
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Eva
" Astaga!"
Ia terkejut manakala melihat Demas terjatuh dibawah tepian ranjang, sesaat setelah membuka pintu kamar dengan wajah lelah.
" Mas!" Pekiknya kaget dengan perasaan yang benar-benar cemas demi melihat keadaan suaminya yang nampak kesakitan.
" Kenapa bis..."
" Aku bisa sendiri!" Ucapnya ketus dan membuat Eva seketu terdiam.
Mendadak tak mengerti dengan apa yang terjadi kepada suaminya. Mengapa Demas saat ini benar-benar berubah. Dimana suaminya yang lembut dan sangat pengertian itu?
" Mas biar aku..."
" Aku bisa sendiri!" Hardik Demas dengan suara yang lebih keras. Membuat Eva seketika membeku dengan tatapan tak percaya.
Ditatapnya Demas yang nampak meringis kesulitan manakala berusaha menggapai tepian ranjang. Mata wanita itu nampak berkaca-kaca dengan dada sesak demi apa yang ia rasakan saat ini.
" Kamu ini kenapa mas? Kenapa kamu tiba-tiba kayak gini ke aku? Salahku apa sih?" Ucapnya dengan suara bergetar.
Demas yang kini nampak mengatur napas sebab baru saja berhasil duduk di tepian ranjang itu, terlihat membisu dan tak berniat menjawab Eva.
" Kalau aku ada salah ngomong mas. Aku udah sabar lho mas, aku..."
" Kamu nggak salah!"
Membuat ucapan Eva terjeda.
" Aku yang salah karena jadi manusia nggak guna!"
DEG
Detik itu juga, Eva menggeleng dengan bibir bergetar sebab menahan buncahan rasa yang begitu menyesakkan.
Eva yang masih menangis itu kini menatap lekat-lekat suaminya yang nampak kehilangan harap.
Dan, kejadian itu tanpa mereka sadari, telah di dengar oleh Raja yang tersenyum dengan hati puas di balik pintu yang rupanya tiada tertutup sempurna.
" Lihat musuh kita kak. Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia, saat kamu tak mendapatkan keadilan!"
Sejurus kemudian, Raja nampak pergi menuju kamarnya. Dan tanpa Raja sadari pula, bik Sulis yang baru keluar dari ruang kerja Demas, tak sengaja melihat Raja tersenyum penuh arti ke arah kamar majikannya.
" Kenapa mas Raja berdiri disana?"
.
.
Claire
Ia menatap muram kissmark yang di ciptakan oleh Wira di depan kaca kamar mandi itu. Sedikit kebingungan sebab bagaimana caranya menyembunyikan tanda yang jelas akan menyeretnya kedalam sebuah masalah. Apalagi, tanda itu tercetak cukup banyak di sepanjang lehernya.
" Gila juga tuh si Wira. CK, ini gimana nutupinya?" Gumamnya seraya mengecek satu persatu noda merah cenderung gelap itu dengan wajah resah.
Benar-benar tak mengetahui jika akan ada noda sebanyak itu.
Namun, entah mengapa Claire yang teringat wajah tampan Wira manakala mengecupnya kala menghentak tubuhnya itu, seketika merasa merinding. Ya, Claire menyukai segala hal yang diberikan oleh pria itu.
Sebuah sentuhan lembut, yang benar-benar mengubah segalanya. Termasuk perasaan Claire.
BRAK! BRAK! BRAK!
" Woy! Boker batu lu di dalam? Lama amat di kamar mandi. Gak sekalian bawa bantal aja kesana. Buruan keluar, kandung kemih ku meronta-ronta nih!"
Damned!
Gedoran membabi buta dari Melody sukses membuat Claire kebakaran jenggot. Bagiamana ini, jangan sampai adiknya itu tahu bila ia barusaja melakukan hubungan terlarang dengan pria yang sepertinya memang telah menarik hatinya.
BRAK BRAK!
" Woy! Mati apa hidup sih lu?"
Membuat Claire mendecah kesal lalu buru-buru membetulkan rambutnya agar menutupi lehernya yang penuh dengan jejak kepemilikan.
CEKLEK!
" Bawel amat sih? Banyak kamar padahal disini!" Sungutnya dengan raut sengit.
" Pucet amat kayak orang habis kawin!"
What?
Membuat Claire meneguk ludahnya dengan susah payah.
" Bhahahahahaha, bercanda kali! Udah minggir sakit perut aku nih, Bude masak rasanya udah kayak racun!"
