My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 122. Budak cinta



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Yusa


Ia paling semangat jika ditugaskan ayahnya untuk mendatangi kediaman Bu Ning, guna memberikan bingkisan berisikan beberapa sembako, dari ayahanda untuk para janda-janda di wilayahnya.


Sudah sangat lama sejak ia tak tahu mengapa Arimbi jarang terlihat dirumah ataupun di daerahnya itu.


Hingga, Yusa lebih memilih untuk datang di jam sepagi itu, agar bisa bertemu dengan Arimbi sebab bila datang malam perempuan itu selalunya tidak ada.


Dan benar, pagi itu ia melihat Arimbi dengan tampilan begitu sederhana namun sangat cantik, yang menunjukkan rambut yang lebih pendek daripada pertemuannya bulan-bulan yang lalu.


Membuat Yusa pangling.


Namun, saat ia tengah basa-basi menanyakan kabar, sebuah suara mengejutkan milik laki-laki yang lebih dewasa darinya itu, membombardir kepercayaan dirinya.


"Ehem! Maaf, bisa singkirkan tangan anda dari lengan istri saya? Saya tidak suka!"


DEG


"Apa?"


"Istri?"


Ia langsung menatap seraut datar yang nampak tak ramah kepadanya itu dengan wajah terkejut.


" Ar? Kamu...." Tanyanya kepada Arimbi mencari jawaban meski ia berharap dalam hatinya, jika itu bukanlah suatu kebenaran.


" Iya mas, ini ...mas Deo suami aku. Mas kenalkan ini mas Yus...."


" Ada perlu sama ibu kamu kan, ya udah ayok. Jangan sampai kita kesiangan nanti, kita musti fitting baju juga!" Sahut Deo sembari menaikkan sebelah alisnya, dan tak mempedulikan Yusa sebab ia terbakar api kecemburuan. Oh God!


Arimbi hanya meringis tak enak hati sebab Deo benar-benar ketus terhadap Yusa. Walau bagiamanapun juga, Yusa merupakan orang dermawan yang selama ini concern memperhatikan keluarganya.


" Maafkan suami saya ya Mas. Mas Yusa masuk aja, ibuk sama Farel ada di dalam kok!"


" Duluan ya mas!" Ucap Arimbi meringis lalu buru-buru menyusul suaminya sebelum tejadi pernah dunia kelima.


Ditatapnya mobil kinclong yang kini bermanuver di depannya dengan hati penuh pertanyaan.


" Istri?"


"Fitting baju?"


" Yang benar yang mana?"


.


.


Deo


Melihat tangan istrinya disentuh tak sengaja saja sudah merajuk seperti itu, bagiamana jika Arimbi di perlakukan lebih.


Haish, budak cinta memang menyebalkan.


Arimbi melirik suaminya yang masih membisu dengan wajah datar. Jelas menyiratkan bila pria dengan tubuh kekar itu benar-benar marah.


" Tadi itu siapa sih, main sentuh aja!" Seru Deo dengan cuping hidung yang melebar, juga alis yang mendadak saling bertaut.


" Tadi mau dikenalkan langsung di potong ucapan aku, sekarang?" Cibir Arimbi mengingatkan.


" Ya...aku nggak suka aja kamu di sentuh- sentuh kayak tadi!"


" Namanya juga enggak tahu loh mas!"


" Terus selama ini, kamu mau di sentuh- sentuh kayak gitu sama dia? Kamu kayaknya akrab banget sama dia. Siapa sih dia?"


" Jangan gitu...dia itu orang baik kok mas, dia yang sering kasih batuan ke.."


" Terus aku nggak baik buat kamu?"


Damned! Demi apapun yang ada di dunia ini, Arimbi mendecah tak percaya, sebab mereka justru bertengkar.


" Kok kita malah bertengkar sih? " Tanya Arimbi menatap Deo yang memutar setirnya kala melewati persimpangan.


