
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Motornya ia tinggal di gedung besar berlantai tiga itu usai di desak oleh asisten bergaya parlente itu. Ia diminta Mas Erik untuk ikut ke mobilnya sebab yang lain sudah lebih dulu.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, ia hanya diam dan melempar pandangannya, pada gerak semu jalanan. Sama sekali tak berminat untuk bertanya apapun kepada pria yang kerap membuatnya jengkel tanpa disengaja itu.
Mas Erik terlihat menyempatkan diri untuk melirik wajah Arimbi dari pantulan rear vission mirror yang ada di depannya. Pria itu diam-diam kasihan melihat Arimbi.
" Aku harus cari tahu nih, ada masalah apa si bos sama nih anak. Bisa berubah kusut gini wajahnya" Erik terus membatin demi melihat wajah kehilangan harap dari wanita berkulit eksotis itu.
Sesampainya di gedung Nawangsa Pura, Arimbi mengekor di belakang Mas Erik yang terlihat sangat akrab kala bertegur sapa dengan para pegawai disana.
" Pagi mas Erik! Wah lama gak kesini sekarang makin ganteng aja!"
" Selamat pagi Mas! Lama banget enggak kelihatan?"
" Siapa nih mas? Anak baru?"
Suara-suara ramah yang terdengar silih berganti manakala Mas Erik berpapasan dengan orang-orang berpenampilan rapih yang tidak ia kenali itu, membuatnya menarik napas.
Benar, keramahan memang akan lebih mudah di dapat oleh orang yang memiliki jabatan dan nama. Membuatnya tersenyum kecut dengan hati mencelos.
"Udah selesai Dan?"
Ia masih membisu manakala Mas Erik bertanya kepada Pak Daniel yang nampak terkejut.
Ia memilih duduk di kursi baja yang berada di dekatnya, dan tak menghiraukan tatapan penuh selidik dari kata rekan- rekannya yang masih antre untuk berfoto.
Kakinya terasa pegal sekali sebab tadi Deo sengaja membuatnya berdiri sangat lama. Benar-benar pria tak punya hati!.
" Udah Mas, eh iya... tadi kamu di cari Pak Hendra Mas!" Ucap Daniel yang teringat jika kepala Avsec tadi menanyakan soal Mas Erik.
" Serius, terus orangnya kemana sekarang? Ada di dalam enggak?"
" Lagi ke gedung sebelah bentar, di panggil Pak GM katanya. Udah nunggu sini aja dulu!"
Mas Erik mengangguk " Kalau udah beres, setelah ini kamu langsung aja bawa mereka ke terminal !"
Kini ganti mas Erik yang mengangguk, pria itu jika masih ada birokrasi lain yang musti di jalani oleh para anak buahnya itu.
Kesemua anak baru disana saling berbisik demi melihat Arimbi yang datang terlambat, dengan muka yang kini tak secerah saat ia datang tadi. Kecuali Resita, pria golongan tukang lunak yang sempat mengomentari nama Arimbi dan pria berambut ikal berkulit gelap yang gemar berdoa di setiap suasana itu.
Resita yang melihat perubahan raut wajah Arimbi juga tak berani bertanya. Mereka hanya kenal- kenal ayam, masih belum akrab satu sama lain. Membuat gadis yang terlihat merupakan anak orang berada itu, kini memilih untuk diam.
" Yang namanya Arimbi?" ucap salah satu pria berseragam keamanan khusus bandara , demi melihat list yang ia pegang masih kurang satu orang.
" Oh iya Bang, udah datang kok anaknya. Ar! Sini!" Daniel tersenyum kala memanggil Arimbi. Menginformasikan kepada anggota Avsec tersebut, bilamana yang bersangkutan telah hadir.
Ia langsung bangkit lalu menuju ke tempat dimana Daniel berdiri begitu namanya di panggil.
" One more , abis ini selesai Bang!" Ucap Daniel tersenyum ramah dan terlihat akrab , kepada pria berpeci yang pakaiannya ketat dengan sepatu safety yang membuat tampilan pria itu sangar.
" Kamu masuk dulu gih, tinggal foto aja sama tanda tangan!" Ucap Daniel kala Arimbi melintas di depannya.
Arimbi mengangguk, berusaha tak mencampuradukkan masalahnya, dengan urusan pekerjaan.
Definisi dari profesionalme.
.
.
Sepeninggal Arimbi, Erik yang masih menunggu kemunculan Hendra, kini menarik tangan Daniel kesini barat yang agak jauh dari sekumpulan anak baru itu.
" Elu tahu enggak sih, ada masalah apa sebenarnya? Tadi aku dengar bos nggebrak meja kenceng banget. Nah, pas Arimbi turun tuh anak nangis. Perasaan tadi enggak ada buat salah apa-apa deh dia?"
Daniel tertegun. Entah mengapa ia menjadi iba dengan juniornya manakala Erik menceritakan apa yang ia dengar tadi.
" Terus gimana mas?" Tanya Daniel makin tak sabar.
" Ya enggak gimana-gimana sih, tapi saranku kamu kan yang kesehariannya sering berhubungan langsung sama anak-anak tuh, infokan deh soal bos yang orangnya itu gimana, biar yang lain tahu dan gak ngulang hal yang sama Dan. Jujur ya Dan aku tuh sebenernya kasihan kalau ada anak baru kena damprat bos. Elu tahu sendiri kalau bos lagi marah, bisa berabe urusannya!"
Daniel mengangguk-angguk setuju. Apa yang sebenarnya Arimbi lakukan hingga membuat bosnya semarah itu?
.
.
.
.