Claire hanya meringis keki manakala Melody menerobos masuk. Untung saja adiknya itu tidak tahu. Ia nyaris saja mati kutu manakala Melody mengatakan soal kawin tanpa tedeng aling-aling.
Sialan!
Benar-benar definisi dari berani karena benar dan takut karena salah.
.
.
Jessika
Ia agak terkejut manakala Eva datang kerumahnya di jam sepagi itu. Sejak semalam, Demas rupanya tak mengajaknya berbicara sama sekali.
Dan semua yang tejadi itu, berhasil membuat Eva resah, gundah juga merasa tak tenang.
Eva juga mengutarakan persoalan yang beberapa hari ini cukup membuatnya tak nyenyak tidur. Apalagi, sikap Demas yang dinilai terlalu over insecure itu benar-benar membuatnya serba salah.
" Sekarang gimana keadaannya?" Tanya David yang juga menemani istrinya di ruang keluarga itu.
" Mas Demas masih belum bicara sama saya Ma Pa. Tapi, barusan di tawari Ibuk makan dia mau!" Terang Eva dengan wajah muram.
David memijat keningnya dengan rasa kepala yang mendadak pusing. Sepertinya psikologi anaknya terganggu, sebab keadaan itu benar-benar membuatnya kehilangan rasa percaya diri.
" Kamu tenang saja. Mama akan ikut kamu kesana setelah ini. Kamu jangan khawatir. Teruskan belajar mengelola usaha Demas bersama Fadli. Karena sebagai istri, kamu berhak atas itu!"
Jessika tau bila Eva mungkin tak memiliki pilihan lain selain memusyawarahkan hal ini kepadamu. Bagaimanapun juga, Jessika memang harus ambil bahagian dalam urusan ini.
" Loh, kakak ipar, kapan datang?"
Ketiga orang yang tengah larut dalam pembicaraan serius itu seketika menoleh ke arah samping, dimana Claire nampak berjalan ke arah mereka.
Membuat Jessika memindai tampilan keponakannya yang lain dari hari biasanya.
" Kamu kenapa pakai baju tebal itu?" Tutur Jessika demi melihat Claire yang mengenakan sweater tebal yang menutupi lehernya.
Claire hanya meringis. " Dingin Bude!" Bohongnya yang sebenarnya menutupi kissmark hasil perbuatan Wira.
" Kamu sakit?"
Claire menggelengkan kepalanya. " Enggak, tapi mungkin aku kecapekan aja. Iya... kecapekan!" Ucap Claire meringis berusaha biasa saja dan membuatnya tiga orang itu mengangguk paham.
.
.
Fadli
Ia sempat heran kenapa Pak Demas memintanya untuk datang kerumahnya bos-nya pada jam sepagi itu.
Namun, ia kini paham duduk persoalan yang terjadi, manakala Demas mengajukan satu pertanyaan.
" Apa Eva sering pergi bersama Raja?"
Membuatnya sedikit syok.
" Tidak Pak, Eva...maksud saya Bu Eva selalu belajar dengan saya. Raja selalu standby di bawah usai mengantar Bu Eva. Dan kadang, sekali waktu Raja keluar untuk mengisi bahan bakar. Itu saja!"
Demas tertegun. Entahlah, namun jauh di dalam perasaanya, ia kini bingung. Merasa ada sesuatu yang tejadi.
" Kau tau Dli, sebagai laki-laki aku saat ini merasa kosong. Keadaanku, diriku, semuanya!" Ucap Demas dengan tatapan menerawang sebab ia semakin sulit mengendalikan emosionalnya.
Fadli menatap murung bos-nya yang nampak meluapkan isi dalam hatinya melalui kata-kata itu. Sedikit kaget juga sebab ternyata bosnya itu agaknya cemburu terhadap Raja.
" Maaf Pak. Tapi...menurut saya, semua yang dilakukan Raja itu semua dalam batas kewajaran. Saya juga yang meminta anak itu untuk menyimpan nomer Pak Demas juga Bu Eva."
"Sebenarnya, Bu Eva ini termasuk orang yang cekatan Pak. Dia dengan mudah belajar soal bisnis Bapak!"
Membuat Demas tertegun. Bagaimana ini? Semua yang tejadi benar-benar diluar kendalinya.
" Sebaiknya Pak Demas percaya kepada Bu Eva Pak!"
.
.
.