Tiada percaya jika mereka akhirnya bertengkar juga setelah sikap saling mengakui itu.


" Maaf!" Sahut Deo tentunya lesu.


" Aku cuman gak rela dan gak suka kamu di sentuh- sentuh sama orang lain. Aku cemburu!"


.


.


Pagi ini ia sengaja menyiapkan sarapan pagi untuk adik sepupunya yang telah berkirim kabar jika akan mampir. Ralat, bukan mampir sih, lebih tepatnya sudah di tuju dari rumah jika ingin berkunjung kesana.


Sudah sangat lama sekali ia tak dikunjungi oleh Arimbi , semenjak skandal terselubung itu terjadi. Dan kini, ia hanya ingin menghabiskan waktu sejenak bersama sepupunya itu.


Ia yang pagi ini pasti belum disibukkan oleh kedatangan wisatawan, nampak tekun menyiapkan beberapa olahan seafood dan masakan kesukaan arimbi.


Hingga, suara deru mobil terdengar terparkir di depan kedainya, membuatnya buru-buru menyongsong mereka.


" Mbak Wit!"


" Aku datang!"


Teriakan khas Arimbi membuat seulas senyuman terbit di bibirnya. Ini yang dia rindukan, keceriaan Arimbi yang bisa menularkan energi positif untuk dirinya.


" Aku kira nggak jadi datang!" Ucap Wiwit seraya tersenyum, seraya saling memeluk dengan Arimbi.


" Jadi dong, pasti jadi. Udah selesai, aku bantu apa nih?" Seru Arimbi riang yang sengaja meninggalkan manusia merajuk di belakangnya itu.


" Bantu apa, bantu ngabisin masakan lah. Aku masak dari petang tadi!"


" Silahkan masuk mas, begini tempat kami, sebentar ya aku mau..."


PLAK


"Aduh, ada apa sih?" Sahut Wiwit yang kaget kala ia mendadak di keplak oleh Arimbi.


" Kok mas sih mbak manggilnya, mas Deo kali yang setelah ini wajib manggil mbak Wiwit mbak juga!"


" Kan Mbak kakakku!"


What?


" Berati aku setelah ini manggil Erik mas juga? Asta..." Deo seketika meringis demi menyadari jika ia telah kelepasan bicara.


Dua wanita itu langsung kompak menoleh, demi mendengar kalimat sanggahan yang di lontarkan oleh Deo secara tak sengaja.


Membuat Deo keranjingan dan langsung menutup mulutnya sebab keceplosan.


" Erik?"


.


.


" Da! Makasih ya mbak, kapan-kapan masakin aku bening kelor plus pelas tuna lagi mbak. Aku mau tumis cumi kayak tadi juga!" Teriak Arimbi mengulang kembali ucapan terima kasih, saat ia sudah berada di dalam mobil, dan hendak menuju ke tempat fitting baju.


" Jangan lupa lusa datang kerumahku, ambil seragam Bridesmaids!"


Ia mengacungkan jempol demi menjawab warning dari Arimbi. Kini, suasana kembali sunyi lagi. Ia masih berdiri dan belum beranjak dari sana.


" Kenapa kamu ingkar janji mas. Kamu janji akan pulang kan?" Batinnya menjerit. Ia hanyalah wanita yang merindukan suaminya. Suaminya yang sejatinya telah berada di alam baka.


Hingga, sebuah suara mobil lain terdengar parkir di depan kedainya. Membuatnya buru-buru menghapus lelehan air mata, sebab mungkin saja itu wisawatan yang ingin makan pagi disana.


CEKLEK


Tak mau menunjukkan wajah murung, saat para wisatawan hendak makan di kedainya.


" Permisi, apa bening kelornya masih ada?" Seru seseorang dengan wajah riang dan senyum merekah, yang kini nampak berdiri sembari menutup pintu mobilnya.


DEG


" Mas Erik?"


.


.


.


.