
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Terpaan angin yang bersenandung genit mengelus kulit wajahnya. Menimbulkan efek merinding sebab suasana siang itu mendadak gelap karena mendung.
Selepas absen, ia memutuskan untuk pulang sebab rindu dengan Farel juga ibunya. Menepikan rengekan Dian yang memprovokasi merasa untuk makan baso lezat.
" Nih coba, baru matang. Kebetulan kamu kesini. Ibuk kangen nak!"
Ibu menyuguhkan parutan ketela bercampur ketan hangat yang masih mengepulkan asap putih, dengan di taburi kelapa parut gurih di bagian atasnya. Emm yummy!
" Pas banget, lama gak akan beginian!"
Ibu Ningrum tersenyum manakala melihat putrinya yang bernasib konyol itu girang, saat hendak mencomot ketan hangat cenderung panas itu.
" Ibuk terimakasih sama kamu Ar! Terlebih sama suami kamu!"
Ucapan wanita tua itu membuat Arimbi yang mulai meniup sesendok ketela panas itu melirik ibunya. What?
" Terimakasih kenapa Buk?"
Bu Ning tersenyum. Apa anaknya itu lupa? Begitu pikir Bu Ning yang tak kondisi asli anaknya di rumah Deo.
" Kan hutang ibuk udah suami kamu lunasi. Ibuk lega nak. Ibuk juga di beri lapak jualan di group depan. Ibuk seneng banget nak!"
Arimbi tertegun. Ia bahkan tidak tahu sama sekali perihal Deo yang membereskan hutang mereka yang masih menggunung di salah satu rentenir itu.
" Ini kenapa semua jadi aneh gini sih?" Batin Arimbi tak habis pikir.
" Sampaikan salam ibuk sama suami kamu nak. Kamu jangan sering-sering datang kemari kalau suamimu tidak mengijinkan!"
" Ibuk tahu, kalian menikah karena..."
"Buk, udah jangan bahas itu lagi!"
Arimbi tercenung dalam lamunannya. Apa sebenarnya mau pria itu, kenapa semakin kesini, ia makin dibuat tak mengerti dengan sikap yang tak bisa di tebak.
Ia bahkan masih ingat betul, saat pertama kali bertemu sewaktu dia akan interview, bahkan saat tak sengaja di tolong Deo yang malah berakhir menjadi istri dadakan karena masa yang mengamuk.
Ia tidak tahu, harus senang atau harus sedih saat ini. Menukar dirinya demi menutup tanggungan yang jelas-jelas akan sulit ia bayar, jika tanpa di bantu Bu Jessika itu, membuat dirinya menjerit dalam hati.
"Kenapa jalam hidupku seperti ini ya Tuhan?"
Lantas, bagiamana sekarang? Ia bagai terperangkap oleh permainannya sendiri. Arimbi bahkan kini kerap merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan.
Cinta?
...----------------...
" Kenapa nekat pulang? Apa kau tidak tahu diluar sedang hujan? Kenapa tidak meneleponku atau..."
Arimbi berjingkat manakala ia yang baru selesai membuka pintu kamarnya itu, kaget lantaran Deo yang tiba-tiba nongol.
" Ck, orang ini!"
" Cepat mandi dan keringkan kepalamu!"
Arimbi memukul udara dengan gemas saat pria itu membalikkan badannya. Mencibir dengan suara tak terdengar sebab mulutnya komat-kamit.
" Orang ini apa sih maunya!"
Deo nampak membuka lemari lalu mengeluarkan handuk kimono baru, dan melemparkannya kepada Arimbi.
" Cepat mandi, bentukmu udah mirip tikus got, pergi sana!"
Arimbi mengerutkan dahinya sepanjang ia berjalan menuju kamar mandi. Kesal karena sikap Deo yang tiada bisa di tebak. Sebentar baik, sebentar jahat.
BRAK!!!
Deo tekrikik-kikik demi melihat Arimbi yang berhasil ia buat emosi. Entahlah, bagi Deo melihat Arimbi kesal dan cemberut seperti itu seperti mood booster buatnya.
Sejurus kemudian, pria itu terlihat pergi menuju ke arah dapur. Bersiap melakukan rencana lainnya.
.
.
" Mau apa kau?" Tanya Deo saat Arimbi yang berjalan menuju kompor. Terlihat manis manakala wanita itu mengenakan dress tidur yang agak longgar.
" Mau nanam ubi! Ya mau masak lah. Mau apa lagi!" Arimbi jengah dengan sikap ketus pria itu. Membuat Deo tertawa dalam hati.
" No need, tidak udah masak, kemarilah! Aku tadi dapat tester makanan dari temanku. Aku tidak mungkin habis sendirian!"
Arimbi menyipitkan matanya demi melihat wajah Deo yang penuh maksud.
Arimbi melangkahkan kakinya meski ragu. Wanita itu membulatkan matanya demi melihat banyak sekali mie bercita rasa pedas ala Korea yang menjadi favoritnya. Daebak!
" Ya ampun, itu kelihatan enak banget!"
" Pak Deo yang memasaknya?" Tanya Arimbi menepiskan egonya, dan lebih tergiur dengan bentuk mie yang melambai-lambai minta di makan.
"Hemm, siapa lagi. Kau harusnya merasa beruntung. Bisa makan hasil bos sekaligus suamimu!"
