
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
Rajandra
Dengan bertelanjang dada, menampilkan pahatan tato scorpion ( kalajengking) di punggungnya yang kokoh, ia menatap hamparan taman di belakang rumah mewahnya dengan tangan yang menggenggam segelas wine.
Tersenyum penuh arti sebab tanpa bersusah payah ia telah bisa memasuki keluarga Darmawan, walau bukan dari hulu nya.
Tidak masalah, setidaknya ia bisa langsung menyusun sebuah rencana yang rapih.
Agak terkejut demi mendapati Demas yang cedera dan kini menanggung kelumpuhan yang sebenarnya membuatnya ngeri. Padahal, semua itu juga atas ulahnya.
" Semua laporan sudah ada di meja bos!" Tutur seorang pegawai setianya. Sedikit membuatnya terkejut sebab tanpa bersuara pria keturunan Tionghoa itu mendadak muncul.
" Biarkan saja Bon. Nanti aku periksa. Aku akan sangat jarang pulang setelah ini. Pantau terus perusahaan dan kak Anthoni. Aku harap kau mengerti!"
Boni mengangguk mengerti dengan penuh hormat. Pria berkacamata itu selalu sopan kepada Raja, walau ia tidak paham siasat serta rencana apa yang tengah disusun oleh bosnya itu.
Yang dia tau, Pria yang memiliki nama lengkap Sadawira Rajandra itu merupakan sosok idealis yang baik, dan pria yang selama ini telah menolongnya dari lumpur pekat kesusahan.
Rajandra meneguk sisa wine dalam gelasnya dengan tatapan menerawang. Sedikit memiliki perubahan rencana yang mendadak terbesit dalam benaknya, agar ia bisa menekan keluarga Darmawan untuk membantu kakaknya mendapatkan keringanan hukuman.
" Bersiaplah, Demas Darmawan!"
.
.
Kediaman baru Demas
" Tugas kamu ngantar istri saya juga saya. Saya ada jadwal kontrol seminggu tiga kali, Minggu kamu boleh istirahat dan bebas pergi tapi tetap standbykan ponsel kamu!" Terang Demas kepada supir barunya yang telah datang siang itu.
Raja mengangguk paham. Laki-laki itu datang dengan sebuah tas yang hanya berisikan beberapa potong baju juga tampilan yang tidak mencolok.
" Ya sudah, kamu bisa masuk ke kamar. Ada Bik Sulis yang kerja disini. Kamu bisa tanya-tanya ke dia soal rumah ini!" Timpal Demas yang selalu terlihat berwibawa sekalipun saat ini ia masih mengenakan kursi roda.
Sepeninggal supir yang lebih cocok menjadi kakaknya itu, ponsel Demas nampak bergetar.
Claire memanggil....📞
" Hal...."
" Lusa aku datang, mau di bawain apa?" Pekikan dari seberang telepon membuatnya meringis demi suara stereo yang memekakkan telinga.
Demas mendecak, pertanyaan yang selalu saja di ajukan oleh adik sepupunya itu masih saja sama dari tahun ke tahun.
" Bawakan calon adik ipar. Udah jangan rempong!" Sahutnya seraya terkekeh. Senang sebab saudaranya itu akhirnya bisa bertolak juga ke kita B.
Eva yang datang dengan membawa nampan berisikan secangkir teh hangat, sepiring kecil kue lezat untuk suaminya di sore itu, nampak penasaran akan siapa gerangan yang menjadi teman ngobrol suaminya.
" Siapa?" Tanya Eva manakala percakapan itu nampak telah terpungkasi.
" Kakaknya Melodi!" Jawab Demas masih dengan wajah yang menekuni ponselnya.
" Jadi kesini?"
Demas mengangguk" Jadi, baru kelar kerjaannya sepertinya!"
Raja yang rupanya tak masuk ke kamarnya itu, nampak membidik pasangannya suami istri itu dengan tatapan penuh arti dari balik tembok.
Sengaja mengamati pergerakan guna ia jadikan bekal untuk melancarkan aksinya.
.
.
" Awh!"
PRYANG!
" Hati-hati Nyonya!" Ucap Raja yang dengan gerakan cepat menyambar tubuh Eva demi menghindari pecahan beling saat ia hendak meniriskan piring itu.
