
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Claire
" Apa mama mengatakan sesuatu? Aku merasa akhir-akhir ini aku sering lemas!" Ia bertanya kepada Melody yang entah mengapa kini lebih menjadi manusia normal saat mengantarnya menuju kamarnya.
Ya, mereka semua telah kembali ke kediaman keluarga.
" Kau kecapekan. Aku ini adikmu, kau bisa berbagi beban denganku kapanpun kau mau! Jangan di pendam sendiri!"
Claire tersenyum menatap Melody yang kini nampak membetulkan selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
" Aku kebawah dulu. Kau istirahatlah!"
Ia mengangguk dengan hati yang lumayan lega. Setidaknya, walau ia saat ini tengah galau, tapi melihat Melody yang berbeda, entah mengapa membuatnya sedikit terhibur.
Sepeninggal Melody, ia yang memiringkan tubuhnya tak sengaja menatap kalender duduk yang ada di nakas kamarnya. Mendadak bertanya dalam hati, harusnya periode bulanannya sudah hampir selesai.
" Iya, iya kok tumben gak telat waktu. Astaga, apa stres benar-benar bisa menghambat siklus?"
TOK TOK
Lamunannya menguap manakala pintunya ada yang mengetuk.
" Ini mama!"
Rupanya Mama.
" Masuk Ma!"
Ia nampak biasa saja manakala menatap Mama Bella yang masuk. Terlihat mendudukkan tubuhnya dengan perlahan.
" Gimana keadaan kamu?" Tanya Mama seraya mengusap punggungnya yang masih terasa hangat.
" Lumayan. Tapi, aku kok kayak gak berselera makan ya Ma?"
" Nak?"
" Ya?"
Ia tercenung beberapa saat saat merasakan aura yang begitu serius dari wanita yang sering ceria di hadapannya itu.
" Boleh Mama tanya sesuatu?"
Ia semakin tegang demi melihat keseriusan yang cukup kentara dari wajah Mamanya itu. Apa sesuatu sedang terjadi?
" Ada hubungan apa sebenarnya antara kamu dengan pria yang mencelakai Demas tempo hari?"
DEG
Mama berhak bertanya. Sejak kejadian itu, ia memang hanya mengurung diri karena syok. Dan saat ini, ia juga wajib memberikan klarifikasi.
" Kamu begitu stres dan terpukul setelah kejadian beberapa waktu itu. Bahkan, kamu sampai seperti ini! Mama ingin tahu dari kamu langsung!"
Mama bertanya dengan nada suara yang paling lembut. Membuatnya malah ciut nyali. Ia menggigit bibir bawahnya karena takut. Apakah ia perlu jujur bila ia telah....?
" Katakan saja. Mama janji tidak akan marah!"
Baiklah. Bagiamanapun juga, semua orang pasti mencemaskan dirinya yang memang stres dan terpukul akibat kejadian itu. Tidak ada salahnya untuk menceritakan.
" Aku dan Wira tidak sengaja bertemu saat aku bertemu dengan sahabat lamaku!" Ia menatap dinding dengan tatapan menerawang.
" Kami sempat salah paham. Tapi ternyata, dia pria baik. Gelangku ini!" Tunjuk Claire pada gelang yang masih ia pakai itu. " Dia bahkan menemukan lalu memberikannya untukku!"
Mama Bella masih tekun menyimak. Dari raut wajah yang ditunjukkan anaknya, sepertinya hubungan yang terjalin sangat manis. Apalagi, selama ini Claire belum pernah menceritakan teman laki-lakinya kepada keluarganya.
" Hubungan kami berlanjut baik, entah kebetulan atau apa, jujur aku ngerasa nyaman sama dia Ma. Dia baik, smart, punya usaha dari hasil kegigihannya!" Ia bercerita dengan perasaan yang membuncah.
" Aku ngerasa punya banyak persamaan visi hidup sama dia!"
" Tapi, mungkin semua itu adalah tujuan dia buat memperdaya aku!" Ia kini mulai menahan tangis degan suara tercekat. Sesak di dadanya mulai menguasai.
