My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 147. Ngidam



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Ia nampak tak bisa tidur di jam satu dini hari itu. Entahlah, bayangan seporsi makanan merakyat mendadak menyelinap lalu menganggu tidurnya. Membuatnya terusik lalu memilih untuk mencari suaminya.


Ia nampak membuka pintu kamarnya, lalu merasa lega manakala ia mendapati suaminya yang asik menonton liga satu di televisi, di ruang tengah rumah besar mereka.


" Mas!" Panggil Arimbi dari jarak dua meter.


Membuat Deo yang tengah tegang itu seketika menoleh kaget.


" Loh kok kamu bang..."


" Jangan mendekat!"


Arimbi mengangkat tangan dengan posisi menyetop langkah Deo yang hendak menuju ke arahnya. Mengantisipasi hal-hal aneh yang sering terjadi, terutama soal aroma tubuh yang memicu gejolak di dalam perutnya.


" Ada apa sih?" Tanya Deo dengan alis berkerut sebab semakin kesini Deo semakin tersiksa saja.


" Aku kok tiba-tiba pingin makan mie ayam yang banyak cekernya ya mas!" Tutur Arimbi dengan wajah murung.


Membuat Deo langsung melebarkan matanya.


.


.


" Maaf Pak, sudah habis!"


" Dimana ya Pak, kalau jam segini yang banyak yang jual nasi goreng itu!"


" Udah enggak ada Pak, udah tutup dari jam sepuluh tadi!"


" Mungkin ada yang di dekat toko obat itu pak!"


Begitulah penggalan ucapan dari beberapa masyarakat, yang berhasil membuat Deo larut dalam kebingungan.


Ya, Deo bahkan sampai bertanya-tanya soal makanan lezat sejuta umat itu, demi rasa cintanya kepada Arimbi yang sepertinya ngidam.


Ia tahu dan pernah mendengar soal ngidam wanita hamil yang aneh-aneh. Dan Mama, sudah pernah mewanti-wanti Deo untuk sebisanya menuruti kemauan Arimbi.


Haish, membuatnya mau tidak mau harus terjun ke lapangan , untuk menjadi manusia kalong di waktu menjelang jam dua dini hari itu.


" Halo sayang, enggak ada nih, gimana kalau bibi aja suruh buatin?" Tanyanya muram melalui sambungan telepon kepada Arimbi. Mencoba berdiplomasi sebab ia sudah hampir putus asa.


" Enggak mau mas, ya udah kalau nggak ada. Nanti kalau anakmu jadi ileran jangan salahkan aku ya!"


TUT


Membuat Deo seketika meneguk ludahnya dengan kasar, manakala suara yang terdengar nampak merajuk.


" Haduh nak, kenapa kamu siksa Papa sebegini amat sih, baru juga jadi toge!" Gumamnya yang benar-benar bingung harus kemana lagi dia mencari.


Ia terus dan terus berkeliaran bahkan sampai tiba di sebuah terminal di kota itu. Benar-benar dibuat tak berdaya dengan apa yang terjadi.


Hingga, beberapa saat kemudian ia berhasil menjumpai seorang pedagang bakso dan juga mie ayam, yang masih membuka standnya di jam dini hari itu, dengan target para penumpang yang tiba tak kenal waktu itu.


Syukurlah!


" Masih ada Pak?" Tanya Deo senang terhadap pedagang yang sudah sangat uzur itu.


" Masih Pak, mau makan disini?" Jawab kakek tua itu dengan wajah kaget, demi melihat pria berpenampilan keren yang mau mampir ke lapaknya yang begitu sederhana.


" Bungkus saja Pak, itu cekernya sekalian aja Pak bungkusin terpisah!" Ucap Deo menjengukkan kepalanya demi mengintip isi dari panci putih yang berisikan semur ayam juga ceker lembut.


" Istrinya sedang hamil?" Tebak kakek itu seraya lekas memasukkan mie kedalam dandang berisikan air yang tengah golak.


Membuat Deo kaget. Bagaimana bisa tahu?


" Saya nebak saja sih Pak. Soalnya saya tahu kok siapa bapak!"


Membuat Deo meringis kagok.


" Jadi suami memang harus begitu Pak. Kita yang buat dia ( anak) ada, kita juga yang harus siap wara-wiri untuk dia juga!"


Deo nampak menarik sebuah kursi plastik, dan sedikit tertarik dengan kesupelan pedagang itu.


" Masih minta mie ayam sih belum apa-apa. Lebih susah lagi kalau tidak mau didekati Pak!" Tutur pria tua itu sembari meracik bumbu, minyak wijen juga beberapa seasoning lain.


DEG


Fix, bapak ini benar-benar suhu. Begitu pikir Deo.