Arimbi yang mendengar hal itu seketika mencibir. Kesombongan pria itu masih tidak ada duanya rupanya. Membuatnya menjadi aneh sendiri. Bagaimana bisa orang itu berubah sikap dalam sekejap. Apa maunya?
Mereka makan dalam diam. Deo yang sesekali curi-curi pandang kala melihat Arimbi yang nampak menikmati makanan itu, entah mengapa terlihat senang. Sejenak menepikan permasalahan yang sebenarnya mulai membahayakan perusahaannya saat ini.
" Kau sudah di beritahu Erik?" Ucap Deo memecah keheningan.
Arimbi mendongak. " Kenapa Pak Deo tidak memberitahuku langsung?" Ucap Arimbi kesal.
" Kau melawanku?" Jawab Deo menatap Arimbi pura-pura kesal.
" CK!" Arimbi mendecak demi kekesalan yang membuncah.
Deo tersenyum meski Arimbi sibuk merajuk dengan wajah menunduk. Merasa senang kala ia berhasil membuat istrinya kesal.
" Aku harap, kau masih harus bisa jaga rahasia kita!"
DEG
Arimbi seketika tersenyum sumbang dengan hati mencelos, saat ia mendengar kalimat bernada ironi dari Deo.
" Mungkin karena aku sudah kau tiduri, untuk Itulah kau membayari semua hutang keluargaku!"
" Apa kau dengar?" Tanya Deo demi merasai kesunyian yang tercipta.
" Seperti yang anda mau Pak! Akan saya lakukan!" Balas Arimbi sekenanya.
Deo tersenyum dan ingin tertawa demi melihat ekspresi Arimbi yang bersungut-sungut. Benar-benar terlihat marah.
" Aku hanya ingin kau terbebas dari potensi celaka Ar. Maaf membuatmu kesal!"
Arimbi tidak tahu. Seberapa rawan dan seberapa riskannya skala pengusaha yang memiliki rival mematikan macam Bramasta.
Sebab di era David saja, mereka bahkan baku hantam dengan musuh mereka, secara tidak main-main.
...----------------...
Seminggu yang di tunggu akhirnya tiba juga. Arimbi di bawa dulu oleh Erik menuju bandara sebab Deo sejak pagi entah pergi kemana.
Selama ini, Arimbi justru dibuat heran akan perubahan sikap Deo yang kerap sibuk di ruang kerjanya bahkan sewaktu di dalam rumah.
Sepekan ini, mereka bahkan jarang ngobrol ataupun bertengkar. Membuat Arimbi resah dibuatnya. Ada apa sebenarnya?
Arimbi sudah menemui ibu dan adiknya untuk berpamitan, sehari sebelum ia berangkat. Wanita itu nampak menangkap raut kekhawatiran yang di suguhkan Farel, adik laki-lakinya. Namun, ia selalu bisa meyakinkan keluarganya, jika ia akan baik-baik saja.
" Kita bertiga aja?" Tanya Eva pada Arimbi yang sudah memasuki boarding gate. Menggeret koper ukuran kabin dengan berat standard 7 kg.
" Kak Daniel lewat bawah kayaknya. Mbak Novi sama mas Vino udah berangkat dulu kan kata mas Erik!" Jawab Arimbi yang menaikkan barang mereka ke atas mesin X-ray kedua, yang berada di ruang tunggu tersebut.
Keberangkatan mereka rupanya tak luput dari perhatian duo sadis, Casandra dan Kenanga. Beruntung, dua wanita itu telah di check-in kan oleh Daniel, dan boarding pass nya pun, sudah di atur sedemikian rupa. Baik seat , maupun label bagasi.
" Duh, baik-baik kalian ya disana. Jangan lupa oleh-olehnya kalau balik. Sukur - sukur dapet Koko Koko asli sana Va!" Dian tekrikik-kikik.
" Aman kalau gitu. Baik-baik juga elu disini! Jangan mau kalah sama bacotnya lampir!"
Arimbi hanya menggelengkan pasrah, demi melihat interaksi dua rekannya yang kerap bertengkar itu.
Selamat siang para pelanggan Jatayu Air dnehan nomor penerbangan JA ..
Suara microfon yang On, menjadi penanda jika waktu telah tiba.
" Tuh, suara Resita bener- bener adem. Beneran deh kalau dia di dapuk di sana. Seniornya juga sering nyuruh dia buat announcement!" Ucap Dian bangga.
Arimbi menatap rekannya itu dari tempat duduknya. Berharap apa yang dia sampaikan kemarin, bisa merasuk ke relung hati Resita.
" Ar, udah sana cepat boarding. Kak Daniel langsung lewat operation. Kalian berdua langsung gih!" Seru Yohan yang nampaknya baru mendapatkan informasi dari Oscar, bila Daniel akan boarding lewat bawah.
Mereka semua saling berpelukan melepas perpisahan sementara. Merasa senang karena rupanya bekerja di airport itu bisa membawa pengalaman yang mengesankan.
Mereka berjalan menapaki aviobridge ( garbarta), dan langsung di sambut oleh pramugari yang benar-benar cantik. Membuat Eva belingsatan dibayangkan.
" Kenapa dia belum juga muncul? Apa dia...?"
Sejumput keresahan mendadak menyelinap di relung hati terdalam Arimbi. Benarkah jika tanpa ia sadari, rasa terbiasa bersama Deo mulai mengakar di dalam hatinya?"
.
.
.