My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 40. Inikah rasanya....



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Ia kini sendirian dalam rumah sebesar itu. Erik pamit undur diri sebab mau bagiamanapun juga, pria itu bukanlah superhero yang tak memiliki rasa lelah.


" Saya pulang dulu. Kamu sebaiknya tidur. Ini kunci motor yang ada di garasi. Besok kalau kamu berangkat, usahakan bikin kamuflase yang baik!"


Begitu ucapan Erik sesaat sebelum pergi tadi.


Sepeninggal Erik, ia kini bingung mau melakukan apa. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih seperempat malam. Waktu yang cukup malam bagi Arimbi.


" Aku kangen Pak. Apa bapak tau kalau anak Bapak sekarang nasibnya kayak gini?" Batinnya menjerit demi nasib rumit yang kini ia jalani.


Ia memutuskan untuk menyalakan TV yang ukurannya tujuh kali lipat, dengan ukuran TV dirumahnya itu. Sedikit terhibur sebab TV itu kini menayangkan film romantis yang dibintangi oleh opa-opa Korea yang berwajah kinclong.


Ia membaringkan tubuhnya menghadap ke arah layar besar, yang kini memutar adegan yang membuatnya baper itu. Membuatnya belingsatan.


" Andai semua orang ganteng sifatnya kayak kamu, emmmmmm!" Gumamnya gemas ka melihat tokoh protagonis yang begitu apik dalam berlakon itu.


Rasa kenyang di tambah rasa lelah merupakan perpaduan yang pas, untuk mengantar Arimbi menuju mimpinya.


Bagai bunga dadap, sungguh merah tapi berbau tak sedap. Sesuatu yang tampaknya indah, baik, bagus serta menarik, nyatanya malah biasa-biasa saja.


Itulah setumpuk penilaian Arimbi kepada Deo. Pria tampan yang pintar, namun berbanding terbalik dengan sikapnya yang tak patut dijadikan suri tauladan.


Ia tahu jika pria itu saat ini pergi dan pasti bertemu dengan seorang. Sedikit merasa nyeri dalam dadanya, karena merasa tak di anggap. Tapi ia sadar, ia dan Deo sebenarnya tak mengharapkan semua ini.


Arimbi menguap berkali-kali. Dan tanpa ia sadari, ia kini tertidur diatas sofa dengan posisi tangan yang masih memegang remote dengan tubuh miring menghadap ke arah TV.


Saat kesedihan dan kemalangan menghampirimu, menunduklah! Biarkan semua hal tidak baik itu berlalu!


Ia tak memiliki daya apapun selain pasrah. Ia percaya, semua ini akan berkahir entah bagiamana pun caranya. Entah baik, entah buruk. Who know's?


.


.


Deo


Ia terlihat kembali ke rumahnya, tepat di jam satu dini hari. Tentu saja ia tak mau melewatkan kesempatan enak-enak bersama kekasihnya tadi. Deo tidak tahu, bahwa apa yang ia lakukan itu merupakan kesalahan besar.


Ia tahu jika Arimbi pasti sudah tidur dan sendirian di kamarnya.


" Saya pulang Pak. Arimbi saya minta masuk ke dalam. Sebaiknya anda jangan pulang terlalu malam. Kasihan dia!"


Pesan dari Erik bahkan baru sempat ia baca. Benar-benar tidak benar!


Siapapun orangnya, jika sudah berurusan dengan enak-enak, bisa di pastikan akan lupa segalanya. Pun dengan Deo. Pria dewasa dan bisnis lendir jelas bukanlah hal yang tabu lagi. Yeah!


Deo membuka pintu dan terkejut kala mendapati TV yang masih menyala, dengan memutar film yang kini beradegan cium- ciuman.


" Astaga anak ini!" Gumamnya yang mengambil remote di tangan Arimbi yang sudah lelap itu.


Sejenak Deo kasihan melihat Arimbi yang meringkuk dan terlihat kedinginan. " Kenapa tidak tidur di dalam saja sih. Menyusahkan sekali!"


Walau bagaimanapun, tiap orang pasti memiliki sisi baiknya. Deo seketika mengambil selimut yang berada di lemarinya, lalu melingkupi Arimbi dengan benda itu.


Arimbi cantik. Wajah perempuan itu juga masih alami. Tak ada bulu mata palsu, alis yang di tato, atau bibir yang di merahkan dengan teknik sulam. Semua masih utuh.


" Dia benar-benar mirip bayi jika begini. Tapi, kenapa dia menyebalkan sekali jika sudah bangun!" Ucapnya bermonolog seraya pergi menuju kamarnya.


