My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 150. Jamuan kasih



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Fadli


Ia mendapat rekomendasi laki - laki bernama Rajandra itu dari seseorang yang cukup ia kenal. Pria yang memang berkompeten untuk urusan penyalur tenaga kerja di bidang jasa assisten rumah tangga dan sejenisnya.


Menjabat sebagai assisten, sudah wajib hukumnya untuk memiliki relasi dari berbagai kalangan, demi menunjang pekerjaannya yang di tuntut selalu bisa.


Menjadi momentum melegakan sebab permintaan bosnya segera terpenuhi. Yes!


" Halo bos, kalau menurut saya dia oke. Lolos kualifikasi. Hanya saja..."


" Kenapa?" Sahut Demas dari seberang dengan wajah yang di tebak Fadli pasti tengah berengut.


" Dia muda bos dan...,"


" Tidak masalah. Suruh dia kerumah, biar aku interview lagi nanti!"


Sahut Demas cepat dan membuat ucapan pria itu lagi-lagi menguap.


" Baik bos!"


Dengan perasaan mantap, Fadli kembali ke ruangan dimana Raja telah menunggunya. Izin sudah berada di kantong, kini tinggal implementasi.


CEKLEK


Jauh dari perkiraannya, laki - laki yang ia tinggal selama beberapa menit itu nampak masih duduk dalam posisi yang sama. Nampak sopan dan begitu berkarakter.


" Oke Ja, thanks udah mau nunggu. Habis ini, kamu ke alamat ini Ya? Beliau mau ketemu sama kamu!"


Ucap Fadli sembari melempar punggung ke sandaran singgasananya.


" Dengan senang hati Pak!" Batin Raja dengan senyum smirknya.


.


.


Demas


Di sore yang bersahaja itu, ia nampak saling melirik dengan istrinya demi sesosok laki-laki muda yang usianya mungkin berada beberapa tahun di atasnya. Pemuda yang nampak memiliki sikap pendiam dan datang dengan segumpal harapan untuk diterima sebagai supir barunya.


" Dapat info dari mana kamu kalau saya perlu supir?" Tanya Demas yang duduk di dampingi Eva.


" Dari web Pak!" Sahut pria itu yang memang jujur mendapat info dari web.


Demas mengangguk. Mungkin anak buahnya sengaja memasang info pada web resmi mereka. Baiklah, tidak masalah. Toh ia memang tengah memerlukan sulit darurat.


" Kamu bersedia tinggal disini? Maksud saya ada kamar di bawah! Saya butuh kamu 24 jam karena keadaan saya seperti ini!"


Laki-laki itu mengangguk. Sedikit merasa terkejut demi melihat Demas yang nampak duduk diatas kursi roda.


Namun, Raja masih bisa menyembunyikan keterkejutannya, meski dalam hati pria itu tersimpan segumpal rasa tak suka.


" Baiklah, kamu bisa kerja mulai besok!"


.


.


Fadli


Ia diminta untuk datang ke kediaman baru Demas malam itu juga guna membahas soal supir baru yang nampak meresahkan itu.


" Kenapa kamu enggak bilang kalau dia masih muda begitu?" Ucap Demas diruang kerja pada rumah barunya. Berbicara empat mata dengan Fadli.


Fadli melongo. Bukankah ia tadi sudah menjelaskan di awal pembahasan sewaktu menelepon?


Entah kenapa, Demas merasa takut sebab laki-laki itu sangat muda. Apalagi, Eva yang dalam masa pembelajaran untuk mengelola usahanya, akan sering keluar untuk mengurus usahanya selama Demas menjalani pengobatan.


Menjadi insecure sendiri.


" Kalau begitu biar saya carikan la..."


" CK, yang benar saja kamu. Biar itu saja sudah. Jangan sampai kamu cari pembantu yang begitu juga. Cari yang sudah senior, kamu ini!" Timpal Demas mendengus sebal.


Fadli meneguk ludahnya demi Demas yang memarahinya.


" Haish, susah bener kalau sudah berhadapan sama si bos!"


.


.


Deo


Ia mencoba mendekati sang istri karena ia telah di sapih selama dua Minggu. Bayangkan saja, selama dua Minggu ia kerap bersolo karir di dalam mandi, sebab kepalanya yang terasa pusing jika tidak segera dikeluarkan.


Kini, ia tahu arti dari sebuah peran istri yang teramat sakral.


" Enggak mual, berarti aman!" Batin Deo bersorak demi melihat Arimbi yang nampak diam kala ia merebahkan diri di samping istrinya.


" Nak, kamu nggak kangen apa sama Papa apa? Udah dua Minggu nih enggak di jenguk sama Papa!" Ucap Deo tekrikik-kikik dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Membuat Arimbi seketika menjauhkan kepalanya, demi menatap Deo yang tersenyum cabul.


" Jenguk bagaiman...."


Terlambat. Ucapan Arimbi menguap percuma ke udara manakala bibir Deo kini telah tertempel sempura pada bibir istrinya.


Menurut hasil investigasi sementara, sepertinya Arimbi aman untuk ia jajah malam ini. Yeah!


