Deo, si bos kampret mesum selama sepekan terakhir.


Arimbi hanya melihat pria itu saat ia pulang untuk absen di kantor GH, atau kadang pria itu yang berada di terminal saat menemui beberapa petinggi negara yang landing di bandara itu, untuk melakukan kunjungan kerja di wilayah kota itu.


Pria itu memang terlihat paling bersinar. Sebab selain muda, Deo juga sangat tampan.


Selama satu Minggu ini, ia juga sudah makin mengerti alur pelayanan di bandara itu seperti apa, ia juga sedikit banyak sudah mengenal orang-orang di dalamnya dari beberapa stakeholder terkait.


" Lho enggak libur mbak? Ini kan Minggu. Katanya anak baru dapat jatah libur Minggu?" Farel yang pagi ini membawa sepiring ketan singkong hangat ke depan televisi yang menayangkan acara musik itu, merasa heran saat melihat Arimbi yang telah mengenakan setelan hitam putih.


" Emang libur. Tapi kita disuruh ambil seragam dulu ke kantor. Di kantor yang diluar, enggak yang di bandara!"


Farel mengangguk. " Diantar enggak?"


" Enggak usah. Mbak mau potong rambut sekalian Rel. Ribet banget kalau musti nyanggul tiap hari. Kepalaku mulai sakit!"


Performance atau penampilan. Hal itu merupakan sebuah hal mandatori atau wajib di lakukan oleh insan yang berkecimpung di dunia pelayanan, utamanya front liner.


Arimbi yang kesehariannya menunggangi motor jika bekerja, merasa kerepotan jika musti menyanggul rambut di rumahnya. Dan jika menyanggul di bandara, ia yang tidak memiliki banyak waktu.


Grup kece badai.


Dian : " Udah pada berangkat belum Njir? Gua nyengir di kantor sendiri nih, mana enggak ada siapa-siapa 😀"


Arimbi terkikik-kikik saat hendak membalas chat dari Dian itu.


Arimbi: " Udah tenang aja, sepuluh menit lagi nyampek!"


Eva :" Lah, emang di kantor mana sih? Di dalam apa di luar? Aku udah di kantornya pak Deo sejak tadi njirrr πŸ€”"


Dian terlihat kembali mengetik sebuah pesan. Sepertinya Eva salah masuk tempat. Membuat Arimbi makin tergelak.


Dian : " Eh sundel, elu enggak baca pesan dari pak Erik apa ya, yang di luar oon. Lagian enakan diluar kali, kalau di dalam misal telat nyabut, bisa jadi 🀣🀣🀣"


Arimbi yang tekrikik-kikik sendiri bahkan kini mengundang perhatian Farel yang asik memamahbiak ketan itu.


Eva : " Cok πŸ–•"


Arimbi terus terkikik-kikik, bisa-bisanya Dian selalu seperti itu. Itulah sebabnya mengapa Arimbi kini begitu kerasan dengan teman-teman barunya. Semuanya asik menurutnya.


Resita : " Nitip sarapan enggak, aku lagi di stand Sego bungkus nih!"


Yohan : " Boleh. Aku tiga ya, kalau satu enggak kenyang!"


Eva : " @Yohan, anda ini membagongkan sekali yaπŸ˜’. Orang sarapan itu dikit, ini malah kek kuli. Udah Res bungkusin buat kita-kita, ada pak Deo yang bakal manggil kita lagi nanti. Kita juga butuh kekuatan untuk menghadapi pria-pria tampan 🀣🀣"


Dian : " @Eva, Sundul gatel!"


Begitulah riangnya kehidupan Arimbi saat ini. Menyenangkan. Para teman barunya itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Setibanya di kantor GH, Arimbi melihat dua temannya Eva dan Dian yang menjadi generasi menunduk seraya mengerutkan kening saat menatap ponsel mereka masing-masing.


" Serius amat!" Ucapnya kali ini seraya meletakkan helmnya. Ia membiarkan rambutnya tergerai.


Eva mendongak. " Kapan datangnya, kok enggak lihat?"


" Terlalu fokus ke hape sih. Memangnya ada apa?" Tanya Arimbi yang kini melempar bokongnya ke kursi yang ada di depan kantor itu.


" Kamu belum baca di group?" Tanya Dian dengan wajah muram kala menatap Arimbi.


Ia menggeleng. Sebab ia memang enggak tahu. " Ada apa emangnya?"


" Elu di debatkan sama senior galak itu. Dia bilang kalau elu masih baru kenapa harus handle flight inter. Sok-sokan banget tuh si Kenanga!" Dian malah lebih kesal dari pada yang bersangkutan.


Arimbi menanggapi santai dan kini membuka ponselnya yang sudah waktunya ganti sebenarnya.