" Aku yang bodoh karena masuk kedalam perangkapnya. Masuk kedalam orang yang nyata-nyata sudah mencelakai keluargaku!"
Claire nampak mencurahkan segala ini hatinya. Ia Benar-benar kecewa, hatinya sakit demi mengingat apa yang telah terjadi.
" Maafkan aku Ma. Maafkan aku!" Ia hanya bisa mengucapkan kata-kata itu saat mengingat bila hal yang paling suci yang ia miliki telah sirna.
Membuat hati Mama Bella turut nyeri manakala mendengarnya.
" Jadi benar, kamu pernah berhubungan layaknya suami istri bersama laki-laki itu?"
DUAR!
Mata yang telah basah itu, kini membeku menatap Mama yang on the spot kala menuding.
" Ma- ma?" Claire bahkan seketika gagap kala bertanya.
" Ada janin yang hidup dalam rahim kamu saat ini Claire. Pertumbuhan janin itu merupakan salah satu penyebab kamu sakit!"
Mama Bella menatap muram anaknya yang saat ini matanya membulat sempurna.
Ia seketika merasa tubuhnya bagai di hantam sesuatu yang bertegangan tinggi. Mendadak merasa tak percaya akan apa yang di katakan mamanya.
Kini, ia spontan melihat kalender itu kembali dengan perasaan gusar dan air mata yang tiada mau berhenti mengalir.
" Jadi, aku terlambat karena...?"
" Bukankah malam itu dia...?"
Dengan tubuh yang semakin lemas, ia bahkan tak bisa lagi untuk sekedar menyangkal kenyataan yang ada.
Malu, sedih, takut, merasa kotor, mendadak menyerangnya dalam waktu bersamaan.
" Maafin Claire ma, maafin Claire!"
Ia menutup wajahnya demi rasa malu juga rasa bersalah yang datang secara bersamaan.
Wira benar-benar membuatnya hancur tanpa tersisa. Pria itu, telah berhasil memperdayai dirinya dengan begitu kejam.
" Kenapa kamu ada, kenapa!" Ia yang nampak tak bisa menerima kenyataan terlihat memukuli perutnya yang masih rata.
" Claire, apa yang kamu lakukan!" Hardik Bella dengan tangis yang juga begitu gencar.
" Claire, hentikan!"
Mendengar hardikan kerasa dari mama, kini dengan lemas ia meratap dengan sesal yang memuncak.
" Claire udah bikin malu Papa sama Mama, Claire harus gimana Ma?" Kini ia yang dipeluk dan di tenangkan oleh Mama hanya bisa menatap dengan kesedihan yang mendalam.
Andai Wira bukan orang yang bersalah kepada keluarganya, mungkin jalan ceritanya akan berbeda. Tapi bagaimana ia saat ini?
" Apapun yang terjadi Mama gak akan biarkan kamu membuang anak ini. Anak ini tidak bersalah. Kalian lah yang bersalah!" Tutur Mama Bella yang menangis dengan suara bergetar.
Ia hanya bisa terisak dengan rasa sesal yang semakin mendera. Sungguh, andai waktu bisa di putar kembali, ia tak akan mau mengenal pria itu.
Pria yang sebenarnya masih ada dan bersemayam di hatinya.
" Papamu sudah memutuskan. Kau akan pindah ke luar negri!" Bella berucap meyakinkan seraya menangkup wajah Claire yang nampak kacau.
Membuat Claire seketika terkejut.
Kini, dua orang yang berada di luar kamar Claire hanya bisa menitikkan air mata dalam diam tatkala mendengar pembicaraan penuh emosional dari dalam kamar itu.
Melody yang hatinya sesak, nampak menggigit bibirnya demi rasa sedih yang begitu meluap. Sementara Leo, ia pun tak jauh berbeda, pria itu merasa dirinya gagal dalam mendidik putrinya.
" It's ok Pa. Everything gonna be alright. Kita hadapi sama-sama!"