Dan, terjadilah peristiwa menyenangkan yang selama ini telah di pendam oleh Deo.


Ihiir!


.


.


Di lain tempat di waktu yang bersamaan, sepasang suami istri nampak sibuk dengan obrolan serius.


Ya, sejak Eva menikah dengan Demas dan kondisi Demas yang belum pulih, anak bungsu David Syailendra itu meminta Eva untuk belajar mengurus usahanya, sebab Eva telah keluar dari pekerjaannya di Darmawan Angkasa.


" Besok kamu temui Nyonya Han, kamu pilih produk kosmetik yang sekiranya diminati para wanita di era milenial ini , biar bisa segera di pasang di market kita!" Ucap Demas membelai rambut istrinya dengan tatapan mesra.


Eva mengangguk, ia yang memang berjiwa pemberani tentu tak akan kesulitan untuk mencoba hal baru. Apalagi, itu demi orang yang ia kasihi.


Sambaran guntur yang di sertai rintik hujan diluar sana menjadi pemandu sorak jiwa-jiwa yang haus belaian itu.


Meski tiada terucap, namun sorot mata yang tersaji dari netra kedua manusia itu, menegaskan jika keduanya memerlukan lebih dari sebuah sentuhan.


Dalam keheningan yang melanda, Demas menundukkan wajahnya perlahan lalu melahap bibir sang istri yang dengan senang hati menerima kecupan mesra yang semakin terjalin menuntut itu.


Tangan Eva yang semula menganggur itu, nampak bergerilya menyusuri dada bidang Demas. Bersamaan dengan ciuman yang makin dalam dan panas itu, Eva memindahkan posisinya menaiki tubuh Demas.


This time for me!


Dengan sorot mata sendu, Eva nampak membuka satu persatu kancing baju Demas lalu membantu melepaskannya.


Seminggu pertama telah terhalang oleh palang merah, Minggu berikutnya terhalang oleh kesibukan yang menyita waktu dan mengundang rasa lelah.


Dan malam ini, biarlah ia menjamu suaminya dengan caranya sendiri.


Demas nampak meneguk ludahnya manakala Eva menarik bajunya keatas dengan impulsifnya, dan kini nampak menampilkan model Victoria secret yang bertengger diatas tubuhnya.


Wow, she's so hot!


Eva kembali meraup bibir suaminya manakala ia telah berhasil menanggalkan 75 persen bagian pakaiannya. Menyisakan sepasang pakaian dalam yang nampak mengundang kejantanan Demas untuk bangkit.


Walau dengan cara yang belum sempurna, walau dengan kondisi yang belum prima, namun bagaimanapun juga, hal biologis yang sah juga halal itu masih bisa mereka upayakan bersama.


Definisi dari melengkapi satu sama lain.


Tangan kekar Demas nampak meremas bo kong istrinya yang begitu dahsyat. Ada gunanya juga Eva memangkas rambutnya, membaut ia leluasa mengeksplorasi tanpa suasana risih akibat surai hitamnya.


Sulutan panas dari percikan api asmara itu semakin membuat Eva kehilangan akalnya. Perlahan namun pasti, Eva nampak mencecap leher Demas hingga terus menelusuri bagian bawah suaminya yang ukurannya membuat Eva menelan ludah.


Oh man!


Dengan gerakan halus dan perlahan, Eva melucuti pakaian bawah suaminya lalu melemparkannya ke sembarang arah.


Tak lupa, Eva mematikan lampu utama lalu menyalakan standing lamp itu demi membaurkan suasana temaram dengan bakaran gelora yang lekas terpantik syahdu.


Diraupnya kembali bibir merah yang belum ia rasa cukup itu. Demas merasa terkejut demi melihat keagresifan Eva yang benar lihai dalam hal semacam ini.


" Ah!"


Demas memekik tertahan manakala bagian penting dari struktur tubuhnya itu terlahap sempurna oleh mulut istrinya.


Benar-benar sajian pembuka dari jamuan kasihan yang begitu nikmat.


Sensasi gila yang baru pertama ia cicipi itu, semakin membuat tingkah Eva Mamin bervariasi. Apalagi, derasnya hujan diluaran sana menjadi sebaik-baiknya pemandu aktivitas paling melenakan itu.


Benar-benar merasa beruntung demi sajian istrinya yang tak main-main itu.


Hingga beberapa saat kemudian, bagian Eva yang nampak lembab dan menuntut lebih itu, membuat wanita itu merubah letak lalu memposisikan dirinya tepat diatas benda yang ukurannya membuatnya merinding itu.


" Akh!"


Setengah memekik menahan sakit, dengan tangan yang mencengkeram dada bidang Demas, Eva yang baru pertama melakukan itu merasakan sesuatu yang sesak dan begitu menyakiti bagian sempitnya itu.


Hujaman dari bawah yang membuat sudut matanya berair itu, membuat ia seketika menahan napas.


Hingga, terjadilah irama juga tempo yang semakin lama dilakukan, semakin mengajak keduanya terbang bersmay, melintasi cakrawala kenikmatan yang tiada terkira.


.


.


.


.


Hayo mblo, Ojo kepingin Yo


🤣🤣🤣🤣