
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Demas
Ia tadi meninggalkan Eva tanpa bicara sepatah katapun sebab ia tak tahan jika berlama-lama dengan air. Ia yang memiliki track record yang kurang baik jika berkaitan dengan persoalan masuk angin itu, seketika pergi dan ingin cepat mengganti bajunya.
Mencegah lebih baik daripada mengobati, nyatanya menjadi salah satu quotes yang di terapkan oleh Demas.
Seusai ia mengganti bajunya, ia yang sudah meminta petugas hotel untuk mencarikan ponsel milik Eva menemui petugas itu dan berniat mengembalikan barang rusak itu sambil ingin bernegosiasi.
Ia awalnya memang kesal dan hanya ingin memberikan efek jera kepada wanita yang cukup menyebalkan itu, agar tak berperilaku ekstrem lagi.
Namun, sebuah suara yang sayup-sayup ia dengar manakala ia tiba muka pintu itu, membuatnya tercenung.
Sebuah fakta yang begitu mengejutkan. Wanita menyebalkan itu rupanya sangat rapuh manakala menceritakan sisi kehidupannya yang cukup membuat hatinya nyeri.
Lahir dan tumbuh dari stigma anak pria yang memiliki banyak istri, jelaslah tidak mudah. Mungkin itu yang menyebabkan sikap Eva benar-benar mirip seperti pemberontak.
Ia yang awalnya berniat mengganti ponsel wanita itu setelah ingin mengerjai Eva terlebih dahulu, seketika mengurungkan niatnya. Usai menghubungi orang kepercayaannya, ia terlihat kembali menuju kamarnya. Entah apa yang akan dilakukannya pria itu.
.
.
Deo
" Kenapa Mama ngelakuin hal itu tanpa konfirmasi ke aku Ma?"
Deo memijat keningnya yang terasa pening manakala berdebat dengan mamanya, soal Arimbi.
Ya, Deo yang berhasil menyelinap keluar manakala Arimbi membawa masuk Eva menuju kamarnya, seketika menelepon Jessika demi ingin mendengar klarifikasi soal ucapan memegahkan yang di lontarkan oleh Arimbi.
" Kondisinya beda De. Dulu kamu enggak ada percaya sama Mama kalau Roro itu enggak baik buat kamu. Mama terpaksa begitu biar Arimbi mau bantu Mama. Dan kalau sekarang kondisinya begini, ya kamu tinggal ngaku aja kalau kamu emang suka sama dia!"
Deo mendecah tak percaya dengan apa yang di utarakan oleh Mamanya itu. Sungguh sangat terencana sekali pikirnya.
"Sekarang mama nyerah De. Arimbi wanita yang baik menurut Mama. Tapi kalau keputusan Arimbi begitu. Mama enggak bisa bantu. Salah kamu sendiri!"
TUT
" Halo Ma?
" Ma?"
" CK!"
Deo melempar ponselnya dengan keresahan yang kian mendera manakala Mamanya memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Menurut laporan Erik, kelompok Bramasta bahkan sudah merong- rong ke orang Andanu Air dengan menawarkan proposal harga Handling yang jauh di bawah mereka.
Deo merasa, musuhnya itu sengaja bermanuver demi menggulingkan perusahaannya. Dan ia tak mau mempublish Arimbi, sebab ia tahu jika pria bernama Bramasta itu hobi bermain kotor.
" Bagaimana agar kamu mau tahu Ar!"
...----------------...
Semua team terlihat berkumpul di depan lobi hotel pagi itu. Menunggu jemputan yang akan mengangkut mereka ke bandara bersama-sama.
Arimbi yang lebih bisa menguasai diri kini terlihat lebih santai. Sikapnya bahkan cenderung enjoy pagi itu. Apalagi, ia dan Eva kini telah berjanji untuk saling berbagi. Meski dalam hatinya, ia masih ragu untuk menceritakan rahasia besar yang menyangkut skandal dengan sang Direktur.
" Va, tumben mata kamu enggak pakai eyeliner? Gak cetar ah!" Ucap Novi yang juga berada disana. Perempuan itu tak sengaja memperhatikan Eva manakala memburu rasa bosan akibat menunggu.
" Iya nih, lipsticknya juga kurang on!" Ucap Andre!" Yang turut melihat ke arah Eva. Membuat Arimbi dan juga Daniel turut menoleh ke objek yang sama.
" Kak Vino nih ah. Bikin resah aja!" Sahut Eva yang manyun. Langsung mengaduk isi tas untuk mengambil kaca.
" Kok kak Vino?" Tanya Arimbi yang menyisir rambutnya mengganggu jari.
" Andre Vino Sebastian! Terus salahnya dimana?" Jawab Eva yang kini mulai memoleskan lipstik warna merah bata favoritnya.
Ketiga manusia lainnya itu terkekeh-kekeh saat mendengar Eva yang menyebutkan nama lengkap Andre.
Arimbi hanya menyebikkan bibirnya. Rupanya Eva sudah kembali ke mode seperti biasa. Baguslah, kalau Eva bisa profesional, dia pun harus bisa.
TIN TIN
Kesemua karyawan yang dibawa oleh Deo ke bumi khatulistiwa itu menoleh manakala sedan hitam yang licin itu kini berhenti di hadapan mereka.
"Kalian langsung drop ke terminal ya. Naik mobil belakang sama Setyo. Dan saya duluan, saya mau nemuin kepala bandaranya dulu! Nanti kamu langsung bawa mereka menemui Puca buat ambil Pas!" Ujar Deo yang duduk di jok belakang bersama Demas.
" Siap Pak!" Jawab Daniel mengangguk.
