
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Waktu berjalan lambat bagi si penunggu. Dan akan terasa wajar bagi orang yang biasa saja. Seperti hari ini, waktu yang bagi Deo sangat lama itu akhirnya tiba juga.
Meraka akan menikah secara resmi hari ini. Menjadi penegas bila ia sangat serius dalam membenahi mahligai yang masih compang-camping.
Terlebih, semua pihak juga sudah mengetahui kabar gembira tersebut. Tak kurang dari seribu undangan telah disebar guna menselebrasikan acara penting itu.
Pagi ini, dalam acara ijab kabul itu, ia nampak mengenakan beskap putih gading, yang senada dengan kebaya yang tengah di kenakan oleh Arimbi.
Duduk menghadap seorang petugas catatan sipil, yang akan menikahkan mereka sesuai dengan ketentuan negara, dengan posisi yang di kerubungi oleh ratusan undangan.
Kenapa ratusan? Sebab ada beberapa yang berhalangan hadir.
Semua undangan yang telah datang, nampak memenuhi aula ballroom tersebut. Mulai dari keluarga, sahabat, handai taulan, rekan sejawat, anak buah, relasi, hingga kolega bisnis keluarganya.
Dalam ketegangan yang melanda. Ia sempat mencuri pandang ke arah istrinya yang benar-benar cantik. Merasa debaran yang menggila itu kian menyiksanya.
Hah, jika flashback sedikit kebelakang, rasanya baik Deo juga Arimbi tiada percaya akan apa yang mereka alami saat ini.
Laksana pepatah ; Asam di gunung, garam di laut, bertemunya di belanga.Tuhan tak kurang cara dalam mempertemukan jodoh yang memang seharusnya.
Lagi dan lagi, jangan terlalu membenci sesuatu, karena bisa saja, kau justru akan terseret arus cinta yang membuatmu menjadi manusia budak cinta.
" Kamu cantik banget Ar. Duh, gak sabar pingin..."
" Fokus!" Sahut Arimbi dengan mulut tak terbuka, sembari mencubit paha keras suaminya.
Membuat para pejantan lain yang ada di belakang mereka seketika menggeleng malas.
Bisa gak sih sabar?
Begitu isi hati para Grromsmen yang terlihat tampan dengan jas yang mereka kenakan.
Walau tak terucap, Arimbi sebenarnya juga merasa suaminya benar-benar gagah dengan beskap, serta blangkon yang menutupi kepada suaminya itu.
Deo memang tampan.
Adalah Paklik Janaka, pria yang sempat menjadi wali kala pernikahan siri tempo hari itu, kini juga nampak hadir dengan tugas yang sama, namun dengan suasana yang lebih berbeda.
Ya, semenjak hari itu, perseteruan antara keluarga Arimbi dengan pihak sangat Bapak telah memuai. Singkat kata, pernikahan ini benar-benar membawa keberkahan bagi semua orang.
Farel bersama Ibunya juga terlihat mengenakan pakaian yang tak kalah baiknya. Datang bersama ibu dan bapak Wiwit, yang turut menjadi penyaksi disana.
Keluarga Deo juga semuanya telah hadir tanpa terkecuali. Pun dengan Melodi yang ogah-ogahan ribet, dan memilih mengenakan pakaian yang dia mau. Dan tentu saja, bergandengan dengan Opa Edy.
Sebuah ballroom hotel ternama telah di pesan jauh-jauh hari, berikut beberapa kamar untuk menjamu para tamu di undang kesana.
" Mbak Wiwit cantik banget kalau dandan begini. Ya ampun, aku pangling loh!" Seru Eva yang takjub akan penampilan Wiwit. Wanita yang jarang bersolek itu, kini menjelma menjadi wanita ayu yang membuatnya Erik tiada henti menatap.
Daniel yang berdiri bersama para pria, justru kembali dibuat menelan ludah, demi melihat bahu putih Resita yang terbuka. Entahlah, semua pria pasti memiliki sisi serigalanya.
Pria berpeci hitam itu nampak mengecek satu persatu dokumen serta kelengkapan administrasi yang berada diatas meja putih itu. Membuat Deo nampak gugup.
Para Bridesmaids dan Grromsmen juga telah melakukan tugasnya dengan baik. Persiapan yang nampak matang itu, ialah bukti konkret dari kerja keras mereka.
Jika bridesmaid membantu calon pengantin wanita, maka groomsmen adalah pengiring pengantin pria. Biasanya calon mempelai pria akan memilih sahabat atau kerabat untuk posisi ini. Sama seperti bridesmaid, jumlah groomsmen juga tergantung dari kebutuhan. Tetapi, jumlah bridesmaid dan groomsmen biasanya disamakan.
" Baik, siap?" Ucap petugas berkumis yang telah memastikan semua administrasi lengkap.
Deo mengangguk dengan isi dada yang kebat- kebit sebab gugup.
Masih belum hilang dari ingatannya, saat ia pertama kali mengucapkan ijab namun dengan versi lain saat itu. Namun kini, sesuatu yang indah justru membuatnya teramat grogi.
" Saudara Deo Alfa Darmawan bin David Syailendra Darmawan. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan seorang perempuan yang bernama...,"
Kesemua hadirin yang mendengar kalimat penuh keseriusan itu turut tersengat aura ketegangan, dan membuat suasana seketika hening.
David dan Jessika yang duduk di barisan depan juga terlihat saling menggenggam kala menyaksikan hal itu. Anak sulung mereka akan melangsungkan pernikahan. Hati orang tua mana yang tidak terharu kala menyaksikan hal seperti itu?
