
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Untung saja Deo tak melihat bagian tubuhnya yang hampir loncos itu. Hal itu bisa ia blokir sebab ia dengan cepat , berhasil menutupi bagian krusial dalam diri wanita itu.
Arimbi mengisi air dalam bak besar itu dengan air hangat, lalu menenggelamkan dirinya sejurus kemudian
Ah, terasa nyaman.
" Yang bisa menceraikan aku kan cuma dia. Kenapa dia enggak menceraikan aku aja kalau dia enggak suka?" Gumamnya seraya bermain-main bisa sabun. Menggerutu sebab kesal akan sikap tak bersahabat Deo.
Arimbi tidak tahu, jika Deo tak bisa berbuat apa-apa sebab mamanya meminta dirinya untuk menjalani pernikahan tak sengaja itu, demi menekan potensi jatuhnya nama baik yang saat ini pasti masih di sorot oleh beberapa orang yang menggrebek mereka kemarin. Terutama tokoh masyarakat.
Arimbi begitu menikmati aktivitasnya yang terbilang langka itu. Terlihat aji mumpung sebab di rumahnya tidak memiliki bak besar yang biasanya ia jumpai di hotel-hotel ternama.
Entah sudah berapa lama ia berada di sana, terlalu norak hingga membuatnya hanyut dalam sensasi menyegarkan itu. Hingga, sebuah gedoran keras membuatnya tersentak karena nyaris saja ketiduran saking nyamannya. Oh ya ampun.
" Kau ini sedang mandi apa tenggelam? Kenapa lama sekali? Cepat keluar!"
Lagi dan lagi, suara Deo makin membuatnya kesal.
.
.
Erik
Bagai menelan buah simalakama. Itu yang Erik rasakan saat ini. Sebab bungkam artinya melibatkan diri dalam skandal ini, dan tidak bungkam, sama artinya dengan merusak reputasi bos sendiri.
Haish, apa papanya dulu juga serumit ini saat bekerja bersama Om David?
" Mas Erik yang belikan ini semua? Wah tahu sekali kalau saya lapar? Makasih banyak ya mas?"
Deo melirik Arimbi yang terlihat ramah dan akrab kepada Erik, saat perempuan itu kini membuka box nasi ayam Laos lezat yang baru dibeli oleh Erik atas perintah Deo.
" Sama-sama, tapi...Pak Deo tadi yang menyuruh saya untuk belikan ini Ar!"
"Oh!" Sahut Arimbi seketika berubah.
Deo melirik kesal saat Arimbi hanya ber- oh ria, " Dasar tidak tahu diri!"
Arimbi makan dengan di tatap oleh dua pria yang ganteng dengan versinya masing-masing itu.
" Enggak ada yang makan? Ya udah!" Arimbi cuek dan terlihat mencubit ayam yang dilimpahi banyak serundeng gurih itu, tanpa melirik Deo.
" Jaga sikap kamu sewaktu di airport. Mereka tidak tahu jika aku dan kamu sudah menikah. Lagipula, saya tidak tertarik sama kamu jadi jangan har... "
" Saya udah khatam sama maksud Pak Deo. Jadi maunya apa? Kenapa enggak ceraikan saya saja dari pada menyiksa saya seperti ini?" Jawab Arimbi dengan mulut yang masih memamah biak. Ia ogah stres, sebab tujuannya saat ini adalah membatu ibunya melunasi tanggungan yang masih setinggi gunung Sinabung itu.
Erik bagai terbakar api pertempuran dari tatapan mata dua insan yang tiada pernah akur itu.
" Ceraikan kamu sama saja buat hubunganku sama mama putus sialan!"
" Ya... someday kalau kita enggak cocok, ya...bakal aku lakuin!" Jawab Deo yang sebenarnya cukup kelimpungan.
" Ngapain nunggu someday? Udahlah, aku lapar. Orang bertengkar juga butuh tenaga! Sini mas, kalau enggak di makan biar aku makan aja. Buang - buang makanan itu dosa!"
Deo dan Erik saling menatap saat melihat sikap Arimbi yang baru mereka ketahui. Sikap yang bodo amat banget, yang membuat Deo tiada mengira.
" Gadis ini seperti sangat sulit di tekan!"
.
.
Di ruang kerja Deo
" Masalahnya, mama itu marah besar Rik pas aku bilang mau ceraiin tuh anak. Gimana enggak pusing aku?" Deo memijat keningnya yang terasa pusing, kala menjawab pertanyaan Erik.
Erik tertegun dan menatap bosnya dengan tak jemu. Ya, mereka berdua kini berada di ruang kerja Deo dan membicarakan hal penting ini.
" Ingat Rik, jangan sampai seorangpun tahu soal ini, terutama orang-orang di Airport!" Deo benar-benar resah. Akan semakin runyam jika orang lain tahu bila dirinya sudah menikah. Apalagi, cara menikah mereka terbilang out of the box.
