
...πΏπΏπΏ...
...β’...
...β’...
...β’...
Deo
Lolongan burung malam di rimba bagai menyayat jiwanya. Ia kini nampak menuruni turunan yang begitu curam. Menepikan kaki yang mulai terasa linu dan pegal.
Ia berpegangan pada pohon-pohon muda yang nampak akrab. Menguatkan tumpuan kakinya dengan rasa lutut yang bergetar akibat menjaga keseimbangan antara bobot tubuh dengan tingkat kecuraman yang luar biasa.
Deo ingat betul, hanya ada satu jurang disana, ia dulu pernah menjajakinya bersama Om Leo, serta para mandor yang menjadi anak buah papa David.
Ya, Deo kini telah berada di sebuah lembah yang menjorok ke bawah dengan sudut kemiringan lereng yang tak main-main. Sepatu sneaker yang ia gunakan jelas bukanlah standard yang cocok kala digunakan menapaki medan tanah hutan yang kadang licin itu.
Tapi apa boleh buat. Bukan hal sengaja juga Deo bisa berada di sana dengan kondisi seperti itu. Deo bahkan belum mengistirahatkan tubuhnya sama sekali sejak bertemu dengan orang Jatayu tadi.
Napas yang memburu, menjadi penegas sikap jantan dan bertanggungjawab seorang Deo dalam mencari istrinya. Beruntung Deo sedikit paham dengan lokasi disana. Akan menjadi sangat menyulitkan lagi, andai saja Arimbi tidak berada di daerah sana.
Saat di persimpangan, ia sejenak merenung. Sebab salah mengambil langkah, bisa dipastikan ia akan menunggu fajar tiba untuk mencari istrinya lagi sebab jelas akan berbeda arah.
Ia memejamkan matanya barang sejenak, mendengarkan suara bening yang muncul dari dalam hatinya. Dan saat nuraninya berbicara, Deo memilih berjalan ke arah kanan.
Saat kau di persimpangan ambigu, diamlah dan biarkan sanubarimu berkata.
Dibawah pancaran sinar bulan purnama, samar-samar ia melihat sebuah gubug usang yang ia duga milik petani yang biasanya juga ada di lokasi perkebunan cabainya.
" Sebaiknya aku beristirahat dulu disana!" Gumamnya dengan napas yang ngos-ngosan.
Tempat semacam itu memang harus ada, guna menjadi tempat teduh kala hujan mendadak mengguyur para pekerja di hutan.
Ia melihat gubuk itu dan berniat ingin mengistirahatkan kakinya barang sejenak. Sudah lama dia tidak hiking ke gunung, membuat napasnya kembang kempis.
Lagipula, dia bukan superhero yang memiliki kemapuan super power.
KRETEK
Ranting kering yang berguguran dan tak sengaja ia injak itu, memecah keheningan malam yang kelam. Deo sama sekali tidak takut akan gelapnya hutan yang temaram oleh cahaya bulan . Ia justru lebih takut jika tidak menemukan Arimbi malam itu juga.
Sebab cepat atau lambat, anak buah Bram pasti akan memburunya.
KRETEK
Ia bahkan terkejut sendiri kala kembali menginjak dahan kering yang agak besar.
Dan, saat ia hendak memasuki gubuk itu, hal yang sama sekali tidak ia duga mendadak terjadi.
BUG
" Arrggghhh!"
Sesuatu yang panjang dan menghantamnya dengan sangat keras, mendarat kasar tepat diatas kepalanya. Membuatnya benar-benar terkejut, sebab tiada menyangka jika didalam gubug itu terdapat manusia.
BUG
" Siapa kamu?" Teriak seorang wanita yang membaut Deo seketika terkejut.
DEG
" Sayang?" Ucapnya spontan seraya mengabaikan rasa nyeri yang bersarang di kepalanya kala ia mendengar suara yang benar-benar ia rindukan. Suara yang begitu familiar.
" Arimbi?" Ulangnya demi memastikan jika ia telah menemukan orang yang menjadi alasan dirinya tenggelam dalam kegelapan malam hutan itu.
" Mas Deo?"
Deo seketika menyalakan ponselnya, demi memperjelas objek yang ada dihadapannya itu.
" Arimbi! Astaga! Terimakasih Tuhan, Terimakasih!" Detik itu juga, Deo seketika menarik tubuh Arimbi lalu memeluknya erat-erat. Seolah menegaskan jika dia adalah lelakinya.
" Mas Deo!" Lirih Arimbi dengan tangis yang tak lagi bisa ia bendung.
Kedua manusia itu seketika saling beradu peluk. Arimbi menangis seraya memeluk erat Deo hingga sesenggukan. Membuat Deo berkali-kali mengucap rasa syukur.
" Syukurlah kamu selamat sayang!" Deo bahkan kini menatap istrinya lekat-lekat seraya memindai tampilan istrinya dengan perasaan campur aduk.
Iba, senang, sedih, rindu, semua bergabung setangkup senada.