Demas yang turut berada diantara riuh rendah manusia disana, justru salah fokus kepada Eva yang begitu cantik dalam balutan gaun terbuka sopan yang benar-benar menarik perhatiannya.
Wanita yang telah menjadi kekasihnya itu nampak semakin cantik kala tersenyum bersama-sama para Bridesmaids lainnya.
" Sabar, jangan di tatap terus. Lagian, disuruh barengan sama Deo kamu nggak mau!" Ucap Leo yang mengetahuinya jika keponakan tak henti-hentinya menatap Eva.
" Aku bukannya tidak mau Om. Tapi, Eva masih banyak masalah!" Batin Demas yang teringat jika Eva masih berjibaku dengan permalasahan soal kedua orangtuanya.
Dan sejurus kemudian.
" Saya terima nikah dan kawinnya Dyah Ayu Arimbi binti Laksmana almarhum, dengan maskawin tersebut, dibayar tunai!"
" Bagaimana saksi?"
" Syaaah!!
"Syaaah!!"
"Syaalalalala! Yeeee!!!" Manusia dengan balutan jas keren namun sikap melambai bagai amoeba itu, membuat sang penghulu tersentak.
Dian yang begitu bahagia benar-benar tak bisa menahan diri untuk berdiam diri. Sahabat Arimbi itu benar-benar merasa lega sekaligus senang akan apa yang telah terselenggara itu.
Membuat kesemua yang ada disana tergelak akibat tingkah konyolnya.
Dibawah riuh tawa akibat aksi Dian, Deo dan Arimbi saling melirik dengan sorot mata penuh kelegaan.
Kini, keduanya turut menundukkan wajahnya seraya memejamkan mata dengan hati meresapi, saat pria berpeci itu memimpin mereka untuk memanjatkan rasa syukur kepada sang pencipta, dengan menengadahkan tangan mereka bersama-sama.
Rembesan air mata yang tak mau berhenti itu nampak menghiasi wajah Ibu Ning dan Mama Jessika. Ya, air mata kebahagian itu menjadi bukti, jika mereka berdua benar-benar larut dalam keharuan yang membahagiakan.
Kini, sah sudah mereka menjadi pasangan di mata negara dan juga agama.
.
.
" Selamat, akhirnya punya mantu juga!" Ucap Abimanyu seraya tersenyum senang.
Ya, rekan bisnis David sejak muda yang pagi itu datang nampak bersama Andhira untuk memenuhi undangannya David, terlihat serasi dengan pakaian formal yang telah di persiapkan jauh-jauh hari.
" Terimakasih Abi. Terimakasih sudah mau hadir kemari, doakan kami bisa segera memiliki cuci seperti kalian!" Jawab David penuh keakraban.
" Oh ya, dengar-dengar mbak Dhira baru mantu lagi ya? Kok enggak ngundang kita sih?" Tanya Jessika yang menemani suaminya.
Andhira tersenyum, " Kami tidak mantu besar. Tau sendiri Raka udah yang kedua kalinya!" Jawab Andhira tersenyum ramah.
" Tenang saja, kami pasti undang nanti kalau kami mantu Kalyna ya?" Timpal Andhira seraya tergelak. Membuat David dan Jessika turut tergelak.
" Kita tunggu lho mbak!"
Jika para tetua di ballroom sedang asyik berbincang, lain halnya dengan para pria tampan yang justru nampak di sibukkan dengan tragedi joni milik Dian yang terjepit resleting, sewaktu laki-laki hompimpa itu tengah membuang isi kandung kemihnya.
" Gimana ceritanya bisa begini sih Yan?" Tanya Yohan yang pagi itu juga sudah datang membersamai rekan-rekan fotografernya. Menjadi pria pertama yang di cari oleh petugas houskeeping saat Dian meringis sakit.
" Ya enggak tahu kampret, tadi mau aku tutup malah si joni ikutan masuk. Aduh jangan tanya terus ini sakit Han!" Rengek Dian dengan keadaan bagai ikan yang kehilangan air.
Membuat Demas, Daniel juga Erik panik.
Joni anak siapa sih? Ngrepotin aja?
" Minggir dulu Han, biar saya lihat!" Erik nampak mengambil alih situasi. Pria itu mencoba melihat separah apa letak kerumitan yang terjadi.
Membuat Yohan seketika menepi dengan wajah cemas.
" Waduh Pak, ini sih maju kena mundur kena!" Seru Erik demi melihat ujung joni yang benar-benar naas.
" Kayak judul film warkop DKI aja Mas!" Sahut Daniel seraya tergelak. Membuat Demas tak bisa menahan tawanya.
" Woy! Kok jadi ngobrolin warkop DKI sih, joni ku ini gimana? Aduh emak haaa! Aku gak mau sunat lagi Mak!" Dian yang merasa semakin sakit memarahi kedua pria konyol di depannya itu dan sejurus kemudian terlihat merengek.
Demas yang bingung hanya bisa garuk-garuk kepala, bagaimana bisa hal menggelitik seperti itu terjadi.
" Nggak ada cara lagi ini Pak Demas, kita harus cari tang ini!" Ucap Daniel yang makin membuat Dian ketakutan.
What? Are you kidding me?
" Ini ada apa sih, kok pada nggerumbul?"
Kini, bukan hanya Dian saja yang terkejut dari tempatnya duduk diatas closed. Erik, Daniel, Yohan serta Demas yang nampak berjubel di dalam toilet itu, seketika mendelik demi melihat kedatangan Melodi yang wajahnya menatap curiga kearah mereka.
Aduh!
.
.
.