Deo menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lebar miliknya. Memejamkan matanya dan berharap hidupnya yang rumit ini akan segera berlalu.


...----------------...


Pagi menjelang, Deo yang pagi itu baru saja bangun dan hendak mengambil minum ke dapur, kaget saat melihat Arimbi yang sudah tidak ada.


" Kemana anak itu?" Gumamnya yang lupa jika hari ini adalah jadwal Flight Internasional dan membuat Arimbi musti datang lebih awal guna preparation.


Deo melihat sebuah note yang di tempel si depan kulkasnya.


" Saya sudah berangkat. Pagi ini saya harus menghandle di terminal internasional. Tadi pak Deo masih tidur dan saya keburu kesiangan. Motornya saya bawa, kata pak Erik semalam saya diminta membawa motor itu!"


Beberapa jam kemudian, ia yang kini sudah rapih terlihat duduk manis di meja kebesarannya yang berada di luar bandara. Ya, time is for work and work.


" Ah Rik, kamu sudah ketemu anak itu?" Tanya Deo saat Erik masuk ke ruangannya.


" Anak itu siapa pak?"


" CK, Arimbi!" Jawab Deo mulai kesal dengan kelemotan anak buahnya.


" Oh, dia sekarang sedang ikut training post flight Pak. Di hotel Santika sama anak-anak! Siang nanti baru balik."


"Tadi dia satu mobil sama Daniel" Imbuh Erik saat ini menyerahkan beberapa berkas untuk Deo periksa.


" Berdua aja?" Tanya Deo agak resah.


" Mau sama siapa lagi, kan anak baru yang ikut training dari cabang kita dia aja kan? Anak barunya ya cuma dia!"


Entah mengapa, Deo tak suka saja mendengar hal itu. Terlebih, dia tahu jika Daniel kerap memberikan tatakan beda kepada Arimbi.


" Kenapa Pak? Katanya enggak peduli?" Cibir Erik.


" Ya memang saya enggak peduli!"


.


.


Lain mulut lain di hati itu sudah biasa bagi para mahluk aneh berkedok direktur , macam Deo itu.


Deo yang benar-benar tak tahu jika siang itu, Arimbi dan Daniel juga makan di tempat makan favoritnya , merasakan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan kala menatap interaksi dua karyawannya itu.


Ia yang siang itu bersama Roro menatap datar Arimbi yang terlihat tertawa lepas saat Daniel mengajaknya berbicara dari kejauhan.


" Jadi gimana menurut kamu sayang?" Ucap Roro yang asik memakan pasta siang itu. Berdialog bersama kekasihnya.


" Sayang!" Ucap Roro muram yang merasa tak mendapatkan jawaban.


" Deo!" Seru Roro dengan nada yang sedikit tinggi sebab kesal, dan membuat Deo tersentak.


" Iya, gimana?" Jawab Deo sedikit terkesiap.


Roro mendengus, "Kamu ini kenapa sih? Diajak ngobrol jugak!"


Roro akhirnya mengikuti arah pandang kekasihnya. Membuat Roro kesal.


" Aku ke toilet dulu!"


.


.


Deo mendadak merasakan hal aneh. Semacam tak suka dan cenderung tidak terima manakala melihat Daniel dan Arimbi yang akrab seperti itu. Entahlah, ia sendiri juga tak dapat mendefinisikan.


Usai membasuh wajah dan membuang isi kemihnya, Deo kini terlihat berjalan menuju luar. Berniat kembali dan ingin pergi saja dari tempat itu.


Dan saat berada di sebuah koridor menuju jalan toilet restoran itu, Deo kaget demi melihat Arimbi yang sepertinya juga akan menuju ke toilet.


" Jam berapa ini, kenapa kamu keluyuran di jam kerja?" Tanya Deo saat menyongsong kedatangan Arimbi yang nampak terkejut.


Kini, dua pasutri terselubung itu saling melempar tatapan sengit.


" Saya baru training Pak. Dan ini jam makan siang. Apa saya tidak boleh makan?" Jawab Arimbi mulai jengah.


"Saya dari pagi bahkan belum sempat memasukkan apapun kedalam perut saya. Tapi jika karena makan pun saya salah, hukum aja PIC saya kak Daniel. Karena dia yang berbaik hati mengajak saya makan disini!"


" Permisi!" Ucap Arimbi yang tak mau membuang waktunya demi meladeni sifat otoriter Deo.


Deo tertegun usai mendapatkan tamparan ucapan bernada sinis dari gadis berani yang kini menjadi istrinya itu. Ia lupa jika pagi tadi Arimbi pasti tidak makan apa-apa dirumahnya.


Oh sial!


.


.


.


.