" Mas aku takut!" Deo bahkan mampu merasakan getaran tubuh istrinya yang menangis sejadi-jadinya. Ia menciumi puncak kepala Arimbi berulang kali demi rasa tak percaya jika Tuhan sedang berbaik hati terhadapnya.
Arimbi yang diperlakukan seperti itu sungguh merasa begitu dicintai. Laki-laki bertubuh tinggi dengan aroma keharuman yang tiada pernah memudar itu, benar-benar sungguh membuatnya merasa aman.
Harus pria itu akui, Deo kini benar-benar takut kehilangan wanita itu. Perasaan mencintai, jelas tak dapat lagi Deo tepiskan dalam hatinya. Nyatanya, sikap penuh permusuhan diawal, justru memantik rasa terbiasa, dan berujung pada rasa ketergantungan.
" Auwhhh!" Deo seketika melepaskan ciumannya kala mendengar rintihan istrinya yang nampak kesakitan.
" Sayang, kau..." Deo seketika mendelik pias demi melihat lengan Arimbi yang lukanya menganga.
Arimbi hanya tersenyum simpul mencoba memberikan clue jika dia baik-baik saja. Padahal, tubuh Arimbi mulai terasa nyeri akibat demam yang mulai menyerangnya.
" Maafkan aku. Semua ini salahku yang tidak becus menjagamu. Maafkan aku sayang!" Deo menatap resah luka yang awalnya mengering dan kini nampak mengeluarkan darah lagi akibat interaksi mereka.
Mengusap puncak kepala Arimbi dengan penuh penyesalan.
" Ssttt, aku akan aman. Karena kau ada bersamaku!" Ucap Arimbi dengan mata berkaca-kaca kala menatap Deo.
Ia bisa melihat guratan kelelahan di wajah suaminya. Bahkan, wajah suaminya yang biasanya segar, kini nampak kuyu sebab bermandikan peluh.
Membuat Deo merasakan jalaran rasa hangat dalam hatinya.
" Tunggu sebentar!" Ucap Deo yang nampak akan melakukan sesuatu. Membuat alis Arimbi seketika bertaut.
" Duduklah!" Pinta Deo kepada Arimbi.
Arimbi mengerutkan keningnya demi melihat suaminya yang terlihat membuka kemeja, lalu merobek sedikit ujungnya, untuk sejurus kemudian membebatkannya ke luka Arimbi.
Membuat Arimbi tersenyum demi melihat perlakuan mengharukan dari suaminya.
" Bertahanlah sayang. Ini mungkin tidak membuatmu sembuh cepat, tapi setidaknya akan membuat pendarahanmu berhenti!" Ucap Deo dengan posisi masih tekun membalut luka istrinya. Sungguh, Arimbi benar-benar menikmati setiap perlakuan Deo yang seolah membuat dirinya berharga.
Arimbi menatap Deo penuh rasa cinta. Pria itu benar-benar manifestasi perlindungan serta kota benteng yang nyata untuknya.
" Astaga, ponselku benar-benar tidak memiliki jaringan. Bagiamana aku mengabari Demas!" Deo bermonolog dengan raut wajah resah yang kian kentara, saat ia masih sibuk membetulkan simpul perban dadakan itu.
" Bram dan Pak Zakari..."
" Aku sudah tahu semuanya!" Sahut Deo cepat. Membuat ucapan Arimbi seketika menguap.
" Selesai, kemarilah!" Deo meminta Arimbi duduk diatas pangkuannya. Ingin memberikan rasa perlindungan dan rasa aman terhadap istrinya itu.
Arimbi yang kini di peluk seraya menyenderkan kepalanya pada dada bidang Deo sungguh merasa tenteram.
" Mas tahu darimana aku ada disini? Dan soal Pak Zakaria?" Tanya Arimbi memecah keheningan.
Deo nampak menghela napas. Ingin menetralisir ketegangan yang seharian ini menghujamnya tanpa ampun sebelum menjawab pertanyaan Arimbi.
" Roro yang memberitahuku!" Sahut Deo dengan suara lirih.
"Apa?"
Arimbi seketika mendongak. Mencari kebenaran atas jawaban suaminya.
" Aku tidak tahu bagiamana menjelaskannya. Tapi saat aku mencarimu di villa, aku bertemu dengan Roro. Dia di sekap oleh Bram! Dan soal Zakaria, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika mereka seperti tengah menyusun rencana."
Kini, baik Deo maupun Arimbi tercenung. Selain karena rasa lelah yang sama, keduanya juga heran. Kenapa ada manusia sejahat Bram.
Dan saat mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Sebuah suara membuat keduanya terperanjat.
KROSAK!
" Apa itu mas?"
.
.
.
.
.
Halooo gaes, Mommy udah ngabulin permintaan readersku yang comel comel nih. πππππ
Tiga bab, dan tiap babnya selalu lebih dari seribu kata loh.ππ
Udah episode 100 nih. Ojo lali vote gawe Deodoran sesok Yo rekπππ€.