" Lalu, bagaimana Arimbi besok berangkat bos? Anda tidak mungkin berangkat bersama kan?"
Kini, Erik bahkan turut terkena getahnya. Pria itu saat ini bahkan harus turut sibuk memikirkan nasib istri nestapa bosnya itu.
" Ya, terpaksa motor di garasi itu biar dia pakai dulu. Belum pernah kepake juga. Kamu atur aja gimana baiknya!" Jawab Deo dengan wajah yang begitu berbeban.
" Rik, aku tinggal ya. Aku mau nemuin Roro dulu. Aku harus jelasin hal ini dulu sebelum dia tahu dari orang lain "
" Tapi bos?"
" Udah, bentar aja!"
Erik termenung usai Deo enyah dari hadapannya, walau ia berusaha mencegah. Merasa sedikit tak suka sebab pria itu akan menemui wanita yang menurutnya penuh tipu muslihat itu.
.
.
Roro
Ketenaran dan popularitas merupakan dambaannya selama ini. Walau dia telah menyandang status sebagai kekasih dari Deo Alfa Darmawan, namun ia yang saat ini tenar di dunia per- pik pok an itu tidak mau melewatkan kesempatan untuk terus populer.
Ia beberapa hari ini sibuk melayani endorsement dari berbagai produk kecantikan. Membuatnya sibuk bahkan jarang mengaktifkan ponselnya manakala syuting produk itu.
" Akhirnya kamu datang, aku kangen banget sama kamu!" Roro langsung menempel ke lengan berotot Deo yang baru saja tiba di sebuah template makan eksklusif malam itu.
Sejurus kemudian, Roro mengecup bibir Deo yang terlihat berwajah lesu. What's wrong?
" Makin hari kamu makin sibuk ya?" Tanya Deo sedikit dingin menunjukkan kemarahannya, pada wanita yang kerap memuaskan hasrat jantannya itu.
Membuat Roro seketika mengeluarkan jurus rayuannya.
" Aku ingin go public sayang. Kamu enggak suka apa kalau aku terkenal? Kalau viral kan bisa di undang sama stasiun tivi besar!"
Deo malas menyahut, ia kini lebih memilih membuka buku menu di depannya. Sedikit kecewa sebab nyatanya Roro lebih fokus ke karir ketimbang dirinya.
" Kita makan dulu, setelah ini ada yang mau aku bicarakan." Ucap Deo dengan datarnya.
" Soal apa? "
" Makan aja dulu, aku lapar banget!"
Roro terdiam. Dari raut wajah Deo, ia bisa menyimpulkan jika Deo tengah tidak baik-baik saja.
Well, mereka akhirnya makan dalam diam. Roro yang resah sebab menerka-nerka dalam hatinya, tentang hal apa yang hendak di bincangkan oleh kekasihnya itu, kini tak bisa merasakan enaknya makanan yang ia kunyah.
" Sayang, semua baik-baik saja kan?" Tanya Roro yang baru saja mengelap bibirnya menggunakan tissue, usai menyelesaikan santap malamnya.
" Aku minta kamu jangan marah dulu!"
Membuat Roro makin tak sabar ," Ada apa sih?"
Deo menghela napasnya dalam-dalam, " Aku dinikahkan paksa oleh tokoh masyarakat atas tuduhan zina!"
Roro mendelik, " Nikah? Sama siapa?"
Wanita itu nampak gusar dan tidak terima dengan info yang baru saja terlontar dari bibir Deo.
" Sudah aku bilang jangan marah dulu!" Ucap Deo yang nampak frustasi dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Roro.
" Tapi kok bisa. Sayang, kamu hanya akan menikah sama aku kan? Aku enggak mau kamu..."
" Dengar dulu!"
Deo akhirnya menceritakan secara rinci, tentang sebab musabab dirinya bisa terlibat dengan hal itu.
" Apa? Arimbi? Arimbi anak buah kamu yang kurang ajar itu?" Roro terlihat berang,
" Arimbi enggak salah. Aku justru terimakasih sama dia karena dia mau diajak kerja sama. Situasi malam itu benar-benar enggak terkendali Ro!" Lagian, kamu beberapa hari ini juga susah aku hubungi!" Kesal Deo kepada Roro.
Roro menjambak rambutnya. Ia tidak terima dengan berita yang di sampaikan oleh Deo barusan. " Ceraikan dia! Kamu harus tegas dong! Pokoknya aku enggak mau kamu sama dia De!" Roro terus merengek-rengek dengan hati tidak terima dan kesal.
" Belum bisa saat ini!" Jawab Deo tak kalah gusarnya. Terlihat bingung dengan apa yang tejadi.
" Kalian tinggal sekamar?"
" Mau gimana lagi!"
" Deo!" Ucap Roro muram sebab cemburu.
" Aku pastikan enggak akan terjadi sesuatu antara aku sama dia!
.
.
.
.