Ya, Raja yang hendak mengambil air minum di kulkas dengan gerakan semi terkejut, spontan menarik tubuh Eva guna menyelamatkan majikannya itu.
Membuat Eva mendelik.
" Maaf, tadi saya..." Ucap Raja seketika menunduk karena sungkan juga canggung, cenderung tak enak hati.
" Enggak apa-apa." Balas Eva gelagapan demi kejadian memalukan itu. Takut kalau-kalau Demas melihat lalu salah paham.
Keduanya nampak canggung sebab tak sengaja saling bersentuhan dengan posisi yang begitu dekat.
" Astaga, ada apa Nyonya?" Jawab Bik Sulis yang datang dari arah dapur kotor, dengan gerakan tergopoh-gopoh, demi mendengar suara ribut.
" Tadi tangan saya licin pas ngebilas ini, terus gak sengaja ngejatuhin piring!" Jawab Eva dengan wajah pias.
Dan kejadian itu, rupanya diketahui oleh Demas yang sebenarnya datang dengan kursi rodanya untuk meminta Eva tak mengerjakan apapun dirumah itu.
Dan entah kenapa juga, Demas mendadak menjadi murung lalu pergi dengan berusaha menjalankan kursi rodanya sendiri.
Kenapa? Bukankah itu tidak sengaja? Oh, common man!
.
.
Eva
Ia melimpahkan kekacauan yang ia ciptakan kepada Buk Sulis lalu pergi menemui suaminya ke kamar petang itu, demi rasa tak enak hati.
Bagiamanapun juga, ia merupakan wanita bersuami dan tak selayaknya bersentuhan dengan laki-laki lain apapun alasannya.
CEKLEK!
Ia menjengukkan kepalanya kedalam dan terkejut demi melihat suaminya yang duduk di hadapan meja dengan laptop yang menyala.
Tumben?
Nampak sibuk mengerjakan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu itu apa. Padahal, selama Demas sakit, pria itu jarang sekali mengurusi pekerjaannya sebab keterbatasan mobilitas.
" Sedang ngerjain apa sayang?" Tanya Eva sembari menutup pintu kamarnya.
" Gak ada ngecek laporan aja!" Jawab Demas asal yang membuat Eva mengerutkan keningnya.
Ada apa? Mengapa suaminya cuek begitu?
" Ibu mau pindah kesini besok!" Ucap Eva yang kini mendaratkan bokong ke atas ranjang empuk, dengan posisi tepat di belakang suaminya.
" Hemm!" Jawab Demas hanya bergumam.
Membuat Eva seketika terdiam. Apa dia telah membuat kesalahan?
Ditengah lamunannya yang masih belum menemukan jawaban, Demas nampak menggerakkan kursi rodanya untuk mendekat ke arah ranjang.
" Biar aku bantu!"
Demas tak menjawab namun juga tak menolak ucapan bernada solutif dari Eva. Entahlah, Demas mendadak merasa kembali insecure dengan keadaannya yang seperti itu.
" Aku pijit ya?"
" Nggak usah, kamu tidur aja. Aku ngantuk!"
Eva hanya tercenung saat suaminya bersikap aneh. Ada apa pikirnya?
Ditatapnya wajah tampan yang kini lekas memejamkan mata itu, dengan hati bertanya-tanya.
.
.
Seulas senyuman licik terbit dari wajah pria yang kini duduk diatas kursi di kamarnya yang sempit. Lekas membiasakan diri walau sebenarnya ia tak pantas mendapatkan hal itu.
Hal gila yang tengah ia kerjakan, adalah tinggal di dalam rumah musuh. Benar-benar definisi dari kenekatan dalam arti sebenarnya.
" Sepertinya aku akan mudah untuk menyusun rencana. Hah, kak Anthoni bersabarlah! Mari kita sama-sama buat mereka hancur!"
Raja merentangkan kedua tangannya sembari tertawa demi menyadari jika Demas pasti saat ini tengah cemburu.
Benar-benar merasa begitu bersemangat kala wajah kesal Demas kini menari-nari di dalam otaknya.
Devil beside you!
.
.
.
.
Ada yang bisa nebak, Sadawira akan berjodoh dengan siapa?
Hayo hayo siapa?
Boleh minta vote nya rek
🤣🤣🤣
.
.
.
.