Dari kaca mobil yang sengaja di buka itu, Eva bisa melihat Demas yang cuek dengan kacamata hitam yang nangkring diatas hidung bangirnya.
" Kok bisa orang itu seperti gak punya tanggungan dosa. Sialan bener!" Batin Eva menatap geram Demas.
" Udah jangan ngumpat terus sun. Entar dia ngamuk lagi!" Ucap Arimbi menyenggolnya lengan Eva manakala ia tahu bila temannya itu pasti membatin Demas.
" Bener- bener dukun lu Ar!"
" Apa mereka membicarakan kita Dem?"
.
.
" Jadi begitu. Kalau bisa pakai yang lip cream aja biar enggak cemong kemana-mana lipstiknya. Seragam kalian kan biru nih, eyeshadow nya boleh pakai blue ocean kayak gini, cocok kok. Kalau mau pakai bulu mata palsu yang natural aja, jangan bekas punya adikmu yang habis ikut karnapal yang kamu pakai. Kayak aming nanti jadinya!"
Arimbi yang menemani Eva membriefing anak-anak baru itu tak bisa menahan tawanya. Pun dengan semua peserta demo make up itu.
" Bener. Aku juga saranin, kalian yang enggak pinter-pinter amat saat sanggul rambut, mending potong pendek kayak punyaku, karena pak Deo sama sekali gak suka kalau kita kena tegur orang Andara!"
Kelima belas wanita anak buah Darmawan Angkasa Ground Handling itu nampak manggut-manggut kala diberikan pengarahan. Sepertinya sugestinya benar.
" Kami ini juga baru kayak kalian, kalau secara ilmu sistem nnati sama kak Novi ya. Kami beda-beda kebisaannya soalnya!" Tutur Arimbi kembali.
Bandara di kota itu masihlah bandara yang belum berstatus internasional, namun sudah melayani rute-rute kota besar dan kota terdekat.
Namun, Deo yang memang pandai melihat peluang bisnis itu, selalunya ingin berjuang dari bawah. Sebab di kota itu, potensi wisata yang besar akan sangat memungkinkan bagi Airlines - Airlines bonafit untuk membuka rute.
Sebenarnya, sudah ada beberapa Ground Handling lokal yang tengah melakukan pelayanan beberapa maskapai seperti Eagle Air, TransBorneo dan lain-lain.
Namun, sebuah keberuntungan DA GH, manakala mendapatkan kesempatan emas karena profil perusahaan yang memang telah terkenal ke telinga para pengembang Aviasi.
" Udah pada selesai?" Daniel yang tiba-tiba datang langsung mendapat tatapan penuh perhatian, dari kalangan anak-anak muda yang belingsatan demi melihat ketampanan laki-laki itu.
Luar biasa!
" Udah, ada apa Niel? Tanya Novi yang duduk bersidekap manakala memperhatikan rekan-rekannya melakukan demo.
"Cuma mau nyampein pesan Pak Deo. Va, kamu di panggil Pak Deo ke flop!"
" Aku? Kenapa?" Tunjuk Eva pada dirinya sendiri.
Daniel hanya mengendikkan bahunya. Sejurus kemudian pria itu mendekati Arimbi dan menyapanya seraya tersenyum.
Membuat kasak-kusuk yang berasal dari bibir putra daerah Tenggarang itu terdengar.
" Padahal baru ngefans. Kayaknya pacarnya mbak yang rambutnya pendek itu deh."
Eva bahkan sempat syok manakala mendengar para juniornya yang saat ini tekun menggosipkan Daniel itu.
" Woy Va, buruan!"
Arimbi yang menghardik Eva manakala wanita itu malah bengong, sukses membuat yang bersangkutan berjingkat kaget.
" Emang gak ada akhlak lu Ar! Elu gak ada dengar berita kalau ada orang dipenjara gara-gara bikin temannya mati karena jantungan?"
Arimbi dan yang lainnya seketika tergelak demi melihat Eva yang telah melebarkan cuping hidungnya.
.
.
Di Flop
" Apa? Mana bisa gitu Pak? Saya kemari kan buat ngajarin anak-anak dandan. Kenapa terus jadi Brand ambassador make up?" Tanya Eva menyergah dengan wajah yang jelas-jelas mengisyaratkan jika ia menolak titah Deo.
Eva lebih kesal lagi, manakala melihat Demas yang duduk bersidekap bagai tanpa dosa, manakala menghujani dirinya dengan tatapan datar.
" Pasti si kampret itu biangnya!"
" Ini bukan penawaran. Tapi ini perintah. Sudah di jelaskan di perjanjian pra kontrak, bahwa setiap pegawai musti mematuhi, serta mengikuti segala perintah pimpinan, termasuk diikutsertakan dalam kontribusi memajukan korporasi perusahaan!"
Eva mendecak tak percaya. Deo benar-benar pria cerdas seperti yang di dengarnya selama ini.
" Dan itu artinya, saat perusahaan adik saya membutuhkan tenaga kerja yang masih bisa di cover oleh anak buah saya, maka yang di tunjuk juga harus mau!"
Eva terlihat memikirkan sesuatu. Lebih tepatnya mencari ide untuk menolak. Agak ragu dan sudah jelas menyiratkan ketidakmauannya untuk mengabulkan titah Deo.
" Say..."
" Aku tunggu di mobil. Kau pikir kau siapa membuatku menunggu mu. Kak Deo, jika tidak mau, cut saja dia!"
BRAK
Eva terbengong-bengong saat Demas berbicara sambil berdiri dan keluar dari ruangan yang hanya di huni oleh mereka bertiga itu.
Sialan!
.
.
.
.
.
Vote e ojek tah rek? Yo lek ijek Mommy di bagi tah lah😁🤭