" Monggo, ini pesanannya, semoga istrinya sehat-sehat sampai lahiran nanti Pak!" Tutur pria tua yang telah berhasil merampungkan pesanan Deo.


Membuat Deo seketika membuka dompetnya lalu menarik selembar pecahan rupiah bergambar Soe-Hatt.


" Ambil saja kembaliannya Pak!"


Usai berhasil membawa apa yang diminta oleh Arimbi, laki-laki yang hanya mengenakan kaos serta jeans itu nampak menyalakan key remote mobilnya, lalu masuk dengan wajah riang gembira.


Ya, Deo berhasil menyelesaikan misi malam ini meski ia nyaris putus asa.


Namun, tanpa Deo sadari, sepasang mata elang nampak membidiknya dengan tatapan tajam dari dalam mobil di ujung lain.


Deo yang lekas menjalankan mobilnya itu nampak ngebut agar segera sampai di rumah. Namun, saat ia tiba di sebuah jalan sepi dan asik membelah jalanan yang lengang itu, sebuah mobil mendadak menyerempetnya.


BRAK!


BRAK!


Double damned!


Merasa jika sepertinya bahaya tebagh mengintainya, Deo seketika mengurangi kecepatan dan berniat menghentikan mobilnya.


Namun, bukannya turut berhenti, pengemudi mobil itu seketika melesat meninggalkan Deo yang kini dilanda kebingungan.


" Siapa dia?"


.


.


Arimbi


SLURP!


Ah!


Ia menyeruput mie besar itu dengan wajah sumringah. Menyantap makanan yang membuatnya ngiler di jam tak wajar itu dengan begitu menikmati.


" Ini enak banget, beli di man?"


Deo yang melihat istrinya begitu lahap makan itu, hanya bisa geleng-geleng kepala dengan senyum yang terkembang di wajahnya.


Bahkan, dua porsi mie ayam itu hampir habis Arimbi sikat.


" Enak?" Tanya Deo yang sedikit ngeri demi melihat istrinya yang begitu rakus.


Arimbi mengangguk dengan gerakan menggerogoti tulang.


" Besok-besok beliin ini lagi ya mas?"


Meski ia nampak tekun menunggu istrinya makan, namun pikiran Deo justru melesat pada kejadian beberapa saat lalu, masih begitu penasaran kepada mobil yang sepertinya sengaja membuntutinya tadi.


" Kenapa malah bengong, mau coba? Nih masih banyak kok!" Ucap Arimbi demi melihat suaminya yang mendadak diam dengan wajah yang nampak berpikir keras.


" Enggak kamu makan aja, setelah ini tidur, udah mau jam tiga!"


.


.


" Apa? Serius?"


Tanya Erik yang memutuskan untuk kembali masuk kerja di jam pagi itu, sebab menjadi pengangguran itu rupanya tidak enak.


Apalagi, target cintanya justru merajuk sebab ia terlalu memaksakan kehendak. Hah, ya sudahlah!


Deo mengangguk dan kini melipat kedua tangannya keatas meja kerjanya lalu ia jadikan sebagai topangan dagu.


" Aku yakin kalau orang itu sengaja ngikutin aku Rik!" Seru Deo dengan wajah gencar berpikir.


Membuat Erik nampak tertegun.


" Atau orang itu mungkin orang yang sama dengan orang yang nyelakai Demas!" Tebak Erik yang mendadak teringat akan sesuatu.


Membuat Deo seketika mendongak, lalu menatap Erik dengan wajah yang turut berpikir.


" Hari ini agendanya apa?"


" Rapat sama kepala security di kantor Nawangsa Pura!"


Deo mengangguk paham.


" Setelah itu kamu ikut aku!"


.


.


Di sebuah tempat yang asing, seorang pria yang baru saja mengancingkan baju nampak turun menapaki tangga dengan wajah dingin.


" Tuan?" Sapa seorang pria yang menjadi abdi pria itu.


" Bagiamana?" Tanya orang itu seraya menarik kursi di depan meja makannya.


" Saya berhasil memberi target peringatan tadi malam. Mungkin, sebentar lagi mereka pasti akan mencari tahu!" Tutur seorang pria kepada bos-nya yang kini hendak melakukan sarapan.


" Good, kapan-kapan, beri mereka syok terapi. Oh ya, bagaimana?"


" Maaf tuan, tapi kita belum bisa membebaskan tuan Anthoni, sipir yang bertugas juga sangat susah untuk diberikan gratifikasi!"


Membuat selera makan pria itu mendadak menguap.


" Apa sudah ada vonis?" Tanyanya lagi dengan wajah penuh keresahan.


"Minggu depan akan ada persidangan soal putusan pasal lain tentang barang terlarang. Sepertinya..."


" Cukup, aku tidak mau dengan hal itu. Pergi dan siapkan mobil, kita temui kak Anthoni setelah ini!"


.


.


.