Melody terlihat memeluk Papa yang nampak sedih. Mencoba memberikan kekuatan kepada pria yang menjadi kesayangannya itu.
Sungguh, inilah guna kehadiran keluarga dalam arti sesungguhnya. Selalu ada dalam susah, maupun senang.
.
.
Sadawira
Semenjak kedatangan Deo beberapa waktu yang lalu, ia menjadi terusik dan tidak tenang. Menurutnya,Deo benar-benar orang yang sulit ia ajak komunikasi dengan baik. Apalagi, sejatinya pria itu merupakan kerabat dekat Wanita yang ia cintai. Sial!
" Apa orangmu suda berhasil menemukan Claire?" Ia bertanya seraya tekun menatap gelas minuman diatas meja kerjanya.
" Belum bos. Leo Darmawan bukan orang sembarang. Dia CEO perusahaan manufaktur yang cukup berpengaruh di kota S!" Sahut Boni yang selalu khawatir terhadap bos-nya.
Ia mengacak rambutnya frustasi. Benang kusut yang ia ciptakan semakin runyam saja. Andai ia mencari tahu lebih dalam siapa sosok Claire dulu, mungkin permalasahan ini bisa ia redam.
Namun, cerita yang mengalir begitu saja, benar-benar tak dapat ia halau. Ia telah jatuh ke dasar jurang penyesalan.
Saat tengah malam, ia yang semenjak mengetahui kenyataan besar itu tak bisa memejamkan matanya barang sejenak.
Ia nampak menyalakan ponsel dan melihat pesan yang tak satupun terkirim kepada nomor Claire. Membuatnya seketika tersenyum getir.
" Aku tahu kau pasti membenciku saat ini Claire!" Lirihnya seraya mengusap foto Claire pada ponselnya dengan mata berkaca-kaca.
" Tapi apa kau juga tahu, jika aku saat ini benar-benar tersiksa!"
Benar-benar teramat menyedihkan.
Seorang pria yang nampak kuat di depannya, kini nampak rapuh di tengah kesunyian hati yang berkawan dengan segumpal penyesalan.
TOK TOK TOK
Ia tersentak seraya buru-buru mengusap sudut matanya yang basah kala pintu ruang kerjanya di gedor seseorang.
" Bon, kaukah itu?"
" Saya bos!"
" Masuk!"
CEKLEK!
" Maaf bos mengganggu istirahat anda. Tapi, apakah anda sudah tahu jika tuan Anthoni...."
" Apa yang terjadi?" Sahutnya cepat manakala melihat wajah Boni yang pias.
" Tuan Anthoni bunuh diri di penjara!"
" Apa?"
.
.
Ia hanya bisa menatap nanar dengan tubuh yang mendadak mematung tatkala team forensik mulai memasukkan jenazah Antoni kedalam kantung berwarna kuning itu saat dinihari itu.
Seluruh dunianya bagai hancur. Luluh lantak tak bersisa .Saudara kandungnya, kakaknya yang tersisa kini telah tiada dengan sebongkah misteri yang belum ia ketahui.
Menghujam jiwanya yang haus akan kasih sayang seorang saudara.
Tanpa terucap, kakaknya yang ia perjuangkan bahkan sampai membuatnya kehilangan cinta dari sang wanita yang telah berhasil merebut hatinya itu, kini telah meninggalkan dia untuk selamanya.
" Dugaan sementara korban menenggak obat berlebih hingga overdosis!"
" Bawa barang bukti ke sana!"
" Tolong kosongkan ruangan ini beberapa waktu!"
Suara-suara sibuk pemangku kepentingan yang turut andil dalam jalannya investigasi Anthoni, bahkan seolah berlalu begitu saja.
" Kenapa, kenapa kau malah mati seenaknya begini saat aku benar-benar membutuhkan kehadiran saudara!"
Ia menjerit dalam hati dengan mata yang tiada lagi bisa menahan jejalan air mata yang terus berdesakan keluar.
.
.
.
.
.
To be continued...