" Kalau kataku nih ya, orang kayak gitu elu lawan aja Ar. Ngeselin tuh cangkemnya si Kenanga emang. Udah sok prosedural, tapi kalau ada bule selalu di lempar ke mbak Hera!"


Dan benar, group Ground Handling itu kini mendebatkan keputusan Daniel yang memilih Arimbi untuk menghandle penerbangan internasional.


" Tuh, lihat! Makin menjadi kan omongannya?" Dian kini geram saat ia memanatu pergerakan group yang saat ini makin memanas.


" Biarin aja guys!" Ucap Arimbi santai. Ia kini lebih memilih menyisir rambutnya yang sedikit berantakan karena terpaan angin.


" Hah?" Eva dan Dian sempat saling lirik usai mengucapkan kata yang sama. Kenapa Arimbi malah acuh.


" Ya biarin. Aku enggak peduli bayanganku jadi bengkok apa enggak di hadapan orang saat aku berjalan lurus. Yang penting aku enggak melenceng dari trackku. Klarifikasi kan hanya untuk hal yang bersifat salah!"


Dian dan Eva mengangguk setuju. Benar juga apa yang di katakan Arimbi.


.


.


Deo


Ia memijat keningnya saat ini. Dan hal yang membuatnya cukup pening ialah, beberapa orang kenalannya mengatakan jika Roro tidak terbang ke Kalimandaru namun menuju kota lain. Sayangnya, dari pembeberan itu, mereka tidak melampirkan foto. Membuat Deo gamang.


Mustahil jika Roro bermain api di belakangnya. Ia dan Roro sudah sangat lama sekali menjalani hubungan ini. Tapi kenapa wanita itu tak memberitahu dirinya soal ini.


TOK TOK TOK


Ketukan dari luar membuyarkan lamunannya.


" Masuk!" Sahutnya dari dalam dengan wajah tak bergairah.


CEKLEK


Rupanya Erik. Pria dengan rambut selalu rapih itu kini terlihat menyembul dari balik pintu baja bercat monokrom itu.


" Semua sudah hadir Pak. Mau di bawah apa diatas?"


" Apanya?" Tanya Deo kini menatap tajam Erik.


" Briefing nya lah pak. Memangnya apanya?" Tanya Erik yang kini lekas mendengus.


" Please deh pak, ini masih pagi loh!" Batin Erik demi melihat raut Deo yang keruh.


" Oh iya kita bagiin seragam ya. Di bawah aja lah. Saya turun setelah ini!" Ucap Deo yang kini membuka laptopnya.


Erik memutar bola matanya malas. Pasti otak Deo tengah tidak waras. Bagiamana pertanyaan reguler seperti itu masih saja tidak jelas untuknya.


...----------------...


Kelima passasi baru itu kini duduk berjajar di hadapan Erik dan juga Deo seperti seorang pesakitan. Deo bisa saja tidak menemani kegiatan ini, namun ia ingin selalu menanamkan kepada anak buahnya soal kaidah pekerjaan. Ia merupakan sosok yang responsible.


" Seragam itu merupakan identitas. Jika kalian mengenakan seragam Andanu Air, maka tolong bersikaplah sesuai dengan standard pelayanan mereka. Kalau kalian dijadwalkan mengenakan seragam Jatayu Air, maka kalian juga harus mengikuti standar mereka. Pastikan kalian selalu tampil menarik, jaga performa kalian, berat badan, rambut, make up!"


Erik berbicara panjang lebar saat Deo dan Arimbi kini saling melempar tatapan. Arimbi sejurus kemudian membuang pandangannya ke arah lain saat ia merasa Deo begitu mengintimidasi dirinya.


" Cih, ngapain dia lihat-lihat!" Batin Deo.


" Kalau ada ground handling lain yang bagus, sumpah aku mending ngelamar disana!"


" Dan untuk Arimbi, selamat karena kamu terpilih di flight internasional ya. Buat yang lain, kalian harus semangat, jangan merasa di bedakan, kalian tetap sama hebatnya. Terus gali diri kalian agar bisa terpilih juga nanti!"


" Ada yang di tanyakan?" Ucap Erik.


Eva mengacungkan jari. " Maaf Pak, apa kita tidak ada semacam surat kontrak kerja atau ..."


" Masa training kalian di Darmawan Angkasa adalah selama tiga bulan. Setelah ini Erik akan menjelaskan besaran gaji yang kalian terima selama masa training berlangsung!" Deo menyahut pertanyaan Eva yang belum selesai itu.


"Ar, besok kamu temuin saya di kantor dulu sebelum ke terminal ya? Saya yang dampingi kamu besok di kegiatan Inaugural flight!"


.


.


.


.


Keterangan:


Inaugural flight : Penebangan perdana. Biasanya untuk pembukaan rute baru.


.


.


.